Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tentang Cinta Rihanna

Tentang Cinta Rihanna

Rihanna terjebak dalam pernikahan hampa bersama pria yang mencintai wanita lain. Suaminya memberikan nafkah batin dengan penuh paksaan dan kekasaran, seolah menganggapnya pengemis yang rendah. Meski sadar pernikahan ini terjadi karena keterpaksaan, Rihanna tetap merasakan kepedihan mendalam atas perlakuan dingin sang suami. Ia hanya mendambakan martabatnya sebagai perempuan dihormati, meski cinta belum mampu ia miliki sepenuhnya di rumah tangga mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam ini aku berhasil membuat mas Ammar menanam benihnya dalam rahimku. Meski tidak dilandasi dengan rasa cinta, tapi setidaknya aku telah berupaya untuk mengikatnya selamanya dalam kehidupanku.

Aku berharap, setelah ini mas Ammar akan menginginkannya lagi. Lagi dan lagi. Hingga tumbuhlah cinta dalam hatinya meski perlahan untukku.

Demi mendapatkan benihnya, aku harus menyingkirkan rasa malu dalam diriku. Demi untuk mendapatkan malam pertamaku aku harus bersimpuh, berlutut memeluk kakinya. Memohon dengan menghiba agar dia mau menyentuhku. Memberikan hak nafkah batin yang belum pernah dia berikan.

Semua itu semata aku lakukan hanya agar aku tidak terus menerus ditekan dengan pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang ingin sekali aku hindari. Karena mendengarnya saja itu sudah menyakitiku. Apalagi jika pertanyaan itu dilontarkan oleh abah atau ummi, mertuaku. Atau dari bibir ayah dan ibuku sendiri.

Rasa-rasanya itu seperti palu godam yang menghantam kepalaku. Tidak hanya mendadak pening jika mendengarnya. Tapi dadaku juga akan terasa sangat sesak.

Mungkin bagi sebagian orang, pertanyaan mengenai kapan menikah dan kapan memiliki anak menjadi salah satu topik yang dianggap basa-basi untuk memulai sebuah perbincangan. Namun, bagi sebagian lainnya, pertanyaan-pertanyaan serupa dengan itu bisa menjadi hal yang cukup sensitif.

Begitu pula denganku. Setiap kali ditanya atau diajak bicara mengenai hal seputar tentang program hamil dan anak, jujur aku seringkali merasa bingung. Sebab aku sendiri tidak tahu hendak memberi jawaban apa yang paling tepat untuk menanggapinya.

"Bagaimana, nduk? Sudah isi, belum?"

"Belum positif juga, ta?"

"Abahmu lho, nduk, selak pingin nimang cucu. Keturunanmu ditunggu-tunggu sebagai generasi penerus keluarga ini."

Kalimat itu seringkali aku dengar bagaikan sebuah teror dalam keluarga ini. Membuat hidupku merasa sangat tidak nyaman dan tertekan.

Dan karena perasaan itulah yang membuatku memaksa mas Ammar untuk menggauliku. Meski aku harus merendahkan diri, meski aku harus mengemis. Aku tidak peduli. Aku campakkkan harga diriku. Yang terpenting adalah dia mau melakukannya. Sesuai dengan keinginanku.

Aku sudah lelah. Aku jengah dengan pertanyaan yang seolah menyudutkan aku. Yang seolah menuduh bahwa aku adalah perempuan tidak normal. Perempuan mandul.

Andai saja ummi tahu, andai aku tidak malu mengakui bahwa putranya belum menggauliku sama sekali. Andai saja....

"Atau jangan-jangan selama ini kamu belum pernah disentuh oleh Ammar?" Tebak ummi suatu pagi saat di dapur.

Tentu saja hal itu membuat hatiku berdesir tidak karuan. Jantungku seolah akan terlepas dari tempatnya. Aku sangat terkejut. Dari mana ummi memiliki pemikiran seperti itu?

"Eh, emmm..., anu...." Aku tidak mampu menimpali perkataan ummi. Aku harus menjawab apa coba? Masa iya, aku harus berkata yang sejujurnya jika aku memang belum pernah disentuh oleh mas Ammar?

"Anu opo, nduk? Anu itu mengandung sejuta makna. Beneran, Ammar belum menyentuhmu?"

