Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Terjebak Cinta, CEO Arogan

Terjebak Cinta, CEO Arogan

Nasib malang menimpa Zee saat ia mencoba kabur dari pria hidung belang pilihan pamannya. Ia justru terjebak cinta satu malam dengan Nevan Aditama, CEO dingin yang mengiranya sebagai mata-mata musuh. Nevan memerintahkan pengejaran Zee hingga ia terpaksa melarikan diri. Tak disangka, takdir mempertemukan mereka kembali saat Zee bekerja sebagai asisten pribadi Nevan. Kini, Zee harus bersandiwara demi menutupi identitasnya di hadapan sang miliarder yang kejam.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Pak! Pak! Bangun! Ini sudah pukul delapan! Kita harus segera kembali ke Jakarta," ujar Irwan sambil menggoyangkan tubuh Nevan.

"Ehms…. Sebentar lagi yah, Sayang," balas Nevan sambil menarik selimutnya lagi. Mendengar itu Irwan langsung terkekeh.

"Hahaha. Sepertinya anda terlalu mabuk semalam, Pak," sahut Irwan sambil menahan tawanya. Setelah melirik makanan dan botol minuman beralkohol di atas troli sudah ludes tak tersisa. Mendengar itu Nevan segera membuka matanya. Ternyata orang yang ada di hadapannya bukanlah gadis cantik semalam. Melainkan asisten pribadinya si Irwan. Nevan mencari sosok itu ke sekelilingnya. Namun, tetap saja netranya tak menemukan siapapun kecuali mereka berdua.

Pandangan Nevan pun berlabuh pada troli yang masih berada di pojok ruangan. Ia teringat bagaimana gadis itu keluar dari sana lalu menyerangnya dengan penuh gairah. Bahkan, di tengah permainan panas itu. Mereka sempat makan dan minum bir bersama untuk meningkatkan tenaga dan stamina keduanya.

"Pak! Apa anda masih mengigau? Atau perlu saya carikan obat? Sepertinya anda terlalu banyak minum semalam."

"Tidak. Gue yakin kalau semalam gue nggak bermimpi. Memang ada seorang gadis di tempat ini."

"Benarkah?" Dengan sigap Irwan menyusur ke setiap jengkal ruangan di VIP itu. Takut ada penyusup datang. "Nihil, Pak. Tidak ada siapapun," lapornya pada Nevan yang masih duduk termenung di atas tempat tidur.

Kring. Kring. Kring.

Ponsel Irwan tiba-tiba berdering. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada benda pipih itu.

"Halo. Selamat pagi, Tuan Irwan. Saya dari Istana Food Resto ingin mengabarkan jika hidangan yang anda pesan sudah siap untuk pertemuan Bos anda dan kliennya tiga jam lagi. Silahkan untuk diperiksa sendiri," kata seorang wanita dari seberang sana.

"Baik, saya akan segera kesana." Tut. Sambungan terputus.

"Ada apa?"

"Kita harus segera kembali ke Jakarta, Pak. Anda ada pertemuan dengan Mr. Maxim tiga jam lagi."

"Iya. Loe bener. Tunggu di luar. Gue akan segera menyusul."

"Baik, Pak." Setelah Irwan pergi Nevan tak kunjung beranjak dari duduknya. Ia masih kepikiran dengan kejadian semalam.

"Gue yakin. Kalau semalam gue tidak bermimpi. Gadis itu benar-benar ada di ruangan ini," gumam Nevan. "Ah. Entahlah. Gue harus segera pergi dari sini. Ada hal lain yang jauh lebih penting," tambahnya. Ia pun menyibakkan selimut yang masih menutupi tubuhnya. Seketika matanya membulat melihat sebuah noda darah ada di seprai putih itu. Nevan menyentuh noda itu dan kembali teringat kejadian tadi malam. "Benar, kan? Gadis itu benar-benar ada."

****

Zee berjalan dengan sedikit tertatih ke arah rumah Bibi Juwita. Alat reproduksi masih terasa nyeri karena pergulatannya semalam. Namun, ia harus segera pergi sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Blak!

Zee membuka lebar-lebar pintu rumah itu.

"Bik! Bibik Juwita!" teriaknya memanggil nama adik kandung ibunya. Setelah kepergian kedua orang tuanya sepuluh tahun lalu. Zee memang diasuh oleh Paman Gobar dan Bibi Juwita. Sayangnya, Paman Gobar memiliki perilaku buruk. Ia suka mabuk, main judi dan main perempuan. Dia tidak punya hati nurani sedikitpun. Demi mendapatkan uang. Tak segan ia memukuli, bahkan menjual tubuh sang istri. Dan semalam nasib sial ia torehkan pada Zee. Dengan dalih akan memberikan pekerjaan yang bagus. Zee malah dijual pada seorang lelaki hidung belang. Untung Zee berhasil kabur meskipun ia sudah dicekoki dengan obat perangsang yang sangat ampuh. Hanya saja, obat biadab itu tetap menguasai tubuhnya. Sehingga sikap Zee tak terkendali malam tadi.

"Bik! Bibik!" Zee terus mencari sosok Bibi Juwita. Untuk memastikan keadaannya baik-baik saja. Ia tahu pasti Paman Gobar sudah mendapatkan laporan jika ia kabur semalam. Sehingga amarahnya pasti dilampiaskan pada wanita malang itu.

Zee berjalan semakin masuk. Hingga saat ia baru saja melewati sebuah pintu. Tiba-tiba sebuah tangan membekapnya dari belakang.

"Ehmb…!"

Zee yang pernah ikut latihan beladiri pun dengan mudah melepaskan diri. Akan tetapi, ia terkejut saat mendapati orang yang baru saja membekap mulutnya adalah sang Bibik.

"Bibik! Bik Juwita tidak apa-apa?" tanya Zee khawatir.

"Ssst…. Pelankan suaramu! Nanti Pamanmu tau," ujar si Bibik setengah berbisik. "Bibik sudah kemasi semua barang-barangmu. Pergilah secepatnya ke Jakarta. Temui teman Bibik yang bernama Narsih. Ini uang tabungan Bibik untuk bekal kamu kesana. Tempat ini sudah tidak aman lagi untukmu. Cepatlah pergi!" tambah Bibik tanpa menaikkan nada suaranya. Sembari mengulurkan sebuah tas ransel besar serta beberapa lembar uang seratus ribuan.

"Tapi, Bik. Bagaimana dengan Bibik? Bukankah kita berniat untuk pergi bersama?"

"Bibik bisa jaga diri baik-baik. Yang penting kamu harus pergi dulu. Bibik akan merasa sangat bersalah pada ibumu. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena suami Bibik. Untuk itu, Zee. Pergilah secepatnya!"

"Enggak, Bik. Bibik bisa dibunuh sama Paman kalau tau hal ini. Kita harus pergi bersama, Bik. Kita harus kabur bersama," timpal Zee kekeh.

"Tidak, Zee. Kamu harus pergi. Cepatlah! Bibik mohon!" Bik Juwita mulai memohon. Ternyata ucapannya pun didengar oleh Paman Gobar yang baru saja terjaga dari tidurnya. Ia segera bangkit lalu keluar dari kamar.

"Oh, bagus! Bagus ya kalian berdua!" kata lelaki itu dengan nada tinggi. Zee dan Bik Juwita terkejut. Reflek Juwita segera melindungi keponakan semata wayangnya. "Heh! Gadis nggak tau diri! Sialan kamu ya! Bisa-bisanya kamu kabur semalam. Malu-maluin aku saja! Kamu lupa aku ini siapa? Kamu itu utang Budi banyak sekali padaku! Kalau nggak karena kebaikanku. Mana mungkin kamu bisa hidup dan bersekolah sampai ke perguruan tinggi setelah kedua orang tuamu mati!" hardiknya.

"Jangan asal bicara ya, Mas! Kamu lupa ya! Zee itu aku yang membiayai. Bukan kamu! Jadi, kamu tidak pantas mengatakan hal itu!"

"Heh! Emang kamu bisa apa tanpa aku, hah?! Jual diri saja tidak becus! Harus aku yang carikan pelanggan. Sudah minggir sana! Aku harus bawa keponakan sialanmu ini ke Juragan Romli. Kalau tidak aku harus membayar ganti rugi. Cepat kesini!" Paman Gobar berusaha menarik tangan Zee, tapi segera dihentikan oleh sang istri.

"Cukup aku yang kau sakiti, Mas! Tidak untuk keponakanku!" kata Bik Juwita dengan nada penuh penekanan.

Plakkk!

"Bibik!!" Zee menjerit saat melihat sang Bibik ditampar dengan cukup keras oleh suaminya.

"Dasar wanita jalang! Sini kamu!" Paman Gobar menarik rambut Bik Juwita dengan kasar. Akan tetapi, tanpa ia sadari sang istri sudah menyembunyikan pisau dapur dari balik bajunya. Sehingga….

Jlepp!

Bik Juwita menancapkan benda tajam itu ke perut sang suami. Zee dan Pamannya pun tampak terkejut. Begitu juga dengan Bik Juwita yang tak menyangka akan melakukan ini pada lelaki yang sangat ia cintai itu.

"Juwita!!! Sialan kam–"

Jlepp! Jlepp! Jlepp!!

Sebelum berhasil menjambak rambutnya lagi. Bik Juwita menghunuskan pisaunya di dada sang suami berkali-kali.

"Ju… Juwita…."

Brukkk!

Paman Gobar pun terkapar dengan bersimbah darah. Sementara, Zee masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

"Bik!" Zee berjalan mendekat dengan wajah khawatir pada sang Bibik.

"Stop, Zee!! Pergilah! Pergilah sebelum ada polisi kesini!" teriaknya dengan sorot mata kosong.

"Tapi, Bik?"

"Pergiiii!!!" teriak Bik Juwita. Akhirnya, dengan berderai air mata Zee meninggalkan tempat itu. Sesekali ia menoleh ke arah rumah paling ujung yang dikelilingi tanah terbengkalai yang dipenuhi semak belukar itu. Sungguh, ia tak tega meninggalkan Bibiknya seorang diri disana. Namun, ia juga sudah berjanji pada mendiang ibunya untuk selalu mematuhi semua perkataan sang Bibik.

"Maafkan Zee, Bik. Maafkan, Zee," gumam Zee dengan bercucuran air mata.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayarlah Kesalahan Ayahmu Dengan Hidupmu
8.0
Alona terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Ferdinand Craig, seorang konglomerat yang dipenuhi amarah. Ferdinand menikahinya demi membalas dendam atas kematian ayahnya. Tragedi itu bermula saat ayah Alona, seorang dokter, melakukan kesalahan fatal dalam operasi kanker darah ayah Ferdinand. Kini, Alona harus menanggung dosa orang tuanya di bawah bayang-bayang kebencian sang suami. Akankah Alona mampu bertahan menghadapi kekejaman Ferdinand dalam rumah tangga mereka?
Sampul Novel Cinta Bisa Tumbuh Lagi
7.8
Tepat sebelum pernikahan, penglihatan wanita ini pulih setelah sebelumnya buta demi menyelamatkan Doni. Namun, kebahagiaan itu sirna saat ia menyaksikan tunangannya bermesraan dengan adik sepupunya sendiri di ruang tamu. Sadar telah dikhianati selama setengah tahun terakhir, ia menyembunyikan fakta bahwa matanya telah sembuh. Dengan tekad bulat, ia menghubungi ibunya untuk membatalkan pernikahan dengan Doni dan memilih menikahi pria vegetatif dari Keluarga Barata yang kaya raya.
Sampul Novel HASRAT TERLARANG GIGOLO
8.1
Demi menghidupi tiga adik dan ibu yang sakit jiwa, Bagaskara nekad menjadi pria sewaan di usia 20 tahun. Pemuda ini terjebak dalam tawaran fantastis Arta Syakila, wanita kaya berumur 27 tahun yang bersedia membayar 500 juta hanya untuk satu malam. Meski Arta memiliki segalanya, alasan di balik keputusannya menyewa gigolo tetap misterius. Akankah Bagas bisa kembali hidup tenang, atau justru terjerat selamanya dalam rahasia kelam kehidupan sang miliarder?
Sampul Novel Menikah Akibat Salah Culik
7.8
Kirana, pengemudi ojek daring, terdesak biaya operasi ayahnya hingga diculik oleh miliarder Rasta Emilio yang salah sasaran. Rasta mengira Kirana adalah musuhnya, Chloe, hingga melakukan tindakan keji yang berujung luka fisik. Meski salah paham terungkap, penderitaan Kirana berlanjut saat ia difitnah di rumah bordil tempatnya bekerja demi melunasi utang. Rasta kembali hadir menyelamatkannya, namun justru terjebak nafsu hingga Kirana hamil dan menyimpan dendam mendalam.
Sampul Novel Pembalasan Carly Hamilton
8.5
Carly Hamilton, seorang mantan penjaga bar yang hidup dalam kemiskinan, terjebak dalam pernikahan paksa dengan wanita dari keluarga konglomerat. Setiap hari, ia harus menelan hinaan dan cacian menyakitkan dari orang-orang di sekitarnya. Berbagai ujian berat terus menghantam hidupnya hingga sebuah titik balik besar terjadi. Saat keberuntungan berpihak padanya, Carly bangkit untuk membalas dendam dan membuat mereka yang merendahkannya berlutut memohon ampun.
Sampul Novel Pengorbanan Dibalas Pengkhianatan
8.9
Sepuluh tahun setelah mengorbankan penglihatannya demi menyelamatkan Marcus, wanita ini harus menghadapi kenyataan pahit. Marcus membawa wanita simpanannya tinggal di vila yang sama. Setiap malam, sang suami bersandiwara menemaninya tidur sebelum beralih ke pelukan selingkuhannya. Bahkan, anak kandungnya sendiri diam-diam memanggil wanita lain itu dengan sebutan "Mama". Namun, mereka tidak menyadari bahwa kebutaannya telah sembuh, dan kini ia tengah menyusun rencana matang untuk pergi selamanya.