Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi

Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi

Harga diri Bimo hancur akibat cemoohan istrinya yang tidak pernah puas dengan performanya di ranjang yang hanya bertahan tiga menit. Demi menyelamatkan pernikahan, Bimo terpaksa menerima tawaran bantuan dari ibu mertuanya. Metode yang awalnya hanya berupa ramuan khusus dan pijatan perlahan berubah menjadi bimbingan langsung yang intim. Situasi kian rumit saat kakak dan adik iparnya turut campur tangan membantu Bimo mengatasi masalah sensitif ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

Harga Diri Yang Hancur

Bimo seketika terbelalak saat mendengarnya.

”Mama mau membantuku agar Sella puas di atas ranjang? Bantuan apa yang dimaksud? Jangan-jangan tidur dengannya?!”Bimo bertanya-tanya dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya.

Suasana berubah menjadi semakin canggung. Bimo sengaja berdehem agak keras untuk mengusir rasa gugupnya.

Mayang melepaskan pijatannya di bahu Bimo lalu pijatannya berpindah ke area lehernya Bimo. Ia menaruh kedua ibu jarinya tepat di cekungan leher belakang. Ia menekannya perlahan, lalu memutarnya kecil. Bimo reflek memejamkan mata saat rasa kaku di kepalanya seolah ditarik keluar.

“Mama tidak sengaja dengar pertengkaran kalian tadi. Makanya mama menawarkan bantuan kepadamu. Mama punya teknik pijatan khusus supaya kamu bisa lebih perkasa dan tahan lama di ranjang. Gimana, kamu setuju?”Tanya Mayang membuat Bimo kembali membuka kedua matanya dengan ekspresi terkejut.

“Pijatan agar semakin perkasa dan bermain lama di atas ranjang?! A… apa itu artinya mama akan memijat keperkasaanku?”Pekik Bimo di dalam hatinya.

Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat mendengarnya. Tidak… ini tidak benar. Mayang adalah mertuanya. Mana mungkin dia membiarkan Mayang melakukan pijatan pada keperkasaannya. Jadi tidak mungkin dia menerima bantuan dari Mayang.

​“Eh, itu, aku—Maaf, Ma, sepertinya itu tidak perlu. Aku akan mencoba cara lain saja,” Jawab Bimo terbata.

“Tenang saja, Mama tidak akan memaksamu menjawab sekarang,” kekeh Mayang pelan. Mayang melepaskan pijatannya lalu sedikit merunduk dan berbisik di telinga Bimo. “Pikirkan dulu saja secara matang.”

Seluruh tubuh Bimo seketika merinding merasakan helaan nafas Mayang menerpa telinganya. Ia hanya bisa menunduk, menatap layar laptopnya yang kini terasa buram. Ia merasa terlalu malu untuk melanjutkan percakapan yang begitu intim dengan mama mertuanya sendiri.

***

Pagi harinya, suasana di meja makan terasa begitu berat bagi Bimo. Ia duduk bersama Sella, Mayang, dan Tiara—adik iparnya yang masih kuliah semester akhir.

Sudah setahun lebih Bimo tinggal bersama dengan mereka dalam satu rumah yang sama. Rumah ini adalah rumah pribadi keluarga Sella.

Sebenarnya Bimo memiliki tabungan yang cukup untuk membangun sebuah rumah type 48 satu lantai. Hanya saja Sella menginginkan rumah yang jauh lebih besar dan memiliki kolam renang. Makanya mereka memilih menunda untuk memiliki rumah impian sampai tabungan mereka berdua benar-benar cukup.

Sesekali Bimo melirik ke arah istrinya yang terlihat acuh tak acuh padanya dan tidak menegurnya sama sekali.

“Kak Sella, semalam aku gak sengaja dengar suara ribut-ribut di kamar kalian. Kenapa sih kalian sering bertengkar setiap malam?” tanya Tiara penasaran, memecah kesunyian di antara mereka.

​Jantung Bimo mencelos saat mendengar pertanyaan Tiara.

“Nggak tau, tanya aja sama Bimo!” jawab Sella dengan nada jutek sambil mengaduk-aduk sarapannya tanpa selera.

​“Ah— itu bukan masalah serius kok. Kakakmu suka ngambek kalau kakak ngorok malem-malem,” jawab Bimo gugup seraya menggaruk kepalanya. Ia terpaksa berbohong. Mana mungkin ia berkata jujur di depan adik iparnya kalau istrinya tidak puas dengan permainannya di atas ranjang.

Tiba-tiba Mayang berdehem, seolah mencoba mencairkan suasana. “Bimo, ayo minum dulu kopinya. Mumpung masih hangat.”

“I… Iya, Ma,” jawab Bimo gagap.

Ia mengambil gelas kopinya dengan tangan yang sedikit gemetar. Tawaran pijat dari Mayang semalam kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya hingga membuatnya tidak fokus. Baru satu sesapan, lidahnya terasa terbakar karena kopi yang masih panas. Tanpa sengaja, kopi itu tumpah dan membasahi celananya.

“Ahkk!! Panas!!” seru Bimo kaget.

​“Kamu ceroboh banget, sih!” hardik Sella ketus dengan menatap Bimo dingin.

“​Nak Bimo, hati-hati!” Mayang reflek mengambil serbet yang ada di dekatnya lalu menunduk untuk mengelap celana Bimo yang basah akibat ketumpahan kopi panas.

Bimo terbelalak ketika melihat posisi Mayang yang berjongkok di antara kedua pahanya yang terbuka, ditambah lagi tangan Mayang terus bergerak mengelap celananya dari bawah dan perlahan naik ke atas.

Jika Mayang terus bergerak ke atas, Mayang bisa saja menyentuh keperkasaannya. Dia langsung menangkap tangan Mayang sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

“Ma, tidak usah, Ma. Biar Bimo saja yang lap!” serunya panik, “Mama lanjutkan saja makannya. Aku mau ke kamar dulu,”

Bimo buru-buru bangkit dari kursinya lalu masuk ke kamar untuk mengganti celananya yang kotor karena ketumpahan kopi. Saat membuka celananya, dia dapat melihat kulit pahanya memerah.

Dia tidak punya banyak waktu untuk membalurkan krim luka bakar karena sebentar lagi dia harus berangkat ke kantor. Jalanan ibu kota sangat macet, jadi dia harus pergi lebih awal agar tidak datang terlambat. Telat 5 menit saja gajinya bisa dipotong oleh Bos.

​Begitu Bimo kembali keluar dari kamarnya, dia hanya melihat Mayang sedang membereskan dan merapikan meja makan. Sella dan Tiara sudah tidak terlihat lagi di sana. Sepertinya Sella sudah berangkat ke tokonya.

Selama ini, Sella memiliki toko kosmetik di daerah Mangga Dua. Usahanya terbilang cukup maju. Sella pernah memintanya untuk berhenti bekerja dan membantunya di toko, tapi dia menolak karena karirnya juga terbilang cukup bagus dan sebentar lagi ada promosi jabatan di perusahaannya.

“Eh, Bimo, baru saja tadi Sella dan Tiara berangkat. Gimana pahamu, Nak? Apa kamu sudah mengoleskan krim luka bakar? Mama takut nantinya berbekas dan infeksi,” tanya Mayang cemas.

​“Udah, ma, mama tidak perlu khawatir. Bimo berangkat dulu ya, ma,” jawab Bimo terpaksa berbohong seraya melirik arloji merk Rolex yang melingkar di pergelangan tangannya. Arloji itu adalah hadiah ulang tahunnya yang diberikan oleh Sella, istrinya, beberapa bulan yang lalu.

Sebelum Bimo melangkah keluar rumah, Mayang kembali memanggilnya dan sedikit berlarian hingga membuat kedua bukit ranumnya berguncang ke atas dan ke bawah seperti bola basket.

“Nak Bimo, tunggu! Ini kotak bekalmu. Ambillah,” Mayang menyerahkan tas yang berisi kotak bekal dan botol tumbler di dalamnya.

Selama satu tahun ini, Mayang selalu membuatkan sarapan dan bekal makan siang untuknya. Bukannya Sella tidak mau melakukannya, istrinya itu sangat sibuk di toko makanya kadang-kadang mereka lebih memilih order makanan di luar.

Tapi Mayang khawatir jika mereka terus order makan di luar malah tidak baik untuk kesehatan mereka. Maka dari itu, Bimo dan Sella sepakat memberikan uang bulanan untuk keperluan dapur dan rumah tangga kepada Mayang.

​Bimo menerima tas bekal itu.Tak sengaja, tangan mereka bersentuhan dan Bimo bisa merasakan tangan Mayang terasa sangat halus dan lembut.“Wah, hampir saja Bimo lupa. Makasih banyak ya, ma, udah ingetin Bimo.”

​Mayang tersenyum simpul—terlihat lesung pipit di kedua pipinya yang menambah kesan manis di wajahnya. “Iya, sama-sama, Nak. Hari ini Mama masak semur jengkol dan ayam goreng lengkuas kesukaan kamu. Habisin ya.”

​“Iya, Ma, kalau begitu Bimo berangkat dulu,” Bimo mencium tangan Mayang dengan perasaan grogi sebelum berangkat kerja ke kantor.

Setelah itu, dia keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobilnya. Terlihat Mayang tengah berdiri di halaman rumah.

​“Hati-hati di jalan ya, Bimo,” ucap Mayang sambil melambaikan tangannya.

​“Iya, Ma,” sahut Bimo sebelum melajukan mobilnya.

​Malam harinya, Bimo pulang dengan suasana hati yang sudah membaik. Namun, saat ia masuk ke kamar, matanya terbelalak melihat istrinya sedang berbaring di atas ranjang dengan tubuh polos tanpa sehelai benangpun.

Suara desahan lolos dari bibir istrinya itu dan tangannya terus bergerak memasukkan sebuah benda panjang yang dapat bergetar dan bergerak di dalam lembah kenikmatannya.

“Se… Sella?! A… apa yang kamu lakukan?! “ Kaki Bimo seolah kehilangan fungsinya, ia mematung melihat Sella tengah memainkan benda itu tanpa memperdulikan kehadirannya.

Sella tidak langsung menjawab dan menghiraukannya. Bimo melihat seluruh tubuh istrinya itu tiba-tiba bergetar hebat sebagai tanda pelepasannya sudah mulai datang. Sella menyeringai dengan tatapan mengejek ke arahnya.

​“Malam kemarin kamu cuma bertahan selama 3 menit, Mas! Kamu sangat payah dibanding suami teman-temanku! Makanya jangan salahkan jika aku membeli benda ini, karena aku nggak bisa mengandalkan kamu lagi untuk memberikan aku kepuasan!” seru Sella kembali menghinanya.

​“Sella, kamu lebih milih benda plastik itu daripada suamimu sendiri?” suara Bimo bergetar.

​“Habisnya mau gimana lagi? Kalau kamu nggak bisa memuaskan aku, lebih baik kita cerai saja!” ancam Sella.

Bimo meremas rambutnya dengan frustasi. Kata cerai itu menghantamnya telak. Ia benar-benar telah tergantikan oleh mesin. Ia keluar dari kamar dengan langkah limbung, mencari ketenangan di luar.

Di ruang tamu yang sunyi, ia kembali bertemu dengan Mayang. Mayang datang menghampirinya sambil membawa secangkir kopi di tangannya seperti biasa.

Bimo menatap Mayang dengan tatapan yang sangat lelah. “Ma… apakah tawaran pijat semalam… masih berlaku?”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After Of You
9.2
Tiga tahun mendampingi Alvin dari nol hingga sukses rupanya tak menjamin kesetiaan. Saat kariernya memuncak, Alvin justru berselingkuh dengan sekretarisnya, memaksa Laura pergi dengan hati hancur. Terpuruk dalam depresi, Laura nyaris mengakhiri hidupnya sendiri. Namun, di ambang kematian, seorang pria misterius datang menyelamatkannya. Sebelum kehilangan kesadaran, Laura hanya sempat mendengar suara dingin yang menyebutnya wanita bodoh.
Sampul Novel Gairah Anak Sahabatku
9.6
Demi melindungi masa depan putranya di universitas, Ellie terpaksa tunduk pada ancaman intimidasi dari teman sekelas sang anak. Pemuda itu memanfaatkan rahasia tersebut untuk mendekati Ellie secara paksa, menjeratnya dalam situasi intim yang sulit dihindari. Meski Ellie mencoba meronta dan menolak kendali sang pemuda, pergolakan batin yang aneh justru mulai menguasai dirinya. Di balik keputusasaan untuk bertahan, benih-benih gairah yang membara perlahan bangkit dalam lubuk hati Ellie.
Sampul Novel Hilang Selamanya Dari Hatiku
8.0
Sepuluh tahun pernikahan dengan Dennis hanya menyisakan luka. Sebagai istri, aku selalu dijadikan alasan bagi Dennis untuk memutuskan hubungan dengan kekasih-kekasih barunya saat dia mulai bosan. Di hari ulang tahun pernikahan kami, aku justru harus menenangkan mahasiswi yang baru dicampakkannya, sementara dia asyik berkencan dengan wanita lain. Menyadari diriku terjebak dalam siklus toxic ini, aku memutuskan untuk mengajukan gugatan cerai. Meski Dennis memohon agar aku menunggu perubahannya, keputusanku sudah bulat. Aku memilih pergi jauh ke negeri seberang dan meninggalkan dirinya selamanya.
Sampul Novel Mantan Pacar
8.4
Clara mendatangi kebun anggur tunangannya demi memulai hidup mewah. Namun, calon suaminya lenyap misterius dua hari sebelum pernikahan. Di tengah pencarian, ia justru terikat dengan saudara laki-laki sang tunangan yang kaku namun memikat. Terjebak dalam pusaran rahasia gelap keluarga dan godaan terlarang, Clara menyadari bahwa pengungkapan kebenaran bisa menghancurkan hidupnya atau justru memberinya kekuasaan besar yang selama ini ia dambakan.
Sampul Novel My Tsundere King
8.3
Kehidupan Ratu Gifara berubah sejak masuk kelas 11. Gadis berusia 16 tahun ini terjebak dalam perselisihan harian dengan Raja, pemuda dingin bermata hitam yang hanya bersikap sinis kepadanya. Keduanya sama-sama keras kepala dan enggan mengalah hingga kelulusan tiba. Namun, Ratu tidak menyadari adanya perjanjian rahasia antara orang tuanya dengan pihak lain. Di sisi lain, Raja yang bermulut pedas ternyata menyimpan sejuta misteri yang belum terungkap.
Sampul Novel PAK DOSEN
8.7
Ayumi Larasati dan Reza Syahrial terjebak dalam pernikahan rahasia akibat perjodohan. Situasi menjadi rumit karena status mereka sebagai mahasiswa dan dosen di kampus yang sama. Ayumi terikat larangan orang tua untuk berpacaran, sementara Reza dihantui trauma masa lalu dalam hubungan asmara. Mereka harus menyembunyikan status suami istri dari publik demi menjaga profesionalitas. Akankah rahasia besar ini bertahan di tengah tekanan kehidupan kampus dan konflik pribadi mereka?