
Terjebak Cinta sang "Mantan"
Bab 3
Setelah dua jam berendam di kamar mandi air hangat pun sudah menjadi dingin. aku pun bangkit dari bath tub menuju kamar. Sedikit berjalan sempoyongan lantaran kakiku mulai keram dan kaku. Terpincang-pincang, kucoba meraih daun pintu untuk dijadikan topangan. Perlahan aku berjalan keluar menuju kamar.
Dengan susah payah aku menutupi beberapa tanda merah di tubuhku dengan CC krim wajah, untuk menyamarkan warnanya. Leher, tengkuk, dada, perut, ternyata banyak sekali Jaden membuat kepemilikannya. Lalu di selangkangan dan ... Sempurna. Tubuhku terlihat mulus kembali. Gegas kukenakan baju, lalu menghempaskan tubuhku ke atas ranjang.
Beberapa menit aku hanya berbaring santai. Setelah merasa sedikit bosan aku beringsut ke tepi ranjang hendak kuraih ponselku di atas nakas. Tanpa di duga ponselku berdering, sebuah panggilan masuk dari ...?
“Jaden?” sontak aku bangkit sambil mengedarkan pandangan seperti maling takut ketahuan.
Gegas kutekan tombol berwarna hijau. Lalu terdiam sejenak memikirkan dengan nada seperti apa aku harus mengatakan sesuatu. Mengabaikan Jaden yang sudah memanggil-manggil namaku dengan resah.
“Ada apa?” ucapku ketus.
[Kamu sampai rumah dengan aman?] tanyanya khawatir.
Kukerlingkan bola mataku lalu mencebik, “ya. Kenapa?” ketusku lagi.
[Aku ke rumahmu sekarang,] ucap Jaden sontak membuatku bangkit, tanpa sadar berdiri di atas ranjang.
Hampir aku memakinya, namun kuatur ekspresi dan menarik nafas, “Suamiku ada di rumah, jangan ke sini,” ucapku dengan nada penekanan.
[Aku tahu, lalu?] tantangnya membuatku menjambak rambutku sendiri frustrasi.
“Tolong jangan menyulitkanku,” ucapku datar.
[Yasudah. Nanti aku ke sana kalo suamimu tak ada, aku sudah pesankan bubur untukmu sarapan, sebentar lagi sampai di depan rumahmu]
Jaden menutup telepon setelah mengatakan bahwa dia mencintaiku. Seketika aku ambruk, menatap kosong ke udara. Aku berpikir bahwa ini tidak akan selesai dengan mudah. Aku baru saja menggali kuburanku sendiri, dan bersiap dikubur hidup-hidup. Sejauh ini hidupku nyaman dan tenteram, selain kekurangan kasih sayang dan perhatian dari suami. Ah! Tidak, apa justru aku terlalu banyak diam dan bersyukur? Bahkan mas Rafli jarang sekali memberiku nafkah.
Aku pun bangkit, dan berjalan menuju ruang tengah. Belum sampai aku menuruni anak tangga, pintu rumahku diketuk dua kali. Gegas kuberlari, sudah pasti tukang bubur.
Klik!
Pintu kubuka, benar saja. Bubur ayam komplit kesukaanku datang dengan cepat. Sedikit semringah kuraih keresek hitam itu lalu kubuka setelah mengucapkan terima kasih pada abang gojek yang mengirimnya. Gegas aku duduk di ruang tamu lalu menyendok bubur itu tanpa mengaduknya. Baru satu suap aku mengunyahnya, seseorang mengetuk pintu masuk yang baru beberapa saat kututup itu.
“Eh mamah, sehat mah?” Aku berhambur memeluk wanita dengan kacamata bertali itu setelah menyalaminya.
Ya. Dia mamah mertuaku. Mama Wardah. Sejak pertama menikah dengan mas Rafli hingga sekarang, aku tak pernah akrab dengannya. Meski sudah kulakukan dengan segala cara pendekatan sebisa mungkin. Aku dan dia seolah terhalang garis batas yang dibuat olehnya. Entah apa yang membuat dia tak nyaman denganku. Atau dari awal dia memang tak setuju mas Rafli menikahi aku. Entahlah.
“Rafli mana?” tanya mamah sambil mengedarkan pandangan. Tak segera kujawab, aku sibuk merapikan bantal di atas sofa lalu mempersilahkannya duduk. Sembari berpikir harus kujawab apa pertanyaannya.
“Duduk mah, biar Ana bawakan minum,” tawarku.
“Mas Rafli lagi keluar buat makan,” tambahku lalu menutup bungkus bubur yang belum selesai kumakan itu.
“Makan?” tanya wanita itu dengan heran.
“Memangnya kamu gak masak?” tanyanya lagi.
“Eng ... Nggak mah. Ana lagi gak enak badan,” ucapku ragu.
“Lah itu kamu lagi makan apa?” tanyanya sambil menunjuk bungkusan bubur ayam yang kubereskan, hendak kutaruh ke dapur.
“Bubur mah ....” gumamku dengan senyuman setulus mungkin.
“Ck! Suamimu itu sudah lelah bekerja. Minimal sebagai istri kamu harus berbakti dengan menyiapkan makan dan minumnya,” omelnya membuat kerongkonganku terasa pahit tercekat.
Bukannya dia harusnya mengerti, baru saja kubilang kalau aku sedang sakit. Jadi apa yang dia pikirkan? Memangnya aku ini pembantu yang harus selalu siap melayani dalam kondisi apa pun? Memangnya lelah putranya itu untukku? Ya tuhan. Andai dia tahu Rafli bahkan sudah tak tahu menahu tentang SPP anak-anak, jangankan bayar listrik atau beli air minum. Rumah pun sempat ia gadaikan untuk taruhan berjudi. Namun aku mengesampingkan semua unek-unekku. Biarlah setidaknya mas Rafli baik dimata orang tuanya. Pikirku.
Tak ambil pusing, aku undur diri meninggalkannya di ruang tamu utama setelah mengatakan bahwa aku sudah menyiapkannya kamar jika ingin menginap.
“Kamu gak nyaman ya sama mamah, padahal mamah hanya kasih kamu saran sesama perempuan saja. Jangan sampai kamu mengadu yang tidak-tidak ke Rafli.”
Apalagi ini? Rasanya semua yang kulakukan serba salah di matanya. Lagipula memangnya apa yang akan aku lakukan jika terus duduk di sampingnya? Toh hanya memperhatikan dia menggeser-geser layar ponselnya? Tak ada pembicaraan yang bisa kita bahas juga kan?
“Ana mau tiduran dulu mah, agak pusing soalnya,” jawabku memaksakan dengan nada sebiasa mungkin. Dia hanya mengangkat alis dengan sedikit memajukan bibir bawahnya yang sudah keriput.
Sungguh. Aku membenci sifat angkuhnya. Tidak! Bukan dirinya. Hanya sifatnya saja. Bagaimana pun dia mertuaku, ibu keduaku. Aku harus selalu berusaha mencintainya sepenuh hati. Ya walaupun jujur saja jika melihat tingkahnya, nada bicaranya, dan gayanya yang seperti keturunan ningrat terkadang aku merasa malu sendiri. Di jaman sekarang dengan penampilan seperti itu? Ah. Sudahlah.
Segera aku meninggalkannya, duduk santai dengan banyak camilan yang juga sudah kusiapkan. Aku menghempaskan tubuhku lagi ke atas ranjang King size dengan seprai lembut dan dingin kesayanganku itu. Menggesek-gesekkan kakiku di sana untuk membuatku nyaman. Melepaskan hawa panas tubuhku, perlahan aku terlelap.
Entah berapa lama aku tertidur. Aku pun terbangun oleh suara pintu yang dibuka perlahan. Sontak aku bangkit mengucek mata lalu memicingkannya. “Mas Rafli?” gumamku, mendapati suamiku itu mendekat ke arahku. Ia lalu duduk di tepi ranjang.
“Mamah dateng kok kamu malah tidur di sini?” tanyanya.
“Aku masih agak pusing mas,” jujurku. Toh memang aku masih merasa sangat pening.
Aku beringsut turun dari ranjang, tiba-tiba ....
Kruyuk~
Tanpa diduga perutku berbunyi. Ah! Memang aku belum memakan apa pun selain sesuap bubur tadi. Aku menoleh melirik jam dinding. Pukul satu siang. Pantas saja, lemas sekali. Aku tertidur dengan perut kosong selama hampir tiga jam.
“Aku masak dulu mas,” ucapku, mas Rafli hanya menjawab dengan anggukan.
Meninggalkan mas Rafli yang kini berbaring di ranjang sambil memainkan gawainya, aku turun hendak memasak untuk anak-anak.
Aku menghela nafas, saat mendapati mamah masih di sofa ruang tamu, dengan gawai di tangannya. Tanpa sadar aku menggeleng pelan. Entah apa yang ia lakukan dengan gawai itu. Main sosmed kah? Atau main game bareng Rasya di seberangnya?
Melihat putra keduaku sudah duduk santai di bawah, aku mengedarkan pandangan mencari seorang lagi bujangku.
“Abangmu mana dek?” tanyaku.
“Main dulu katanya mah,” jawabnya seadanya. Aku hanya ber oh lalu melewati sofa, menuju dapur.
“Anakmu diperhatikan Na. Masa ibunya gak tau anaknya kemana,” ujar mamah sambil tetap bermain gawai.
“Iya mah,” jawabku singkat. Gegas aku menuju dapur, dengan tidak sopan meninggalkannya yang masih mengomel soal Raffa yang usianya menginjak masa remaja, pergaulan, pacaran, dan entahlah aku keburu sampai di dapur untuk mendengar kelanjutan celotehnya.
Dengan telaten aku menyiapkan makanan. Menanak nasi, menggoreng ikan, tahu, tempe, memasak sayur, sambal, dan lalap. Semua memang selalu tersedia di kulkasku. Siapa lagi yang menyiapkan semua persediaan itu kalau bukan Jaden. Bahkan ia sudah berlagak seperti suami saja padaku. Sampai hal seperti itu saja rutin ia belikan olehnya sendiri, di luar uang jajan bulananku.
Sedang asyik memasak, tiba-tiba Raffa datang berdiri di belakangku.
“Om Jaden ke sini gak mah?” tanyanya tanpa basa-basi. Sontak aku kaget lalu mengangkat telunjukku sambil mengedarkan pandangan.
“Eh- lupa. Kalo gitu aku main ke rumahnya boleh gak?” tanyanya tanpa beban.
Ya ampun. Andai aku bisa menyebutkan namanya seperti Raffa. Dengan tanpa beban, tanpa dosa. Aku menggeleng.
“Yah ... Kenapa mah?” rengeknya sambil menaruh gawainya di atas kitchen set.
“Gak baik juga kita terlalu dekat dengan orang itu,” ucapku seolah Jaden adalah orang lain bagiku.
“Raffa pengen mabar lagi sama dia mah, seru orangnya. Baik banget malah,” serunya antusias.
“Jangan ngomongin dia depan papa sama nenekmu ya. Gak baik, nanti malah salah paham ke mamah,” ucapku menuntut.
“Iya gak akan,” jawab Raffa meyakinkan, dengan telunjuk di depan mulutnya lalu nyengir.
Aku pun merasa sedikit tenang. Saat sedang bertukar tawa kecil sambil menutup mulut tiba-tiba mama Wardah datang dengan gaya berjalan khasnya seperti kanjeng Mami.
“Lagi ngobrolin apa nih?” tanyanya dengan gaya bicara medoknya.
Anda Mungkin Juga Suka





