
Terjerat Cinta Pria Bayaran
Bab 2
Setelah menikmati ritual percampuran senjata, dua insan itu kelelahan. Tubuh Saga masih menindih Helda. Napas keduanya berimprovisasi dengan musik DJ yang masih berdendang.
“Thank you,“ ucap Helda.
“Kau menikmatinya?" tanya Saga memastikan.
“Sangat menikmati, kau cukup mahir, Manis,“ sahut Helda.
Kemudian, Saga bangkit lalu memunguti pakaiannya yang berserakan sembarang tempat. Kemudian kembali mengenakannya. Begitu pun dengan Helda. Dia mengenakan gaunnya kembali. Namun, sebelum itu Helda membersihkan lava sisa-sisa pencampuran tadi.
“Kau tidak masalah aku mengeluarkannya di dalam?" tanya Saga mastikan.
Dia takut jika suatu hari nanti ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi.
"Jangan khawatir, aku memasang kontrasepsi,“ jawab Helda.
"Benarkah, tapi kau masih enak," celoteh Saga.
"Lain kali mau melakukan lagi?“ tanya Helda.
"Bagaimana dengan suamimu, apa tidak masalah?" kelakar Saga untuk berjaga-jaga.
"Aku janda, jadi kau tidak usah khawatir. Omong-omong, kau bekerja atau tidak?“ tanya Helda seraya mengenakan gaunnya kembali.
"Aku tidak bekerja, pengangguran, haha." Tanpa malu-malu Saga mengungkapkan keadaannya.
"Kau serius? Kupikir kau model atau aktor, kau sangat tampan tubuhmu juga bagus. Tapi, ada yang lebih bagus lagi ...“
"Apa itu?“ tanya Saga seraya menghampiri Helda yang tengah bersusah payah menutup resleting gaunnya.
Saga membantu menutupnya, lalu Helda menoleh dengan cepat. Diremasnya batang Saga yang kini sudah terkulai lemah.
"Juniormu yang membuat adikku sesak," goda Helda seraya meremas gemas dua butir bola sakti milik Saga.
"Jangan nakal, aku sudah lemas!" tepis Saga.
“Omong-omong, siapa namamu, Tampan?" tanya Helda.
"Saga.“
"Eumh, Saga, kau mau bekerja dengan enak dan dapat bayaran yang bagus, tidak?“ tawar Helda.
“Jika ada pekerjaan seperti itu, tentu aku menginginkannya,“ jawab Saga.
"Tentu ada, kau juga sangat memenuhi kriteria untuk pekerjaan tersebut, sampai-sampai membuatku merasa di surga," celoteh Helda.
“Maksudmu, pekerjaan seperti tadi?“ tanya Helda penasaran.
Helda mengangguk, lantas menyodorkan selembar kartu nama.
"Hubungi aku jika kau berminat, nanti kukenalkan kau pada kawan-kawanku,“ pesan Helda.
Lantas, dia memberi satu amplop cokelat berisi segepok uang merah. Entah berapa jumlah pastinya, yang jelas itu membuat kedua mata Saga nyaris ke luar.
Sontak, Saga tersenyum bahagia. Dalam keadaan setengah mabuk dia berjingkrak-jingkrak dan kembali memberi bonus sebuah ciuman panas pada Helda.
"Terima kasih, Honey.“
“Lain kali buat aku becek lagi, ya,“ sahut Helda.
“Akan kubuat kau banjir sampai pipis. Omong-omong mekimu enak dan wangi, aku menyukainya,“ aku Saga mulai berani.
"Tentu saja, next nikmati lagi sepuasmu, Sayang. Kita pilih tempat yang indah.“
Keduanya pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Setelah malam itu Saga mulai menikmati hari-harinya sebagai pria panggilan. Dan berkat itu pula, Saga kini menikmati hidupnya.
***
Saat ini ....
Saga memulai hari dengan berolahraga sebentar, dia pergi ke tempat gym di lantai bawah apartemennya. Kali ini Saga hanya ingin melakukan pemanasan sebelum dia melayani Helda malam nanti.
Tubuhnya yang kekar dan tinggi tegap menjadi aset baginya. Apalagi wajah tampan dengan brewok tipis ala-ala pemuda timur tengah pun membuat kesan gagah padanya. Kulitnya pun putih bersih, tentu saja Saga harus merawat dirinya dengan baik.
Setelah berolahraga, Saga pun membersihkan diri sebaik-baiknya. Dia tak ingin mengecewakan Helda. Sebab, wanita setengah tua itu adalah salah satu tambang emasnya.
Tanpa terasa, malam pun menjelang. Saga sudah bersiap dan hendak berangkat. Seperti biasa dia memilih menggunakan taksi. Tak ada alasan lain, hanya ingin privasinya lebih terjaga dan tak ada orang yang mengetahui pekerjaan dia sebenarnya.
Saga pun sampai di Hotel Diamond, dengan kemeja hitam yang dipadukan celana hitam sangat memesona. Saga melenggang menuju lobi untuk menemui Helda. Tak perlu waktu lama, Saga langsung diberi lampu hijau oleh resepsionis.
Di perjalanan menuju kamar, Saga menelepon Helda dan memberitahu jika dirinya sudah sampai di hotel. Helda menyuruhnya langsung masuk saja.
Sesampainya di depan kamar, tanpa ba-bi-bu Saga masuk seperti yang diperintahkan Helda.
Ternyata wanita cantik itu sudah menunggunya, dengan mengenakan lingerie maroon, begitu seksi. Cukup untuk membuat libido Saga bangkit.
"Sagaaa, I miss you so much,“ rintih Helga seraya menyambut tamunya itu.
“Aku tahu itu,“ sahut Saga kemudian merangkul tubuh seksi Helda.
Saga kemudian memeluknya dengan erat, mulai menciumi leher dan tengkuk Helda dengan liar. Menggesekkan jambangnya sehingga membuat Helda merasakan sensasi luar biasa bergairah.
"Enak, Sayang?" tanya Saga.
Tanpa menunggu jawaban dari Helda, Saga terus mencumbunya, bahkan di beberapa titik di leher Helda, Saga memberikan tanda merah. Setelah puas dengan leher dan membuat Helda meliuk-liuk dalam pelukan tangan kekarnya.
Saga meneruskan cumbuan pada hati kembarl Helda, dengan gemas dan penuh nafsu.
Namun, sejurus kemudian Helda yang sudah tak tahan membuka lingerie itu dan menanggalkannya di lantai. Saga mendorong tubuh seksi itu ke dinding, keduanya pun sempat menyenggol vas di nakas yang membuat vas terjatuh dan pecah.
Hal tersebut tak mengganggu kenikmatan itu, tanpa peduli keduanya terus bercumbu dengan semangat yang membara.
"Aaah, sssh, Saga," racau Helda.
“Apa, Helda? Kenapa, Honey, apa ini enak, boleh aku menggigit chocochipsmu?“ tanya Saga seraya sesekali mengerang.
"Gigit Sayang, jangan terlalu kencang, enak Sayang, ya begitu, aaah," racau Helda.
Puas dengan dada Helda, kini Saga ingin berpindah pada hal inti milik Helda. Saga memangku Helda dan mendudukkannya di meja yang ada di dekat ranjang.
Lantas, Saga melepaskan g-string yang Helda gunakan. Disentuhnya dengan lembut area sensitif itu dengan jari tengah dan menekannya perlahan.
"Aaah,“ desah Helda.
“Kau sudah basah,“ bisik Saga seraya terus memainkan jarinya di daging mentah yang memiliki aroma khas itu.
"Kau yang membuatku basah," sahut Helda, lalu memagut bibir Saga, sebentar.
"Gigit dia, Please," pinta Helda.
"Kau yakin?“ goda Saga.
Helda mengangguk seraya menggigit bibirnya.
Saga kemudian berjongkok di depan Helda, dia melebarkan kedua paha Helda. Hingga bongkahan mungil itu tampak di depan mata Saga.
Terowongan itu tak seperti milik seorang tante-tante masih menjepit dan selalu wangi. Saga tak ragu untuk mengeksekusi bahkan menggigit seperti yang Helda pinta.
Saga memainkan lidahnya dengan liar, di dalam terowongan itu. Helda merintih nikmat, menjambak Saga. Bahkan, sesekali menekan wajah Saga agar lebih masuk. Saga yang mendapatkan perlakuan itu justru lebih semangat, sesekali dia menggigit titik sensitif Helda.
Helda pun mendesah, lagi dan lagi, hingga akhirnya Helda tak bisa menahannya lagi. Lava hangat itu membanjiri lidah Saga.
"Maaf, Sayang," sesal Helda.
"Tidak apa-apa, aku menikmatinya,“ sahut Saga.
Helda pun membersihkan mulut Saga dengan tisu basah, kemudian perlahan mengecupnya.
***
Anda Mungkin Juga Suka





