
Terjebak Empati & Cinta Paksaan
Bab 2
Pagi berikutnya, Selina bangun dengan perasaan berat. Matahari yang menyinari kamar tidurnya tidak mampu mengusir kegelapan yang mengisi hatinya. Pikirannya terus teringat pada pertemuan semalam dengan Rafael. Di bawah sinar matahari yang cerah, hidupnya terasa semakin gelap. Keputusan orang tuanya untuk menjodohkannya dengan pria yang bahkan belum ia kenal dengan baik seolah mengurungnya dalam sangkar emas yang tidak pernah ia inginkan.
Selina berusaha menepis perasaan itu, tetapi suara ibunya yang menekan di telinganya terus bergema: "Jangan kecewakan ibu. Ini demi masa depanmu."
Langkahnya terasa berat ketika ia berjalan menuju ruang makan, tempat orang tuanya sudah duduk menikmati sarapan. Ayahnya, yang selalu tampak tenang dan bijaksana, memandangnya dengan senyum yang mengingatkan Selina pada kenyataan yang tak bisa ia hindari.
"Selina, bagaimana pertemuanmu dengan Rafael semalam?" tanya ayahnya, nada suaranya penuh dengan harapan.
Selina menarik napas panjang, berusaha menahan amarah yang sudah mulai menggelegak di dadanya. "Kami hanya berbicara sedikit. Tidak ada yang spesial," jawabnya, mencoba terdengar tenang meskipun hatinya penuh kebingungan.
"Ibu dan ayah ingin agar kamu segera mempertimbangkan hal ini dengan serius, Selina. Kamu tahu bahwa perjodohan ini adalah bagian dari keluarga besar kita, dan itu akan memberikan banyak manfaat. Kami berharap kamu bisa membuka hati," kata ibunya dengan senyum lembut namun tegas.
Selina mengangguk perlahan, meskipun di dalam hatinya ia meronta. Ia tidak bisa melawan orang tuanya, tetapi ia juga tidak bisa menerima kenyataan ini. Kehidupannya yang selalu berjalan dengan aturan dan harapan orang tuanya kini terancam berubah menjadi sesuatu yang tidak ia inginkan. Bagaimana bisa orang tuanya memaksanya untuk menikah dengan seseorang yang bahkan tidak ia kenal sepenuhnya?
Setelah sarapan, Selina memutuskan untuk pergi ke rumah sakit lebih awal, berusaha mengalihkan pikirannya dari masalah yang semakin menumpuk. Namun, meski ia sibuk dengan tugas-tugasnya yang padat, pikiran tentang Rafael dan perjodohan ini tetap menghantui setiap langkahnya. Ia merasa terperangkap dalam dunia yang tidak pernah ia pilih.
Saat berjalan di koridor rumah sakit, Selina disapa oleh beberapa kolega dan pasien yang mengenalnya. Wajahnya yang cantik dan penuh kebaikan hati selalu membuat orang merasa nyaman di sekitarnya, tetapi kali ini, ia merasa ada beban yang sangat berat di pundaknya. Setiap orang yang menyapanya membuatnya merasa semakin terasing. Ia tidak bisa menepis perasaan bahwa kehidupannya kini bukan miliknya lagi, melainkan milik orang tuanya yang sudah memutuskan segala sesuatunya untuknya.
Namun, saat ia memasuki ruangannya dan duduk di meja kerja, ada ketukan di pintu yang membuatnya terjaga dari lamunannya.
"Selina," suara dokter Arjuna terdengar dari balik pintu. "Ada pasien yang perlu segera ditangani di ruang UGD. Sepertinya cukup serius."
Selina segera berdiri dan mengangguk, bergegas menuju ruang UGD. Pekerjaan di rumah sakit adalah satu-satunya tempat di mana ia merasa bisa melepaskan diri dari tekanan yang mengurungnya. Di dunia medis, ia tahu apa yang harus dilakukan, dan itu memberi sedikit kenyamanan di tengah kekosongan emosional yang ia rasakan.
Sesampainya di UGD, seorang perawat mengarahkan Selina ke sebuah ruangan di sudut, di mana seorang pria terbaring dengan tubuh penuh keringat. Di sekelilingnya ada beberapa rekan medis yang sedang berusaha mengatasi kondisinya.
"Dokter, pasien ini dalam kondisi cukup parah," ujar perawat itu sambil menjelaskan. "Dia tampaknya mabuk berat, dan ada luka-luka di tangannya. Kami tidak tahu apa yang terjadi."
Selina menghentikan langkahnya sejenak, mencoba untuk menilai situasi dengan tenang. Namun, saat matanya bertemu dengan wajah pria yang terbaring di atas meja perawatan, ia merasa sesuatu yang aneh. Pria itu terlihat sangat familiar, dan ada rasa cemas yang mendalam di dadanya.
"Siapa dia?" tanya Selina, berusaha menjaga ketenangannya.
"Rafael Ardan, dokter," jawab perawat itu dengan cepat. "Kami baru saja mendapat informasi bahwa dia kecelakaan karena mabuk. Sepertinya dia baru saja mengalami patah hati yang cukup berat."
Selina terkejut. Nama itu, Rafael Ardan, kembali muncul dalam hidupnya, kali ini dengan cara yang tak terduga. Tanpa pikir panjang, ia mendekat, dan wajah pria itu mulai tampak jelas. Mata yang sebelumnya penuh kebingungannya kini tertutup rapat, dan di sana, Selina bisa melihat luka-luka yang cukup parah di tubuhnya. Ia merasa ada sesuatu yang sangat tidak beres.
"Rafael?" Selina memanggil namanya dengan suara rendah, memastikan pria itu mendengarnya.
Namun, Rafael hanya mendengus pelan, seolah berusaha mengabaikannya. Dalam keadaan mabuk, pikirannya tampaknya kacau. Selina tidak bisa menahan rasa kasihan yang tiba-tiba mengalir begitu saja. Meski ia merasa kesal dan terkejut, ada sesuatu dalam dirinya yang tergerak untuk membantunya.
"Dia perlu perawatan segera. Siapkan ruang operasi," perintah Selina kepada tim medis dengan suara yang mantap. "Segera beri infus dan stabilkan kondisinya. Kita tidak bisa menunda lebih lama lagi."
Saat para perawat bergerak dengan cepat untuk menindaklanjuti perintahnya, Selina merasa ada ketegangan yang membelit hatinya. Ini adalah pertama kalinya ia berhadapan langsung dengan Rafael dalam situasi yang benar-benar berbeda. Pria yang tadinya tampak terkesan sangat percaya diri dan mengontrol situasi, kini tergeletak tak berdaya di ruang perawatan.
Setelah beberapa jam penuh ketegangan, akhirnya Rafael berhasil diselamatkan. Namun, meski kondisi fisiknya stabil, Selina merasa ada sesuatu yang lebih dalam yang perlu ia perhatikan-sesuatu yang menyangkut perasaan dan ketegangan yang muncul begitu mendalam.
Selina berdiri di depan kamar perawatan, menatap pria yang terbaring lemah di atas ranjang. Ia tidak tahu mengapa, tetapi ada perasaan yang sulit dijelaskan di dalam hatinya. Di satu sisi, ia merasa marah dan kecewa karena Rafael tidak mengendalikan dirinya. Di sisi lain, ia merasa kasihan dan ingin membantu.
Apa yang terjadi selanjutnya? Apakah pertemuan ini akan mengubah hidupnya lebih jauh lagi? Dan, apakah kebencian yang ia rasakan terhadap perjodohan ini akan terus tumbuh, atau malah menemukan jalan lain menuju kenyataan yang lebih rumit?
Anda Mungkin Juga Suka





