
TAKDIR ISTRI BAYARAN
Bab 2
Banyak yang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dikehidupan seseorang, sampai mereka bisa dengan gamblang main menilai tindakan orang lain. Nasib Runa begitu, ia yang bekerja sebagai cleaning service di bioskop, harus dianggap jika ia bekerja melonte karena pulang selalu pukul 2 pagi. Mau dijelaskan ke orang-orang juga percuma, toh memang mulut manusia banyak yang sukanya nyinyir tanpa bertanya.
"Hari ini jualan di terminal lagi, Bu, Pak?" tanya Runa yang membantu membawa ember berisi adonan tepung gorengan. Ya, kedua orang tua Runa berjualan gorengan di gerobak, mereka berdua seringnya mangkal di terminal. Sudah belasan tahun mereka jalani. Dulu, saat Runa dan Arbi kecil, Bapaknya bekerja sebagai petugas pengantar surat, tapi karena kecelakaan lalu lintas, membuat Bapak tak lagi bisa bekerja karena tulang kakinya yang patah. Sekarang saja jalannya agak pincang efek operasi.
"Iya, Run. Eh iya, kamu jangan ladenin tetangga depan situ ya, diemin aja. Kalau perlu senyumin, dia udah terkenal mulutnya julid dan tukang tuduh, kan?"
"Yah, Ibu, masa harga diri Runa diinjek-injek Runa diem. Enggak lah, bodoh amat. Sekali-sekali hajar, Bu. Kemarin Runa di timpuk gayung. Kan kurang ajar."
"Ya Allah, kamu di lempar gayung?!" Bapak tampak terkejut. Runa mengangguk.
"Keluarga kita hina amat kayaknya ya, padahal kamu kerja jadi cleaning service, bukan jual diri kayak yang dia hebohin. Ck! Sabar ya, Run, mudah-mudahan nanti nasib kita bisa berubah. Bapak yakin. Arbi, kamu juga hebat, Bapak bangga kamu nggak malu jadi anak tukang gorengan, tapi punya cita-cita jadi polisi."
Arbi duduk di sebelah Bapaknya, meletakkan tas sekolahnya lalu merangkul bahu Bapak. "Kalau kita fokus dengerin omongan orang lain. Nggak akan maju, Pak, akan banyak yang suka sama enggak ke kita. Dibawa santai aja." Arbi tersenyum. Ia lalu beranjak dan membantu merapikan bahan untuk gorengan seperti Ubi, Pisang, Singkong dan adonan bakwan. Sementara Runa membersihkan kaca gerobak dengan kain lap, menata plastik pembungkus juga. Kedua anaknya memang kompak dan harus tumbuh dengan banyak cibiran. Wajar, karena Runa cantik, dan Arbi tampan. Kulit putih juga hidung bangir, membuat keduanya seolah tak dipercayakan orang jika hidup mereka Kere alias melarat alias biasa aja.
"Run, kamu jadi ambil kerja sambilan juga? Nggak cape?" tanya Ibu yang bersiap dengan memakai kerudungnya.
"Nggak. Cuma anter-anter pesenan makanan catering Bu Kathy, itu juga dari jam delapan sampai jam sepuluh, kata Bu Kathy lumayan uangnya, nggak jarang orang-orang kaya raya itu kasih uang lebihan untuk yang antar." Jawaban Runa membuat Bapak dan Ibunya mengangguk.
"Ambil, Kak, lumayan itu. Arbi berangkat ya, mau ke tempat periksa kesehatan dulu, untuk syarat test masuk Akpolnya." Pamit Arbi. Ia bercerita jika sekolahnya mengizinkan ia datang siang setelah pemeriksaan, dan Arbi juga masuk Akpol jika nanti lolos, melalui jalur beasiswa dan rekomendasi yang diajukan sekolah.
"Bi, Arbi! Bentar-bentar ...." Runa merogoh tas kecilnya, lalu memberikan uang lima puluh ribu ke tangan Adiknya itu. "Beli sarapan sama susu, biar nggak lemes ya. Sukses!" ucap Runa menyemangati Adiknya. Arbi mengangguk dan setelah pamit satu persatu, ia bergegas berjalan keluar pagar.
"Kamu masih ada uang simpanan, Run?" tanya Ibu.
"Masih, tenang aja, Bu. Nanti kunci Runa bawa ya, kan cuma sebentar doang, antar-antar pesanannya." Runa menutup pintu kaca gerobak gorengan, lalu Bapak dan Ibu berjalan keluar teras kecil rumah di gang sempit itu.
"Hati-hati ya, Pak, Bu, telepon Runa kalau ada apa-apa, udah Runa isi pulsanya kemarin di HP Bapak," sambung Runa kemudian. Bapak dan Ibu mengangguk. Mereka mendorong gerobak keluar pagar, berjalan bersama keluar gang, menuju ke jalan raya besar. Jarak dari rumah ke terminal bis hanya satu kilometer, gak terlalu jauh, Runa juga tak perlu khawatir.
***
"Kamu bisa nyetir mobil, Run, beneran?" tanya Bu Kathy ragu.
"Bisa, Bu, matic, kan mobilnya? Runa dulu pernah belajar sama temen waktu kerja di tempat kursus mobil. Eh lama-lama jadi bisa, percaya Runa, Bu." Begitu percaya diri wanita 23 tahun itu yang hanya mengenyam pendidikan hingga SMA. Ia lalu pamit dan masuk ke dalam mobil itu. Bu Kathy tersenyum dan meminta Runa hati-hati.
Pelanggan catering harian Bu Kathy memang orang-orang komplek elit. Setiap hari akan ada pengantaran dan mencangkup 4 RT dengan 1 RT hanya ada 15 Rumah dengan ukuran luar biasa besar-besar. Runa di berikan data alamat dan kotak mana milik siapa. Jangan sampai salah intinya.
Runa mulai melajukan Avanza silver itu pelan saat masuk ke area komplek elit. Ia berhenti di pos penjagaan. "Pagi, Pak, saya dari catering Bu Kathy, mau antar makanan." Runa memberikan KTPnya yang di tukar dengan ID Card tamu.
"Biasanya Mas Sony, kok jadi cewek yang antar?"
"Oh, Mas Sony pegang untuk antar ke kantor-kantor, Pak, permisiii..." pamit Runa yang mendapat anggukan satpam.
Ia mulai mengantar sesuai urutan, benar ucapan Kathy, baru sepuluh rumah, ia sudah mendapat tips uang enam puluh ribu. "Masih ada 20 rumah lagi, habis ini, ambil 30 lagi untuk diantar satu jam lagi. Mantap juga duitnya, cash lagi, makasih Bu Kathy..." begitu riang Runa. Ia bisa cepat mengumpulkan uang untuk membeli sepatu Bapak dan Ibu, supaya saat berjualan kakinya tak mudah lelah karena pakai sandal biasa.
Rumah demi rumah sudah ia antar makananya, hingga putaran kedua juga sudah. Tersisa satu, rumah di Blok F nomor 5. Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi. Ia turun, membawa kantong besar berisi menu catering hari itu. Sop buntut untuk 5 porsi, Ayam balado satu ekor, lalapan, dan tempe tahu bacem. Dengan total harga setiap hari pengantaran 200ribu rupiah.
"Orang kaya mah bebas aja ya, mau jajan sehari berapa juta juga, ck... ck. Permisi Pak satpam!" Teriak Runa. Tak butuh waktu lama, pagar besar itu bergeser otomatis. Lalu muncul satpam rumah.
"Saya Runa, dari Catering Bu Kathy, mau antar makanan hari ini," ucap Runa seraya menyerahkan kantung besar, tapi satpam menolak. Runa baru tau, kalau ia harus mengantar sampai dalam, di letakkan di atas meja makan dan menatanya. Runa mengangguk, ia mengikuti langkah kaki satpam. Begitu besar rumah itu, ia masuk melalui pintu dapur, lalu meniti beberapa anak tangga dan sampai ke ruang makan. Jelas suasana rumah orang kaya raya terlihat megah. Lampu kristal dan hiasan lainnya juga begitu wah!
"Selamat pagi, Nyonya," sapa Runa kepada wanita yang tampak bersiap berangkat kerja. Setelan formalnya tampak mewah juga. Runa bergidik sendiri membayangkan berapa harga satu stel baju itu.
"Dari catering Bu Kathy?" tanyanya. Runa mengangguk. "Ditata yang rapi ya, suami saya nanti makan jam sepuluhan, dia maunya cicipin satu satu, jadi kamu atur sebelah kanan makanan kuah, yang kiri sisanya. Mangkuk juga tolong siapin, minta sama Bi Jum. Kalau Sony sudah tau, dia pindah ke pengantaran catering kantor, ya," tanya wanita yang harum tubuhnya juga tercium kemewahan.
"I... iya, Nyonya, tapi apa ini nggak lancang? Saya, sungkan." Runa sedikit ragu.
"Nggak kok, saya minta tolong ya, duh... saya buru-buru. Ini uang tipsnya, tolong lakuin setiap hari ya, nama kamu siapa?"
"Saya, Runa, Nyonya." Jawab Runa. Wanita itu mengangguk. "Saya pamit ya, buru-buru. Makasih Runa, BTW, kamu udah siap nikah nggak?"
"Hah? Maksudnya apa, Nyonya?" Runa menatap Nyonya rumah itu bingung.
"Nanti deh, di obrolin, feeling saya, kamu yang cocok. Tinggalin nomor HP kamu, ya!" Nyonya rumah itu berjalan ke teras depan, supir dan mobil mewahnya sudah menunggu di sana.
Satpam menatap Runa, karena Runa tercengang saat melihat uang tipsnya. 300rb.
"Pak Satpam, ini banyak banget. Ini selembar untuk Bapak ya," uang itu di arahkan ke satpam. Satpam menolak, tapi Runa memaksa.
"Makasih ya, Mbak Runa. Nyonya memang begitu. Ayo Mbak, saya antar ke dapur, ketemu Bi Jum, untuk tau tempat mangkuk dan semuanya."
Runa mengangguk, ia lalu berjalan mengikuti satpam itu. Beberapa kali ia melihat keanehan pada rumah itu, tapi ia tak berani bertanya.
Anda Mungkin Juga Suka





