Sampul Novel Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati

8.7 / 10.0
Anggita Anggraini mendambakan sosok yang mampu mencintai dirinya apa adanya tanpa syarat. Namun, rentetan kegagalan dalam asmara justru membuat Gita kian menutup diri dan membangun tembok perlindungan demi menghindari luka baru. Di tengah rasa trauma yang mendalam, ia harus berjuang menghadapi keraguan hatinya sendiri. Akankah Gita berhasil meruntuhkan benteng tersebut dan menemukan seseorang yang tulus? Ikuti perjalanan emosional Gita dalam menjemput cinta sejati.

Mencari Cinta Sejati Bab 1

"Sebelumnya saya minta maaf, apa kamu bisa melihat dengan jelas?" 

Duar!

Baru kali ini ada seseorang yang bertanya seperti itu. Ya, aku terlahir dengan tidak sempurna tapi alhamdulillah Allah masih memberi penglihatan yang sempurna. 

"Bisa Pak, saya bisa melihat semua. Walau mata saya seperti ini," jawabku dengan tegas. 

Gita itulah nama panggilanku, aku terlahir dengan keadaan yang utuh tapi tidak sempurna. Hinaan dan cemoohan sering aku dapat sejak aku kecil. Sakit hati jelas aku sakit saat mereka dengan entengnya mengolok kekuranganku. Tapi tak apa aku yakin suatu saat ada seseorang yang mau menerima aku apa adanya dan kebahagiaan yang kelak aku rasakan. 

Hari ini aku melamar di sebuah pabrik yang cukup terkenal di tempat ku. Saat melakukan wawancara managernya dengan blak-blakan menanyakan kondisi mataku. Tidak hanya beliau tapi satpam juga sebelumnya bertanya seperti itu. 

Setelah wawancara sebentar, aku pun menjalani berbagai test dan semua hasilnya bagus. Namun sayang karena kondisi dan kekurangan yang aku punya saat pengumuman aku pun di tolak. 

Sedih? Jelas aku sangat sedih. Karena aku berharap bisa diterima dan bisa lekas bekerja. Bukankah kita bekerja dengan tangan dan mata? Kalau mataku masih bisa aku gunakan dengan baik kenapa mereka tidak bisa nerima ku? Atau orang seperti ku tidak bisa kerja di pabrik besar dan milik Sultan? 

"Semangat Gita! pasti ada tempat yang bisa menerima kamu. Jangan mengeluh!" kata ku menyemangati diri sendiri. 

Hari masih siang ku lajukan kembali motor buntut milik bapak menuju tempat yang lain. Walau panas terik namun tak menyurutkan niatku untuk mencari pekerjaan. Aku tidak ingin membuat orang tuaku sedih karena pulang dengan tangan hampa. 

"Permisi Pak, apa disini ada lowongan?" Motor yang baru aku matikan, aku tinggalkan begitu saja menuju satpam dan bertanya dengan sopan. Karena memang didepan tidak ada pengumuman. 

"Maaf mbak, baru kosong. Kalau mau surat lamarannya tinggal saja," jawab Satpam itu dengan sopan. Aku pun meninggalkan berkas surat lamaran kepada beliau, berharap nanti ada panggilan kerja. 

Tidak terasa waktu sudah beranjak sore dan belum ada satu pun tempat yang mau menerima aku. Kini aku pulang dengan rasa kecewa dan sakit hati. Bagaimana aku bisa mengatakan kepada kedua orang tuaku jika aku gagal lagi? 

"Bagaimana Git? Dapat kerjaan?" tanya Ibu saat aku sudah sampai rumah. Tidak mampu aku menjawab dan hanya menggelengkan kepala. 

***

Setelah hari itu, aku hanya mengurung di kamar. Tentunya, setelah membantu pekerjaan rumah aku hanya mendengarkan radio berharap ada informasi tentang lowongan pekerjaan. 

"Gitttaaa.... kerjaan tiap hari kok hanya mendengarkan radio. Mbok ya cari kerja sana. Tanya ke temanmu, kali saja ada lowongan!" omel Ibu. 

Namaku Anggita Anggreini sering di sapa Gita. Kini aku masih menganggur setelah menyelesaikan pendidikan SMK. Dulu aku berharap setelah lulus langsung bisa bekerja. Namun karena kekurangan yang aku miliki, membuat aku sulit untuk mendapatkan pekerjaan. 

"Aku juga lagi cari info dari radio kok Bu, doakan saja agar aku lekas dapat pekerjaan. Ya sudah kalau begitu aku mau ke rumah Yeni dulu, kali saja dia sudah kerja nanti aku tak tanya dia," 

"Ya gitu, jangan cuma di rumah saja. Ibu budek dengar tetangga ngomongin kamu terus!" 

Setelah selesai bersiap kini akupun melajukan sepeda motorku ke rumah Yeni. Yeni teman sebangku saat aku sekolah dulu, kami cukup akrab. Tapi tidak jarang dia juga suka menjelekkan saat dibelakangku. 

"Assalamualaikum, Yeni," ucapku setelah sampai di rumah Yeni. 

Rumah Yeni cukup jauh, dia tinggal di kecamatan sebelah. Butuh waktu 15 menit untuk sampai di rumah Yeni. 

"Waalaikumsalam, eh, nak Gita. Ayo masuk nak, Yeni lagi mandi. Tunggu saja sebentar," jawab ibu Yeni dan ku cium tangan beliau sebelum aku duduk. 

"Cepat banget sampainya, bagaimana kamu sudah dapat kerjaan? Atau mau kuliah?" tanya dia seraya memberiku minuman. 

"Belum, kamu? Kalau ada info lah Yen, kabar kabar. Bosen aku di rumah terus. Dari kemarin melamar pekerjaan tapi nggak ada panggilan," 

"Aku juga belum dapat, coba nanti kalau ada aku kasih tau," jawab dia. 

Tidak lama setelah kedatangan ku, datang juga Fia temanku satu desa bisa dibilang teman kecil ku. Dia datang bersama mas Agus, orang yang pernah ingin dekat denganku saat masih sekolah. 

Kami saling bertukar cerita, Fia bilang sudah dapat kerjaan  dan dia menawariku juga Yeni untuk ikut dengan dia. Tapi dari mana aku bisa mendapatkan uang untuk masuk kesana? Selama kami mengobrol sesekali aku melihat mas Agus sedang melihat dan memperhatikanku. 

"Assalamualaikum, Yen___" ucap seorang cowok yang sepertinya dari tadi mondar-mandir di depan rumah Yeni. 

"Waalaikumsalam, sini masuk Yo. Gabung! Kamu dari mana?" sapa Yeni dan cowok itu pun masuk dan langsung duduk di sebelahku. 

Ternyata cowok itu teman Yeni saat masih SMP dulu dan dia juga lagi cari kerja. Oh, bukan dia lagi nunggu lowongan dari perusahaan motor. Karena dia ingin kerja disana. 

Aku lihat jam sudah menunjukkan pukul 11.30 aku tak ingin mendapatkan omelan dari ibu karena main nggak ingat waktu. Padahal aku masih ingin kumpul seperti ini. Saat aku pamit pulang Fia juga ikut pulang dan juga cowok tadi pun ikutan pamit. 

***

Klunting! 

Satu pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. 

0853887***

[Assalamualaikum...]

[Benar ini nomer Gita?]

Anggita A 

[Waalaikumsalam, iya benar. Maaf ini siapa ya?]

0853887**

[Alhamdulillah, boleh aku kenalan? Aku cowok yang tadi di rumah Yeni. Masih ingat kan?]

Anggita A. 

[Oh... Ya, ha? Kenalan? Buat?]

0853887***

[Boleh tidak? Aku ingin kenal kamu lebih dekat? Namaku Prasetyo bisa kamu panggil Tyo. Nama lengkap kamu siapa?]

Anggita A. 

[Salam kenal Tyo, panggil saja Gita. Kamu sudah tahu juga gitu, dapet nomerku dari Yeni pasti.]

0853887***

[Iya, maaf ya. Aku tadi nggak berani kenalan langsung. Oh ya, sebenarnya tadi aku sudah bolak-balik lewat rumah Yeni apa kamu nggak lihat?]

Anggita A. 

[Lihat sih, terus kenapa?] Dia pun menceritakan alasan kenapa dia mondar-mandir. 

Ya, aku memang selalu bersikap dingin dengan orang yang baru aku kenal. Entah aku sering membuat dinding agar tidak jatuh cinta. Aku takut sakit untuk kesekian kali karena jatuh cinta. 

Apalagi nomerku yang sudah disebarkan oleh seseorang yang membuat aku jatuh cinta, membuatku sangat hati-hati dengan nomer baru. 

"Kayaknya Tyo orang baik deh, semoga saja dia bisa membantuku melupakan Adi,"

Kami masih saling bertukar pesan, untung saja pekerjaan rumah sudah beres, Ibu sama Bapak juga tidak ada di rumah. Jadi aman dan tidak perlu takut akan kena marah.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Mencari Cinta Sejati

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Aku Tak Punya Siapapun Lagi
8.3
Menghadapi sisa hidup tiga hari akibat gagal hati akut, seorang istri harus menelan pil pahit saat suaminya, David, memberikan kuota pengobatan terakhir kepada adik angkatnya, Emma. Dianggap lebih pantas hidup, ia pun dipaksa mengalah. Demi menutupi ajal yang mendekat, ia menandatangani surat cerai, menyerahkan perusahaan perhiasan, bahkan membiarkan putrinya memanggil Emma sebagai ibu. Di balik pujian keluarga yang menganggapnya kakak yang baik, sebuah misteri kematian yang tragis siap mengejutkan mereka semua.
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Derita Menantu Jelita
8.2
Kecelakaan tragis yang melumpuhkan sang suami memaksa ayah mertua tinggal bersama mereka. Namun, situasi di rumah tangga dalam novel modern misteri Derita Menantu Jelita ini kian mencekam saat sang suami bertekad mendapatkan keturunan demi garis keluarga. Sebuah rencana nekat dijalankan; ia diam-diam mencampurkan obat ke dalam minuman istri dan ayahnya sendiri. Keputusan gelap tersebut seketika mengubah segalanya, menyeret kehidupan mereka ke dalam pusaran konflik yang tak lagi terkendali.
Sampul Novel I Fall Endlessly
8.1
Demi melindungi nyawa buah hati yang tidak berdosa, Neva Zetrix terjebak dalam situasi yang sangat memilukan. Ia terpaksa menekan harga dirinya dan bersikap rendah hati di hadapan Brian Anderson setiap hari. Perjuangan hidup Neva ini didorong oleh kasih sayang seorang ibu yang rela melakukan apa pun demi sang anak. Di tengah tekanan dari sosok Brian yang dominan, Neva harus bertahan dalam dinamika hubungan yang penuh dengan pengorbanan batin.
Sampul Novel ISTRI RASA SIMPANAN
9.5
Demi menyelamatkan kekasih Anthony Smith, Alicia Huang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Sebagai imbalan, ia memaksa Anthony menikahinya. Anthony setuju, namun dengan syarat identitas Alicia sebagai istrinya harus dirahasiakan dari publik. Menjalani peran sebagai istri yang disembunyikan layaknya simpanan, akankah ikatan kontrak ini bersemi menjadi cinta sejati atau justru berakhir dengan luka mendalam bagi keduanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan