Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tapal Batas

Tapal Batas

Ikuti perjalanan hidup Effendik, pemuda desa yang berjuang mencari jati diri di tengah pahitnya takdir sejak kecil. Usai satu dekade menderita karena kegagalan cinta pertama, ia bertemu Chusnul yang ia yakini sebagai jawaban atas doa-doanya. Namun, kenyataan pahit menghantam saat ia tahu Chusnul adalah sepupu jauhnya yang sudah mencintai pria lain. Simak kisah pilu Effendik menghadapi kehancuran hati yang menyayat dalam narasi romansa penuh liku ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam menggelayut di ujung petang teramat gelap bahkan untuk di ingat. Kabut mulai menyelimuti desa Mojokembang. Sebuah desa di sebelah timur pinggiran kota Jombang, paling pinggir tepatnya di sebuah kecamatan Mojowarno. Bersebelahan dengan kecamatan Bareng dan paling timur kecamatan Wonosalam.

Hawa dingin kabut yang terus merambat perlahan melahap setiap segi bangunan rumah para warga. Menambah mencekamnya kengerian seperempat petang menjelang pagi. Suram lampu jalan berdaya 5 watt tampak berkerlip dari kejauhan. Seakan sebuah bintang yang tertutup awan. Namun lampu jalan terselubung kabut petang.

Rembulan tidak tampak di tutup mendung bersembunyi di balik gelapnya arak-arakan awan kelam. Burung hantu tampak berkoar bahagia menyambut kengerian gelap yang sedang meraja melambaikan hawa ketakutan.

Tabuh bambu sahut-bersahut dibarengi gemercik sungai belakang desa. Seakan menambah getar sesak akibat rasa merinding pada bulu kuduk bagi warga yang terjaga di pos-pos ronda ujung-ujung desa.

Lambaian daun kelapa yang melayung ke sana-kemari diterpa angin gelap tengah malam. Berarus sedang tak kencang ya tak rendah. Daun pohon kelapa seakan memberi bayangan seolah tangan besar melambai-lambai. Memanggil-manggil dengan kukunyah yang panjang dan tajam.

Di sebuah gubuk reot berdinding setengah batu bata dan setengah anyaman bambu. Sebuah rumah paling sederhana sebelah paling selatan desa pas di pertigaan depan gardu terakhir desa. Masih dalam lingkup RT 08/RW 02. Di salah satu kamar paling belakang sebelah pintu tengah bergaya kupu tarung namun dalam volume kecil berwarna hijau.

Amanah seorang istri muda yang tengah hamil tua sedang terlelap di ranjang tua buah tangan Pak Kasnam seorang tua sebaya usia 60 tahunan bapak dari Amanah.

Amanah tampak berkeringat dingin dalam terlelapnya. Walau terpejam namun seakan bola matanya bergerak-gerak tak beraturan seakan ada sesuatu keadaan yang menyeramkan ia lihat dalam terbaringnya.

Tubuhnya sebentar-sebentar miring ke kanan, sebentar-sebentar miring ke kiri tak menentu. Seakan kegelisahan badan tengah menerpa dalam lelapnya kali ini.

Dalam usia kandungan tua yang semakin tua telah lebih dari 10 bulan 14 hari sudah melewati masa waktu kelahiran yang seharusnya 9 bulan 14 hari. Namun keanehan terjadi saat sang kekasih hati suami tercinta Kasturi hendak berpamitan merantau kembali demi mengubah taraf hidup yang lebih baik kelak antara Amanah dan iya.

Kota Serang sebuah kota perjuangan, sebuah kota tanah merah para jawara suatu tujuan dari masa muda hingga kini untuk merantau mencari sesuap nasi. Seminggu yang lalu Kasturi pulang karena mendapat kabar sang istri muda Amanah hendak melahirkan buah hati anak pertamanya.

Namun keajaiban aneh terjadi saat pas hari H yang di jadwalkan ibu bidan untuk jadwal Amanah bersalin ternyata meleset akibat ulah sang calon bapak muda. Apa hal saat sore menjelang magrib tiga hari yang lalu.

Saat Amanah merasa sakit teramat sangat di punggung seakan begitu menyiksa. Di buat duduk sakit berdiri sakit tidur apa lagi teramat sakit. Sebuah tanda bahwa sore ini Amanah hendak melahirkan memang sudah waktunya.

Tetapi suatu kejadian aneh mengurungkan keluarnya sang anak pertama, “Nak tenang ya kasihan Ibumu kesakitan Bapak jadi tidak bisa pergi merantau kembali. Cepat lahir ya anakku biar Bapak bisa cepat pergi kembali merantau ke Serang untuk bekerja mencari uang agar dapat membeli baju-bajumu nanti,” sambil mengelus perut sang istri Kasturi terus berbisik di dekat perut Amanah yang telah besar sebab telah waktunya melahirkan.

Dan hal aneh terjadi seakan sang anak dalam kandungan Amanah tak mau ditinggal sang Bapak pergi seketika ia berhenti bergerak dan sakit di punggung Amanah reda seketika.

“Loh Pak, sudah enggak sakit lagi loh Pak, kok bisa ya Pak benaran tidak sakit lagi loh,” amanah terheran heran sambil berdiri dan memutar-mutar badannya menandakan sakit di pinggang dan punggungnya tak terasa lagi.

Dan malam kali ini menjelang pagi datang tepat pas seperempat petangnya Amanah tertidur tak tenang bukan Ikhwal hendak melahirkan tapi sebuah mimpi seram sedang bergelayut di depan matanya yang masih terpejam.

Dalam alam mimpinya ruh amanah terus berlari di sebuah pematang setapak sawah namun serasa tiada ujung jalan setapak tersebut di sepanjang mata memandang hanya ada padi dan rumput dan temaram obor yang tertancap di atas bambu-bambu panjang dijadikan tiang pinggiran pematang.

Amanah terus berlari ketakutan dengan tersengal dan ngos-ngosan sambil menggendong sesosok bayo lelaki yang masih merah seakan baru iya lahirkan beberapa saat yang lalu.

Dan tiba-tiba sahaja seperti tanah-tanah di belakang iya berlari di setiap tapak kaki bekas pijakannya berlari. Muncul tangan-tangan merah berlumur darah lalu tangan-tangan itu seperti mengejar dengan kukuh-kukuhnya yang panjang dan tajam hendak meraih kaki Amanah.

“Jangan-jangan!” teriak Amanah dalam mimpi sambil terus berlari.

“Amanah berikan anak lelakimu, berikan bayi lelaki itu, berikan anakmu,” seakan tangan-tangan merah terus mengejar sambil memanggil-manggil namanya dan berkata untuk merebut bayi lelaki merah di gendongannya.

“Tidak-tidak dia anakku, dia bayiku tak akan kuserahkan pada siapa pun,” amanah terus meracau dan terus berlari tanpa tujuan di setapak pematang sawah seakan tanpa ujung terus memanjang semakin Amanah berlari seakan semakin panjang jalan setapak ia lewati.

Lalu akhirnya ujung terlihat namun gelap tanpa sisi dimanapun gelap tetap tiada tepi jua pada akhirnya. Amanah semakin bingung tak tahu arah dalam hatinya hanya ingin bayinya selamat walau iya harus mati oleh tangan-tangan merah yang tentu dalam pikiran Amanah mereka setan durjana.

Dalam benaknya bertanya-tanya kenapa bayiku dikejar-kejar banyak makhluk dari lembah neraka? matanya teramat takut untuk melihat ke belakang, karena sudah pasti sosok-sosok tangan setan mengejarnya.

“Bu, Ibu tenanglah aku akan membantu Ibu dengan ijin Allah satu acungan jari ku dapat menghancurkan ribuan tangan setan yang mengejar Ibu,” sebuah kata-kata terucap dari sang bayi merah dalam gendongan Amanah.

Dan Amanah hanya terperangah dengan berbagai pertanyaan, “Kenapa dan mengapa bayi sekecil ini yang seakan masih merah baru dilahirkan dapat bicara, apa ini benar bayiku apa bukan bayi setan jua?”

Namun sang bayi seakan mengerti kata hati Amanah dengan senyumannya, dengan telunjuk kecilnya yang masih merah iya acungkan kecilnya yang ia acungkan pada ribuan tangan-tangan merah para setan yang terus merambat pada tanah jalan setapak pematang.

Seketika sebuah cahaya putih bening bersih keluar dari ujung telunjuk menyorot lurus jauh memanjang memporak-porandakan ribuan tangan. Dan setiap tangan yang terkena cahaya pasti terbakar hancur lalu menjadi abu hingga tak bersisa.

“Bu sekarang sudah aman semua itu adalah karena ijin Allah Bu aku anakmu bukan siapa-siapa hanya ciptaannya saja tiada lain,” bayi merah di gendongan Amanah kembali menjelaskan apa yang sedang terjadi.

“Nak apa benar kau bayi yang kulahirkan?” tanya Amanah seakan sangat khawatir dan begitu tak yakin kepada sang bayi merah yang tengah dalam gendongannya.

“Bu aku adalah bayi lelaki yang akan Ibu lahirkan esok hari saat pagi Bapak pulang dan paginya lagi saat matahari datang menyapa dunia mengubah gelap menjadi terang. Begitulah takdirku dan tujuanku. Datang ke dunia sebagai pemberi terang mengubah gelap kalian Ibu dan Bapakku menjadi terang dengan cahaya zat utama Nur Muhammad.

“Aku bayimu Bu dan lihatlah aku petik rembulan emas ini untukmu kelak dimasa harimu dengan usia memasuki waktu subuh. Rembulan emas di tanganku menjadi milikmu ibu maka bersabarlah dalam kesusahan karena aku anak lelakimu,” penjelasan sang bayi merah yang tiba-tiba menggenggam rembulan emas di tangannya sontak membuat mata Amanah kembali terjaga dalam lelapnya.

“Oh Cuma mimpi ku,” gerutu Amanah masih terbaring di atas ranjang reot kamarnya sambil berpeluh keringat karena sedang mengalami sebuah mimpi aneh tentang bayi lelaki dan rembulan emas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Benih Sang Pewaris
9.3
Kehidupan Isabella, seorang pelayan hotel, hancur seketika saat ia menjadi korban pelecehan oleh pria asing misterius. Meski ditawari kompensasi berlimpah, ia dengan tegas menolak segala bentuk imbalan tersebut. Namun, nasib berkata lain saat ia menyadari dirinya tengah mengandung benih dari sang pewaris kaya itu. Kini, Isabella harus berjuang melewati masa-masa sulit demi mencari kebahagiaan di tengah luka batin dan beban rahasia besar yang ia pikul.
Sampul Novel Dia Pikir Aku Akan Menderita dalam Diam
7.8
Lima tahun menikah, aku menemukan rahasia kelam suamiku lewat sebuah USB. Isinya membuktikan bahwa aku hanyalah pengganti cinta pertamanya. Puncaknya, dia memberikan proyek impianku kepada wanita itu dan mempermalukanku di depan umum saat gala perusahaan. Dia mengira aku akan menerima pengkhianatan ini dengan diam dan hancur dalam kesedihan. Namun, dia salah besar. Di hadapan semua kolega, aku menyiramkan sampanye ke kepalanya sebagai tanda perlawananku.
Sampul Novel Ditalak Lewat Surat
8.9
Kehidupan rumah tanggaku hancur seketika saat Mas Ibram menghilang tanpa jejak. Ia pergi secara misterius dan hanya meninggalkan secarik surat yang berisi pernyataan talak. Hatiku hancur karena diceraikan secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Namun, aku menolak menyerah begitu saja pada keadaan. Aku bertekad untuk melacak keberadaan suamiku ke mana pun ia pergi demi menuntut penjelasan jujur atas keputusan kejam yang telah ia ambil ini.
Sampul Novel Harga Diriku 10 Juta Per Malam
9.4
Yatim piatu dan terlilit utang miliaran, mahasiswi bernama Arabella Alexandro terpaksa menjalani kehidupan ganda sebagai wanita penghibur di diskotek. Di balik senyum palsunya, ia berjuang membiayai kuliah serta bertahan hidup sendirian tanpa bantuan keluarga besar. Suatu malam, ia bertemu Arkan Stevanno Orlando, CEO kaya raya yang memesan jasanya. Akankah pertemuan dengan Arkan menjadi pintu keluar dari kemelaratan atau justru memicu konflik baru yang lebih pelik?
Sampul Novel Mencari Cinta Sejati
8.7
Anggita Anggraini mendambakan sosok yang mampu mencintai dirinya apa adanya tanpa syarat. Namun, rentetan kegagalan dalam asmara justru membuat Gita kian menutup diri dan membangun tembok perlindungan demi menghindari luka baru. Di tengah rasa trauma yang mendalam, ia harus berjuang menghadapi keraguan hatinya sendiri. Akankah Gita berhasil meruntuhkan benteng tersebut dan menemukan seseorang yang tulus? Ikuti perjalanan emosional Gita dalam menjemput cinta sejati.
Sampul Novel Pengantin Rahasia CEO
7.9
Demi menyelamatkan aset keluarga dari ancaman penagih utang yang kejam, Ranti terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Reno, seorang CEO kaya. Reno membutuhkan istri formalitas untuk menghindari gangguan mantan kekasih serta desakan sang paman. Meski awalnya hanya kesepakatan bisnis demi uang dan perlindungan, kebersamaan mereka justru menumbuhkan perasaan tulus. Di balik pernikahan rahasia ini, benih cinta mulai mengikis batasan kontrak yang mereka buat.