"Eh, tidak, mi." Jawabku dusta.

"Kalau iya, berarti kisahmu nggak jauh beda sama film Suhita, nduk. Nasibmu sama kayak si Alina." Ummi terkekeh. Becanda mungkin maksud ummi. Tapi itu nyata seperti tamparan keras bagiku. Menyadarkan posisiku, jika keberadaanku selama ini sama sekali tidak pernah dianggap oleh mas Ammar.

Aku menelan salivaku. Menahan degup jantung yang semakin tidak beraturan. Ini lebih pahit dari kisah Alina, ummi. Jauh lebih pahit dan jauh lebih sakit. Batinku menjerit.

"Tapi apa mungkin, Ammar sampai setahan itu? Kecuali kalau dia tidak normal." Ummi menjeda kalimatnya dengan tawa kecil.

"Masa hidup sekamar selama hampir setahun tidak tergoda sama sekali?"

Aku pura-pura tidak mendengar perkataan ummi. Aku terus memotong sayuran tanpa berbicara.

Bagaimana bisa ummi menyamakan kisah putranya dengan kisah sebuah film yang beberapa bulan yang lalu ditontonnya bersama dengan rombongan jamaahnya?

Ummi adalah sosok perempuan modern. Selain seorang khafidzoh yang cukup mutqin, beliau adalah pecinta satra dan penggemar film bergenre religi. Apalagi yang bertemakan perempuan.

Ummi adalah aktifis perempuan di kota ini. Beliau adalah perempuan yang selalu mengelukan tentang kesetaraan gender. Beliau begitu gencar memerangi budaya patriarki.

Ah, ummi. Ingin rasanya aku menceritakan kisah piluku ini padamu. Seperti para tamu wanita yang datang ke rumah curhat "sahabat perempuan" yang didirikan oleh ummi. Ingin aku memiliki teman bercerita meski hanya sekedar mendengar keluh kesahku. Rasanya itu sudah cukup mengurangi beban pikiran yang selama ini menggelayut dalam otakku.

Bagaimana mungkin aku bisa hamil, ummi? Putramu saja belum pernah menyentuhku, meski hanya sekali.

Pernah muncul keinginan mengatakan hal yang sebenarnya pada ummi. Namun, di satu sisi aku tidak ingin melukai perasaan beliau jika tahu tentang kenyataan ini. Aku juga tidak ingin dikatakan sebagai istri pengadu oleh suamiku sendiri.

Ingin aku bercerita tentang bagaimana mas Ammar selalu menolakku saat aku mencoba merayu. Bagaimana dia selalu menatap risih dan jijik terhadapku. Saat aku melepas hijabku dan berpakaian tipis nan seksi. Menampilkan lekuk tubuhku saat di hadapannya.

Ingin sekali aku bercerita bahwa penolakan demi penolakan yang dia lancarkan telah mematikan rasa cinta yang membara dalam dadaku.

Tidak ada lagi sumber kekuatan yang membuatku bertahan di rumah ini selain abah dan ummi. Jika tidak karena menjaga perasaan kedua orang tua itu, jika tidak karena menjaga perasaan ayah dan ibuku sendiri, jika tidak karena menjaga kehormatan dan marwah keluarga dengan sebutan kyai, tentu saja aku sudah memilih pergi.

Kisah hidupku nyatanya jauh lebih pedih daripada Alina Suhita. Juga lebih menderita daripada Ratna Rengganis. Ini kisahku sendiri. Yang tidak berani mengangkat senjata untuk berperang melawan kelaliman suami sendiri.

"Ammar tidak impoten kan, nduk?"

Aishhh..., ummi. Bagaimana aku bisa tahu jika putramu itu impoten atau tidak? Sedangkan aku sama sekali belum pernah melihat benda keramat milik mas Ammar.

Tentu saja pertanyaan ummi yang terakhir benar-benar mengusik ketenanganku. Ummi sampai bertanya sevulgar itu. Pasti karena ummi terlampau resah dengan tidak kunjung hadirnya cucu di rumah ini. Hingga berpikir sampai ke arah sana. Atau mungkin justru ingin bertanya apakah aku yang mandul? Namun beliau tidak sampai hati? Ah, entahlah....

***

"Jika mas mau menikahiku meski dengan terpaksa, sekarang bisakah jenengan menggauliku dengan terpaksa juga?"

Mungkin urat malu yang aku miliki saat itu telah terputus. Aku bersimpuh di hadapannya. Memohon agar dia mau memberikan nafkah batin untukku.

"Demi abah dan ummi, mas. Sekali ini saja. Lakukan itu, aku mohon." Pintaku menghiba.

Dia diam membeku. Aku peluk lututnya. Merendah serendah-rendahnya bagai pengemis.

"Tolong, tanamkan benihmu dalam rahimku. Abah dan ummi terus saja bertanya kapan mereka punya cucu."

Kalimat demi kalimat yang aku ucapkan membangkitkan amarah dalam dadanya. Dengan kasar, dia menarik pergelangan tanganku agar aku berdiri. Lalu dia dorong tubuhku mundur ke belakang. Kemudian dia hempaskan tubuhku di atas pembaringan.

Malam itu, dia penuhi keinginanku. Meski dengan terpaksa dan hati yang diliputi amarah, benihnya telah dia tanam dalam rahimku.

Penyatuan raga telah usai. Tak mungkin jika mas Ammar tidak menikmatinya. Erangannya dan cengkeramannya saat pelepasan menunjukkan bahwa dia merasa puas.

Mas Ammar membalikkan tubuhnya. Berbaring tepat di samping kananku dengan peluh yang membasahi seluruh tubuhnya. Matanya terpejam. Seolah energinya telah terkuras habis. Dia nampak begitu kelelahan. Lalu tidak berselang lama, dengkur halusnya terdengar di telingaku. Dia terlelap.

Sementara aku merasakan seluruh tubuhku remuk redam. Seolah semua persendian bergeser dari tempatnya. Aku berusaha bangkit. Bangun dari pembaringanku dengan susah payah.

Aku benahi selimut yang menutupi tubuhnya. Lalu aku tatap wajahnya yang sebenarnya tampan dan indah untuk dipandangi. Cukup lama aku mengamatinya. Hidung bangirnya, alisnya yang hitam dan tebal, juga rahangnya yang kokoh, serta kumis dan jambang halusnya selalu berhasil membuatku terpesona padanya. Membuatku jatuh cinta berkali-kali. Pesonanya selalu membuatku berdebar tidak karuan. Ya, aku mencintainya dengan sepenuh jiwa. Meski dia tidak.

Aku mengusap peluh mas Ammar yang tertinggal di tubuhku. Aku merasa ada cairan hangat yang keluar dari bagian intimku. Bercampur dengan bercak warna merah. Mengotori kain sprei yang semula rapi kini menjadi sangat berantakan.

Rasa ngilu pada pertigaan tubuhku sangat terasa. Terbayang dalam pelupuk mataku bagaimana tadi mas Ammar  menyerangku. Dia begitu membabi buta. Antara gelora syahwat dan nafsu amarah menjadi satu.

Air mata yang masih tersisa di pipiku, aku hapus perlahan. Dalam hati aku panjatkan doa kepada sang penguasa alam. Jika benih yang ditanam oleh mas Ammar ini tumbuh, maka aku berharap agar Tuhan menjadikan dia manusia yang lembut hati. Yang akan mengobati segala luka hatiku yang dibuat oleh sang pemilik benih.

Aku mengelus perut datarku. Lalu kembali terisak. Mengingat segala perlakuan buruk suamiku padaku. Aku memeluk lututku sendiri. Berbalut selimut, aku menumpahkan airmata yang sejak tadi terus menerus mendesak untuk keluar.

Lama-lama aku merasa risih juga dengan keadaanku sendiri. Aku usap airmataku meski tidak sepenuhnya kering. Lalu aku beringsut menggeser tubuhku. Meraih pakaian yang terserak di lantai. Aku mengenakannya secara asal. Hanya agar auratku tertutup saat berjalan menuju kamar mandi.

Langkah kakiku tertatih. Aku menggigit bibir bawahku. Merasakan tidak nyaman pada areaku. Aku kembali menangis di bawah shower.

Dari setiap jejak yang ditinggalkan oleh mas Ammar, membuatku merasa sakit hati. Lagi-lagi terbayang semua yang dia lakukan padaku tadi. Sungguh berkesan. Tapi kesan yang buruk.

Aku mempercepat mandiku. Ini sudah larut malam. Aku tidak ingin jatuh sakit karena kedinginan. Maka aku segera membilasnya hingga bersih setelah meratakan sabun dan shampoo. Hingga tidak ada lagi jejak cairan milik mas Ammar yang tertinggal di tubuhku.

Aku mendapati mas Ammar masih terlelap dalam posisi semula. Tidak ingin mengusiknya, maka kini gantian aku yang tidur di sofa. Setelah sebelumnya aku memakai pakaian dan mengeringkan rambutku. Tidak butuh waktu lama, aku jatuh terlelap.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
9.5
Adara Paramitha dan Garen Wijaya hidup bahagia hingga kecelakaan tragis mengancam nyawa Garen. Di ambang keputusasaan, Adara bertemu konglomerat Rian Kusuma yang menawarkan bantuan dana medis. Namun, bantuan itu menuntut imbalan yang mempertaruhkan kesetiaan Adara. Sementara itu, Kirana Senja, kekasih Rian, mulai merasakan ancaman pada hubungannya. Kini, mereka terjebak dalam pusaran rahasia dan pengorbanan yang menguji keteguhan cinta serta keutuhan rumah tangga.
Sampul Novel Duda Kuat
9.7
Dalam setahun, Satria telah menikah tujuh kali, namun semua istrinya meminta cerai. Mereka tidak sanggup menghadapi stamina ranjang Satria yang luar biasa, di mana ia menuntut pelayanan tujuh kali sehari. Fenomena aneh ini membuat Satria bertanya-tanya tentang kondisinya. Apakah kekuatan fisik yang berlebihan ini merupakan efek samping dari obat misterius pemberian almarhum kakeknya saat ia masih sekolah? Sekuel dari kisah Kepincut Janda Tetangga.
Sampul Novel Janji yang Hancur, Cinta yang Tak Terucap
9.5
Bara mengabdi enam tahun demi Isabella, bahkan merawat ibu mertuanya saat sang istri membangun karier. Namun, Isabella justru mengkhianatinya dengan menyebut pernikahan mereka hanya utang budi. Saat ibu Isabella wafat, wanita itu malah bersama mantannya dan mengandung. Tragedi berlanjut hingga keguguran dan perceraian terjadi. Saat Bara nyaris ditabrak, Isabella mengorbankan nyawa demi melindunginya. Di detik terakhir, terungkap rahasia bahwa janin itu adalah darah daging Bara.
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan
9.7
Naya, penulis yang sedang buntu ide, mencari inspirasi di kota kecil penuh hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, barista misterius yang menyimpan rahasia besar. Saat benih cinta tumbuh, Naya menemukan fakta bahwa Arga adalah penulis ternama yang sengaja menghilang akibat skandal masa lalu. Kini Naya terjebak dalam dilema moral yang sulit. Haruskah ia mengungkap identitas Arga demi kebenaran, atau melindungi pria yang ia cintai demi menjaga rahasianya?
Sampul Novel Kecemerlangan Tak Terbelenggu: Menangkap Mata Sang CEO
8.3
Leanna dipaksa bercerai setelah dikhianati suami dan mertuanya dalam pernikahan yang didasari utang. Usai berpisah, ia bangkit dengan harta gono-gini dan kebebasan penuh. Leanna mengungkap jati dirinya sebagai peretas ahli, pembalap, profesor medis, hingga desainer perhiasan ternama. Meski simpanan mantan suaminya terus mengganggu, ia tetap tak tergoyahkan. Hingga akhirnya, Matthew hadir dan menawarkan diri untuk menjadi suami baru bagi sang wanita jenius ini.
Sampul Novel Malam Jahanam
9.5
Perceraian orang tua meninggalkan luka mendalam bagi seorang anak yang terjebak dalam kebingungan. Di tengah kepedihan itu, sebuah peristiwa tak terduga yang disebut malam jahanam pun terjadi. Meski sering menjadi fantasi, kejadian tersebut tak pernah direncanakan hingga mengubah alur hidupnya menjadi penuh lika-liku. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit yang ironisnya terasa sangat indah. Sebuah kisah romansa modern tentang rahasia dan takdir yang kelam.