
TAK SELAMANYA SELINGKUH ITU UNDAH
Bab 3
"Tuan! Nona sudah kembali ke rumahnya," ucap seseorang yang kini ada di depannya.
Pria yang sedang memotong daging panggang menghentikan pisau miliknya, setelah beberapa saat dia kembali memotongnya dan menusuk daging itu dengan pisau.
Beberapa orang yang melihatnya sedikit ketakutan, apalagi mengingat aksi kejinya, jika bukan karena yang menggaji mereka tak terlalu Sudi menyembah pria gila itu.
"Beri pesan padanya untuk kembali bekerja!" ujar pria itu yang menyuap daging steak kedalam mulut.
"Tapi Tuan, Nona Emery mengalami Amnesia apa anda yakin dia bisa menjalankan pekerjaan?" tanya pria itu yang khawatir, membuat orang yang kini baru saja menelan makanan menatap tajam padanya.
Pria itu menunduk. "Maaf, Tuan."
Pria itu mengangkat pisau yang bagian tajamnya berlumuran minyak bercampur air. "Angga! Sejak kapan aku butuh pekerjaan darinya?"
"Maaf Tuan, saya akan segera mengirimkan Email!" ucapnya yang pergi setelah itu.
Prank! Meja makan yang lumayan besar juga panjang itu dia gulingkan membuat semua makanan yang ada di sana berserakan juga piringnya hancur. Archer tersenyum miring, setelah apa yang terjadi dia malah melupakan segalanya, kita lihat seberapa dia bisa melupakan tentang kenangan bersamanya.
"PELAYAN!" teriak Archer yang membuat pelayan berbondong datang ke padanya.
Sekarang hampir 10 orang datang menundukan kepalanya pada Archer, mereka tak ada yang berani bertatapan dengan pria itu.
"Makananku jatuh, menurut kalian apakah masih pantas dimakan?" tanya Archer yang mulai bertingkah, membuat seluruh pelayan takut untuk menjawab karena takut salah.
"Tidak Tuan," balas dari mereka takut-takut.
"Sungguh? Itu semua masih bisa dimakan, tapi aku mau kalian yang memakannya!" ujar Archer yang membuat mereka lihatnya tak terima, namun mereka tak dapat membantah.
Dengan cepat mereka memungut makanan itu dan memakannya secara langsung tanpa dibawa kebelakang. Lagipula jarang sekali Archer murah hati, biasanya setelah selesai makan.
Sisanya akan di berikan pada hewan peliharaannya, kadang mereka cukup hina di rumah besar ini tapi bagaimana lagi, uangnya sangat besar bagi mereka, apalagi yang sangat butuh.
Archer melihat mereka tersenyum senang, mereka mirip hewan bahkan lebih rendah dari itu. "Dasar munafik!"
Setelahnya Archer pergi dari sana meninggal orang-orang yang juga bahagia karena ternyata makanan yang mereka hidangkan sangat lezat, bahkan hampir beberapa bulan ini tak pernah mereka cicip.
.
.
Emery termenung melihat layar ponsel yang terdapat Email dari perusahaan, Damien masuk kedalam kamar setelah menidurkan Eira heran dengan Emery yang bingung.
"Kenapa sayang? Rusak hpnya?"
Emery menggeleng sambil memperlihatkan Email itu pada Damien, sontak saja pria itu terdiam termenung. "Aku bekerja di kantor, ya bang?"
"Iya, kamu sekertaris di kantor," ucap Damien yang tersenyum simpul.
"Tapi aku gak ingat apa-apa? Gimana nanti aku kalau kerja?" tanya Emery yang bingung.
"Aku juga gak tau."
"Apa aku tolak aja?"
"Kalau kamu bisa."
"Hah?" tanya Emery yang tak paham dengan ucapan suaminya, kenapa ada kata kalau? Memang kenapa? "Apa ada kontrak kerja aku sama mereka?"
"Enggak sih."
"Terus?" tanya Emery yang semakin bingung.
Damien yang mengerti dengan rasa penasaran isterinya, menarik tangan Emery dan memeluknya. "Masalah kita cukup rumit, Emery. Terutama kamu, aku cuma berharap kamu tetep sama aku, apapun masalahnya."
"Maksud kamu apa, bang?" tanya Emery yang tak paham.
"Masalahnya rumit, nanti kamu tau di kantor. Udah sekarang kamu tidur! Biar besok aku anter kamu ke kantor!" ujar Damien yang memasang wajah sedih, Emery tak paham sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa ingatan itu tak terlihat lagi.
Siapa pun tolong berikan dia jawaban?
.
.
Emery turun dari benda roda dua itu dengan pandangan heran, pasalnya gedung yang tinggi mungkin 40 lantai itu tampak sangat besar juga mewah.
Tak ada ingatan apapun tentang gedung yang hampir dilapisi kaca itu. Damien tersenyum sambil memberikan benda-benda untuk keperluannya di kantor.
"Aku pergi dulu ya! Nanti kalau butuh apa-apa kamu bilang aku aja!" ujar Damien yang memberikan kode telepon menggunakan tangannya.
Namun saat pria itu hendak pergi Emery memegang lengannya sambil masih memandang gedung besar itu. "Aku takut."
"Maaf ya! Karena aku kamu harus kerja saat sakit kayak gini," ucap Damien sambil menunduk, merasa bersama pada Emery karena harusnya dia di rumah memulihkan ingatannya.
"Apa kalau aku gak kerja, aku di pecat?"
Damien terdiam sesaat, ia rasa kata itu Mungkin tak akan ada di kamus Emery. Karena mereka lebih mirip terkurung dan tak bisa keluar, bertahan saat ini saja sudah sebuah keberuntungan. "Mungkin."
"Kenapa muka kamu kayak gitu?"
"Emang aku harus gimana?" tanya Damien yang heran, padahal dalam hatinya risau bila mana mereka tak akan bebas, bahkan saat ini.
"Ya khawatir kek kalau aku di pecat, kata mama aku gaji aku lebih gede dari kamu."
Damien tersenyum sambil mengusap rambut Emery, semua orang yang baru datang melihat itu lalu berbisik-bisik entah apa, tapi keduanya tak perduli seperti dunia ini hanya milik mereka berdua. "Aku bahkan lebih seneng kalau kamu gak kerja lagi, karena ada aku. Walau pas-pasan aku cuma mau kita bersama."
Wanita itu tak paham, bukankah mereka bersama, lalu untuk apa kata itu. "Maksud kamu?"
Belum sempat Damien bicara lagi, kedua wanita tiba-tiba memeluknya secara spontan dan juga cepat hingga Emery hampir kehilangan keseimbangannya.
"OMG, ini beneran Lo, Ry? Ya ampun gue seneng banget liat lo lagi, Lo kemana aja?" tanya salah satu dari mereka, kalau dilihat-lihat mereka ini mirip, apa kembar?
"Iya, sumpah gue kangen banget sama Lo, Ry," ucap yang lainnya, sambil memeluk tubuh Emery.
"Kalian siapa?" tanya Emery yang tak tau, entah dari mana datangnya kedua wanita ini.
Mereka memandang tak percaya pada teman karib mereka, walau keduanya berbeda jauh derajatnya dari status Emery sebagai sekertaris bos tapi mereka memiliki hubungan yang akrab.
"Sumpah Lo gak tau gue? Gue Alora, ry."
"Gue Alira, masa Lo gak tau sih?" tanya Alira yang memandang heran pada Emery, tentu saja wanita yang masih lupa-lupa ingat itu bingung.
"Alora! Alira! Sebenarnya ada kecelakaan yang membuat Emery lupa ingatan, atau amnesia."
"Hah?"
"What? Serius?" tanya keduanya kompak, mereka mendekat dan memeriksa teman mereka, takut ada cidera yang lebih serius.
"Bang! Tolong!" ucap Emery yang merasa takut pada kedua wanita rempong ini, terutama dandanan mereka yang sangat mencolok juga seksi, mereka lebih mirip tante-tante genit dari pada gadis kantor.
Damien tertawa kecil melihat istrinya yang takut, ia juga heran kenapa wanita itu bisa berteman dengan tikus got macam mereka. Tapi sebelum amnesia mereka nampak sangat bahagia bila bersama. "Aku pergi dulu ya!"
"Hah? Abang!" ucap memelas Emery namun tak di gubris, pria itu malah tetap melajukan motornya pergi.
Anda Mungkin Juga Suka





