
TABIR HITAM
Bab 2
Ibu dan kedua mertua tiba bersamaan, wajah mereka memancarkan kelegaan bercampur kebahagiaan. Saat mereka melangkah masuk ke ruangan kami, terdengar suara salam serempak, "Assalamualaikum."
Kami pun menjawab, "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," dengan senyum yang tak bisa disembunyikan.
Aku segera berdiri, mencium tangan mereka satu per satu, lalu memeluk mereka dengan penuh kelembutan. Kehangatan dari pelukan itu terasa seperti membuang semua lelah yang tersisa di tubuhku.
"Ibu, Alhamdulillah, Aisyah dan bayi kami sehat," ucapku dengan nada penuh syukur.
"Bagaimana keadaan Aisyah? Bayinya perempuan, kan? Sehat-sehat semua?" tanya mertua perempuanku dengan wajah yang penuh rasa ingin tahu, sambil melirik tempat tidur di mana Aisyah berbaring dengan wajah tenang.
Aisyah tersenyum lemah, menatap mereka dengan mata yang berkaca-kaca, lalu berkata, "Alhamdulillah, kami baik-baik saja. Terima kasih sudah datang."
Namun, entah mengapa, saat ibu dan mertua masuk, aku merasa ada sesuatu yang berbeda. Rasanya seperti ada bayangan lain yang ikut menyelinap di balik langkah mereka seperti dingin yang merayap perlahan ke ruangan.
Namun, aku tidak mau terlalu memikirkan hal yang aneh-aneh. Mungkin ini hanya lelah setelah menunggu panjang, pikirku. Hari ini adalah hari kebahagiaan kami sekeluarga, saat menyambut pelita kecil yang akan menjadi cahaya di keluarga kami. Aku menarik napas panjang, mencoba fokus pada tawa ringan dan kehangatan yang memenuhi ruangan.
Ibuku menatapku dengan mata berbinar penuh kebanggaan dan bertanya dengan lembut, "Putra, akan kau beri nama siapa cucu yang cantik itu?"
Aku tersenyum, menarik napas perlahan sebelum menjawab, "Alhamdulillah, saya sudah menyiapkan namanya, Bu. Fatimah Awandini Tjakranegara."
Mereka semua terdiam sejenak, menunggu penjelasanku. Aku melanjutkan dengan nada penuh kebanggaan dan harapan, "Saya memilih nama Fatimah seperti nama putri Rasulullah-simbol kelembutan, kesalehan, dan kekuatan. Awandini artinya baik dan mulia, sebuah doa agar dia tumbuh menjadi wanita yang berbudi luhur. Dan Tjakranegara... adalah nama belakangku dan nama almarhum Ayah, sebagai pengingat warisan keluarga yang harus kami jaga."
Serentak mereka menjawab, "Alhamdulillah," dengan nada syukur yang menyentuh hati.
Ayah mertuaku, dengan senyum tenang dan suara yang penuh doa, berkata, "Semoga Fatimah selalu mendapatkan kemuliaan, kebahagiaan, dan keberkahan dalam perjalanan hidupnya. Dia adalah harapan baru keluarga kita."
Aku mengangguk, menahan haru, menyadari bahwa nama itu bukan hanya identitas, melainkan juga sebuah doa yang akan mengiringi setiap langkah putriku di dunia ini.
Namun, saat menyebutkan nama itu, ada sesuatu yang terasa berbeda. Sebuah hawa dingin yang halus, hampir tak terasa, menyelusup di antara kami. Aku menepis perasaan itu, meyakinkan diriku bahwa ini hanyalah keharuan yang mendalam, bukan pertanda apa pun.
"Nak, Ibu pingin ngingali (melihat) Fatimah," ucap Ibu dengan nada lembut namun penuh antusias, matanya berbinar menatapku.
Aku tersenyum kecil, mengangguk, lalu menjawab, "Njih, sekedap... kulo tanglen rumiyen dateng Perawat nipun (Iya, sebentar... saya tanyakan dulu ke perawatnya)," ucapku sambil berdiri dari kursi.
Ibu tersenyum, menyeka sudut matanya yang mulai basah oleh air mata bahagia. Kedua mertua hanya saling pandang, menunggu dengan sabar. Dalam hatiku, aku merasakan kehangatan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, melihat kebahagiaan mereka adalah kebahagiaan bagiku.
Saat aku hendak melangkah keluar, ada rasa aneh yang tak kumengerti. Seperti ada yang berbisik lembut di telingaku, sebuah suara halus yang hampir tak terdengar. Aku menoleh, tetapi tak ada apa-apa. Kupikir, mungkin ini hanya lelah yang berbicara.
Setibanya di ruang perawat, aku mengetuk pintu perlahan sebelum masuk. Ruangan itu terasa hangat, dengan aroma sabun bayi yang lembut tercium di udara. Seorang suster muda sedang sibuk di meja, mempersiapkan perlengkapan bayi.
"Suster, saya ingin menggendong bayinya. Keluarga saya ingin melihatnya," ucapku dengan nada sopan.
Suster itu menoleh, tersenyum ramah. "Baik, Pak Putra. Tunggu sebentar ya, bayinya baru selesai dimandikan dan sedang didandani biar cantik," katanya sambil melanjutkan pekerjaannya.
Aku mengangguk, berdiri di sudut ruangan, menatap ke arah tempat bayi kami berada. Meski hanya sekilas, aku bisa melihat kain putih kecil membungkus tubuh mungilnya. Hati ini rasanya berdebar, tidak sabar untuk segera membawanya kembali ke hadapan keluarga.
Namun, entah mengapa, saat menatap kain putih itu, ada sesuatu yang membuat bulu kudukku berdiri. Bayangan samar yang tak kukenali sekilas melintas di sudut pandangku, tetapi ketika aku menoleh, tak ada apa-apa. Aku menghela napas, mencoba mengabaikan perasaan aneh itu, dan fokus pada kebahagiaan keluarga yang menunggu di kamar.
Ditemani perawat, aku melangkah perlahan kembali ke kamar, bayi mungil kami dalam gendonganku. Senyum tak henti-henti terpancar di wajahku. Aku berhenti di depan pintu, lalu berkata dengan nada bercanda seperti anak kecil, "Assalamualaikum, Eyang! Ini Fatimah."
"Waalaikumsalam," jawab mereka serentak, suara penuh kebahagiaan menggema di ruangan.
Aku mendekatkan Fatimah, memperlihatkan wajah mungilnya. Kulitnya putih bersih seperti porselen, rambutnya lurus lebat, hidung kecilnya terlihat mancung sempurna, dan pipinya yang merona seakan memancarkan cahaya lembut.
"Cantiknya, Subhanallah," ucap ibuku dengan nada penuh haru, sambil menatap cucu pertamanya dengan mata berkaca-kaca.
Mertuaku pun tak mau kalah, "Alhamdulillah, Fatimah ini benar-benar bidadari kecil. Rambutnya tebal sekali, pasti sehat."
Perawat yang berdiri di sampingku tersenyum tipis. "Memang bayi perempuan ini cantik sekali, Pak Putra. Semua orang di ruang bayi memuji dia tadi," katanya.
Saat aku menyerahkan Fatimah kepada ibu, tiba-tiba ada hembusan udara dingin yang menusuk, padahal ruangan terasa hangat sebelumnya. Aku mencoba mengabaikan hal itu, meskipun ada sesuatu dalam hati yang berbisik aneh. Namun, melihat senyum lebar di wajah mereka, aku memutuskan untuk tidak menghiraukannya.
"Terima kasih sudah membantu selama persalinan dan menjaga Fatimah, Suster," ucapku dengan ramah, senyum bahagia menghiasi wajahku.
Perawat itu tersenyum hangat, wajahnya penuh kebanggaan melihat bayinya yang sehat dan cantik. "Sama-sama, Pak Putra. Saya senang bisa membantu. Fatimah bayi yang sangat sehat dan tenang, insya Allah semuanya akan berjalan lancar," jawabnya dengan lembut, matanya berbinar saat melihat kami.
Aku mengangguk, merasa sangat berterima kasih. Rasanya, tanpa bantuan dan perhatian mereka, hari ini tak akan seindah ini. Di dalam hatiku, ada doa yang terucap untuk setiap orang yang telah membantu kami melewati perjalanan ini dengan penuh perhatian dan kasih sayang.
"Suster, kapan saya bisa segera pulang?" tanya Aisyah dengan suara yang sedikit lelah namun penuh harap. Matanya yang berbinar mencerminkan keinginan untuk segera pulang bersama bayi Fatimah.
Perawat itu menatapnya dengan lembut dan memberikan senyum tenang. "Sabar, Ibu Putra. Kami masih menunggu observasi dari dokter terlebih dahulu, njih," jawabnya dengan ramah. "Kami akan memberikan perawatan terbaik untuk Ibu dan bayi Fatimah, Insya Allah secepatnya bisa pulang."
Aisyah mengangguk, meski terlihat sedikit cemas, ia mencoba untuk tetap sabar. Aku menggenggam tangannya, memberikan dukungan tanpa kata-kata. Dalam hati, aku berharap proses ini segera selesai dengan baik agar kami bisa pulang ke rumah bersama Fatimah yang sehat.
Namun, meski perawat itu berbicara dengan tenang, aku merasakan ada sesuatu yang aneh di ruangan ini. Seperti sebuah ketegangan yang tak terlihat. Entah itu hanya rasa cemas kami, atau ada sesuatu yang lebih, aku tak tahu. Yang jelas, perasaan itu membuatku merasa gelisah, meskipun aku berusaha mengabaikannya.
"Pak Putra, sudah waktunya Adik Fatimah istirahat dulu, izin saya bawa kembali ke ruangan bayi," ucap perawat dengan suara lembut.
Aku menatap Fatimah yang terbaring tenang di pelukan perawat, wajahnya masih terlihat sangat mungil dan manis. "Baik, Sus. Terima kasih," jawabku dengan suara pelan, mencoba menahan perasaan haru yang datang begitu saja.
Perawat itu tersenyum, menggendong bayi kami dengan hati-hati, dan melangkah perlahan keluar dari kamar. Aku memandangi mereka dengan penuh rasa terima kasih, merasa begitu bersyukur atas kelahiran Fatimah yang sehat.
Saat perawat itu membawa Fatimah pergi, aku merasa ada sesuatu yang aneh. Ruangan tiba-tiba terasa lebih sepi, meskipun banyak orang di luar. Ada sensasi seperti ada yang mengawasi, namun aku menepisnya, berusaha fokus pada kebahagiaan yang seharusnya mengisi hari ini.
"Le, awakmu kenopo? (Nak, kamu kenapa?)" tanya ibuku dengan tatapan penuh perhatian, wajahnya menunjukkan kekhawatiran kecil. "Sawangan e enten sing dipikir? (Sepertinya ada yang kamu pikirkan)."
Aku menggelengkan kepala, berusaha tersenyum meskipun ada perasaan yang mengganggu di dalam hatiku. "Mboten menopo (Tidak ada apa-apa), Bu," jawabku dengan suara pelan, berusaha meyakinkan ibu agar tak khawatir.
Ibuku tetap menatapku, lalu menghela napas pelan. "Yo wes Ibu pamit wangsul rumiyen, Le. (Ya sudah, Ibu pamit pulang dulu, Nak)," ucapnya dengan lembut, meskipun ada rasa berat yang terlihat di matanya.
"Abah lan Umi pamit wangsul pindah, titip Aisyah lan Fatimah, dijaga ya, Le. (Abah dan Umi pamit pulang juga, titip Aisyah dan Fatimah, dijaga ya, Nak)" ucap Abah dengan nada yang penuh harap, sedikit khawatir tetapi lebih kepada rasa sayang.
Aku mengangguk, menatap mereka dengan rasa terima kasih. "Assalamualaikum," ucap mereka serentak, wajah penuh harap saat meninggalkan ruangan.
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawabku, kemudian mencium tangan mereka dengan penuh rasa hormat dan kasih. Aku melihat mereka keluar, namun entah mengapa, ada rasa kosong yang datang begitu saja, seakan ada sesuatu yang tertinggal di dalam ruangan ini.
Saat ibu dan mertua keluar dari ruangan, aku merasa ada sesuatu yang mengganggu. Seolah langkah mereka mengundang sesuatu yang tak terlihat, namun aku menepisnya dengan cepat. Hanya ada perasaan hampa yang melingkupi, meskipun aku tahu mereka hanya pergi untuk sementara waktu.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka, dan seorang dokter bersama seorang perawat masuk dengan senyum profesional. Suara langkah kaki mereka yang pelan tapi pasti membuat detak jantungku sedikit lebih cepat.
"Selamat siang, Pak dan Bu Putra," sapa dokter dengan ramah.
"Selamat siang, Dokter," sahutku, mencoba menenangkan perasaan. Istriku, yang duduk di ranjang dengan wajah lelah, tersenyum tipis dan mengangguk pelan.
"Izin saya memeriksa dulu kondisi Ibu Aisyah," ucap dokter sambil mengangkat clipboard di tangannya.
"Baik, Dokter," jawab istriku dengan nada lirih, meski senyumnya tetap terjaga.
Dokter mulai melakukan pemeriksaan, matanya penuh konsentrasi. Setelah selesai, ia menatap lembut ke arah istriku. "Ibu Aisyah, bagaimana perasaan Ibu sekarang? Apakah masih merasa lemas atau ada keluhan lain?" tanyanya.
"Alhamdulillah, saya masih diberikan kekuatan, Dokter," jawab istriku dengan suara pelan, namun penuh syukur.
Dokter mengangguk puas, lalu beralih pada perawat yang berdiri di sebelahnya. "Suster, bagaimana kondisi bayinya Ibu Aisyah?" tanyanya.
Perawat tersenyum hangat. "Keadaan bayi normal dan sehat, Dokter," sahutnya.
Kabar itu seperti angin segar yang langsung menghapus kekhawatiran di dada. Aku dan istriku saling pandang, seolah tak percaya dengan kabar baik itu.
"Bu Aisyah, untuk vitamin dan beberapa obat nanti saya resepkan untuk rawat jalan," lanjut dokter. "Dan Ibu serta bayi sudah boleh pulang besok."
Sekejap, keheningan berubah menjadi kebahagiaan. Air mata haru menggenang di sudut mataku. "Alhamdulillah," ucapku, hampir berbisik. Istriku menangkupkan kedua tangan di depan dada, penuh syukur.
Di dalam hati, aku berterima kasih kepada Tuhan atas nikmat besar ini. Semoga langkah berikutnya membawa kebahagiaan yang lebih besar bagi keluargaku.
Keesokan harinya, setelah segala administrasi selesai, kami akhirnya meninggalkan rumah sakit. Langkah kami terasa ringan, meskipun tubuh masih lelah. Istriku menggendong Fatimah dengan hati-hati, sementara aku membawa tas dan perlengkapan lainnya.
Setibanya di rumah, udara hangat menyambut kami. Aroma khas rumah memberikan rasa nyaman yang selama beberapa hari ini terasa jauh. Kamar untuk Fatimah sudah kami siapkan sebelumnya, dengan dinding berwarna pastel dan dekorasi sederhana. Tempat tidur kecilnya tertata rapi, lengkap dengan selimut lembut dan boneka mungil di sudutnya.
Istriku tersenyum lega saat menatap kamar itu. "Alhamdulillah, semuanya sudah siap untuk Fatimah," ucapnya lirih sambil menatap bayi kecil di gendongannya. Aku mengangguk sambil memandang mereka berdua, perasaan syukur memenuhi hatiku.
Setelah memastikan istriku dan Fatimah beristirahat dengan nyaman, aku segera menelepon ibu dan mertuaku. Kabar gembira ini harus segera sampai ke mereka.
"Assalamualaikum, Bu," sapaku saat ibuku mengangkat telepon.
"Waalaikumsalam. Bagaimana keadaan kalian? Sudah keluar dari rumah sakit?" tanya ibuku, suaranya terdengar penuh kekhawatiran.
"Alhamdulillah, Bu. Kami sudah sampai di rumah. Fatimah sehat, dan Aisyah juga sudah lebih baik," jawabku dengan nada penuh kebahagiaan.
"Syukurlah, Nak. Kami semua sudah berdoa untuk kalian. Tolong jaga mereka baik-baik," pesan ibuku dengan suara yang mulai terdengar lebih lega.
Aku lalu menghubungi mertuaku dan memberikan kabar yang sama. Mendengar rasa syukur dan haru dari mereka membuat kebahagiaanku semakin bertambah.
Hari itu menjadi awal baru bagi keluarga kecil kami. Dengan kehadiran Fatimah, rumah kami terasa lebih hidup. Doaku dalam hati adalah semoga kami diberi kekuatan untuk menjaga dan merawatnya sebaik mungkin.
Malam itu, setelah Fatimah tertidur lelap di ayunan kecilnya, aku duduk di ruang keluarga bersama Aisyah. Kami menikmati momen hening setelah hari yang melelahkan. Aku memandang wajah istriku yang terlihat lebih segar, meski ada sedikit kelelahan yang masih membayang.
"Sayang," panggilku pelan, memecah keheningan. "Bagaimana kalau minggu depan kita mengadakan aqiqah untuk Fatimah?" tanyaku dengan senyum kecil.
Aisyah menatapku dan tersenyum hangat. "Iya, Suamiku. Itu ide yang bagus. Kita harus segera menyiapkannya."
Namun, beberapa saat kemudian, aku menangkap sesuatu di wajahnya, seperti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan.
"Sayang," Aisyah akhirnya bersuara, nadanya pelan namun tegas. "Aku perhatikan, sejak perjalanan ke rumah sakit, ada yang mengganggu pikiranmu, ya?"
Aku mengerutkan kening, sedikit terkejut dengan kepekaannya. "Kenapa kamu bilang begitu?" tanyaku, meski dalam hati aku tahu ia benar.
"Karena di rumah sakit kemarin, aku sering melihatmu melamun. Seperti ada yang kamu pikirkan, tapi kamu tidak mau berbagi," jawab Aisyah sambil menatapku dengan sorot penuh perhatian.
Aku menarik napas panjang, mencoba merangkai kata-kata. "Aku bingung harus mulai dari mana, Sayang," ujarku akhirnya. "Waktu itu, saat aku menyetir menuju rumah sakit... aku melihat sesuatu."
Aisyah memiringkan kepalanya, raut wajahnya berubah serius. "Sesuatu? Maksudmu apa, Sayang?"
"Bayangan," jawabku, suaraku nyaris berbisik. "Bayangan hitam yang melintas cepat di depan mobil. Rasanya aneh, dan... aku merasa ada sesuatu yang mengawasi kita sejak saat itu. Entah apa, tapi... rasanya tidak nyaman."
Aisyah terdiam, lalu menggenggam tanganku erat. "Sayangku, berserah diri kepada Allah. Semoga itu hanya perasaanmu saja, dan semoga kita semua, terutama Fatimah, selalu dalam lindungan-Nya," ucapnya lembut, meski aku dapat merasakan sedikit gemetar dalam suaranya.
Tiba-tiba, suara tangisan kecil memecah pembicaraan kami. "Oe... Oe... Oe..." Fatimah terbangun, suaranya memanggil perhatian kami.
"Sepertinya Fatimah lapar," ucapku, mencoba mencairkan suasana.
Aisyah segera bangkit dan menghampiri Fatimah. Dengan penuh kasih, ia menyusui bayi kecil kami. Pemandangan itu sedikit menghapus rasa gelisahku, meski bayangan hitam itu terus bermain di pikiranku. Aku tahu, ada sesuatu yang perlu kuhadapi, tapi untuk malam ini, aku memilih diam.
Fatimah kembali tidur terlelap.
"Sayang, nasehat dari Ibu jangan lupa dibawah bantalnya Fatimah selipkan gunting kecil agar tidak ada gangguan gaib." Ucap Putra.
"Itu hanya mitos, sayang" sahut Aisyah.
"Untuk jaga-jaga saja, biasanya orang-orang tua dahulu melakukan itu jaga-jaga" sahut Putra.
"Baiklah,Suamiku sayang" jawab Aisyah.
Tepat pada hari kedelapan setelah kelahiran Fatimah, kami mengadakan acara aqiqah untuk putri kecil kami. Pagi itu, rumah kami yang sederhana mulai dipenuhi kerabat dan teman-teman dekat. Meja-meja telah tertata rapi di halaman depan, dihiasi taplak sederhana berwarna putih dan bunga segar di tengahnya. Suara lantunan doa dan dzikir terdengar lembut, membawa suasana khidmat yang menenangkan hati.
Aku dan Aisyah berdiri menyambut para tamu. Aisyah mengenakan gamis putih sederhana, sementara aku memakai baju koko dengan sarung senada. Senyum tak henti-hentinya terlukis di wajah kami, meski rasa lelah diam-diam masih menyelimuti.
Fatimah, yang menjadi pusat perhatian hari itu, terlelap di dalam gendongan ibuku. Wajah mungilnya membuat banyak tamu memuji-muji keindahan ciptaan-Nya.
"Alhamdulillah, cucu Bapak dan Ibu cantik sekali. Semoga jadi anak yang sholehah dan berbakti," ucap salah satu tanteku sambil mengelus lembut kepala Fatimah.
"Terima kasih, Tante. Amin ya Allah," jawabku dengan senyum lebar.
Prosesi penyembelihan kambing telah selesai dilakukan pagi harinya, dan hidangan mulai diantarkan ke meja-meja. Aroma gulai kambing, sate, dan nasi kebuli memenuhi udara, menciptakan suasana akrab dan penuh kebahagiaan. Ucapan selamat dari para tamu terus berdatangan, dan doa-doa pun mengalir untuk kesehatan dan keberkahan Fatimah.
Namun, di tengah kemeriahan itu, aku tak bisa sepenuhnya mengabaikan sesuatu yang terasa ganjil. Ada beberapa kali aku merasa seperti diawasi. Entah mengapa, perasaan ini kembali hadir, seperti bayangan hitam yang melintas di perjalanan ke rumah sakit hari itu. Aku mencoba mengabaikannya, berpikir mungkin itu hanya sugesti.
Sementara itu, Aisyah tampak sibuk melayani tamu, senyumnya tak pernah pudar. Namun aku tahu, istriku bisa merasakan perubahan kecil dalam diriku. Sesekali ia menatapku dengan sorot mata bertanya, namun aku hanya mengangguk meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Saat acara doa bersama dimulai, suasana kembali hening. Ustad yang memimpin doa melantunkan ayat-ayat suci dengan khusyuk, memohon keberkahan bagi Fatimah dan keluarga kami. Semua tamu mengamini dengan khidmat. Namun, di tengah lantunan doa itu, aku mendadak merasakan hawa dingin menyelusup ke tengkukku. Seperti ada sesuatu yang hadir di antara kami, namun tak terlihat.
Aku melirik Aisyah, dan ia balas menatapku dengan raut wajah yang seolah berkata, "Kamu merasakan itu juga?"
Aku menarik napas panjang, mencoba menguatkan hati. Bagaimanapun juga, ini adalah hari kebahagiaan untuk Fatimah. Aku tak ingin ada apapun yang mengusik momen ini.
Acara aqiqah berjalan dengan lancar, penuh rasa syukur dan kebahagiaan. Namun, di balik senyuman dan doa-doa yang dipanjatkan, ada perasaan ganjil yang tak bisa kuhapus sepenuhnya. Aku memilih untuk berserah diri kepada Allah, berharap aqiqah ini membawa keberkahan dan keselamatan untuk Fatimah serta keluargaku.
Keesokan harinya, hidup perlahan kembali seperti biasa. Aku membuka toko grosir di pagi hari, mengatur ulang barang dagangan yang baru saja diantar oleh para supplier. Bau kardus baru bercampur dengan aroma rempah-rempah dari sudut toko, membawa suasana akrab yang sudah lama kukenal.
Seperti biasa, pelanggan mulai berdatangan satu per satu. Beberapa di antara mereka tersenyum hangat dan menyampaikan ucapan selamat atas kelahiran Fatimah. Ucapan-ucapan itu membuatku merasa bahwa kebahagiaan kami juga dirasakan oleh orang-orang di sekitarku.
"Selamat, Pak Putra, atas kelahiran putrinya," ujar seorang pelanggan sambil menyerahkan uang untuk belanjaannya.
"Terima kasih banyak, Bu Mariam," jawabku sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, Pak Erwin, salah satu supplier produk di tokoku, datang dengan sebuah bingkisan besar yang dihias pita berwarna merah muda. Wajahnya selalu penuh semangat, seperti biasa.
"Selamat pagi, Pak Putra! Selamat atas kelahiran putrinya, ya. Ini ada sedikit hadiah dari saya untuk Fatimah," ucapnya sambil menyodorkan bingkisan itu.
Aku tersenyum lebar, merasa terharu dengan perhatiannya. "Alhamdulillah, terima kasih banyak, Pak Erwin. Saya sangat menghargainya," jawabku sambil menerima bingkisan itu.
Pak Erwin mengangguk, lalu menepuk pundakku. "Semoga Fatimah tumbuh sehat, menjadi anak yang membanggakan, dan selalu dalam lindungan-Nya. Kalau butuh sesuatu, jangan sungkan-sungkan ya, Pak Putra."
"Amin. Terima kasih atas doa dan perhatiannya, Pak Erwin. Saya doakan rezeki Bapak juga semakin lancar," sahutku tulus.
Setelah Pak Erwin pergi, aku menatap bingkisan itu dengan rasa syukur. Kehadiran Fatimah benar-benar membawa kebahagiaan tak hanya untuk keluargaku, tetapi juga orang-orang di sekitarku. Namun, di sudut pikiranku, perasaan ganjil yang kurasakan sejak perjalanan ke rumah sakit tetap tersisa.
Malam itu, setelah toko tutup, aku pulang dengan membawa bingkisan dari Pak Erwin. Di rumah, Aisyah menyambutku dengan senyuman, sambil menggendong Fatimah yang tampak semakin tenang dan nyaman. Aku berharap, dengan doa-doa dan perhatian semua orang, kehidupan kami akan terus diberkahi.
"Sayangku, istirahatlah sejenak biar aku yang menggendong Fatimah" ucap Putra
"Wanginya anak Abi." Ucap Putra.
"Tentu dong, Fatimah kan sudah mandi" sahut istriku.
"Sayang, Bagaimana tadi keadaan di toko ?" ucap Aisyah
"Alhamdulillah ramai dan banyak yang memberikan selamat atas kelahiran Fatimah bahkan diberi bingkisan hadiah" jawab Putra.
"Alhamdulillah, semoga berkah" jawab Aisyah.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat,pundi-pundi keuntungan toko semakin meningkat maju, Fatimah saat ini pun sudah berusia 8 tahun, sudah duduk di bangku SD kelas kelas dua, banyak prestasi yang didapat oleh Fatimah, Aku dan Istriku sangat bangga dengan Fatimah.Siang hari toko aku tutup karena aku luangkan untuk menjemput Fatimah di sekolah.Aku menunggu diluar pagar Sekolah, Fatimah mengahmapiri dan membuka pintu mobil.
"Assalamualaikum, Abi" sapa Fatimah.
"Walaikumsalam, anak Abi yang cantik,sahut Putra.
"Bagaimana pelajaran hari ini, sayang ?" tanya Putra
"Alhamdulillah, insya allah Fatimah mampu menyerapnya." Jawab Aisyah.
Percakapan Ayah dan Anak sepanjang jalan menuju rumah penuh dengan keakraban.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Toko kami terus berkembang pesat, pundi-pundi keuntungan semakin meningkat. Di sisi lain, Fatimah kini sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan ceria. Usianya genap 8 tahun, dan ia sekarang duduk di bangku kelas dua Sekolah Dasar. Prestasinya di sekolah membuat aku dan Aisyah semakin bangga.
Hari itu, seperti biasa, aku meluangkan waktu di siang hari untuk menjemput Fatimah di sekolah. Toko kututup lebih awal agar aku bisa menyambutnya langsung. Rasanya ada kebahagiaan tersendiri setiap kali melihat Fatimah pulang dengan wajah berseri-seri.
Aku memarkirkan mobil di depan sekolah, lalu menunggu di luar pagar. Anak-anak mulai berhamburan keluar, membawa tas mereka yang terlihat lebih besar dari tubuh kecil mereka. Tak lama, Fatimah muncul dari gerbang, melambaikan tangan ke arahku sambil tersenyum lebar.
"Assalamualaikum, Abi!" sapanya ceria, sambil membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang.
"Walaikumsalam, anak Abi yang cantik," jawabku sambil membalas senyumnya melalui kaca spion. "Bagaimana pelajaran hari ini, Sayang?"
"Alhamdulillah, Abi. Insya Allah Fatimah bisa menyerap semuanya dengan baik," jawabnya sambil membuka kotak bekalnya yang masih ada sisa roti.
Aku tersenyum mendengar jawabannya. Cara bicara Fatimah mengingatkanku pada Aisyah-tenang dan penuh percaya diri. "Wah, pintar sekali anak Abi. Abi bangga sama kamu," ucapku sambil meliriknya sebentar.
"Terima kasih, Abi. Doakan Fatimah terus semangat belajar, ya," katanya polos, membuat hatiku semakin hangat.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, kami mengobrol ringan. Fatimah bercerita tentang teman-temannya, pelajaran di sekolah, dan rencana lomba menggambar yang akan diadakan minggu depan. Aku menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya, seperti suara yang membawa kedamaian setelah hari yang panjang.
Namun, di sela-sela obrolan kami, aku tak sengaja melirik ke kaca spion tengah. Ada bayangan gelap yang melintas cepat di sudut pandangku. Jantungku berdegup kencang, namun aku mencoba tetap tenang agar Fatimah tidak menyadari kegelisahanku.
"Abi, kenapa?" tanya Fatimah tiba-tiba, suaranya penuh rasa ingin tahu.
"Ah, tidak, Sayang. Abi cuma sedikit lelah," jawabku, mencoba mengalihkan perhatian.
Aku menggenggam kemudi lebih erat, menenangkan diriku sendiri. Meski kebahagiaan Fatimah selalu menjadi prioritas, perasaan ganjil yang sudah lama kurasakan kembali hadir, seperti bayangan yang tak pernah benar-benar hilang.
Kami pun tiba di rumah setelah perjalanan yang menyenangkan. Aisyah, istriku, menyambut kami di depan pintu dengan senyuman lembut yang selalu membuat hatiku tenang.
"Assalamualaikum, Umi," sapa Fatimah ceria sambil mencium tangan ibunya.
"Assalamualaikum, istriku sayang," ucapku sambil mengecup kening Aisyah.
"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, orang-orang tercinta yang selalu ada di hatiku," balas Aisyah dengan nada penuh kasih.
"Fatimah, cepat taruh tasmu dan ganti baju, ya. Umi sudah siapkan masakan kesukaanmu. Kita makan bersama," lanjut Aisyah sambil membelai lembut rambut Fatimah.
"Baik, Umi!" jawab Fatimah, melompat kecil menuju kamarnya.
Tak lama kemudian, kami berkumpul di ruang makan. Aroma masakan Aisyah memenuhi udara, rendang daging, sayur asem, dan sambal terasi khas favorit kami. Sambil menikmati hidangan, canda dan tawa memenuhi meja makan, menciptakan suasana yang begitu hangat.
Namun, di tengah kenikmatan itu, suara bel rumah tiba-tiba berbunyi, disusul dengan suara salam yang datang dari luar.
"Assalamualaikum," terdengar suara yang akrab di telinga kami.
Aisyah segera bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu. Setelah membukanya, wajahnya langsung berseri-seri. "Waalaikumsalam, silakan masuk, Abah dan Umi," sahut Aisyah sambil mempersilakan kedua mertuaku masuk.
Fatimah, yang melihat kedatangan mereka, langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri. "Fatimah, salam dulu ke Eyang Kung dan Eyang Uti," ucapku lembut.
"Assalamualaikum, Eyang Kung dan Eyang Uti," sapa Fatimah sambil mencium tangan keduanya dengan penuh hormat.
"Alhamdulillah, cucuku makin cantik dan pintar," ujar Abah sambil memeluk erat Fatimah, disusul Eyang Uti yang juga menciumi pipinya dengan penuh kasih.
Aku pun bangkit dari kursi, menghampiri mertuaku dengan penuh rasa hormat. "Assalamualaikum, Abah, Umi," sapaku sambil memeluk mereka.
"Waalaikumsalam, Putra. Bagaimana kabar keluarga kecilmu?" tanya Abah sambil tersenyum hangat.
"Alhamdulillah, sehat semua, Abah. Silakan duduk, makan siang bersama kami. Masih ada banyak makanan," jawabku sambil mempersilakan mereka ke meja makan.
"Terima kasih, Nak. Bau masakan Aisyah memang selalu menggoda," canda Abah, yang disambut tawa ringan dari Aisyah.
Kami pun duduk kembali, menikmati makanan sambil berbincang santai. Fatimah tampak bahagia dengan kehadiran kakek dan neneknya, terus bercerita tentang prestasinya di sekolah, sementara Abah dan Umi mendengarkannya dengan penuh perhatian. Namun, meski suasana terasa begitu sempurna, aku tak bisa sepenuhnya mengabaikan perasaan aneh yang terus menyelimutiku.
Seakan ada sesuatu yang mengintip dari sudut bayangan rumah, menunggu waktu untuk muncul.
Setelah makan siang bersama, kami duduk di ruang keluarga. Obrolan ringan dan canda tawa mengalir begitu saja, menciptakan suasana yang penuh kehangatan. Fatimah duduk di pangkuan Eyang Uti, tertawa kecil mendengar cerita-cerita lucu dari masa kecilku yang diceritakan oleh Abah.
"Abi kamu dulu itu suka sekali manjat pohon manga ketika sedang mondok, Fatimah," ujar Abah sambil tersenyum. "Tapi sering sekali jatuh karena lupa rantingnya nggak kuat!"
Fatimah tertawa terbahak-bahak. "Abi jatuh? Tapi nggak apa-apa kan, Bi?" tanyanya polos sambil menatapku dengan matanya yang berbinar.
Aku mengangguk sambil tertawa kecil. "Iya, Fatimah. Tapi Abi jadi belajar kalau nggak semua pohon bisa dipanjat seenaknya."
Aisyah menyela sambil tersenyum. "Makanya Abi sekarang nggak pernah mau diajak manjat-manjat lagi, ya."
"Tentu saja," jawabku sambil tertawa, "Abi lebih suka duduk manis sekarang."
Eyang Kung mengelus kepala Fatimah sambil berkata, "Kamu pintar sekali, