Sampul Novel Terjebak Miliarder Posesif

Terjebak Miliarder Posesif

8.0 / 10.0
Dalam novel romance Terjebak Miliarder Posesif, Michael berambisi menikahi Fahima demi menangkal nasib sial. Meski terhalang perbedaan prinsip dan persaingan dengan Jordan, miliarder ini tetap mengejar sang guru. Baca billionaire romance novels ini untuk mengikuti kisah cinta unik mereka.
Ringkasan Terjebak Miliarder Posesif
Michael, miliarder ateis keturunan Tionghoa, terobsesi menikahi Fahima demi menangkal nasib buruk usai memecahkan guci pernikahan sakral. Namun, guru sederhana yang taat agama itu menolak karena perbedaan prinsip dan enggan meninggalkan Pulau Bangka. Meski terhalang keyakinan dan trauma masa lalu Fahima terhadap pria Tionghoa, Michael tetap gigih berjuang. Di tengah persaingan dengan saudaranya, Jordan, serangkaian pengalaman spiritual mulai menyatukan mereka.
Baca Selengkapnya

Terjebak Miliarder Posesif Bab 1

Pria tampan keturunan Tionghoa dengan wajah khas, kulit putih dan tinggi setara dengan model internasional menjadi godaan tersendiri bagi wanita yang melihatnya. Kesempurnaan terlihat jelas dari Michael Hardianto yang sedang duduk elegan di balik meja kerja. Pria dingin dan sedikit bicara tetapi sangat suka memerintah tanpa ada yang boleh membantah.

Michael Hardianto, putra pertama dari Hardianto Prasetyo adalah orang terkaya nomor satu di Indonesia dan menjadi urutan ke-150 terkaya di dunia meskipun usianya baru 35 tahun. Memiliki total kekayaan bersih mencapai 11,6 miliar dollar AS atau setara Rp 172,8 triliun

Michael sering disebut jimat keberuntungan oleh keluarga besarnya, karena begitu Michael lahir usaha keluarga Hardianto maju pesat dengan keuntungan yang luar biasa besar. Hanya ada satu masalah dalam hidup Michael, yaitu kisah cintanya. Di usia yang sudah matang dan mapan pun, Michael belum pernah jatuh cinta. Hidupnya disibukkan dengan bisnis dan uang.

“Selamat pagi, Tuan Michael.” Seorang wanita dengan pakaian sangat seksi berdiri di depan Michael yang tidak melihat sama sekali pada sekretarisnya.

“Tuan, semua kolega telah menunggu di ruang rapat,” ucap Fanny lembut dan pria itu segera beranjak dari kursi tanpa sepatah katapun, ia merapikan jas dan berjalan keluar ruangan menuju meeting room. Semua berdiri dan menundukkan kepala menyambut kedatangan bos besar.

Michael Hardianto memenangkan hak untuk membangun kembali Hotel Bintang Indonesia yang terletak di kompleks Jakarta Pusat. Ia mengubah properti menjadi pusat perbelanjaan, perkantoran, hotel mewah dan kompleks apartemen bernama Sun Flower Indonesia. Pria itu akan membeli sebuah pulau kecil dan melakukan bisnis perhotelan yaitu pulau Bangka.

Melakukan perjalanan bisnis dan liburan di pulau kelahiran orang tuanya yaitu pulau Bangka. Sebuah pulau kecil terkenal dengan pantai yang sangat indah. Suasana yang aman dan damai, jauh dari hirup pikuk kota dan bahkan tidak akan terjebak macet. Michael sengaja mengumpulkan semua orang di ruang rapat untuk menyampaikan rencananya kedepan, selama ia pergi pimpinan sementara di pegang oleh Jordan Hardianto−adik Michael.

“Aku akan berlibur dan bekerja,” tegas Michael.

“Fanny dan Fendy akan ikut diriku,” lanjut pria itu. Yang mendapatkan senyuman lebar dari sekretarisnya.

“Jordan, ikut keruanganku!” Michael menutup rapat tanpa ada pertanyaan dan protes dari semua orang. Ia berjalan kembali ke ruangannya diikuti Jordan.

“Kenapa mendadak?” Jordan menutup dan mengunci pintu.

“Sebenarnya tidak mendadak hanya di percepat.” Michael duduk di sofa.

“Kenapa dipercepat? Kamu tidak pernah merubah apa yang telah direncanakan.” Jordan menatap Michael.

“Tanyakan pada papa dan mama.” Michael terlihat kesal.

“Baiklah, mereka mau kamu beristirahat dan memikirkan untuk segera menikah.” Jordan tersenyum.

Michael menatap tajam pada Jordan. Pria itu menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia mengdengus, menarik napas dengan berat dan membuangnya dengan kasar. Lelaki tampan yang selalu dipuja kaum hawa dan dikagumi banyak pengusaha muda itu memejamkan mata. Jari-jari kekarnya memijit batang hidung yang terpahat mancung dan sempurna. Sorotan mata yang tajam dilengkapi dengan alis lebat dan hitam hampir menyatu sangat kontras dengan kulit putih dan bersih sang pria keturunan Tionghoa itu.

“Apa kamu tidak tertarik untuk menikah?” Jordan menaikkan alisnya melihat kegelisahan Michael.

“Aku akan menikah, tetapi tidak sekarang,” jawab Michael mengendurkan ikatan dari dan membuka kancing jas miliknya. Dua saudara itu terdiam.

Angin berhembus menggoyangkan gorden. Mengejutkan Jordan karena ruangan itu sudah menggunakan pendingin.

“Kenapa kamu membuka jendela?” Jordan menutup jendela kaca yang terbuka.

“Kadang aku butuh udara asli.” Michael beranjak dari sofa dan berjalan menuju lemari pendingin.

“Polusi udara. Kamu sangat suka kebersihan.” Jordan memperhatikan Michael.

“Aku bisa mandi setelah sampai rumah,” ucap Michael kembali ke sofa.

“Apa rencana kamu selanjutnya di Bangka?” Jordan duduk di depan Michael.

“Aku tidak mau mengunjungi semua keluarga yang ada di Bangka.” Michael meneguk minumannya.

“Aku tahu, kamu tidak mau mendengarkan ocehan mereka.” Jordan ikut meneguk air yang ada di atas meja.

“Aku sangat khawatir.” Michael membuka jasnya.

“Apa yang dikhawatirkan seorang Michael?” Jordan menyenderkan tubuhnya di dinding sofa.

“Mama mau aku mengambil guci pernikahan di rumah Oma.” Michael semakin kesal.

“Lalu?” Jordan sangat penasaran.

“Aku pikir, papa dan mama berlebihan karena terlalu percaya mitos.” Pria tampan itu membuka dasi dan membuang ke sofa.

“Bagi papa dan mama, kamu adalah pembawa keberuntungan. Apakah itu juga mitos?” tanya Jordan.

“Apa kamu tahu? Jika guci itu pecah maka keberuntunganku akan menjadi kesialan kecuali aku menikah dengan wanita yang berada paling dekat dengan guci pecah.” Michael menekankan suaranya. Ia sangat ingin berteriak.

“Kamu kirimkan saja guci menggunakan jasa kurir dari Bangka ke Jakarta.” Jordan menatap Michael yang terlihat kesal.

“Itu Guci leluhur kita yang harus dijaga, apa kamu mengerti maksud perkataan itu?” Michael meneguk habis minumannya dan menghancurkan botol kosong itu.

“Baiklah, Guci itu tidak boleh dikirim dan harus terus berada di sisi kamu,” ucap Jordan.

“Bayangkan, jika guci itu pecah? Aarrg.” Michael mengacak rambutnya.

“Berdoa saja pada sang Dewa, ketika guci itu pecah ada bidadari cantik di sisi kamu.” Jordan tersenyum.

“Pergilah berdoa untuk diriku!” Michael menatap tajam pada Jordan.

“Hey, kamu yang harus berdoa pada sang Dewi Fortuna.” Jordan tersenyum lebar.

“Bagaimana jika kita pergi ke tukang ramal?” Jordan terlihat serius.

“Aku tidak percaya dengan semua itu.” Michael merapikan kemejanya dan bersiap untuk pergi.

“Kamu mau kemana?” Jordan ikut berdiri.

“Pulang ke rumah.” Michael berjalan keluar ruangan, ia membuka pintu dan melihat Fanny berdiri tepat di depan dirinya.

“Maaf, Tuan. Saya telah mempersiapkan keberangkatan ke Bangka besok siang.” Fanny tersenyum.

“Pilih hotel terbaik di pulau Bangka dengan pemandangan pantai dan dekat dari rumah keluargaku!” Michael memasuki lift khusus diikuti Jordan.

“Tidak usah di perjelas, Bangka memiliki hotel mewah di pinggir pantai yang indah.” Jordan menepuk pundak kakaknya.

“Apa kamu sering pulang ke Bangka?” tanya Michael dan menepis tangan adiknya.

“Tentu saja, hanya butuh lima puluh menit di pesawat.” Jordan tersenyum.

“Gadis Bangka sangat cantik dan manis, mereka juga sangat ramah,” bisik Jordan di telinga Michael.

“Mata kamu sangat jeli ketika melihat wanita.” Pria itu memicingkan matanya.

“Tentu saja, apalagi gadis melayu pribumi dengan kulit sawo matang, sangat mempesona.” Senyuman lebar terlihat di bibir Jordan membuat Michael memikirkan sesuatu yang tidak ia sukai.

“Hey, aku tidak melakukan seks bebas.” Jordan bisa memahami tatapan saudaranya.

“Entahlah.” Michael keluar dari lift karena telah terbuka, ia menuju mobil mewah berwarna hitam miliknya. Dan Jordan menuju mobil berwarna merah. Dua mobil mahal itu meninggalkan kawasan perkantoran menuju rumah mewah bernuansa Chines.

Mobil hitam mewah dan mahal memasuki halaman hijau sebuah rumah besar dengan tiang-tiang tinggi dengan ukiran naga dan burung Phoenix berwarna lembut. Dua pria tampan turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah. Wajah kusut Michael terlihat jelas. Pria itu bahkan merasa gerah dengan hari yang panas di kota Jakarta walaupun udara segar dari tumbuhan dan pepohonan memberikan kesejukan.

Seorang wanita paruh baya dengan wajah oriental keturunan Tionghoa tersenyum menyambut dua putra kesayangannya di depan pintu untuk makan siang bersama. Dia bisa melihat kekesalan pada wajah jimat keberuntungan keluarga Hardianto.

"Ada apa ini?" Mama berdiri di depan pintu.

"Hm." Jordan mengangkat pundaknya.

“Berikan pelukan pada Mama.” Wanita itu membentangkan tangannya.

“Halo, Ma.” Jordan berlari memeluk wanita cantik dengan kulit putih bersih.

“Halo, Sayang. Kenapa dengan wajah tampan kakak kamu?” tanya Nyonya Jia Li−Mama Jordan dan Michael.

“Dia sedang memikirkan Guci pernikahan.” Jordan tersenyum dan mencium dahi mamanya.

“Ma, aku saja yang mengambil Guci itu.” Suara Jordan terdengar manja.

“Usia kakak kamu sudah tiga puluh lima tahun dan belum juga menikah, Mama sangat khawatir,” bisik Mama di telinga Jordan yang harus menunduk karena wanita itu hanya sebats bahunya.

“Aku juga sudah tua, Ma.” Jordan memancungkan mulutnya.

“Kamu punya banyak kekasih.” Nyonya Li menjewer telinga Jordan.

“Aww, sakit, Ma.” Jordan berlari masuk ke dalam rumah.

“Menyebalkan.” Michael melewati Mamanya.

“Berhenti!” perintah Nonya Li dan itu dapat menghentikan langkah kaki Michael.

“Halo, Ma.” Michael memeluk mamanya.

“Jangan mengecewakan dan membuat sedih Mama,” bisik Nyonya Li di telinga Michael.

Michael dan Jordan masuk ke kamar mereka masing-masing untuk membersihkan diri dan membuka jas serta dasi, keduanya keluar bersama dengan kemeja dan celana berbahan menuju ruang makan.

“Putraku semakin tampan dan gagah.” Tuan Hardianto tersenyum dan bersiap untuk makan siang.

“El, kapan kamu akan pergi ke Bangka?” tanya Papa.

“Besok,” jawab Michael pelan.

“Pa, apa aku boleh ikut?” tanya Jordan bersemangat.

“Jo, kamu harus menggantikan El selama di Bangka,” ucap Mama dengan senyuman.

“Sebaiknya kita segera makan.” Michael mengambil makanan dengan sumpitnya.

“Apa kamu akan kembali ke Perusahaan setelah makan siang?” tanya Jo dengan mulut penuh makanan.

“Tidak, aku akan jalan-jalan saja sebentar. Aku sudah kenyang.” Michael beranjak dari kursi.

“Jo, ada apa dengan El?” tanya Mama.

“Mama lebih tahu.” Jordan tersenyum.

“Sebenarnya, Guci pernikahan itu mitos atau fakta?” Jordan melihat Papa dan Mama bergantian.

“Itu fakta untuk mempertemukan El dengan jodohnya.” Mama tersenyum puas.

“Itu ide dari Mama kamu.” Papa menyelesaikan makan siang.

“Aku kembali ke kantor, Sayang.” Tuan Hardianto mencium kepala istrinya.

“Hanya Jakarta-Bangka dan El akan menggunakan pesawat bisnis. Fanny dan Fandy yang di dekatnya.” Jordan menatap Mamanya.

“Belum tentu, Sayang.” Mama menyentuh pipi Jordan dengan lembut dan merapikan meja makan dibantu beberapa pelayan.

Nyonya Lia Ji hanya ibu rumah tangga biasa, ia setiap hari berada di rumah mengurus keluarganya. Tuan Hardianto adalah pria yang setia, ia puas dan bahagia bersama istrinya dari hidup susah hingga menjadi kaya raya. Pernikahan mereka yang ditentang keluarga membuat Hardianto melarikan diri ke Jakarta dan membuka usaha kecil-kecilan dari modal yang dia tabung sejak masih muda.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Terjebak Miliarder Posesif

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dewa Itu Adalah Patungku
8.6
Melinda kecil yang polos menemukan sebuah patung beruang di jalanan dan memutuskan untuk membawanya pulang. Ia merawat benda itu dengan penuh kasih sayang tanpa menyadari identitas aslinya. Tak disangka, patung tersebut merupakan inkarnasi sosok pria muda yang perkasa. Hingga Melinda tumbuh menjadi gadis cantik, wujud beruang itu tetap bertahan sampai muncul ketegangan yang mengubah segalanya. Akankah hubungan unik antara manusia dan dewa ini berakhir bahagia?
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya mengira pernikahannya dengan Adnan akan membawa kebahagiaan abadi, namun realitanya justru menjadi neraka penuh kekerasan. Adnan melampiaskan dendamnya terhadap mertua dengan menyiksa istrinya secara keji setiap hari. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang mendalam, sosok dari masa lalu Saschya tiba-tiba muncul kembali. Akankah kehadiran mereka membantu Saschya lepas dari belenggu Adnan, atau justru menambah konflik baru dalam hidupnya yang hancur?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Sampul Novel Jangan bermain-main dengan saya
8.9
Kisah mafia dan romansa ini berawal saat seorang ayah tega menjual putri kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu, gadis itu tumbuh dewasa hanya untuk menghadapi kenyataan pahit tentang garis hidupnya. Dia tidak memiliki pilihan selain menerima takdir kelam yang telah ditetapkan, yakni menjadi istri dari seorang pengedar narkoba yang berbahaya. Perjalanan hidupnya kini terjebak dalam dunia kriminalitas yang penuh dengan intrik dan bahaya besar.
Sampul Novel MENYUSUI MAFIA KEJAM
8.6
Hidup Alena Adriani Quensyah hancur seketika saat orang tuanya tega menjadikannya jaminan utang kepada seorang mafia kejam. Kini, Alena terjebak dalam kehidupan yang terasa seperti penjara, sembari terus dibayangi trauma masa lalu yang kelam. Di tengah penderitaan itu, ia bertekad mencari jawaban atas alasan kedua orang tuanya pergi meninggalkan dirinya dalam bahaya. Mampukah Alena bertahan dan menemukan kembali keluarganya yang hilang?
Sampul Novel Misteri Ular Xaver
8.1
Sepulang berwisata dari Kota Xaver, ibu membawa patung dewa ular misterius yang diyakini bisa memberikan kemudaan abadi. Syaratnya mengerikan: patung itu harus diberi sesembahan darah menstruasi gadis perawan. Ibu memaksaku memberikan darah serta memotong rambutku untuk dililitkan pada kepala ular tersebut. Namun, dia tidak tahu bahwa aku sudah tidak perawan sejak kuliah. Dua bulan berlalu, petaka pun tiba saat kulit ibu mulai ditumbuhi sisik biru dan dia mulai berganti kulit layaknya ular.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan