
TAKDIR ISTRI BAYARAN
Bab 3
Membayangkan jadi orang kaya, sudah pasti impian setiap orang. Tak terkecuali Runa, yang tak mau hanya pasrah menerima nasib. Saat itu hari kedua ia mengantarkan catering makanan ke rumah-rumah, tak terkecuali rumah Blok F nomor 5 itu. Ia masuk setelah satpam membukakan pagar besar yang bergeser sendiri. "Pagi Mbak Runa, kebetulan, sudah ditungguin nyonya," ujar Pak Satpam. Runa mengangguk. Ia berjalan tak di antar satpam, karena ia sudah tau harus lewat mana. Hari itu, Runa memakai celana jeans, dan baju berkerah warna pink, kulit putihnya semakin bersinar jika ia memakai baju warna itu.
Bi Jum sudah menyambut Runa juga, ia menyapa dan membantu membawakan kantong besar itu. "Runa, ditunggu nyonya, ini biar saya yang siapin." Bi Jum mengambil alih, sementara Runa berjalan ke dalam rumah dengan pandangan ke mana-mana, alias, ia bingung di mana sosok Nyonya rumah itu.
"Runa, sudah datang? Kemari!" Panggil wanita itu. Ia mengangguk dan berjalan ke arah ruang tamu yang sejajar garis lurus dengan ruang makan, sedikit menyerong ke kiri, nah, di situ ruang tamu dengan nuansa minimalis.
"Duduk, Runa," ucap Astari, atau Tari biasa nyonya itu di panggil. Runa masih tak tau apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh Tari.
"Kita langsung aja ya, jadi gini, Runa, saya sedang mencari perempuan yang bisa merawat suami saya, karena saya akan sangat sibuk nantinya. Saya nggak mau suami saya kesepian, saya rela jika harus melihat suami saya menikah lagi, bukan tanpa alasan jelas. Itu karena, suami saya buta, Runa. Tiga tahun lalu kecelakaan mobil, dia selamat tapi penglihatannya hilang. Saya akui, saya terpukul, saya kalut, dan saya sedih. Tapi, life must go on, bukan?"
Kalimat Tari terjeda. Runa masih terus menatap dan mencoba mencerna setiap kata yang terlontar.
"Saya mau ada sosok perempuan yang bisa layani kebutuhan dia, baik dalam urusan menemani dia saat kursus huruf braile, makan, menyiapkan pakaian, dan lain hal. Karena saya tidak akan sempat. Perusahaan butuh saya, dan saya harus fokus. Saya mohon Runa, dari sekian banyak kandidat, saya mendadak merasa srek sama kamu padahal baru sekali kita ketemu. Menikah sama suami saya, ya," ucapan Tari membuat Runa menganga.
"Kenapa, harus menikah, Nyonya? Saya bisa kalau bekerja di sini, seperti suster atau perawat?"
Tari justru tertawa. Ia menggelengkan kepala. "Runa, saya nggak mungkin biarin kamu tidur satu kamar sama suami saya tanpa ikatan, hampir tiap malam, suami saya itu suka mengingau tentang kecelakaan itu, dan itu mengganggu jam istirahat saya. Juga, kamu akan tinggal di sini, melakukan banyak hal dengan suami saya, tapi ... di pernikahan ini, tidak ada seks untuk kalian berdua. Saya yang tetap akan bertugas melayani suami saya. Bagaimana? Ini juga nggak cuma-cuma, Runa, saya akan bayar kamu, satu Milliyar."
"Hah!" Runa terkejut bukan main, uang sebanyak itu, membuat keringat dinginnya mengucur deras. Tari tersenyum.
"Saya akan kasih bertahap, pertama 200 juta, minggu ke dua 300 juta, bulan ke dua 300 juta, sisanya, 200 juta, saya berikan dalam bentuk emas batangan. Setuju?" tatapan Tari begitu serius. Runa mengangguk cepat tanpa perpikir panjang, ini kesempatannya. Kesempatan memiliki uang banyak dan membayar mulut-mulut orang-orang itu.
Tapi bagaimana cara dia berbicara kepada orang tua dan adiknya?
***
Bi Jum memberikan secangkir teh melati untuk Runa, ia duduk seorang diri di ruang tamu itu, menunggu Tari yang katanya akan memperkenalkan suaminya. Runa berdebar, bagaimana rupa pria itu, apakah seperti di sinetron-sinetron yang suaminya tua, atau bertubuh subur atau apa.
"Runa," suara Tari terdengar, ia menoleh.
'Ya ampun, ganteng banget'. ucap Runa dalam hati. Bagusnya, pria itu buta, jadi tak perlu lihat ekspresi Runa yang mupeng dan terpesona melihat ketampanan juga postur tubuh tinggi tegap. Tari menggandeng lengan pria itu. Wajahnya di tumbuhi kumis dan janggut sehingga tampak brewok yang alami.
"Vin, ini Runa, yang semalam aku ceritain ke kamu," ucap Tari. Kelvin diam, ia hanya mengulurkan tangan ke arah Runa yang ada di sebelah kanannya, tapi tangan Kelvin lurus ke depan.
Runa beranjak, ia meraih tangan Kelvin. "Runa..., Aruna Dewindari," jawab Runa sambil menatap mata Kelvin yang beriris cokelat.
"Runa setuju nikah sama kamu, kita lakuin ini segara siri aja, ya, Vin. Keluarga nanti aku kasih tau pelan-pelan, termasuk keluarga kamu yang jauh di Turki."
"Turki?" Lirih Runa. Tari mengangguk.
"Keluarga Kelvin di sana, mereka bangun usaha hotel dan restoran, belum soal saham minyak dan lainnya, Kelvin sendirian di sini, cuma ada saya dan keluarga saya, yang juga suka sibuk sama kegiatannya. Jarang bersama-sama," tukas Tari. Runa mengangguk paham, ia kembali duduk. Kali ini Kelvin berada di sebelahnya, diam.
"Kita percepat gimana? Besok bisa? Atau sore ini?" Tari begitu bersemangat, Kelvin diam.
"Saya harus bilang ke Bapak dan Ibu dulu, Nyonya, saya nggak mau sampai Bapak dan Ibu mikir saya yang pergi dari rumah tapi nggak jelas mau ke mana," ujar Runa memohon izin.
"Ok, tapi nikahnya besok ya. Saya harus terbang ke Bali sore harinya. Empat hari saya di sana." Tari menegaskan lagi. Runa mengangguk. Senyum tari merekah sempurna. Ia merasakan kelegaan yang luar biasa.
"Vin, aku akan urus bisnis kamu, perusahaan kamu harus cepat-cepat naik lagi levelnya kayak waktu kamu pegang, aku minta maaf kasih ide ini ke kamu, aku udah bilang ke Runa, kalau dia harus layanin kamu, tapi nggak untuk urusan seks. Itu tetap tugas aku, paham kan, Vin." Suara Tari memang mendayu-dayu, ia lalu menangkuk wajah Kelvin dan mengecup bibir suaminya. Runa menunduk, ia malu melihatnya.
"Terserah," jawab Kelvin kemudian. Runa melihat sorot mata lain, seperti sendu dan sedih, tapi ia memilih diam. Ia bingung sendiri, bagaimana cara menyampaikan kepada orang tuanya nanti.
***
"Kamu gila, Runa!" Maki Bapaknya. Runa diam, ia perlahan menatap ke sorot mata Bapaknya, lalu berganti ke Ibunya.
"Pak, dia buta, udah gitu kasihan Runa lihatnya. Istrinya bayar Runa satu Miliyar Bapak. Ini kesempatan langka. Pak, izinin ya, Pak, nikahin Runa sama Kelvin. Eh, tuan Kelvin." Runa mencoba memasang senyuman di wajahnya. Bapak dan Ibu menghela napas.
"Apa seambisi ini kamu, nak? Ini bukannya sama aja jual diri kamu?" Kini Ibu yang bersuara. Runa menggelengkan kepala cepat.
"Beda dong, lagian, Bu, Pak, nanti ada perjanjian yang Runa tanda tanganin, udah gitu, ini tuh, kita tidur sekamar, tapi nggak berhubungan badan, Nyonya Tari udah ultimatum itu. Juga, kalau nanti Runa langgar, Runa bisa dihukum penjara, karena dianggap rebut suami Nyonya Tari dan berzina sampai hamil. Amit-amit deh, Bu, Pak. Ini demi uang, kita bisa hidup lebih enak, Ibu sama Bapak nggak usah jualan gorengan. Tetap tinggal di sini, tapi nanti Runa beli rumah kontrakan ini, dan kita renovasi. Arbi juga bisa kuliah jurusan lain kalau nggak jadi masuk akpol. Ya, Bu, Pak," bujuk Runa.
Lama hening terasa, hingga Bapak menganggukan kepala dan membuat Runa lega. Tapi raut wajah Ibu mendadak sendu seraya menatap putrinya. "Jangan sampai tergoda dan kamu hamil ya, nak, besar resikonya." Kata-kata Ibu dijawab anggukan kepala oleh Runa. Ia mengirimkan pesan singkat ke Tari, sebelumnya ia sudah menyimpan nomor ponsel Tari sesaat sebelum pulang ke rumahnya.
Runa merasa lega, ia tersenyum sinis, membayangkan rencana-rencananya untuk orang-orang yang meremehkan, juga menghina ia dan keluarganya.
"Permainan di mulai, gue mau lihat muka lo semua yang udah hina gue dan keluarga gue." Ia bermonolog sendiri.
Anda Mungkin Juga Suka





