Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Cinta dan Gairah Mantan Suami

Terjebak Cinta dan Gairah Mantan Suami

Pasca cerai, Nazharina mengira penderitaan batinnya berakhir. Namun, Arian yang dulu dingin justru muncul kembali sebagai bos di kantor barunya. Mantan suaminya itu kini berubah menjadi sosok posesif yang mengontrol setiap gerak-gerik Nazharina. Di balik perlindungan dan kecemburuan buta Arian, Nazharina terjebak dalam dilema besar. Apakah perubahan drastis ini adalah bukti cinta yang tulus, ataukah sekadar obsesi gelap untuk memilikinya kembali seutuhnya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Langit masih kelabu ketika Nazharina melangkah keluar dari rumahnya pagi itu. Udara dingin sempat menggigit kulitnya, tetapi ia tidak membiarkan keraguan merayap ke dalam hati. Hari ini, ia memulai sesuatu yang baru-tanpa embel-embel sebagai istri seseorang, tanpa bayang-bayang nama besar yang pernah menaunginya.

Butik tempatnya bekerja terletak di pusat kota, di sebuah gedung megah dengan arsitektur modern yang dipenuhi kaca reflektif. Sebuah plakat elegan dengan huruf berwarna emas terpampang di atas pintu masuk, menyatakan nama butik yang selama ini hanya ia kenal dari majalah mode.

Ia menarik napas dalam, lalu melangkah masuk.

Dari dalam, butik itu tampak lebih menawan. Lantainya berkilau, dipadukan dengan pencahayaan yang memancarkan kemewahan. Rak-rak pakaian tersusun rapi, menampilkan koleksi eksklusif dari berbagai desainer ternama. Tidak ada yang tampak biasa di tempat ini.

"Nazharina, bukan?"

Nazharina menoleh. Seorang wanita muda dengan seragam butik yang sama mendekatinya, senyumnya ramah, matanya berbinar penuh antusiasme. Rambut hitamnya dipotong pendek dengan gaya berantakan, memberi kesan ceroboh namun manis.

"Aku Kinoshita. Kau bisa memanggilku Kinos." Gadis itu mengulurkan tangan dengan ceria. "Aku mendengar kau mulai bekerja hari ini. Selamat datang!"

Nazharina menyambut uluran tangannya. Kinoshita terasa seperti angin segar di tengah suasana butik yang begitu formal.

"Kau sudah bertemu supervisor?" tanya Kinoshita.

"Belum."

"Oh, kalau begitu, ayo kutunjukkan."

Dengan langkah ringan, Kinoshita membawanya melewati rak-rak pakaian menuju bagian belakang butik, di mana ruangan kantor kecil berada. Sepanjang perjalanan, ia berbicara dengan gaya yang penuh semangat, seolah mereka sudah berteman lama.

"Jangan tegang. Toko ini memang terasa kaku, tapi tidak semua orang di sini menakutkan," ujarnya dengan nada bercanda.

Nazharina mengulas senyum tipis.

Begitu mereka sampai di ruangan supervisor, perkenalan berlangsung singkat. Supervisor butik, seorang wanita berkemeja rapi dengan ekspresi serius, menjelaskan tugas-tugas dasar yang akan Nazharina emban. Melayani pelanggan dengan ramah, memahami produk, menjaga kebersihan dan kerapian butik-semua hal yang bisa ia pahami dengan mudah.

Namun, ada satu hal yang tidak disebutkan.

Seseorang berdiri di ambang pintu, memperhatikannya dengan tatapan tajam. Seorang wanita muda berambut panjang bergelombang, mengenakan seragam yang sama, tetapi dengan aura yang berbeda. Sikapnya angkuh, bibirnya membentuk seringai kecil seakan menilai tanpa perlu berbicara.

"Ah, Shelby," ujar supervisor. "Tolong bantu Nazharina menyesuaikan diri."

Shelby mengangkat alis. "Tentu," jawabnya, tetapi nada suaranya mengisyaratkan hal lain.

Nazharina tidak melewatkan kilatan di mata wanita itu-sesuatu yang samar, seperti ketidaksukaan yang sudah ada bahkan sebelum mereka sempat saling mengenal.

Namun, ia mengabaikannya.

Ia datang ke sini untuk bekerja, bukan untuk menciptakan musuh.

*

Hari berjalan lancar-setidaknya sampai siang menjelang.

Nazharina sudah mulai terbiasa dengan pekerjaannya. Ia melayani pelanggan dengan sopan, menjelaskan koleksi butik dengan tenang, dan menghafal detail produk dengan cepat.

Kinoshita sesekali datang untuk mengobrol atau membantunya, tetapi Shelby tetap menjaga jarak. Wanita itu lebih sering sibuk dengan pelanggannya sendiri, sesekali melirik ke arah Nazharina seakan menunggu sesuatu terjadi.

Dan akhirnya, itu terjadi.

Seorang wanita paruh baya dengan penampilan mewah melangkah masuk ke butik. Langkahnya anggun, tas tangan berlogo desainer tergantung di lengannya, dan parfum mahalnya memenuhi udara.

Shelby tidak bergerak. Ia hanya menatap, lalu tersenyum tipis.

"Coba kutebak, kau belum pernah menangani pelanggan VIP?" bisiknya pelan, tepat saat wanita itu melewati mereka.

Nazharina menoleh.

"Apa maksudmu?"

Shelby melipat tangan di depan dada. "Kalau begitu, ini kesempatanmu."

Sebelum Nazharina bisa menjawab, pelanggan itu sudah berdiri di hadapannya.

"Permisi." Suaranya lembut, tetapi memiliki nada otoritatif. "Aku mencari gaun untuk acara malam ini. Sesuatu yang elegan, tetapi tidak berlebihan."

Nazharina menarik napas. Ini pertama kalinya ia menangani pelanggan sekelas ini, tetapi ia tidak ingin terlihat ragu. Dengan sopan, ia mulai menunjukkan beberapa pilihan yang menurutnya sesuai.

Wanita itu mendengarkan dengan seksama, sesekali mengangguk. Percakapan mereka berjalan lancar, dan Nazharina mulai merasa percaya diri.

Namun, ketika wanita itu akhirnya menemukan gaun yang ia suka dan berjalan menuju kasir-Shelby melangkah maju.

"Oh, Madam Caroline," ujarnya dengan senyum manis, seakan baru menyadari keberadaan wanita itu. "Senang bertemu Anda lagi! Aku ingat, terakhir kali Anda mencari sesuatu dengan warna yang lebih terang, bukan?"

Nazharina melihat bagaimana pelanggan itu langsung tersenyum akrab. "Oh, Shelby! Aku tidak tahu kau masih bekerja di sini."

"Tentu saja. Aku tidak bisa meninggalkan butik ini begitu saja." Shelby terkekeh, lalu menoleh ke arah gaun di tangan wanita itu. "Oh, pilihan yang bagus. Kau menyukai rekomendasiku terakhir kali, bukan? Aku yakin yang ini akan terlihat sempurna untukmu."

Nazharina merasakan sesuatu yang tidak beres.

Dan benar saja-ketika transaksi selesai, komisi dari penjualan itu tidak tercatat atas namanya.

Melainkan atas nama Shelby.

Shelby menoleh dengan senyum puas. "Kau melakukan pekerjaan yang baik," katanya, suaranya lembut tetapi menusuk. "Aku hanya memastikan pelanggan setia tetap merasa dihargai."

Nazharina mengepalkan tangan di balik punggung. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia merasa, ke depannya akan selalu ada hal tak menyenangkan seperti ini.

Namun, tepat ketika ia hendak melangkah pergi, suara lembut namun penuh wibawa memecah keheningan.

"Oh, sebelum aku pergi," Madame Caroline menoleh dengan senyum ramah, "aku ingin berterima kasih pada nona Nazharina."

Nazharina mengangkat wajahnya, begitu pula supervisor mereka yang kebetulan tengah berdiri di dekat meja kasir.

"Dia benar-benar melayani dengan sangat baik," lanjut Madame Caroline. "Bantuannya luar biasa, dan dia memilihkan gaun ini dengan sempurna. Aku jarang bertemu staf baru dengan pemahaman mode sebaik dirinya."

Supervisor mengerutkan kening, matanya segera beralih ke layar kasir, di mana nama Shelby tercatat sebagai penerima komisi penjualan.

Shelby berdiri kaku di tempatnya, ekspresi wajahnya seketika berubah.

Madame Caroline tersenyum tipis, lalu menambahkan, "Kuharap butik ini tahu bagaimana menghargai staf yang memang bekerja keras. Komisi untuk penjualan ini, pastikan diberikan pada orang yang tepat."

Ruangan terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Supervisor menatap Shelby dengan tajam. "Shelby," suaranya datar namun tegas. "Bisa kau jelaskan?"

Shelby membuka mulutnya, tetapi tidak ada kata yang keluar. Napasnya memburu, jemarinya yang terampil merapikan dress pelanggan kini menggenggam erat seragamnya sendiri.

Supervisor tidak menunggu jawaban. Ia langsung memberikan instruksi kepada kasir untuk memperbaiki transaksi tersebut-membatalkan pencatatan atas nama Shelby dan mengalihkannya pada Nazharina.

"Dan ini bukan pertama kalinya aku mendengar keluhan seperti ini," lanjut supervisor, tatapannya masih terarah pada Shelby. "Kita tidak mentoleransi tindakan semacam ini di butik ini."

Shelby menunduk, wajahnya pucat pasi.

Sementara itu, Madame Caroline melirik Nazharina dan mengedipkan sebelah mata, seolah mengatakan bahwa semuanya sudah beres.

Nazharina tersenyum tipis, tetapi dalam hati ia tahu-ini bukan sekadar kebetulan.

-

Di luar butik, angin sore bertiup lembut ketika Madame Caroline melangkah menuju mobil hitam yang telah menunggunya. Begitu pintu terbuka, ia masuk dengan anggun, duduk di kursi belakang, dan menyilangkan kakinya.

Seorang pria sudah ada di sana.

Arian.

Tatapannya tajam saat ia menatap keluar jendela, matanya masih terarah pada butik tempat mantan istrinya bekerja.

"Sudah beres," Madame Caroline berbicara lebih dulu. "Wanita licik itu ketahuan, dan Nazharina mendapatkan haknya."

Arian mengangguk pelan, ekspresinya tetap tak terbaca. "Bagus," gumamnya. "Aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyusahkan dia."

Madame Caroline tersenyum, lalu menoleh ke arah amplop coklat yang kini tergeletak di atas pangkuannya. Isinya tebal, lebih dari cukup untuk 'pekerjaan kecil' yang baru saja ia lakukan.

"Aku tidak keberatan jika lain kali kau butuh bantuanku lagi," ujarnya santai, memasukkan amplop itu ke dalam tasnya.

Arian hanya menatap lurus ke depan.

"Aku membayarmu mahal," katanya, suaranya rendah tetapi penuh ketegasan. "Bukan untuk memberi komisi besar kepada orang lain selain dia." Ia menoleh, menatap Madame Caroline dengan dingin. "Apalagi kalau dengan cara licik seperti itu."

Madame Caroline terkekeh kecil, tetapi tidak membantah.

Mobil pun melaju, meninggalkan butik di belakang.

Dan Nazharina, tanpa ia sadari, tetap dalam perlindungan Arian-meski dari balik bayang-bayang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Istrimu, Bukan Bonekamu
8.3
Ariana terjebak pernikahan tanpa cinta dengan Daniel Aldrigham demi wasiat ayahnya yang sakit. Daniel ternyata memiliki kekasih gelap, sementara ayah mertuanya sengaja memanfaatkan Ariana sebagai alat untuk memisahkan mereka. Di tengah pengkhianatan dan manipulasi keluarga kaya ini, Ariana harus memilih: menjadi boneka penurut atau berbalik melawan demi harga dirinya. Akankah ia berhasil menaklukkan hati Daniel yang dingin, atau justru hancur dalam permainan ini?
Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani mengalami nasib tragis setelah terjebak di kamar Rafael Damar, bos mafia penguasa bisnis. Insiden tersebut membuatnya hamil lima anak kembar jenius. Diusir dari rumah, ia kabur ke luar negeri demi membesarkan mereka. Bertahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai wanita berkuasa. Takdir membawanya bertemu Rafael lagi, namun kali ini kelima anaknya telah menyiapkan rencana balas dendam besar terhadap ayah kandung mereka.
Sampul Novel Bukan Istri Yang Lemah
7.8
Elara tidak akan menyerah pada kemewahan hidupnya dan bertekad mempertahankan status pernikahannya. Di sisi lain, Vesper justru menyusun rencana licik agar sang istri segera meminta cerai demi menikahi kekasih rahasianya. Setelah tujuh bulan membina rumah tangga, perselisihan hebat antara pasangan ini pun pecah. Mereka terjebak dalam pusaran pengkhianatan, ambisi besar, dan konflik cinta yang menguji ketahanan Elara di tengah tekanan sang suami.
Sampul Novel Cinta dan Dosa
9.5
Bisma, putra CEO kaya, terperosok dalam gaya hidup kelam dan gemar mempermainkan wanita. Namun, hidupnya berubah saat ia terobsesi pada Melati, kekasih sahabatnya sendiri. Tindakan Bisma justru membawa penderitaan bagi gadis yang ia harap mampu mengubahnya menjadi pria lebih baik. Kini, ia dihantui peringatan masa lalu bahwa kebahagiaan takkan pernah ia raih. Apakah ini kutukan atas segala dosanya? Bisma harus memilih antara melepaskan atau terus mengejar cinta.
Sampul Novel DILEMA SUAMI BAYARAN
9.6
Barra Farzan, seorang duda yang mendambakan kebahagiaan, akhirnya menikahi Astra, putri konglomerat cantik. Namun, saat resepsi pernikahan berlangsung penuh tawa, seorang wanita tiba-tiba muncul dan menampar Astra. Ia mengaku sebagai istri sah Barra yang ditinggalkan bersama anak mereka. Tuduhan pelakor pun seketika menghancurkan suasana. Rahasia gelap apa yang disembunyikan Barra? Sanggupkah mereka bertahan, atau Barra hanya akan menjadi suami bayaran?
Sampul Novel Hanya Istri Kedua
9.3
Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan kebangkrutan, Anyelir terpaksa mengubur mimpinya sedalam mungkin. Ia setuju menjadi istri kedua bagi Serkan Alvaro, seorang pebisnis muda berdarah dingin yang sangat populer. Di balik bantuan finansial yang diberikan, motif Serkan menikahi Anyelir masih menjadi misteri besar. Kini, Anyelir harus menghadapi kerasnya kehidupan rumah tangga yang penuh tanda tanya. Akankah pernikahan ini memberikan kebahagiaan baginya?