
Terjebak Cinta dan Gairah Mantan Suami
Bab 2
Di depan rumah megah itu, Nazharina berdiri dengan koper di tangannya. Arian, seperti biasa, hanya menatapnya tanpa ekspresi.
Siang hari ini matahari menyengat kulit, namun hati Nazharina seakan gelap kelabu. Ada mendung yang menciptakan awan hitam dalam jiwanya. Seakan ingin menjatuhkan hujan air mata, namun guruh di hati menahannya.
Ia tak tahu apakah tangisan itu perlu?
Haruskah ia bersedih saat ini?
Bagaimana kalau ternyata mulai hari ini ia bisa mencoba hidup yang sesuai dengan kemauannya?
"Terima kasih atas waktumu Arian. Akhirnya selesai juga. Bolehkah kita berjabat tangan karena mungkin tak akan ada lagi pertemuan setelah ini?" Nazharina menyodorkan tangan pada lelaki tampan namun beraura dingin di hadapannya.
Sedetik... dua detik... hingga beberapa detik Arian tak menyambut uluran tangan itu, hanya menatap Nazharina dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
"Ternyata tak boleh," gumam Nazharina pelan, seraya menggenggam kembali jemari tangan dan memilih untuk menggaruk ujung hidung yang sebenarnya tidak gatal. Membuang rasa malu.
Tak apa, dia sudah terbiasa. Begitu pikirnya.
Nazharina sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, sedingin itu. Seharusnya dia tahu kalau Arian yang telah ia kenal selama delapan belas tahun dan menjadi suaminya selama sepuluh tahun itu tak akan pernah mau menjabat tangannya.
Tidak dulu saat pertama kali mereka dikenalkan ketika ia berumur 12 tahun, tidak juga saat ini ketika ia sudah resmi bercerai dengan lelaki tanpa ekspresi itu.
"Aku pamit. Terima kasih karena telah menjagaku selama ini. Jaga dirimu baik-baik, Arian."
Susah payah Nazharina membuat nada suaranya terdengar normal, tapi entah kenapa rasa sesak di dada membuat ia terdengar seperti ingin menangis.
Ah, sial. Ia tak boleh terlihat sedih di hadapan lelaki yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Ia membalikkan badan, berjalan menuju SUV hitam yang menunggunya.
Sebelum naik, ia menoleh sekali lagi.
Menatap balkon tempat ia biasa termenung. Tempat di mana ia sempat memiliki sebuah keluarga.
Menatap Arian, yang masih berdiri di sana, diam seperti patung.
"Tak kusangka, hari ini terjadi juga. Akhirnya aku meninggalkan rumah yang telah memberiku tempat berteduh dan berlindung selama 18 tahun. Selamat tinggal," ucapnya dalam hati dengan mata yang berembun.
Desahan napas sedih mengiringi geraknya yang langsung duduk di belakang sopir pribadi Arian. Pria itu yang akan mengantar untuk pulang ke rumah lamanya.
"Terima kasih Ernando, atas pelayananmu selama ini. Terima kasih karena mau mengantarkan aku ke mana-mana. Senang bisa mengenalmu." Nazharina berusaha beramah-tamah dengan salah satu orang kepercayaan Arian itu.
"Sama-sama Nyonya. Saya juga merasa terhormat karena pernah melayani Anda," sahut Ernando dengan senyum pahit.
Nazharina membuang pandangan keluar dengan tatapan kosong. Tak ada siapa pun yang memahami bagaimana perasaannya saat ini, kecuali dirinya sendiri.
"Kau tak perlu memanggilku lagi dengan sebutan Nyonya, Ernando. Aku dan Arian sudah resmi bercerai."
Mobil melaju, meninggalkan rumah itu. Meninggalkan semua kenangan yang pernah terjadi. Dan meninggalkan seseorang yang selama ini tak pernah menyayanginya.
Arian masih berdiri di tempatnya. Memandang mobil yang membawa Nazharina semakin menjauh. Kakinya berat untuk melangkah, seperti hatinya yang berat untuk mencegah Nazharina agar tak pergi, meski ia sangat ingin berkata demikian.
Ia tak bisa melarang Nazharina untuk pergi.
Dan untuk pertama kali dalam hidup...
Ia bertanya-tanya apakah ia telah kehilangan sesuatu yang sebenarnya sangat berharga?
