Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tentang Cinta Rihanna

Tentang Cinta Rihanna

Rihanna terjebak dalam pernikahan hampa bersama pria yang mencintai wanita lain. Suaminya memberikan nafkah batin dengan penuh paksaan dan kekasaran, seolah menganggapnya pengemis yang rendah. Meski sadar pernikahan ini terjadi karena keterpaksaan, Rihanna tetap merasakan kepedihan mendalam atas perlakuan dingin sang suami. Ia hanya mendambakan martabatnya sebagai perempuan dihormati, meski cinta belum mampu ia miliki sepenuhnya di rumah tangga mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Masmu mana, nduk?" Tanya abah padaku saat aku menyiapkan sarapan pagi.

Bagaimanapun juga aku harus terlihat baik-baik saja pada dua orang sepuh yang saat ini sedang duduk di kursi makan menunggu sarapan.

"Belum bangun?" Ummi turut bertanya.

"Tadi sudah bangun. Mungkin masih mutholaah." Jawabku. Tentu saja sedikit berbohong. Karena setelah jamaah subuh tadi, mas Ammar kembali tidur.

"Panggil, sana! Bilang kalau abah sudah menunggu." Perintah ummi padaku seraya menyendokkan nasi ke piring abah.

Aku mengangguk pelan. Berjalan bergegas menuju lantai atas. Sejatinya aku merasa enggan berbicara dengannya sejak peristiwa semalam. Tapi demi menghindari opini abah dan ummi jika aku tiba-tiba berubah, maka aku harus kembali bersandiwara.

Aku meraih handle pintu. Memutarnya dan mendorong dengan perlahan. Pintu terbuka. Nampak mas Ammar masih berada di atas tempat tidur. Dengan posisi badan yang menelungkup.

"Mas, bangun." Aku mengulang kata itu sampai tiga kali. Namun dia tidak merespon.

Maka aku beranikan diri membangunkannya dengan menyentuh kakinya.

"Mas, abah dan ummi sudah menunggu untuk sarapan." Ucapku lirih. Takut dia akan terkejut dan kembali marah jika tidurnya terusik. Karena biasanya juga seperti itu jika aku bangunkan.

"Hemmm...."

Mas Ammar hanya menjawab dengan gumaman. Dia menggeliat. Lalu menyibakkan selimutnya. Duduk sebentar. Menatapku dalam dengan tatapan yang tidak mampu aku artikan.

Aku bermaksud kembali ke ruang makan. Namun aku urungkan ketika mas Ammar mencegahku.

"Tunggu aku. Kita turun ke bawah bersama seperti biasa. Kecuali jika kamu sengaja ingin membuat perkara dalam keluarga ini."

Aku kembali terduduk di tempat semula. Menunggu dia, sang imam yang arogan untuk membersihkan diri.

Sudah terbiasa mendengar kalimat bernada intimidasi dari bibir mas Ammar. Maka aku tidak terkejut saat dia mengucapkan kalimat itu. Terlalu biasa. Hingga perasaanku telah mati rasa. Kebas. Tidak lagi aku rasakan kesakitan bertambah. Karena nyatanya rasa sakit yang aku tanggung memang sudah sangat parah.

Aku duduk dengan kepala yang tertunduk. Bahu yang luruh. Dan wajah yang sama sekali tidak berseri.

Rasa sakit dalam hati ini sudah aku rasakan sejak malam pertama pernikahan kami. Kata-katanya selalu tajam. Sekalipun dia tidak pernah memikirkan perasaanku. Juga tidak menghargai betapa tulusnya cintaku terhadapnya.

Perjodohan ini bukan keinginanku. Juga bukan keinginan mas Ammar. Namun sejak aku tahu jika aku telah dijodohkan dengannya, sejak saat itu pula aku belajar untuk mencintainya.

Aku ukir namanya dalam sudut hatiku yang paling dalam. Aku lukis indah wajahnya dalam setiap mimpiku. Juga aku sebut namanya dalam setiap doaku. Tidak ada lelaki lain dalam hidupku kecuali dia seorang. Dialah satu-satunya dan aku harap dia akan menjadi imam yang baik untukku selamanya.

"Tidak perlu kamu memikirkan siapa jodohmu, nduk." Kata ayah suatu hari saat aku lulus sekolah menengah pertama. Sehari sebelum aku masuk ke pesantren tahfidz.

"Jodohmu telah dipersiapkan sejak kamu masih berada dalam kandungan ibumu."

Ya, aku telah dikhitbah sejak aku masih berada dalam kandungan. Menurut cerita ibu, telah terjadi sebuah kesepakatan. Bahwa jika anak yang dilahirkan oleh ibuku adalah perempuan, maka akan dijadikan menantu. Tentu saja demi sebuah misi untuk membesarkan pesantren Al Hikam. Pesantren yang dirintis oleh leluhur mas Ammar. Pesantren di mana ayahku dulu menimba ilmu.

Ayahku adalah santri kesayangan kakek mas Ammar, yang biasa aku panggil dengan sebutan mbah yai. Semula ayah yang akan dijadikan menantu oleh simbah yai. Akan tetapi batal karena putri simbah yai meninggal karena sakit.

Keinginan untuk menjadikan ayah sebagai bagian dari keluarga pesantren Al Hikam tidak pernah lekang. Hingga terjadilah perjodohan antara mas Ammar denganku.

Terkadang aku menyesali kelahiranku yang berjenis kelamin perempuan ini. Karena dari tujuh bersaudara, hanya aku satu-satunya perempuan dan menjadi anak bungsu. Andai aku lahir laki-laki, tentu kisah hidupku tidak akan seperti ini.

Aku terhenyak. Tekejut saat mas Ammar menyipratkan sisa air di tangannya tepat mengenai wajahku. Lamunanku mendadak buyar. Aku menjadi tersadar. Jika segala pengandaian itu tidak ada artinya sama sekali.

"Membayangkan semalam?" Tanyanya sinis.

Aku menatapnya tidak percaya. Aku tidak menduga jika dia akan berkata seperti itu.

Aku menelan salivaku. Lalu kembali menunduk.

"Ingat, aku hanya akan menyentuhmu jika aku yang menginginkan. Jangan pernah lagi merayuku dan merengek untuk meminta jatahmu."

"Nggih, mas." Jawabku pasrah.

"Aku mengerti." Lanjutku lagi dengan suara yang sangat lirih.

Suasana hening sesaat. Kami saling membisu. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Ammar, Rihanna...!" Terdengar suara ummi memanggil. Lalu pintu diketuk dari luar.

Mas Ammar bergegas membukakan pintu.

"Suwi banget, to? Kenapa lama sekali?Abahmu sudah menunggu sejak tadi." Gerutu ummi begitu kami muncul di depannya.

Aku berdiri di belakang mas Ammar.

"Masmu minta dimandiin po, nduk?" Mata ummi berkedip menggodaku. Aku lirik mas Ammar yang menjadi salah tingkah. Lalu memilih berjalan mendahului. Pergi meninggalkan aku dan ummi.

"Eh, boten, ummi." Wajahku memanas. Jika bercermin mungkin aku bisa melihat wajahku yang merona.

"Mandiin juga nggak apa-apa kok, nduk. Mandi bareng juga boleh." Ummi tertawa kecil seraya berjalan di belakang mas Ammar. Aku mengikuti.

"Biar tambah mesra. Tambah semangat juga." Seloroh ummi.

"Ummi bicara apa, sih?" Aku tersipu malu.

Andai ummi tahu, jangankan mandi bersama, tidur seranjang pun kami belum pernah.

"Nduk, tak perhatikan kok jalanmu sedikit aneh, to?"

Aneh? Keningku sedikit berkerut. Aku sudah berusaha berjalan senormal mungkin, loh. Meski rasa ngilu itu masih aku rasa menjalar hingga ke pinggang.

Apakah para orangtua itu pengamatannya memang sangat tajam soal begituan? Sehingga sedikit saja berubah dari biasanya, mereka akan langsung paham?

Mas Ammar yang berjalan di depan kami berlagak seperti tidak mendengar pembicaraan ummi. Sedikitpun dia tidak menanggapi.

"Lebih sering lagi, ya. Biar kami cepat nimang cucu. Lakukan setiap pagi jelang subuh. Itu waktu yang sangat tepat. Juga perhitungkan masa suburmu. Makan makanan yang banyak gizi. Perbanyak konsumsi daging kalau ingin bayi laki-laki...."

Ummi berkata panjang lebar memberikan nasehat bak sedang mengisi ceramah. Aku hanya menjawab dengan nggih-nggih saja.

Aku harap telinga mas Ammar mendengar semua perkataan ummi. Semoga saja dia tidak sedang berpura-pura tuli. Lalu dia melakukan semua apa yang dikatakan oleh ummi atas kemauan dirinya sendiri.

"Lama sekali to, le? Baru bangun?" Tanya abah setelah mas Ammar duduk di kursinya.

"Semalam kerja keras mungkin, bah. Makanya lelah dan kembali tidur." Ummi berkelakar. Abah tersenyum lebar dan menatap kami bergantian.

Aku lirik wajah mas Ammar yang memerah. Apakah dia merasa malu? Seumur hidup baru kali ini aku melihat pipinya bersemu seperti itu.

Aku menyendokkan nasi ke piring mas Ammar. Aku biarkan dia memilih lauknya sendiri. Sementara aku menuangkan air putih, lalu meletakkannya di samping piring makannya.

"Kopiku, mana?" Tanya mas Ammar. Suaranya terdengar canggung.

Aku hendak berlalu ke dapur untuk membuatkan dia secangkir kopi. Biasanya aku menyeduhkannya setiap pagi. Tapi memang sengaja pagi ini aku tidak membuatnya. Menunggunya terlebih dulu meminta.

"Wis, mangano disek. Makan dulu. Kopinya nanti." Ucapan abah menahan langkah kakiku.

"Kasihan istrimu. Sudah sejak subuh tadi dia sibuk masak di dapur." Lanjut abah kemudian.

Aku menatap sebentar ke arah suamiku. Dia memberikan kode dengan dagunya agar aku kembali duduk. Aku menurut.

Sarapan pagi berlangsung tanpa perbincangan. Hingga pada suapan terakhir. Aku merasa tidak nyaman ketika ummi berkali-kali menatapku dengan senyum yang terus merekah. Entah apa yang membuat ummi terlihat begitu sumringah.

"Tetap terus bersikap biasa saja. Jangan pernah berbicara apapun tentang hubungan kita." Ucap mas Ammar ketika abah dan ummi sudah meninggalkan ruang makan.

"Nggih, mas."

"Dan satu hal lagi, jangan pernah menjanjikan mereka untuk segera memberi cucu. Karena jika semalam itu tidak berhasil, aku belum ingin lagi untuk mengulanginya."

"Tapi, bukankah itu hakku, mas? Aku ini istrimu." Protesku lirih.

"Hanya di atas kertas. Aku harap kamu tidak lupa." Jawab mas Ammar ketus seraya bangkit dari tempat duduknya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JTX" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JTX
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sekedar Bantuan, Tapi Menghancurkan Pernikahanku
9.5
Adara Paramitha dan Garen Wijaya hidup bahagia hingga kecelakaan tragis mengancam nyawa Garen. Di ambang keputusasaan, Adara bertemu konglomerat Rian Kusuma yang menawarkan bantuan dana medis. Namun, bantuan itu menuntut imbalan yang mempertaruhkan kesetiaan Adara. Sementara itu, Kirana Senja, kekasih Rian, mulai merasakan ancaman pada hubungannya. Kini, mereka terjebak dalam pusaran rahasia dan pengorbanan yang menguji keteguhan cinta serta keutuhan rumah tangga.
Sampul Novel Duda Kuat
9.7
Dalam setahun, Satria telah menikah tujuh kali, namun semua istrinya meminta cerai. Mereka tidak sanggup menghadapi stamina ranjang Satria yang luar biasa, di mana ia menuntut pelayanan tujuh kali sehari. Fenomena aneh ini membuat Satria bertanya-tanya tentang kondisinya. Apakah kekuatan fisik yang berlebihan ini merupakan efek samping dari obat misterius pemberian almarhum kakeknya saat ia masih sekolah? Sekuel dari kisah Kepincut Janda Tetangga.
Sampul Novel Janji yang Hancur, Cinta yang Tak Terucap
9.5
Bara mengabdi enam tahun demi Isabella, bahkan merawat ibu mertuanya saat sang istri membangun karier. Namun, Isabella justru mengkhianatinya dengan menyebut pernikahan mereka hanya utang budi. Saat ibu Isabella wafat, wanita itu malah bersama mantannya dan mengandung. Tragedi berlanjut hingga keguguran dan perceraian terjadi. Saat Bara nyaris ditabrak, Isabella mengorbankan nyawa demi melindunginya. Di detik terakhir, terungkap rahasia bahwa janin itu adalah darah daging Bara.
Sampul Novel Jejak Cinta di Kota Hujan
9.7
Naya, penulis yang sedang buntu ide, mencari inspirasi di kota kecil penuh hujan. Di sana, ia terpikat oleh Arga, barista misterius yang menyimpan rahasia besar. Saat benih cinta tumbuh, Naya menemukan fakta bahwa Arga adalah penulis ternama yang sengaja menghilang akibat skandal masa lalu. Kini Naya terjebak dalam dilema moral yang sulit. Haruskah ia mengungkap identitas Arga demi kebenaran, atau melindungi pria yang ia cintai demi menjaga rahasianya?
Sampul Novel Kecemerlangan Tak Terbelenggu: Menangkap Mata Sang CEO
8.3
Leanna dipaksa bercerai setelah dikhianati suami dan mertuanya dalam pernikahan yang didasari utang. Usai berpisah, ia bangkit dengan harta gono-gini dan kebebasan penuh. Leanna mengungkap jati dirinya sebagai peretas ahli, pembalap, profesor medis, hingga desainer perhiasan ternama. Meski simpanan mantan suaminya terus mengganggu, ia tetap tak tergoyahkan. Hingga akhirnya, Matthew hadir dan menawarkan diri untuk menjadi suami baru bagi sang wanita jenius ini.
Sampul Novel Malam Jahanam
9.5
Perceraian orang tua meninggalkan luka mendalam bagi seorang anak yang terjebak dalam kebingungan. Di tengah kepedihan itu, sebuah peristiwa tak terduga yang disebut malam jahanam pun terjadi. Meski sering menjadi fantasi, kejadian tersebut tak pernah direncanakan hingga mengubah alur hidupnya menjadi penuh lika-liku. Kini, ia harus menghadapi kenyataan pahit yang ironisnya terasa sangat indah. Sebuah kisah romansa modern tentang rahasia dan takdir yang kelam.