Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Takdir Cinta Zahrana

Takdir Cinta Zahrana

Zahrana menyimpan dendam mendalam sejak sang ayah menjualnya kepada Zafran. Meski sempat dilepaskan karena keteguhannya, takdir mempertemukan mereka kembali setahun kemudian. Kini, kondisi Zahrana telah berubah sebagai seorang istri yang rumah tangganya hancur. Ia terjebak dalam proses perceraian pelik akibat tuduhan perselingkuhan dari ibu mertuanya, tepat saat sosok Zafran muncul kembali di tengah kemelut hidupnya yang penuh penderitaan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Zahrana menangis dan berontak saat jasad ibunya dipisahkan dari pelukannya. Dia menangis karena tidak ingin berpisah dari wanita yang sudah menjaga dan menyayanginya sejak dirinya masih bayi.

Ya, Zahrana adalah anak yang didapat dari seorang wanita yang memintanya untuk menjaga bayi perempuan berselimut putih saat ditinggal ke kamar mandi. Wanita itu tak pernah kembali untuk mengambil bayinya, hingga membuat Widya terpaksa membawa pulang bayi itu ke rumahnya.

Malam itu adalah malam terakhir Zahrana bersama ibunya. Malam di mana dia merasa hidupnya sudah tidak lagi berharga. Malam di mana dia tidak lagi percaya dengan cinta.

Baginya, cinta hanya suatu perasaan palsu yang tak lagi berharga. Cinta tak lagi mempunyai tempat di hatinya hingga membuatnya bertekad untuk tidak akan pernah merasakan jatuh cinta.

Penggalan kisah sehari lalu masih terbayang diingatannya. Ucapan ibunya masih terngiang di telinganya. Kini, dia masih duduk seorang diri di depan makam ibunya.

Air matanya tak lagi jatuh walau matanya telah bengkak karena sedari malam terus menangis, tetapi entah mengapa, saat ini air bening itu enggan untuk jatuh dan berganti dengan gerimis yang perlahan turun membasahi bumi.

Walau air hujan sudah membasahi sekujur tubuhnya, Zahrana bergeming. Dia masih setia duduk memandangi papan pusara bertuliskan nama ibunya. Nama yang akan selalu dikenang hingga akhir hayatnya.

"Ibu, maafkan aku karena harus pergi meninggalkan Ibu sendirian di sini. Aku janji akan selalu mengunjungi Ibu. Ibu tidak usah mengkhawatirkanku karena aku akan baik-baik saja."

Gadis itu lantas bangkit dan mencoba memantapkan hatinya yang masih goyah. Namun, dia harus bisa menerima kenyataan. Sudah saatnya dia berani melangkah seorang diri. Dia harus berani menapaki jalan kehidupan yang akan dilalui.

Dengan tegar, dia membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan makam yang kini tak terlihat. Perlahan namun pasti, dia berjalan meninggalkan masa suram walau diiringi dengan air mata.

Dari halaman, dia menatap sekitar. Terlihat beberapa tetangga sedang membersihkan rumahnya.

Bendera kuning masih terpasang di gang depan rumah. Melihat kedatangannya, salah seorang wanita menghampirinya.

"Zahra, ayo ke dalam. Ibu sudah menyiapkan makanan untukmu. Dari semalam, Ibu lihat kamu belum makan apa-apa. Ayo, Nak!" 

Wanita itu memapah Zahrana masuk ke rumah. Setibanya di depan pintu, langkah Zahrana terhenti.

"Ada apa? Kenapa berhenti? Ayo, kita ke dalam!"

Zahrana memaksakan kedua kakinya untuk melangkah walau itu sangatlah sulit. Bekas darah di lantai sudah tidak lagi tampak, tetapi kejadian semalam tidak bisa hilang dari ingatannya. Suara ibunya masih terngiang hingga membuatnya menitikkan air mata.

"Zahra, ikhlaskan kepergian ibumu. Ibu tahu kamu kehilangan, tetapi ibumu pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini. Ayo, makanlah dan setelah itu kamu harus beristirahat. Mulai malam ini hingga malam ke tujuh, kami akan menemanimu. Jadi, jangan khawatir karena ayahmu tidak akan berani datang ke sini. Ibu yakin, tidak lama lagi ayahmu pasti akan ditangkap oleh pihak yang berwajib."

Lelaki itu telah dinyatakan buron karena melakukan pembunuhan tidak berencana terhadap istrinya sendiri. Pemukulan yang berujung pada kematian hingga membuatnya dicari para penegak hukum. 

Tanpa mereka sadari, seorang lelaki yang sedari tadi duduk di atas sepeda motor tampak memperhatikan mereka dari seberang jalan. Wajahnya tertutup helm. Setelah memperhatikan Zahrana, lelaki itu kemudian pergi.

Satu per satu tamu yang hadir di acara tahlilan tujuh hari kematian Widya mulai meninggalkan rumahnya. Acara yang diadakan berkat bantuan warga yang bahu membahu memberi sumbangan untuk membantu Zahrana sejak hari pertama ibunya meninggal. Hingga hari ketujuh, tak henti warga sekitar memberikannya bantuan. Entah berupa sedikit uang ataupun makanan.

Bagi mereka, Zahrana dan ibunya adalah orang yang sangat baik. Sejak dulu, Widya dikenal sebagai wanita yang pemurah.

Sebelum jatuh miskin, dia sering membantu warga yang datang meminta bantuan kepadanya. Entah berupa uang maupun bantuan lainnya. Dengan senang hati, dia akan memberikan tanpa memaksa untuk segera dikembalikan.

Karena kebaikannya itulah, warga sekitar dengan senang hati membantu Zahrana. Mereka tahu, saat ini gadis itu sangat terpukul dengan kematian ibunya. Kematian karena perbuatan ayahnya yang bejat.

"Nak, kalau kamu mau, kamu boleh tinggal bersama Ibu."

Bu Rina, tetangga dekat yang sudah menemani Zahrana sejak kematian ibunya. Wanita paruh baya itu menawarkan diri untuk membantunya. Bukan tanpa sebab dia mengajak Zahrana, tetapi karena rasa simpati pada gadis yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.

Hubungan mereka cukup dekat. Bahkan, dia sempat menggoda Zahrana untuk menjadi menantunya. Secara, dia mempunyai seorang putra yang bekerja di kota. Putra yang tak pernah datang mengunjunginya dan hanya mengirimkan uang yang cukup besar bagi orang desa sepertinya.

"Terima kasih, Bu. Aku akan tetap tinggal di rumah ini. Ibu jangan khawatir, aku baik-baik saja." Zahrana tersenyum seakan ingin menunjukkan kalau dia mampu menghadapi cobaan yang baru saja menderanya.

Wanita itu hanya bisa menerima keputusan Zahrana. Dengan terpaksa, dia kembali ke rumahnya.

Zahrana memandangi rumahnya dan masuk ke sana. Suasana rumah kembali sepi setelah tujuh hari rumah itu didatangi tetangga yang datang melayat maupun sekadar berkunjung untuk menemaninya.

Rumahnya sudah terlihat bersih dan diperbaiki oleh warga. Dan kini, dia harus kembali menjalani kehidupan seorang diri. Menjalani kehidupan tanpa ibu yang selalu memberinya semangat dan dukungan.

Zahrana duduk di atas kasur di mana dia dan ibunya sering tidur bersama. Dia meraih bantal guling yang sering dipakai oleh ibunya dan memeluknya seiring air mata yang perlahan jatuh. Wangi tubuh ibunya masih bisa tercium, hingga membuatnya mengeratkan pelukannya.

Isakkan tangis terdengar ketika kenangan bersama ibunya kembali muncul. Kenangan di mana mereka selalu bercanda dan tertawa bersama.

Zahrana membaringkan tubuhnya dan berusaha memejamkan mata yang sudah beberapa malam terjaga. Rasa lelah dan kantuk seketika mengganggunya, hingga membuatnya terlelap dalam pelukan bayangan sang bunda yang memeluknya erat.

Zahrana terlelap begitu nyenyak. Wajah cantiknya terlihat polos dengan gurat kesedihan yang masih tampak. Kulitnya yang putih bersih membuatnya terlihat seperti putri tidur yang sedang terlelap.

Malam semakin larut. Suasana desa terlihat sepi. Yang terdengar hanya suara binatang malam yang saling bersahutan.

Di depan jalan, terlihat sebuah mobil van berwarna hitam berhenti tak jauh dari rumah Zahrana. Posisi rumahnya memang berhadapan dengan jalan utama.

Tiba-tiba, pintu samping mobil itu terbuka. Dua orang lelaki kemudian keluar setelah memperhatikan situasi yang menurut mereka sudah aman. Setelah memastikan situasi, mereka kemudian berjalan ke arah rumah Zahrana dan berputar menuju pintu belakang.

Bagian belakang rumah Zahrana dibangun dengan semi permanen. Bangunan dapur hanya menggunakan bahan papan dengan pintu sederhana yang terbuat dari triplek membuat pintu itu dengan mudah dapat dibuka. Dan benar saja, dua orang lelaki yang mengenakan baju hitam dan penutup wajah terlihat memasuki ruangan dapur sambil mengendap-endap.

"Tunggu di sini. Aku akan masuk ke dalam," ucap salah satu lelaki yang kemudian masuk ke dalam kamar di mana Zahrana sedang tertidur pulas.

Di depan pintu, lelaki itu masih sempat berdiri dan memperhatikan sekitar. Di atas meja, dia melihat satu toples kecil berisikan amplop hasil dari takziah warga yang datang menghadiri acara tahlilan tujuh hari. Wajahnya seketika tersenyum sembari melihat Zahrana yang masih tertidur.

Perlahan, dia berjalan ke arah tempat tidur dan berdiri sambil memperhatikan Zahrana yang masih terlelap. Dari balik sakunya, dia mengeluarkan sapu tangan berwarna putih dan satu botol kecil cairan bening. Cairan itu lantas ditumpahkan sedikit demi sedikit di atas sapu tangan itu.

Lelaki itu kembali memperhatikan Zahrana. "Seharusnya dari dulu aku tidak membawamu ke rumah ini. Kamu hanyalah anak yang membawa kesialan pada rumah tanggaku. Seharusnya dari dulu aku sudah melakukan ini padamu."

Tanpa belas kasih, lelaki itu kemudian menutup hidung Zahrana dengan sapu tangan. Gadis itu terkejut saat hidungnya ditutup dengan paksa. Tubuhnya berontak ingin melakukan perlawanan, tetapi nyatanya tubuhnya perlahan terdiam dengan mata yang kini terpejam.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara dua Cinta
8.3
Ikatan persahabatan yang semula sangat kokoh kini berada di ambang kehancuran sejak kehadiran seorang wanita misterius. Saat mereka berjuang mewujudkan mimpi besar bersama, konflik perasaan mulai merenggangkan hubungan hingga mereka memilih jalan hidup masing-masing. Ambisi dan cinta menjadi ujian berat yang mengancam segalanya. Akankah mereka berhasil memperbaiki keretakan tersebut dan mengembalikan keutuhan persahabatan yang pernah menjadi kekuatan utama mereka?
Sampul Novel Diculik Untuk Menjadi Ibu
9.2
Alina Daryanov adalah wanita karier ambisius yang hidup tanpa cinta. Usai kecelakaan tragis saat badai, ia terbangun di samping Ivan Vasiliev, konglomerat yang menjadikannya istri kedua. Alina ternyata diculik untuk menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya yang putus asa. Kini ia terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh manipulasi dan rahasia gelap. Alina harus memilih: tunduk pada tekanan hidup baru atau berjuang melawan permainan besar demi kebebasannya.
Sampul Novel Gairah Sahabat Suami
7.8
Dua tahun membina rumah tangga, Nay dirundung duka karena belum memiliki keturunan. Kesedihannya kian mendalam akibat sikap dingin sang suami yang jarang menyentuhnya. Demi mengalihkan rasa sepi, Nay menyibukkan diri dengan menekuni usaha berjualan kue. Namun, takdir membawanya pada pertemuan tak terduga dengan Alex yang mengubah segalanya. Sebuah kisah romansa dewasa tentang pencarian kebahagiaan di tengah kehampaan pernikahan yang penuh liku.
Sampul Novel Hanya Menjadi Wanita Pengganti
9.8
Demi menjaga martabat keluarga setelah Naila kabur di hari pernikahan, Diandra Sahanaya alias Naya nekat menggantikan posisi adiknya untuk dinikahi Zayn. Meski Zayn menegaskan hanya mencintai Naila, Naya tetap berjuang memikat hati pria yang selama ini dipujanya itu. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh di hati Zayn, alasan tersembunyi di balik kepergian Naila terungkap. Akankah Zayn berpaling kembali pada Naila atau memilih mempertahankan Naya?
Sampul Novel Hilang Selamanya Dari Hatiku
8.0
Sepuluh tahun pernikahan dengan Dennis hanya menyisakan luka. Sebagai istri, aku selalu dijadikan alasan bagi Dennis untuk memutuskan hubungan dengan kekasih-kekasih barunya saat dia mulai bosan. Di hari ulang tahun pernikahan kami, aku justru harus menenangkan mahasiswi yang baru dicampakkannya, sementara dia asyik berkencan dengan wanita lain. Menyadari diriku terjebak dalam siklus toxic ini, aku memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai. Meski Dennis memohon agar aku menunggu perubahannya, keputusanku sudah bulat. Aku memilih pergi jauh ke negeri seberang dan meninggalkan dirinya selamanya.
Sampul Novel Pengantin Bekas CEO
9.1
Nadine dihina suaminya pada malam pengantin sebelum menyadari itu hanyalah alasan untuk menutupi perselingkuhannya. Status janda setelah cerai membuat Nadine jadi bahan ejekan, hingga seorang CEO tampan datang melamarnya. Meski merasa tidak pantas karena masa lalunya, Nadine tidak tahu bahwa sang miliarder telah lama mengejarnya. Di balik kemewahan, sang CEO siap membuktikan cintanya dan membungkam semua orang yang pernah merendahkan wanita pujaannya itu.