*
Nazharina berdiri di depan pagar besi tua yang sudah mulai berkarat. Rumah itu masih seperti yang ia ingat-kusam, sedikit terbengkalai, tetapi tetap memberikan rasa akrab yang membawanya kembali ke masa lalu. Aroma kayu basah bercampur dengan tanah yang mengering setelah hujan pagi tadi. Ia menarik napas dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian sebelum akhirnya mendorong pintu pagar dan melangkah masuk.
Hening.
Tidak ada suara langkah kaki pelayan, tidak ada suara mobil mewah yang masuk ke garasi, tidak ada denting gelas kristal dari ruang makan seperti di rumah tempatnya tinggal selama ini. Yang ada hanyalah keheningan yang menggema, seakan menyambut kepulangan yang tertunda bertahun-tahun lamanya.
Meletakkan koper di dekat sofa, Nazharina menyapu pandang ke seluruh ruangan. Debu menumpuk di beberapa sudut, perabotan masih sama seperti yang ia tinggalkan belasan tahun lalu. Ada kehangatan samar di tempat ini, meskipun sepi.
Kini, ia sendiri lagi.
Namun, belum sempat menikmati momen tersebut, suara ketukan di pagar depan membuyarkan lamunannya.
"Nazharina?"
Suaranya melengking, penuh rasa ingin tahu yang tidak terselubung.
Nazharina menoleh. Seorang wanita berusia sekitar empat puluhan berdiri di sana dengan kedua tangan bertumpu di pinggangnya, seakan siap melancarkan interogasi. Ia mengenakan long dress longgar dengan corak bunga-bunga yang sudah pudar warnanya, rambutnya disanggul tinggi, dan matanya menyorotkan sesuatu yang sulit diartikan-antara terkejut, skeptis, dan puas.
"Jadi kau benar-benar kembali," lanjutnya, tanpa menunggu jawaban. "Aku pikir hanya desas-desus belaka."
Nazharina menahan napas sejenak sebelum melangkah mendekat. "Selamat sore, Aunty."
Aunty Ersa-tetangganya sejak kecil, yang selalu memiliki kebiasaan untuk tahu segalanya tentang semua orang.
Ia memiringkan kepala, menyipitkan mata seakan meneliti setiap inci dari Nazharina. "Kudengar kau sudah bercerai," ujarnya begitu saja, tanpa basa-basi. "Sungguh mengejutkan. Kukira kau sudah terbiasa hidup nyaman di rumah suamimu yang kaya itu."
Nazharina tersenyum tipis. Ia sudah mengantisipasi ini.
"Aku hanya ingin menjalani hidup yang lebih sederhana, Aunty."
Aunty Ersa tertawa kecil, geli. "Oh, tentu. Tapi berapa lama kau akan bertahan? Hidup di lingkungan ini tidak seperti di rumah mewah yang penuh dengan pelayan. Kau harus belanja sendiri, memasak sendiri, bahkan membersihkan rumah sendiri. Aku penasaran... apakah kau bisa?"
Nada suaranya terdengar manis, tetapi setiap katanya membawa tantangan terselubung.
Nazharina tetap tenang. "Aku akan mencobanya," jawabnya tanpa ragu.
Aunty Ersa mengangkat alis, lalu tersenyum miring, seakan menunggu kapan Nazharina akan menyerah. "Baiklah. Kita lihat saja nanti," ujarnya sebelum berbalik, meninggalkan Nazharina dengan keheningan sore yang kembali menyelimuti.
Nazharina merapatkan pagar dengan perlahan, kembali masuk ke dalam rumah. Ia tahu bahwa kepulangannya tidak akan luput dari perhatian, dan ia tahu bahwa Aunty Ersa tidak akan menjadi satu-satunya orang yang mengawasi setiap langkahnya.
Saat Nazharina hendak menutup tirai, sesuatu membuatnya berhenti. Perasaan aneh menjalar di tengkuknya, seolah ada mata yang mengawasi.
Naluri membawanya menoleh ke arah rumah sebelah. Jendela di lantai atas sedikit terbuka, dan di baliknya-di tengah kegelapan-ada siluet seseorang berdiri diam.
Sosok itu tidak bergerak, hanya berdiri di sana, seperti bayangan tanpa suara.
Nazharina menelan ludah. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan dorongan untuk segera menutup tirai dan berpura-pura tidak melihat apa pun.
Tetapi nalarnya menolak. Dari yang ia dengar sebelum pulang kemari, rumah itu kosong. Tidak ada yang menempatinya selama bertahun-tahun.
Jadi, siapa yang berdiri di sana?
Anda Mungkin Juga Suka





