Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Nostalgia

Terjebak Nostalgia

Marilyn tak pernah berharap bertemu kembali dengan pria dari masa lalunya, namun keadaan memaksanya untuk berhadapan lagi dengan Alvaro. Sebagai cinta pertama yang sempat meluluhkan hati, Alvaro juga menjadi sosok yang menghancurkan perasaan Marilyn lewat sebuah fakta menyakitkan satu dekade silam. Kini, sepuluh tahun setelah Marilyn memilih pergi, takdir justru mempertemukan mereka kembali. Apakah ini hanya permainan semesta atau bukti cinta sejati?
Bab
Bagikan

Bab 1

Alvaro kembali memimpikan wanita itu. Wanita yang sangat dicintainya dan tak sedetikpun Alvaro mampu melupakannya. Sosoknya sudah melekat dalam jiwa dan raga Alvaro.

"Lyn," gumam Alvaro menyebut nama wanita yang sangat di rindukannya.

Sepuluh tahun sudah berlalu, tapi tidak pernah sekalipun ia bertemu dengan sosok Lyn yang seakan lenyap di telan bumi.

Sampai sekarang Alvaro bahkan tidak berhenti mencarinya. Walau sampai ke ujung dunia pun Alvaro akan terus mencarinya.

Tapi Lyn benar-benar pintar bersembunyi hingga sampai sepuluh tahun pun Alvaro tidak juga menemukannya.

"Mungkin memang belum waktunya aku bertemu dengannya. Ataukah Tuhan tidak akan mengizinkan ku untuk bertemu dengannya lagi?" gumam Alvaro mengusap kasar wajah tampannya.

Wajah tampan yang membuat para wanita tergila-gila padanya. Tak sedikit wanita yang antri dan suka rela menyerahkan diri mereka ke dalam pelukannya. Tapi Alvaro hanya menginginkan Marilyn, wanita yang pernah hadir di hidupnya.

Tapi kini wanita itu menghilang. Menghilang dari hidupnya yang semula bahagia kini menjadi murung.

Pencapaian yang dia dapat sekarang ini terasa tak berarti tanpa adanya Lyn di sisinya. Tapi ia tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Ini semua murni karena kesalahannya.

Alvaro akui dia sangat bajingan, mencintai wanita lain disaat ia sendiri sudah memiliki tunangan.

Namun perasaan cinta itu tidak bisa dicegah, justru semakin bertambah seiring kedekatannya dengan Lyn.

"Wajar jika dia marah dan benci padaku. Wajar jika dia pergi menjauh dariku." Alvaro tersenyum sedih sembari membayangkan wajah cantik Lyn.

Alvaro merasa sesak dengan perasaan rindu yang begitu menggebu-gebu ini. Ya Tuhan! Ingin sekali rasanya Alvaro bertemu dengan Lyn, meminta maaf dan menumpahkan segala kerinduannya lewat pelukan hangat dan juga kecupan mesra.

Sekelebat ingatan bayangan mereka berdua yang tengah bercinta kembali berputar di kepala tampan Alvaro. Dia benar-benar rindu saat-saat seperti dulu dengan Lyn.

Satu hal yang Lyn tidak tahu adalah, Alvaro memutuskan tunangannya dan lebih memilih Lyn. Sayangnya Lyn tidak pernah mau mendengarkan ucapannya. Jangankan itu, Lyn bahkan tak sudi bertemu dengannya lagi.

Lalu setelahnya Alvaro mendengar kabar Lyn pergi dari kota ini. Kota yang penuh kenangan mereka berdua.

Alvaro mengabaikan teleponnya yang terus berbunyi, nama Feldo pun tertera dilayar ponselnya.

Hari ini ia sangat malas sekali beraktifitas. Padahal hidupnya selama ini memang tidak pernah ada gairah semangatnya semenjak Marilyn pergi.

Astaga! Nama itu lagi.

Sial! Benar-benar sedetikpun Alvaro tidak bisa melupakannya.

Terdengar ketukan pintu di kabarnya, dengan kesal pun Alvaro menyuruh seseorang itu untuk masuk.

"Ada apa?" tanya Alvaro dingin pada salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya.

"Nyonya Samira berpesan pada saya, beliau meminta anda untuk mengangkat panggilan teleponnya Tuan—"

"Hmm ya, pergilah." usir Alvaro tak acuh.

"B-baik Tuan." sedikit terbata pelayan itu menganggukkan kepala dan segera beranjak pergi dari kamar sang majikan.

Pelayan tersebut bisa bernafas lega, sungguh ia merasa sangat gugup dan juga takut pada majikan tampannya. Sayangnya majikannya itu sangat dingin dan kejam.

Walau begitu, pelayan tersebut tetap mengagumi sosok Alvaro. Mengidolakan Alvaro terlalu berlebihan.

Pelayan itu merasa beruntung karena bisa bekerja di rumah ini. Rumah besar nan mewah yang terasa sangat sunyi karena hanya dihuni satu orang saja, yaitu Alvaro sendiri.

"Hmm, ya Ma?" ucap Alvaro setelah mengangkat panggilan telepon mamanya.

Mamanya dan Feldo tidak akan berhenti mengganggunya dan akan terus menelponnya sepanjang hari.

Alvaro bahkan menganggap panggilan telepon mereka sebagai gangguan. Gangguan yang terus menerornya tiada henti. Bar-bar sekali!

"Iya Ma," kata Alvaro yang setelahnya mematikan panggilan telepon sepihak. Padahal mamanya masih bicara ini dan itu.

Alvaro kesal pada mamanya yang setiap hari mengomel saja. Rasanya tiap hari Alvaro selalu salah dimata mamanya.

Bagi nyonya Samira, kesalahan terbesar anaknya adalah ketika Alvaro memutuskan hubungan dengan Marissa. Wanita yang ia pilihkan untuk menjadi pasangan hidup putranya. Tapi Alvaro dengan sangat jahatnya malah membatalkan perjodohan yang sedikit lagi ke tahap pernikahan.

Semua ini karena wanita itu, wanita pengganggu yang telah membuat Alvaro berpaling dari Marissa. Padahal sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja, tapi semenjak wanita itu hadir Alvaro jadi lupa diri.

Lupa diri akan segalanya, termasuk pada Marissa. Alvaro seakan lupa jika dirinya sudah bertunangan dengan Marissa.

"Entah apa yang sudah dilakukan wanita itu hingga membuat Alvaro terlena padanya." gumam nyoya Samira kesal dan menduga jika wanita yang bernama Marilyn itu memakai pelet untuk menarik Alvaro ke dalam pelukannya.

Jika Alvaro mendengar ucapan nyonya Samira ini, pastilah Alvaro marah dan tidak terima dengan tuduhannya.

Dan dengan bangganya Alvaro mengatakan jika Marilyn berbeda dengan wanita lainnya. Marilyn istimewa, memiliki sesuatu yang tidak ada di diri Marissa.

Yaitu kenyamanannya. Bersama dengan Marilyn, Alvaro merasakan kenyamanan yang sejati. Berbeda dengan Marissa yang justru selalu membuat Alvaro merasa tertekan.

Sifat pemaksa Marissa membuat Alvaro tidak tahan dan segera memutuskan hubungan mereka. Kini meskipun perjodohan sudah dibatalkan, tetapi Marissa tidak lelah mendekatinya kembali.

Pernah suatu hari Marrisa memohon pada Alvaro untuk melanjutkan hubungan mereka. Tak sekali dua kali, Marissa kembali memohon-mohon padanya.

Tapi sekeras apapun usaha Marissa tetap tidak membuahkan hasil. Alvaro tidak akan pernah mau kembali lagi padanya. Karena perasaan tidak bisa dibohongi, dihatinya hanya ada nama Marilyn. Dulu, kini, dan selamanya. Sampai kapanpun hanya Marilyn yang Alvaro mau.

***

Feldo membawa kabar gembira untuk ia sampaikan pada sahabatnya. Sahabat yang merangkap jadi bosnya sekarang ini, Alvaro.

Pria itu menatap malas pada Feldo yang nyengir cengengesan. Tampak sekali raut bahagia di wajah Feldo.

"Kelihatannya lo lagi senang ya?"

"Banget. Gue memang lagi senang banget. Lo tahu kenapa?"

Alvaro menggelengkan kepalanya, "sayangnya gue gak ingin tahu tuh."

"Yakin lo gak mau tahu gue lagi senang karena apa?"

"Yes! Malas banget gue dengarnya."

"Yakin?" goda Feldo memancing reaksi Alvaro yang tadinya tak acuh namun kemudian jadi penasaran.

"Penasaran kan, lo?!" tebak Feldo benar.

"Udah, gak usah bertele-tele. Cepat katakan!"

"Dih, maksa! Sabar atuh Mas bro, rileks."

Alvaro menghela nafas sabar menghadapi temannya yang satu ini. Feldo tersenyum puas melihat Alvaro yang mulai tenang.

"Gue yakin lo pasti senang banget dengar kabar ini."

Alvaro tersenyum sinis, merasa tak yakin dengan ucapan Feldo. "Tak ada kabar yang membahagiakan selain tentang Marilyn."

"Lah, gue memang mau kasih kabar mengenai Marilyn." Alvaro langsung menatap tajam Feldo.

"Serius lo? Jangan coba-coba ngerjain gue ya. Gue hajar lo!" ancam Alvaro agak kurang yakin meskipun ia sangat berharap temannya ini bicara serius.

"Iya, gue serius Al."

Dada Alvaro berdebar bahagia mendengarnya, ia pun meminta Feldo untuk segera mengatakannya.

Feldo pun mengatakan jika ia tahu dimana keberadaan Marilyn saat ini. Dengan penuh semangat Alvaro ingin pergi menemui Marilyn tapi Feldo by dengan cepat mencegahnya.

"Jangan gegabah! Kamu akan bertemu dengannya tapi tidak begini caranya."

"Lalu bagaimana caranya? Kenapa harus menunggu lagi jika aku sudah mengetahui dimana keberadaannya?"

"Hei, dengarkan aku. Aku mempunyai cara untuk mempertemukan kalian berdua kembali. Tapi tidak dengan cara kamu menemuinya."

"Lalu?"

Feldo membisikkan sesuatu di telinga Alvaro yang mengangguk-angguk mengerti dan kemudian setuju. Setuju dengan usulan Feldo.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asisten Pribadi CEO yang Terlalu Mempesona
8.2
Demi membalas budi sahabat yang membiayai pengobatan anaknya, Wilona Anastasia bertahan menjadi asisten Marten Dewangga Yanuardi. Meski Marten adalah CEO muda yang arogan dan keras kepala, pesona Wilona perlahan melunakkan sifat kekanakannya hingga ia terobsesi pada asistennya itu. Namun, sebuah rahasia besar membayangi hubungan mereka yang kian intens. Akankah cinta Marten tetap bertahan saat mengetahui bahwa Wilona sebenarnya adalah seorang janda beranak satu?
Sampul Novel Bertukar Pasangan
8.4
Pertemuan tak sengaja di kapal pesiar memicu ketertarikan terlarang antara dua pasangan muda. Marc dan Valerie merasa terpikat oleh Dylan dan Laura, begitu pula sebaliknya. Didorong rasa penasaran yang memuncak, Dylan mengusulkan ide gila kepada istrinya untuk bertukar pasangan selama satu hari. Keputusan berisiko ini membawa mereka ke dalam hubungan dewasa yang penuh gairah. Akankah eksperimen ini berakhir begitu saja, atau justru mengungkap misteri kehidupan baru?
Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy
9.0
Alexandria Serenata Atmadya pindah ke megapolitan demi pekerjaan baru, namun sifatnya yang sulit menolak justru menjebaknya dalam skema Ragnala Firaz Himawan. Ragnala yang manipulatif memaksa Alexandria masuk ke pernikahan berkedok kesepakatan rahasia. Di tengah persaingan kecerdikan mereka, muncul fakta mengejutkan tentang seorang anak berusia empat tahun. Alexandria pun harus menghadapi taktik manis Ragnala demi memperjuangkan cinta di tengah pahitnya masa lalu.
Sampul Novel Cinta Sangkarku, Bukan Keselamatan
8.6
Kirana Adiwijaya mengira hidupnya sempurna sebagai pewaris agribisnis dengan suami idaman, Bima. Namun, sebuah rahasia kelam terungkap: Bima memiliki keluarga tersembunyi bersama Rania yang selama ini dianggap tewas. Orang tua Kirana ternyata mendanai kebohongan ini dan berencana menyingkirkannya dengan obat penenang dosis tinggi. Menyadari cinta mereka hanyalah sangkar mematikan, Kirana berhenti menjadi korban. Ia kini siap membalas dendam lewat permainan yang jauh lebih berbahaya.
Sampul Novel Istri Bayaran
9.5
Demi biaya kuliah dan pengobatan sang ayah, seorang gadis muda terpaksa bekerja sebagai teman kencan bayaran. Takdir membawanya bertemu seorang pria kaya berwajah dingin yang merupakan kakak dari kliennya. Terpikat sejak awal, sang tuan muda menawarkan pernikahan kontrak sebagai solusi finansialnya. Meski awalnya terpaksa, hubungan mereka penuh liku akibat campur tangan keluarga dan rahasia masa lalu. Akankah cinta sejati tumbuh sebelum masa kontrak mereka berakhir?
Sampul Novel Kakak Beradik 
8.6
Kematian tragis sang protagonis terjadi tepat di hari ulang tahunnya bersama saudara kembar perempuannya. Namun, alih-alih duka yang tulus, ia justru menyaksikan pacarnya memeluk erat kembarannya yang menangis. Di saat yang sama, kemarahan keluarganya memuncak; ibunya terus menelepon tanpa henti, ayahnya mencaci dirinya sebagai anak yang tidak tahu berterima kasih, dan saudarinya mengirim pesan kejam yang menuduhnya egois. Saat semua hujatan itu datang, ia menyadari satu hal: dadanya kini tidak lagi terasa sakit.