Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Pernikahan dengan CEO Misterius

Terjebak Pernikahan dengan CEO Misterius

Kehidupan Aurora Vallen berubah total pasca wafatnya sang ayah saat Kael Vireaux, CEO misterius, datang mendesak sebuah pernikahan kontrak. Bagi Kael, Aurora hanyalah alat untuk menuntaskan misi balas dendam lama yang ia simpan rapat. Namun, keberanian Aurora justru mulai menggoyahkan rencana dinginnya. Di tengah ikatan pernikahan formal ini, mereka terjebak antara bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan atau menyerah pada perasaan cinta yang tumbuh tak terduga.
Bab
Bagikan

Bab 2

Semuanya berantakan!

Kepercayaan diri Aurora beberapa hari waktu lalu semakin terkikis oleh keadaan. Ia kehabisan waktu, dan tidak ada satu pun perusahaan yang mau menerimanya. Nama Vallen seakan telah diblokir oleh banyak perusahaan karena track record dirinya yang menjadi anak dari Matthew Vallen.

"Salahku apa?" desahnya, tertunduk di pinggir kasur. "Aku tidak pernah meminta untuk dilahirkan di keluarga ini. Dad bahkan tidak sejahat itu sampai nama Vallen seakan menjadi aib bagi banyak perusahaan."

Aurora menghela napasnya panjang. Usahanya selama ini untuk menjadi seorang yang selalu unggul di bidangnya seakan mengkhianatinya. Dengan nilai sempurna, dan kemampuan yang ia miliki, semua itu tak ada artinya karena dirinya menyandang nama Vallen.

Kartu nama milik Kael Vireaux masih berada di atas nakas. Sudah berhari-hari ia tidak memperhatikannya. Saat ini, ketika ia merasa tak ada lagi jalan yang bisa dilalui, potongan kertas yang telah kumal karena air hujan itu kembali menyita perhatian.

Tangannya terulur pelan, tampak ragu, tapi pada akhirnya ia kembali menyematkan di sela jemarinya. 

"Apa aku harus kesini?" 

Harus. 

Suara hatinya seakan berteriak seperti itu. Sementara pikiran dan logikanya menahan tubuhnya untuk bergerak. Kini Aurora berada dalam dilema besar. Apa yang harus ia lakukan?

Namun pada akhirnya, Aurora beranjak dari tempatnya, menyambar coat dan sling bag, serta memasukkan ponsel, dompet, dan kartu nama Kael ke dalamnya. 

Harga diri yang setinggi langit itu, saat ini ia pertaruhkan untuk mencari tahu tawaran apa yang telah disiapkan Kael untuknya. Terlebih dari itu, ia penasaran dengan sosok Kael Viraux. Kenapa seakan pria itu mengetahui semua hal tentangnya?

***

Gedung apartemen mewah membuat Aurora mendongak. Ia menatap lantai paling atas, tempat yang jelas terletak penthouse milik Kael Vireaux.

Saat Aurora memasuki lobi, pria berjas hitam tampak baru keluar dari lift. Ia mengenalinya. Jelas sekali pria itu adalah seseorang yang telah memberikan kartu nama Kael padanya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia segera berlari kecil, menghampiri pria itu dengan tergesa.

"Permisi, maaf." Aurora menyapa pria itu, sambil menampilkan senyum lebar yang dibuat-buat.

Pria itu mengerutkan kening sejenak, lalu tersenyum samar. "Nona Aurora Vallen?" 

Aurora mengangguk pelan, sedikit malu karena pada akhirnya, ia memutuskan untuk menemui pria misterius yang menawarkan bantuan untuknya.

"Kau mau bertemu dengan Tuan Vireaux... pada akhirnya?" 

Auror kembali mengangguk, kali ini tampak meringis. "kurasa... aku ingin tahu lebih banyak tentang tawaran apa yang akan diberikan. Dan... aku ingin tahu kenapa Kael Vireaux mengenalku."

Pria itu tersenyum, lalu kembali menekan tombol lift. "Tuan Vireaux akan senang mendengarnya. Mari, kuantar kesana."

Pintu lift terbuka, Aurora segera masuk setelah pria itu mempersilakan. 

"Maaf... Err... aku harus memanggilmu apa?" tanya Aurora lagi, merasa tidak nyaman karena sudah beberapa berinteraksi, tapi tidak tahu siapa nama dari pria di sebelahnya.

"Namaku Luther, asisten Tuan Vireaux," jawabnya singkat.

Aurora mengangguk kecil. "Ngomong-ngomong, Luther, apa kau tahu tawaran apa yang akan diberikan oleh Kael Viraux?"

Luther mengangguk. "Aku tahu, tapi bukan kapasitasku untuk mengatakannya padamu, Aurora. Tuan Vireaux yang akan memberitahu langsung padamu."

Aurora merapatkan bibirnya sejenak. "Ehm... apakah dia menakutkan?"

"Tuan Vireaux?" Luther mengonfirmasi ulang.

"Iya, Kael Vireaux. Apakah dia menakutkan?" 

Luther menggeleng, sikapnya kembali tegas. "Tuan Vireaux tidak menakutkan, hanya... sedikit tegas. Selebihnya, kau bisa melihatnya sebentar lagi."

Jawaban Luther membuat Aurora menjadi berspekulasi. Kata 'sedikit tegas', biasanya memiliki arti mendalam yang sengaja dihaluskan. Ia mulai membayangkan seorang Kael Vireaux adalah pria menyeramkan yang mungkin saja... sedang menjebaknya untuk segera melunasi hutang ayahnya.

Oh, God! 

Apakah Aurora benar-benar terjebak? 

Di tengah kepanikannya, pintu lift terbuka. Luther menyuruh Aurora keluar lebih dulu, sementara pria itu mengikuti dari belakang. 

Aurora menghela napas panjang ketika Luther memimpin jalan menuju ke pintu penthouse. Sepanjang lorong yang pendek, Aurora semakin terlihat cemas.

"Santai saja, Tuan Vireaux tidak akan memakanmu." Luther bercanda, sambil membuka pintu penthouse. "Masuklah, Tuan Vireaux telah menunggumu."

Aurora ragu sejenak. Kakinya terasa berat untuk melangkah, tapi ia telah berada di sini. Tidak mungkin ia berlari kembali ke lift, karena Luther pasti akan menangkapnya. Akhirnya, dengan perlahan ia masuk ke dalam penthouse sambil menahan napas.

Aroma bergamot yang halus menyeruak lembut, ia merasa sedikit tenang karena itu.

"Akhirnya kau datang, Aurora Vallen."

Suara berat yang tajam, terdengar datar tapi memiliki banyak penekanan pada tiap tarikannya. Aurora menoleh cepat, menatap ke sebuah pintu yang baru saja tertutup. Seorang pria tinggi, dengan kulit seputih salju, rambut berwarna tembaga dan mata cokelat hangat tampak kontras dengan tatapan tajamnya.

Pria itu hanya mengenakan jubah tidur, tapi jelas auranya tidak bisa disamarkan. Aurora meneguk ludahnya, merasa terintimidasi dengan kehadiran pria itu. 

Jika Luther membuatnya ngeri di awal pertemuan, maka Kael jauh lebih menakutkan dibanding itu.

"Kael Vireaux?" Aurora memberanikan diri untuk menyebut nama itu.

Pria itu menyeringai tipis, berjalan melewati Aurora menuju ke mini bar di dekat dapur terbuka. Tangan kekarnya meraih satu botol whisky, lalu menuangnya sedikit di gelas, dan menyesapnya perlahan. Aurora menunggu dengan sangat sabar.

"Aku penasaran, apa yang membuatmu sangat terlambat untuk datang kesini." Kael berjalan ke arah sofa, lalu duduk di sana dan meletakkan gelasnya di atas meja. "Duduklah, kita perlu bicara serius di sini, Rora."

Aurora menegang. Tidak ada yang pernah memanggil namanya dengan panggilan Rora selain orang tuanya.

Aurora duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Kael. Ia menghela napasnya pelan sebelum berbicara. "Kenapa kau bisa mengenalku, Kael Vireaux?"

Kael tersenyum samar, tatapannya lurus tertuju pada Aurora, seakan sedang menilai wanita itu dari atas ke bawah.

"Just call me Kael, Rora."

Aurora menghela napas. "Ok, Kael. Bisa kau jelaskan padaku sekarang?"

Kael meraih gelas whisky-nya dan memutarnya perlahan. "Aku tahu semua tentang latar belakangmu, Rora. Kau yatim piatu, tidak punya warisan, tapi memiliki beban hutang peninggalan ayahmu. Selain itu, kau tidak memiliki celah sedikit pun. Kau adalah tipe yang ideal untuk menerima tawaran dariku."

Aurora menautkan kedua alisnya."Apa maksudmu?"

"Kau memerlukan jalan keluar untuk hutang-hutang itu, dan aku membutuhkan istri kontrak dalam waktu satu bulan ini. Dan kau, Aurora Vallen... kau adalah kandidat paling stabil secara hukum dan sosial. Aku bisa meringankan bebanmu saat ini juga, dan kau bisa membantuku dalam urusan status pernikahan."

Aurora nyaris berteriak, kalau saja ia tidak ingat bahwa dirinya adalah tamu di sini. "Istri kontrak? Apa maksudmu? Kau mengajakku menikah, padahal kita baru pertama kali bertemu di sini? Saat ini? Kau gila??"

"Aku tidak gila sama sekali, dan aku serius dengan ucapanku. Aku membutuhkanmu untuk status pernikahan yang harus kudapatkan dalam waktu satu bulan ini. Kalau kau menyetujuinya, maka aku akan membayar lunas semua hutang peninggalan ayahmu."

Kael terlihat bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Namun Aurora masih meragukan motif dari pria itu. 

"Tapi... kenapa harus aku?" tanya Aurora.

Kael menyilangkan kaki, dan meletakkan kedua tangannya di sandaran sofa. Tatapannya masih tertuju pada Aurora. 

"Karena nama belakangmu bukan nama yang asing bagiku. Aku hanya ingin memastikan sesuatu, dan ya... tentu saja karena kita memiliki kebutuhan satu sama lain yang harus dipecahkan. Kebetulan aku bisa membantumu, dan kau juga bisa membantuku. Wajar, kan?"

Jelas itu hal yang tidak wajar. Tiba-tiba saja memberikan tawaran pernikahan, lalu berencana membayar hutangnya, dan... ada masalah apa dengan nama belakangnya? Aurora tidak mengerti, kenapa semua orang seakan terobsesi dengan nama belakang keluarganya?

"Tidak semudah itu, Kael Vireaux." Aurora berdiri, harga dirinya tidak bisa lagi menahan rasa malu karena merasa diintimidasi oleh Kael. "Aku tidak bisa menikah denganmu."

Kael hanya tertawa kecil. Sorot matanya masih tajam menatap Aurora. "Pikirkan saja dulu. Aku memberimu waktu sampai minggu depan."

"Sudah kubilang aku tidak akan melakukannya, kan?" Suara Aurora meninggi.

"Mungkin saat ini kau memang tidak mau melakukannya. Tapi hutangmu adalah bentuk nyata bahwa kau memerlukan bantuan dariku, Rora. Aku tunggu kabarmu, lebih cepat lebih baik." Kael kembali menyesap alkoholnya.

Aurora mendengus kasar, membuang muka dan menjejakkan kakinya kasar saat pergi dari hadapan Kael. Percakapan yang baru saja terjadi dengan pria itu, sungguh tidak bisa diterima oleh akal sehatnya.

Namun, kepergian Aurora seakan tak berpengaruh bagi Kael. Pria itu tetap tenang, menertawakan tingkah Aurora yang baru saja membanting pintu penthouse, dan kembali menikmati whisky-nya.

"Kau akan kembali, Rora. Cepat atau lambat," gumamnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After That Night
8.2
Rebecca kehilangan segalanya tepat sebelum hari pernikahannya akibat sebuah jebakan malam yang merusak reputasi serta jalinan cintanya. Di tengah kehancuran nama baik dan pengusiran oleh keluarga, ia menyadari bahwa insiden tragis tersebut justru menghubungkannya dengan sosok Glenn Romanov. Takdir kini mempermainkan dua orang asing ini dalam pusaran masalah yang kian rumit. Akankah Rebecca mampu bangkit saat hidupnya terikat pada pria yang tak ia kenal?
Sampul Novel Cinta Semalam Sang CEO
8.8
Terjebak tantangan teman saat mabuk, Prakas menghabiskan malam bersama Miona, gadis yang terpaksa menjual diri demi utang ibunya. Setelah mengusir Miona, Prakas terkejut mendapati gadis itu adalah putri Pak Imam, sosok OB yang ia anggap ayah sendiri. Berniat menebus kesalahan, Prakas melunasi utang keluarga Miona dan memintanya berhenti dari dunia hitam. Namun, Miona yang terluka justru menolak belas kasihan itu dan bertekad membayar balik semuanya.
Sampul Novel Cinta Si Kembar (TWINS LOVE)
9.0
Demi membiayai pengobatan sang ibu yang kritis, Maya terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak dari Reno. Di sisi lain, Reno sengaja memanfaatkan situasi sulit Maya untuk menjeratnya dalam ikatan legal yang menguntungkan. Bagi Reno, pernikahan ini hanyalah strategi licik untuk mengamankan harta warisan keluarga sekaligus memperkuat dominasinya di perusahaan. Mereka terjebak dalam kesepakatan gelap yang didasari oleh ambisi dan kebutuhan mendesak.
Sampul Novel Diam-Diam Kuserahkan Surat Cerai
9.3
Lima tahun menjadi istri rahasia miliarder Tritan Wirajaya, seorang mahasiswi akhirnya mundur saat cinta pertama suaminya kembali. Sadar cintanya bertepuk sebelah tangan, ia menjebak Tritan menandatangani surat cerai lewat berkas kuliah. Ia lalu pergi jauh dalam kondisi hamil. Kehilangan istri tulus dan calon pewaris membuat Tritan menyesal dan mencarinya. Namun, sang mantan istri kini telah bertransformasi menjadi wanita karier mandiri, membuat sang miliarder harus berlutut memohon cintanya.
Sampul Novel Don Juan
8.9
Don Juan adalah pria asal Italia yang memiliki segalanya, mulai dari paras tampan hingga kesuksesan finansial yang luar biasa. Baginya, wanita hanyalah objek sementara yang bisa dibuang setelah digunakan. Namun, hidup sang miliarder ini berubah total saat ia bertemu dengan seorang gadis misterius. Sosok ini berhasil menaklukkan hatinya yang dingin dan membuatnya berlutut dalam cinta. Siapakah perempuan yang mampu mengubah prinsip hidup Don Juan selamanya?
Sampul Novel Istri Kedua Tuan Abraham
8.5
Demi memenuhi wasiat Mikhaela yang sakit parah, Abraham Wijaya terpaksa meminta Jihan, asisten rumah tangganya, untuk menjadi istri kedua. Meski sempat menolak, Jihan akhirnya setuju demi membalas budi. Namun, situasi menjadi rumit saat Jihan hamil dan sikap Abraham mulai berubah. Rasa cemburu membakar hati Mikhaela hingga ia mengusir Jihan. Kini, Jihan terjebak dalam dilema antara pergi membawa kandungannya atau bertahan demi cinta yang mulai tumbuh.