Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Skandal Playboy Tampan

Terjebak Skandal Playboy Tampan

Hafsah Laila Azzahra terpaksa mengubur mimpinya setelah berurusan dengan Praditya Albara Arseano, pemuda kasar yang kerap mempermainkan wanita. Insiden tragis di acara kampus membuat Bara hampir merenggut kesucian Laila. Demi menghindari zina, Laila menawarkan pernikahan sebagai jalan keluar meski harus mengorbankan kebahagiaannya. Namun, keputusan itu justru menyeretnya ke dalam rangkaian rahasia tak terduga saat semesta mulai mengungkap kebenaran yang selama ini tersembunyi.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Laila? Kemarin kamu ke mana aja sih?"

Hafsah atau dikenal dengan nama Laila menoleh ke arah temannya yang dari tadi terus menanyakan keadaanya. Siapa lagi kalau bukan Dena teman plus sahabatnya itu.

"Ada kok," jawab Laila tanpa menoleh. Pandangannya hanya fokus berpura-pura mengamati Dosen yang sedang menjelaskan,

"Ck! Iya, aku juga tau kamu ada. Maksudku, pas malam itu kok kamu ninggalin aku sih? Dan ya, kenapa lagi kemarin gak masuk kampus?" Dena terus saja menanyakan hal yang menurut Laila tidak perlu menjawab, lagian saat mendengar kata 'malam itu' membuat moodnya hancur.

"Lagian kenapa sih kamu kepo-kepo amat!" ketus Laila, masih pura-pura memperhatikan. Percayalah, moodnya benar-benar hilang.

Dena mendekatkan wajahnya sedikit dengan Laila, "Laila?" kesal Dena padahal kan niatnya cuman bertanya, "Jangan bilang kalau kamu pulang sama seorang lelaki?"

Tak!

Dengan kesal Laila menggeplak punggung tangan Dena sedikit keras.

"Heyy yang di belakang sana! " teriak pak Dosen menggelegar. Telunjuknya ia arahkan kepada bangku Laila.

"Mampus! Dosen Killer lagi," gumam Laila yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.

"Salah kamu ini, Laila!" seru Dena ikut memelankan suarnya

"Tidak bisa mendengar ya?" ulang Pak Dosen dengan muka yang tengah jengkel.

Karena merasa emosi, Pak Dosen itu melangkah dengan raut wajah yang sangat kesal.

Sedetik kemudian Pak Dosen menjewer telinga seseorang membuat sang empu meringis kesakitan. Hal itu sontak membuat Laila dan Dena terkejut, tapi sedetik kemudian mereka langsung bernafas lega. Karena ternyata kemarahan Pak Dosen bukan pada keduanya.

"Ad--dudu--du pak, sakit pak! " Mohon seseorang itu karena Pak Dosen terus menjewernya dengan ditarik cukup keras.

"Lagi-lagi kamu Jery! Sekali lagi kamu mengobrol saat jam pelajaran saya!" Tatapan Dosen itu begitu tajam, "jangan harap kamu bisa lolos dari saya!" ucapnya penuh penekanan beserta semburan hujan yang mengenai wajah Jery. Tentu hal itu membuat seisi kelas langsung menatap jijik.

Siapa yang tidak mengenal Pak Dosen yang satu ini, Dian Herdian itulah nama dosen tersebut.

Dijuluki dosen killer juga manusia hujan. Ya. Selain pemarah Pak Dian juga selalu meciptakan hujan air liur, lebih tepatnya selalu mengeluarkan semburan hujan dari dalam mulutnya kala berbicara. Makannya setiap mahasiswa di kampus sana akan berhati-hati jika berhadapan dengan dosen yang satu ini.

Berbeda dengan Jerry, ia mengutuk dirinya sendiri karena telah melakukan kesalahan. Alhasil beginilah jadinya, ia harus mengambil buku dan simpan di depan mukanya agar tidak terkena cipratan air hujan dari Pak Dian.

"I-iya pak. Jerry janji gak bakal bicara saat pelajaran Bapak. Tapi lepasin dulu pak telinga saya. Takut copot!" Ampun Jerry dibalik wajahnya yang setengah ditutup oleh buku.

Pak Dian melepaskan jewerannya, namun tatapannya menatap tajam Jerry. "Buka! Pakek tutup-tutup segala! Jangan seolah kamu itu udah pintar Jerry!" ujar Pak Dian dengan mengambil buku yang sedari tadi Jerry simpan di depan wajahnya.

Astaga demi apa? Jerry langsung melebarkan matanya. Pak Dian tidak tahu saja kalau dia sedang bersembunyi dari cipratan yang tengah diciptakannya. Ah, Pak Dian memang seperti itu, gak pernah nyadar!

Hanya berselang menit, akhirnya pelajaran Pak Dian selesai juga. Para mahasiswa-mahasiswi tentunya langsung berhambur keluar menuju kantin, ada pula yang masih dikelas.

"Laila! Cuslahh kita ke kantin, aku lapar banget soalnya," seru Dena dengan menarik tangan Laila agar berdiri.

"Na, enggak dulu deh. Kamu aja sendiri ya?" Sungguh, Laila takut jika nanti bertemu dengan sosok semalam itu.

"Laila ihh, kok kamu tega gitu sih. Ayolah..." Dena kembali menarik tangan Laila. Laila yang ditarik seperti itu menghela nafas panjang, berharap bahwa nanti ia tidak bertemu dengan lelaki yang kini sangat ia benci. Ya, semenjak malam itu Laila benar-benar membencinya.

Tak perlu lama untuk mereka sampai di kantin. Dena memesan makanan seperti biasa, tapi Laila? Bahkan untuk makan saja selera makannya hilang jika dalam keadaan tegang seperti ini.

"Laila, kamu beneran gak mau mesen. Enak lho ini Sa. Bakso mercon dengan anak-anaknya," ujar Dena saat ia sudah duduk dengan makanan yang ia simpan di atas meja.

Laila hanya bergeming, tidak terlalu menanggapi ucapan Dena."Gak ah, cepetan deh makannya, Na."

"Eh, kamu itu kenapa sih? Kaya dikejar-kejar setan gitu?" gerutu Dena tidak terima. Pasalnya, makan saja belum, tapi Laila sudah menyuruhnya untuk cepat-cepat.

"Bukan gitu..." cemas Laila. "Arrgghh ... kamu enggak tau kalau aku takut jika bertemu Bara!" teriak Laila dalam hatinya. Tentu saja, masa iya dirinya harus berteriak seperti itu di depan Dena, mana berani dia.

"Hei,  calon kakak ipar."

"Uhuk!" Dena langsung tersedak saat mendengar kata itu. Bahkan tanpa sengaja Dena langsung menelan bakso kecil yang barusan ia masukan ke dalam mulutnya. Alhasil, bakso itu masuk tanpa kunyahan sedikitpun.

"Eh, eh, Na. Minum dulu," panik Laila dengan menyodorkan minuman ke Dena.

Dengan rasa perih karena tersedak Dena langsung minum dengan begitu tandas, bahkan kini matanya sudah mengeluarkan air mata.

"Eee-maaf ya, sengaja," ujar Jay menampilkan sederetan gigi berwarna kuning-putih itu. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Laila yang kesal siap memprotes, namun dengan cepat mulutnya kembali terkatup saat mendapati pasukan geng Bara berjalan ke arahnya. Menciptakan teriakan-teriakan dari kaum hawa, merasa bahwa mereka lah yang akan didatangi oleh Bara.

"Nah ... calon suamimu udah nongol juga!" seru Jaya yang langsung duduk di kursi. "Bos, karena gue bakal punya kakak ipar baru, jadi lo harus traktir kita semua!" seru Jay lagi saat geng Bara sudah ikut duduk di sana.

Laila menggerutu dalam hatinya, harapannya untuk tidak bertemu dengan Bara pupus sudah. Sedangkan Dena? Bahkan dia tidak tau sebenarnya apa yang telah terjadi.

Apalagi kini kantin beramai-ramai berkumpul untuk melihat apa yang sebenarnya tengah terjadi. Menimbulkan ke-irian melihat Bara duduk di hadapan gadis yang tidak tahu siapa.

"Gak ada traktir-traktiran! Di sini gue lagi ngumpulin uang buat halalin Laila." Bara tidak tahu saja kalau ucapan barusannya itu membuat seisi kantin benar-benar ricuh. Apalagi kaum hawa yang langsung panas mendengar hal itu. Apa Bara tidak menyadari kalau ucapannya itu membuat kaum hawa patah hati?

Laila yang mendengar itu tentu menggertakan giginya emosi. Bukannya merasa baper, justru dirinya seperti tengah dipermalukan. "Na, kita pergi aja. Ayo!" bisik Laila kepada Dena.

Dena yang memang juga takut dengan geng Bara ini sontak langsung menganggukkan kepalanya.

"Baru aja calon suami duduk, udah main kabur aja," celetuk Bara membuat Laila dan Dena mengurungkan niat. Ditatapnya Bara yang hanya menampilkan raut wajah santainya.

"Heh, Bara? Maaf-maaf aja nih ya..." ucap Dena menahan rasa takut. "Mungkin kau salah bicara! Siapa juga yang mau nikah sama kamu?" ucapan Dena sinis.

Bara melirik Dena dan Laila bergantian. Namun tatapan intens nya mengarah penuh pada Laila, "Sayang? Jadi kamu belum memberitahu kepada sahabatmu ini kalau kita akan sege--"

"Cukup Bara!" Laila mulai berdiri menahan kekesalan dihatinya. "Urusanmu hanya denganku, jangan membuat semua urusan ini kamu perbesar,Bara!" tegas Laila dengan sorot mata tajamnya.

"Laila!?" Bara ikut berdiri menatap Laila, "Kita bakal melangsungkan pernikahan ini 5 hari yang akan datang. So, buat apa di sembunyi-sembunyiin lagi?"

Brak!

Suara gebrakan meja terdengar keras.

"Apa?!" sontak yang berada di sana langsung melongo tidak percaya.

"Bara! Hentikan omong kosong ini!" sergah Laila mengeram. Bara benar-benar membuat emosinya terporak-porandakan.

"Omong kosong?" tanya Bara dengan terkekeh. Ia menatap Laila dengan tatapan tidak percaya. "Laila, lo gak lupa sama malam itu kan?" Bara tersenyum smirik saat mengatakan itu. Tentu hal itu membuat Laila mengepalkan tangannya kuat - kuat. Nafasnya bahkan ikut tersengal-sengal menahan emosi.

"Heh, Bara?! Apa maksud kamu?" Dena yang merasa tidak terima sahabatnya dipojokkan seperti ini membuatnya tidak bisa untuk tidak diam.

Benar-benar. Kantin dibuat ricuh seketika. Tatapan yang melihat acara drama di depannya membuat mereka mati penasaran apa yang sebenarnya telah terjadi.

"Lebih baik kamu urus aja perempuan-perempuan lain. Bukankah itu hobby kamu?!" Lagi-lagi ucapan Dena begitu menusuk. "Aku peringatin ya Bar... kami sebagai seorang perempuan, enggak bakal mau sama kamu! Sama lelaki yang sukanya mainin cewe dan kasar! Lebih baik kamu pergi jauh-jauh deh! Cari wanita yang lebih bergairah buat kau isi di atas ranjang!" tekan Dena begitu tajam juga menusuk. Membuat kantin semakin heboh, saling berbisik satu-sama lainnya.

Tak kalah emosi Dena menarik lengan Laila, sedangkan Bara tersenyum meremehkan saat Dena menarik tangan Laila

"Gue pastiin kalau ucapan lo itu salah besar!" teriak Bara membuat langkah Dena terhenti. "Karena dalam jarak dekat ini...sahabat lo itu bakal nikah sama gue."

Dena mengepalkan tangannya. Tanpa membalas jawaban Bara, ia kembali menarik tangan Laila agar menjauh dari sana.

"Laila, kamu enggak usah mikirin ucapan pria brengsek itu ya? Kelakuannya emang kaya gitu, jadi jangan dimasukin hati," ucap Dena sembari mengusap bahu Laila saat mereka sudah berada di dalam kelas. Sontak Laila langsung memeluk tubuh Dena.

Laila menangis dalam dekapan Dena. Sungguh, rasa bersalah kepada Dena memenuhi relung hatinya. Sahabatnya itu tidak tahu saja kalau dirinya memang akan menikahi Bara. Walau hatinya tidak menginginkan hal ini, tapi apa boleh buat? Bara selalu saja berhasil mengancamnya dengan kesuciannya yang akan direnggut. Siapapun pasti tidak mau kan mahkotanya direnggut dalam status belum menikah? Maka, itulah yang dilakukan Laila saat ini. Demi menjaga kesuciannya, ia rela menikahi pria brengsek seperti Bara.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95RXT" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95RXT
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFTER THAT NIGHT (CEO)
8.8
Darren Hawk, CEO teknologi di New York, berencana melamar kekasihnya, Angela Rawllies, seorang desainer ternama di Paris. Namun, ambisi cintanya terhambat oleh perjodohan ibunya dengan Xavia Price, model papan atas dari kalangan elit. Meski Darren bertekad menjaga jarak, sebuah insiden dalam satu malam mengubah segalanya dan menjebaknya dalam dilema besar. Kini, ia harus memilih antara cintanya pada Angela atau tanggung jawabnya kepada Xavia yang mendesak.
Sampul Novel Antara dua Cinta
8.3
Ikatan persahabatan yang semula sangat kokoh kini berada di ambang kehancuran sejak kehadiran seorang wanita misterius. Saat mereka berjuang mewujudkan mimpi besar bersama, konflik perasaan mulai merenggangkan hubungan hingga mereka memilih jalan hidup masing-masing. Ambisi dan cinta menjadi ujian berat yang mengancam segalanya. Akankah mereka berhasil memperbaiki keretakan tersebut dan mengembalikan keutuhan persahabatan yang pernah menjadi kekuatan utama mereka?
Sampul Novel Cabe-cabean Kekasih Vice President
7.8
Pertemuan tak sengaja di kelab malam membawa Alexander Richard pada Soraya, gadis berusia 19 tahun yang imut dan jujur. Meski awalnya hanya menganggap hubungan ini main-main karena jarak usia delapan belas tahun, sang Vice President justru jatuh cinta terlalu dalam. Namun, rahasia masa lalu Soraya ternyata berkaitan dengan luka lama Alexander. Kini, ia harus berjuang menghadapi trauma besar demi mempertahankan cintanya pada gadis yang sangat memikat hatinya itu.
Sampul Novel Cinta Berujung Duka atau Suka
8.8
Saat putri mereka terbaring lemah akibat demam tinggi, Jeffry Aryadi justru sibuk menghadiri rapat sekolah untuk anak dari cinta sejatinya. Panggilan telepon sang istri malah dijawab oleh wanita tersebut yang menangis meminta maaf, memicu kemarahan Jeffry yang membela diri dengan dalih menolong janda dan yatim. Di tengah dinginnya ruang rumah sakit, sang istri akhirnya mengambil keputusan besar. Sambil menemani putrinya yang disuntik, ia menawarkan awal baru bagi mereka untuk hidup berdua saja.
Sampul Novel Ghost Writer
8.3
Kisah ini menyoroti dinamika cinta kaum urban dan fenomena penulis bayangan. Cassandra adalah penulis berbakat yang kemampuannya dieksploitasi oleh Ayu, klien setianya yang tidak memiliki talenta menulis. Di sisi lain, seorang editor sekaligus sahabat Cassandra menyadari potensi besar tersebut. Ia berjuang keras mendorong Cassandra agar berani meraih kesuksesan dengan karyanya sendiri tanpa harus terus bersembunyi di balik nama kliennya.
Sampul Novel JANDA, MARRY ME!
7.9
Menjadi janda bukanlah sebuah pilihan atau kesalahan yang patut dihakimi. Namun, jika status tersebut dianggap sebagai noda, siapakah yang layak disalahkan? Apakah takdir Tuhan yang harus digugat, ataukah sosok pria yang tega pergi meninggalkan wanita itu sendirian? Inilah kisah emosional mengenai perjuangan seorang janda dalam menghadapi stigma sosial dan luka hati yang mendalam, saat dirinya terus berupaya mencari kebahagiaan yang seolah mustahil untuk ia temukan kembali.