
Terjebak Cinta sang "Mantan"
Bab 2
Mentari pagi yang hangat menyelusup ke segala arah dan setiap sudut yang bercelah. Jaden menatap intens Juliana di pelukannya. Menyentuh-nyentuh wajah wanita itu dengan telunjuknya. Memutari keningnya ke pipi, lalu hidung ... Hingga turun ke bibir, tak sanggup ia tahan hasrat untuk tak mengecup bibir seksi Juliana yang sedikit bengkak lantaran ulahnya semalam.
Wanita itu mengerang, menggeleng wajah enggan dicium lagi. Perlahan ia mendorong dada bidang Jaden yang terekspos. Namun pria itu malah menarik kembali tubuh sintal Juliana ke pelukannya. Juliana mengerutkan kening merasakan urat-urat di pelipisnya yang berdenyut-denyut.
Menggeliat, merasakan sesuatu menguncinya kuat. Perlahan kesadarannya terkumpul, ia pun mengerjap-ngerjapkan matanya. Menguceknya pelan, dan mengerjapkannya lagi.
‘Eh?’ batinnya tersentak kaget.
”Morning, my queen ....” sapa Jaden dengan suara parau khas bangun tidur.
Sontak Juliana bangkit sekaligus.
Jedug!
“Aw!” ringisnya.
Jaden ikut bangkit mengusap-usap pucuk kepala Juliana yang terbentur atap mobil.
“Hati-hati dong Na,” ucap Jaden panik.
“Ah ...!” Juliana malah berteriak, menutupi tubuh depannya dengan kedua tangan yang disilangkan, menyadari tubuhnya terekspos tanpa sehelai benang pun.
“Sssst ....” desis Jaden sambil menempelkan telunjuknya di bibir Juliana.
Gegas ia menutupi tubuh Juliana dengan jaketnya. “Aku udah lihat semuanya semalam,” bisiknya membuat pipi dan telinga Juliana memerah malu.
Bugh!
Wanita itu memukul dada Jaden membuatnya mengaduh kesakitan.
“Arghh ....” Jaden memegangi dadanya sambil meringis kesakitan, seperti sesak nafas.
“Ka ... Kamu gapapa?” tanya Juliana panik. Namun Jaden malah terkekeh menahan tawa. Membuat Juliana mencebik, menyadari ia baru saja dipermainkan.
Teringat kembali situasi saat ini, Juliana membuang nafas kasar, frustrasi.
“Apa yang kita lakukan?” tanyanya penuh sesal.
“Padahal semalam kau sangat menikmatinya,” seloroh Jaden. Juliana mendelik tajam.
Gegas wanita itu memunguti pakaiannya yang berserakan, lalu memakainya.
“Aku akan bertanggung jawab,” ucap Jaden dengan nada pasti. Kini Juliana yang terkekeh, dengan wajah frustrasi.
“Kamu, tak mengerti ....” gumamnya.
“Apalagi yang kamu pertahankan dalam pernikahanmu?” tanyanya sambil hendak meraih lengan Juliana. Namun wanita itu menepisnya.
“Aku pulang sekarang,” ucap Juliana tanpa menunggu respon Jaden.
“Biar kuantar!” ucap Jaden sedikit berteriak, namun Juliana terlanjur keluar dan setengah membanting pintu mobil.
Jaden tak langsung mengejarnya. Ia belum mengenakan pakaian. Menepuk dahi, Jaden mendengus frustrasi.
“Juliana ....” gumamnya tanpa ekspresi.
Sedangkan Juliana dengan wajah semrawut berjalan cepat, menuju parkiran ia gegas menyalakan motor dan melajukannya secepat kilat. Melewati jalanan yang ramai kendaraan berlalu lalang. Menyalip setiap kendaraan yang menghalangi lajunya. Sesekali ada yang meneriakinya lantaran membawa motor seperti pembalap gila.
Bulir air matanya berjatuhan, lalu menghilang terbawa angin kencang dari laju motornya. Pikirannya kacau, harga dirinya seperti hancur. Kehormatan yang ia jaga untuk suaminya kini sudah tersentuh pria lain. Ia tak menyalahkan Jaden. Sungguh. Ia mengakui kesalahannya. Kekhilafannya.
15 menit Juliana sudah sampai di halaman rumahnya. Tak ada seorang pun di sana. Raffa dan Rasya bujang tanggungnya, sudah berangkat sekolah.
Kriet!
Gerbang besi ia buka perlahan, lalu ia memasukkan motornya.
“Dek?” tiba-tiba seseorang menegurnya dari balik pintu ruang tamu. Menatapnya heran seolah bertanya, ‘dari mana?’ Sontak Juliana membulatkan netra tak mengira akan kehadirannya.
“Mas Rafli?” tanya Juliana pelan.
Rafli mengucek mata, ia terlihat seperti baru bangun tidur.
“Ah, maaf aku membangunkan mas ya?” tanya Juliana asal.
“Ah! Tidak, kok. Cepat masuk, pegal berdiri terus,” titah Rafli membuat Juliana melongo lalu mengekori Rafli masuk ke dalam rumah.
‘Dia tak menanyaiku habis dari mana?’ batin Juliana.
“Mas kapan pulang?” tanya Juliana memberanikan diri.
“Semalam jam 12, kata Raffa kamu menemui teman. Iya ... Begitu lebih baik. Dari pada kamu bosan terus di rumah gak ada mas. Main, atau ngumpul teman sesekali boleh,” ujar Rafli tanpa diduga. Juliana menunduk tanpa ekspresi.
Bukan itu yang ingin ia dengar dari seorang suami yang pulang lebih dari sebulan sekali. Rasanya ... Berbeda. Meskipun hasratnya sudah tersalurkan semalam, ia masih ingin menuntut sesuatu dari Rafli.
Rafli yang duduk di sofa bangkit, saat Juliana ikut duduk di sampingnya.
“Mas mandi dulu, gerah banget kipasnya rusak,” ucapnya sambil beranjak lalu bangkit. Juliana bengong menatap punggung suaminya itu, sedikit rasa ngilu terasa di hatinya seperti cubitan-cubitan kecil.
“Ah iya. Uang bulanan mas taruh di atas lemari,” ucapnya bangga sambil melirik Juliana dengan senyuman simpul. Juliana mengangguk hampa.
‘Apa yang aku lewatkan? Biasanya pun sama. Cinta? Sepertinya hal itu sudah lama berlalu. Sudahlah, Juliana,’ monolog Juli dalam batin.
Juliana berjalan ke arah kamarnya. Kamar utama berada di lantai dua rumah mini malis bernuansa hitam dan putih itu. Ia menaiki satu persatu anak tangga, yang baru saja Rafli lewati juga. Sambil memegang lengan tangga, ia berjalan lunglai.
Kelebatan ingatannya semalam dengan Jaden, terlintas kembali di benaknya. Sentuhan demi sentuhan seolah terasa kembali olehnya. Bahkan suara parau pria yang baru saja bercerai itu ‘katanya’ terngiang-ngiang di telinganya. Seketika darahnya berdesir kembali. Tubuhnya menggigil menginginkan lagi perasaan seperti itu.
Setibanya di kamar ia menghempaskan tubuh mungilnya yang sintal ke atas ranjang. Nyaman. Perlahan matanya terpejam.
“Dek ... Dek? Naya? Dek?” Sayup-sayup Rafli membangunkan Kanaya. Menggoyangkan lengannya pelan, ia mendekat lalu duduk di tepi ranjang.
Juliana mengerang, sedikit menggeliat lalu meregangkan tubuhnya.
“Kenapa mas?” Juli memicingkan mata, nampak sosok Rafli dengan bertelanjang dada. Rambutnya yang basah terlihat menggoda. Dengan hanya mengenakan celana bokser, ia menatap Juli penuh arti.
Juliana bangkit lalu beringsut mundur, ia mengerti. Rafli sedang ingin melakukannya. Namun ia tak mungkin melakukannya sekarang. Juli yakin, tubuhnya pasti dipenuhi tanda yang dibuat oleh Jaden. Namun ia tak tega jika harus menolak keinginan Rafli.
‘Apa yang harus kulakukan?’ batin Juli kebingungan, dan ketakutan.
Darahnya berdesir, saking bingung, dan takut ketahuan. Apa yang harus ia perbuat? Hening. Rafli masih menatap Juliana penuh harap. Tak mencoba meminta, namun Rafli terlihat sedikit memaksa. Dalam bingung tanpa sadar Juliana menggigil menahan panik.
“Kenapa de?” tanya Rafli sedikit heran.
“Kamu sakit?” tambahnya.
Mendengar pertanyaan kedua Rafli, seolah muncul lampu bohlam dari kepalanya. Ia pun mengangguk cepat.
“Iya nih mas. Badanku sakit semua. Kayaknya masuk angin,” lirihnya.
Refleks Rafli menyentuh keningnya. “Duh panas banget badan kamu dek,” ucap Rafli khawatir.
“Sudah minum obat?” tanyanya. Juliana menggeleng lemah.
“Ya sudah, kamu istirahat saja. Tidur. Biar mas makan di luar,” ucapnya lalu bangkit.
“Abis itu mas mau ke rumah teman,” ucapnya sambil berlalu.
Juliana menghela nafas lega. Namun lagi-lagi ia merasa tak puas oleh perlakuan Rafli.
‘Dia tahu aku sakit, tapi meninggalkanku begitu saja?’ batinnya mendengus.
‘Apa aku terlalu menuntut? Ah. Tidak. Jika Jaden yang tahu aku sakit, ia akan segera membawakan bubur dan obat lalu memijat keningku.’ Juliana mencebik.
Namun beberapa saat kemudian ia sadar sudah melewatkan sesuatu yang biasanya selalu ia inginkan. Dia baru saja menolak hak Rafli darinya. “Ck!” decaknya kesal.
Ia pun bangkit ke arah kamar mandi. Berendam air hangat, sambil menggosok-gosok sabun ke tubuhnya yang memerah berharap bekas-bekas dari Jaden itu menghilang. Namun nihil. Bekas itu malah semakin memerah.
‘Bodohnya aku,’ sesalnya. Ia sendiri tahu sabun tak membuat warna kemerahannya menghilang. Ia hanya merasa lebih tenang saja saat melakukannya. Juga berharap dengan membersihkannya tubuhnya juga terbersihkan kembali dari sisa perbuatan kotornya itu.
Anda Mungkin Juga Suka





