
TAKDIR
Bab 2
***
Saat ini Amel dan Alex sedang berada di sebuah restoran yang bernuansa langit dan terlihat sangat sepi. jam sekarang sudah menunjukan waktunya untuk makan siang, tapi tetap saja Restoran tersebut masih sangat sepi. Sama persisi ketika beberapa tahun silam.
Dari 8 tahun yang lalu mereka berdua memang sering mengunjungi restoran tersebut. Ya, walaupun terlihat sangat sepi. Tapi di sebuah tempat inilah menjadi saksi bisu dimana mereka berdua bisa bertemu dan menjadi bagian dari hidup merekaa berdua.
“Kita kesini mau ketemu sama klien?” tanya Amel dengan menampakkan wajah bingung nya. Jujur saja ia sedari tadi sangat bingung dengan kelakuan Alex yang seenak jidatnya menyeret dirinya dan membawa dirinya untuk pergi ke tempat ini.
Bukanya menjawab pertanyaan dari Amel, Alex justru langsung pergi tepat ke arah diamana ia akan memesan beberapa menu dan minuman yang tak pernah ia makan dan Amel.
Amel menatap punggung Alex dengan tatapan yang sangat kesal. Dari dulu Alex memang tak berubah dari beberapa tahun silam, ia tetap sama dengan seorang Alex yang dikenal oleh Amel bebrapa tahun silam. Seorang Alex yang tak bisa ditebak dengan segala perubahan sifatnya yang terkadang mengesalkan tapi terkadang sangat care dengan kehidupan Amel.
Tak butuh waktu lama, kini Alex sudah datang dengan membawakan dua buah es krim rasa coklat dan vanila kesusakan Amel.
Tanpa pikir panjang Alex langsung menyodorkan satu buah mangkok es krim kepada Amel.
“Ini buat lo. Rasa vanilla kesukaan lo,” Ujar Alex dengan menampakan senyuman khas miliknya.
Amel menatap tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh seorang pemuda yang sedang memberikannya sebuah es krim. Ia sungguh tak menyangka bahwa seorang pria yang sedang bersama dengan nya iatu masih mengingat makanan kesukaan dirinya.
“Ternyata masih ingat,” batin Amel.
“Lo, nggak mau sama es krimnya? Ya udah gue kasih sama yang lain aja.” Suara dari Alex yang berhasil membangunkan Amel dari lamunannya.
Tanpa pikir panjang Amel langsung mengambil es krim kesukaan nya tepat di tangan seorang pemuda yang tak lain adalah Alex.
Hening, itulah yang terjadi. Situasi kembali hening karena mereka semua sibuk dengan acara makan es krimnya masing-masing.
Hingga pada alhirnya sebuah kehehingan pun berakhir dengan seuara dehemana Alex.
“Lo masih ingat tempat ini kan?” tanya Alex tiba-tiba.
Amel menyuapkan satu sendok es krim kesukaanya ke dalam mulutnya.
“Ingat. Tempat ini kan bersejarah banget bagi kita,” jawab Amel kemudian melanjutkan aktivitas makanya.
“Yups. Tempat ini adalah sebuah tempat yang sangat bersejarah bagi kita. Tempat pertama kali gue menemukan lo ditempat ini.”
Ah sial! Amel hampir saja mati tersedak dari es krim yang sedang dimakannya akibat mendengar ucapan dari seorang pria yang sedang berhadapan dengan dirinya itu.
“Tunggu. Pertama kali? Bukanya kita pertama kali ketemu sewaktu lo pindah di depan rumah gue dan jadi tetangga gue?”
Alex menggangguk.
"Dulu..."
FLASHBACK
Seorang gadis sedang sedang duduk di sebuah kafe yang sangat sepi dengan bernuansa laut dan malam hari. Ia duduk dengan sebuah kue ulang tahun yang tepat berada di depan matanya.
Ia adalah Amel. Seorang gadi introvert yang tidak percaya dengan siapapun. Seorang gadis yang merasa dunia ini tidak ada yang abadi untuk dirinya. karena ia percaya pada akhirnya semua akan meninggalkan dirinya seorang diri.
Ini adalah hari pertama dimana Amel keluar rumah selain ia berangkat ke sekolah. Itupun karena tepat dimana hari ulang tahunya yang ke 17 tahun.
Tak ada satupun dari orang yang dia kenal ataupun keluarganya yang mengigat ulang tahunya. Kini hanya ada sebuah tetesan air mata yang menjadi saksi atas bertambah usianya yang ke 17 tahun.
Jari-jemarinya langsung mencari seuah korek yang akan ia gunakan untuk memasang 2 buah ilin yang berbentuk angka.
Mulutnya mulai menyanyikan sebuah lagu sebagai ucapan hari ulang tahunya.
Happy birthday to me
Happy birthday to me
Happy birthday, happy birthday,
Happy Birthday to me
Setelah menyanyikan sebuah lagu, Amel langsung meniup lilin dengan tetesan air mata yang turun dari pelupuk matanya.
Kali ini pertama kalinya untuk dia menangis. Menangis bukan karena apa-apa tapi Karena ini adalah hari ulang tahunya yang ke tujuh belas dengan semua ini ia sungguh tak menyangka bahwa ini adalah hari yang bersejarah bagi dirinya.
Tanpa Amel dari seorang pria yang seumuran dengan dirinya sedang memperhatikan dirinya dari kejauhan. Ia adalah Alex.
Menjadi seorang introvert bukanlah sebuah kehendak semua manusia. Termasuk Amel. Tapi keadaan lah yang memaksakan nya untuk menjadi seorang introvert.
“Plak!”
“Plak!”
“Brang!”
Suara tamparan, tangisan diiringi dengan suara pecahan aset rumah sudah terbiasa terdengar di telinga seorang gadis.
Ia adalah seorang gadis yang bisa di bilang dengan gadis broken home. Setiap hari hanya tangis dan pecahan assert rumahnya saja yang terdengar di telinganya. Dan biasanya itu semua terjadi pada saat mamanya pulang di tengah malam dengan kondisi yang berpengaruh minuman keras.
Ia sama sekali gak ada niatan untuk melerai ataupun untuk menghentikan sebuah perkelahian tersebut. Karena jujur ia sangat bingung dengan kondisi semua ini. Ia hanya bisa menangis di pojokan kamar nya dengan menutup kedua telinganya.
Takut? Cemas? Begitulah yang terjadi dengan Amel. Ia sungguh tak tau kenapa bisa hidupnya seperti ini. Hingga sebuah suara yang terdengar begitu jelas ditelinga Amel yang berasal dari suara seorang wanita yang tak asing bagi Amel.
“Aku capek dengan semua ujian hidup! Aku seperti ini cuman mau cari kesenangan? Memang salah? Salah!” terdengar suara wanita yang tak asing bagi Amel dengan pengaruh minuman keras.
“Tapi kenapa kamu berkhianat? Kamu nggak kasihan dengan Amel? Enggak!”
“Aku nggak butuh anak itu! Anak dari kamu!”
“Yang kamu butuhkan hanya laki-laki itu kan? Iya!”
“Kalau iya emang kenapa!”
“Plak!” terdengar suara yang berasal dari tangan seorang pria yang lain adalah tangan dari ayah Amel.
“Cukup! Cukup! Aku nggak mau sama kamu! Mulai sekarang kita pisah! Dan aku akan pergi dari rumah ini!”
Mendengar ucapan dari mamanya. Amel langsung keluar dari kamarnay dan mememohon kepada sang mama untuk tidak pergi meninggalkan dirinya seorang diri.
“Mama…mama… jangan pergi ninggalin Amel… Hiks…Hiks.” Isak tangisan Amel yang mengiringi permohonan dirinya.
Seorang wanita yang terlihat cukup muda tersebut langsung memegang tangan Amel memberi pengertian.
“Mama… nggak… bisa sayang… mama nggak bisa Bethan sama orang yang seperti papa kamu. Papa kamu tempramental dan mama nggak sanggup untuk menahan semua itu… hiks… hiks..”
Seorang laki-laki yang berperan sebagai papa Amel langsung menarik tangan Amel dengan kasar.
“Gak usah kamu hiraukan dia lagi! dia sudah mendapatkan seorang pengganti papa!”
Amel menggeleng cepat. “Nggak mungkin pa! mama nggak mungkin seperti itu… hiks..hiks…”
Terlihat jelas di depan mata Amel, seorang wanita yang sangat berharga bagi dirinya pergi dari rumah dengan membawa beberapa barang yang mungkin adalah sebuah barang bawaan yang berupa koper.
Amel mencoba untuk menahan sang mama agar tidak pergi. Namun sayang sekuat apapun ia mencegah ia tak akan bisa untuk mencegah sang mama karena tangannya yang sengaja ditahan oleh papahnya.
tanya Amel yang masih belum mengerti dengan apa yang diucapkan oleh seorang pria yang berada di hadapnya.
***
Anda Mungkin Juga Suka





