Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tak Lagi Menua Bersama

Tak Lagi Menua Bersama

Saat menjalani program bayi tabung keempat, Jennie justru memergoki suaminya, Erwin Sentosa, sedang mendampingi wanita hamil di rumah sakit. Demi penerus keturunan, Erwin meminta Jennie memaklumi perselingkuhan tersebut dan berjanji hubungan mereka akan membaik setelah bayi itu lahir. Jennie berpura-pura setuju sambil menyembunyikan hasil pemeriksaannya sendiri. Ketika hari persalinan wanita itu tiba, Jennie memutuskan untuk meninggalkan surat cerai dan pergi selamanya dari kehidupan Erwin.
Bab
Bagikan

Bab 1

Saat aku pergi ke rumah sakit untuk memeriksa apakah percobaan bayi tabung keempatku berhasil, aku melihat Erwin Sentosa yang katanya sedang dinas luar kota, dengan hati-hati menopang seorang gadis muda dan cantik keluar dari departemen kebidanan.

Perut gadis itu membesar, tampak sudah hampir melahirkan.

Erwin hanya terlihat panik sesaat, lalu segera melindungi gadis itu di belakang tubuhnya.

“Jennie, Keluarga Sentosa butuh seorang anak untuk meneruskan garis keturunan. Setelah anak ini lahir, kita akan kembali seperti dulu.”

Nada suaranya yang tegas terdengar jelas di telingaku. Aku tersenyum dan mengangguk menyetujuinya.

Di tengah tatapan terkejutnya, aku diam-diam menyembunyikan hasil pemeriksaanku.

Di hari gadis itu melahirkan, aku meninggalkan surat perceraian… dan pergi dari hidupnya untuk selamanya.

Saat melihat Erwin di departemen obstetri dan ginekologi, aku pikir aku salah lihat.

Padahal di malam sebelumnya, dia masih berulang kali menciumku sambil berkata bahwa akulah yang paling ia cintai.

Barang-barangnya juga aku yang kemasi satu per satu dengan tanganku sendiri.

Tapi sekarang, dia mengenakan pakaian yang juga aku bantu padankan, dengan hati-hati menggandeng seorang gadis muda yang sedang hamil besar keluar dari ruang dokter kandungan.

Gadis itu memegang selembar hasil pemeriksaan dan mengatakan sesuatu padanya, sementara dia membungkuk sedikit dengan sabar, mendengarkannya dengan seksama.

Keduanya memancarkan aura manis yang membuat siapa pun yang melihat pasti mengira mereka adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.

Seperti disiram air dingin dari ujung kepala, semua rasa bahagia yang menggebu langsung padam.

Aku terpaku di tempat, bertatapan dengan Erwin yang masih tersenyum.

Senyumnya langsung membeku di sudut bibir, dan kepanikan pun terlihat jelas di wajahnya.

Gadis di sampingnya langsung pucat pasi begitu melihatku, lalu ketakutan menggenggam erat lengan baju Erwin.

Erwin pun segera sadar, menepuk-nepuk lembut punggung tangan gadis itu untuk menenangkannya, lalu membantunya duduk di ruang tunggu di samping dan berpesan beberapa kalimat dengan hati-hati.

Saat dia berjalan ke arahku, raut panik yang sebelumnya sempat terlihat sudah lenyap dari wajahnya. Ia justru bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan bertanya padaku,

“Kau ke rumah sakit kenapa? Ada yang nggak enak badan?”

Ia mengulurkan tangan ingin menyentuh wajahku, tapi aku langsung mundur selangkah untuk menghindar.

“Jelaskan!”

Aku memohon dalam hati.

Erwin, tolong katakan padaku kalau ini semua hanya kesalahpahaman.

Asal kamu bilang begitu, aku pasti akan percaya.

Aku menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan tangis, tapi suara bergetarku tetap mengkhianati perasaanku.

Melihatku begitu tersiksa, Erwin langsung memelukku tanpa peduli penolakanku.

“Sayang, bukan seperti yang kau pikirkan. Kita pulang ya, aku akan jelaskan semuanya...”

Dan saat itulah, hatiku benar-benar hancur tenggelam.

Dia tidak menjawab dengan jelas...

Mataku mulai panas, aku menatapnya tanpa suara, keras kepala ingin mendengar sebuah jawaban.

Tatapanku membuatnya tak bisa bersembunyi lagi. Ia mengalihkan pandangan, lalu dengan susah payah membuka mulut,

"Anak itu… memang anakku… Tapi aku nggak sengaja, Jen…"

Suara Erwin pelan, tapi terdengar seperti guntur yang meledak di telingaku.

Aku hampir tak mampu berdiri tegak.

Melihat kondisiku yang seperti itu, Erwin buru-buru ingin menarikku dengan wajah penuh rasa bersalah.

Aku menepis tangannya.

"Jangan sentuh aku!"

Aku benar-benar nggak ngerti, kenapa dia bisa berpura-pura seolah masih sangat mencintaiku padahal hatinya sudah bukan untukku lagi?

Orang-orang di koridor mulai menoleh memperhatikan kami.

Perempuan itu pun berlari kecil ke arah kami, dan seperti induk ayam melindungi anaknya, dia langsung berdiri di depan Erwin.

"Kak Jennie, tolong jangan salahkan Pak Erwin. Dia nggak sengaja..."

Erwin memasang wajah dingin dan menyuruhnya kembali ke tempat semula, tapi tangannya tetap terangkat, refleks menopang pinggang wanita itu, sebuah gerakan penuh perlindungan.

Dua orang yang saling membela satu sama lain seperti itu... sungguh menyentuh hati.

Tapi justru membuatku terlihat seperti orang jahat di mata orang lain.

Dalam sekejap, rasa marah, benci, dan tidak terima semuanya menyerbu hatiku.

Aku tiba-tiba dipenuhi rasa benci, melangkah maju dan menatapnya tajam sambil berkata dengan nada penuh amarah,

"Kau! Dasar wanita murahan, pelakor!"

Gadis itu tampak ketakutan, tubuhnya gemetar dan hampir terjatuh.

Wajah Erwin langsung berubah, ia mendorongku dengan kasar dan langsung memeluk gadis itu erat-erat ke dalam pelukannya.

Dorongannya sangat kuat, dan karena aku tidak bersiap, tubuhku terhempas dan jatuh ke lantai.

Saat jatuh, aku refleks memeluk perutku.

Telapak tanganku terasa perih terbakar, tapi rasa sakit itu tetap tak sebanding dengan luka di dalam hatiku.

Dulu, Erwin bahkan tak pernah tega menyakitiku sedikit pun.

Sepertinya dia sendiri juga kaget dengan apa yang baru saja dilakukannya, mendorongku.

Dia memandang tangannya dengan tatapan kosong, wajahnya penuh penyesalan dan keterkejutan.

"Jennie, kau nggak apa-apa?" katanya dengan panik, mencoba membantuku bangkit.

Namun saat itu, gadis di belakangnya tiba-tiba mengaduh pelan,

"Ah… Kak Erwin, perutku sakit banget…"

Tangan yang sudah sempat terulur oleh Erwin langsung ditarik kembali. Ia tak sempat memikirkan hal lain lagi, buru-buru menggendong gadis itu dan berjalan cepat menuju ruang pemeriksaan.

Sebelum pergi, ia sempat menoleh dan melihatku, wajah tampannya dipenuhi rasa bersalah.

"Jennie, tunggu aku. Nanti aku akan jelaskan semuanya pelan-pelan."

Setelah berkata begitu, dia pun pergi tanpa menoleh lagi.

Aku memegangi perutku, hidung terasa asam dan mata nyaris berlinang.

Dalam hati, aku hanya bisa berpikir… mungkin memang tak akan ada 'kita' lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sekadar Figuran
7.9
CEO Narendra Hasan terancam batal menikah dengan Bella setelah kecelakaan membuatnya lumpuh. Tak sudi bersuamikan pria cacat, Bella kabur di hari pernikahan. Sebagai gantinya, Narendra menunjuk Sheilla, keponakan Bella, untuk menjadi pengantin pengganti. Sheilla yang terikat utang budi pada pamannya terpaksa setuju. Namun, pernikahan ini mengungkap misteri besar terkait kecelakaan orang tua Sheilla dan hilangnya penulis ternama. Siapa dalang sebenarnya?
Sampul Novel Cincin Kawin Berukir Nama Lain
8.6
Tujuh tahun aku diperbudak sebagai penulis bayangan untuk Zara, adik angkatku, atas perintah Permadi. Puncaknya, suamiku itu tega mencurangi penghargaanku demi Zara yang hamil. Saat kutemukan nama Zara di cincin nikahku, sadarlah aku hanya alat. Aku pun memalsukan kematian dalam kecelakaan pesawat untuk membalas dendam. Saat Permadi mencari jasadku, video plagiarisme Zara tersebar luas. Dari kejauhan, aku tertawa melihat kehancuran mereka dengan identitas baru.
Sampul Novel Cinta Si Kembar (TWINS LOVE)
9.0
Demi membiayai pengobatan sang ibu yang kritis, Maya terpaksa menyetujui tawaran pernikahan kontrak dari Reno. Di sisi lain, Reno sengaja memanfaatkan situasi sulit Maya untuk menjeratnya dalam ikatan legal yang menguntungkan. Bagi Reno, pernikahan ini hanyalah strategi licik untuk mengamankan harta warisan keluarga sekaligus memperkuat dominasinya di perusahaan. Mereka terjebak dalam kesepakatan gelap yang didasari oleh ambisi dan kebutuhan mendesak.
Sampul Novel Dia Bukan Suamiku
9.2
Dalam pernikahan hasil perjodohan, Shafa mendambakan kesetiaan dan kasih sayang tulus dari Alby. Meski awalnya Alby tampak sangat mencintai Shafa, pria itu ternyata menyimpan pengkhianatan di balik sikap manisnya. Kepercayaan yang diberikan Shafa pun hancur seketika. Walau Shafa telah mencoba memaafkan demi cinta, ia justru terus tenggelam dalam luka yang mendalam. Kini, di tengah kehancuran, mungkinkah Alby meraih kembali hati Shafa dan menemukan akhir bahagia?
Sampul Novel Hati yang Sedang Berperang
8.9
Di Midyat, Bahar Asian hidup terhimpit kebencian kakeknya, Nasuh, sebagai anak haram keluarga penguasa. Takdir mempertemukannya dengan Emir Demir, pemuda yang kembali demi membalas kematian orang tuanya pada keluarga Asian. Meski terjebak dendam, benih cinta justru tumbuh di tengah manipulasi dan perjodohan. Kini, mereka harus memilih antara setia pada darah atau mengikuti hati. Akankah rahasia masa lalu menghancurkan segalanya atau justru memutus rantai dendam?
Sampul Novel Kerinduan Tak Berujung
9.4
Lima tahun membina rumah tangga, Stella justru menemukan kenyataan pahit bahwa dokumen pernikahannya dengan Felix adalah palsu. Status istri sah ternyata diberikan kepada wanita lain bernama Tania demi melancarkan bisnisnya di luar negeri. Felix mengira Stella yang telah mengorbankan segalanya tidak akan pernah pergi. Namun, rasa sakit hati yang teramat dalam membuat Stella memutuskan untuk menghilang selamanya, tepat saat Felix mencoba membawa akta pernikahan yang asli.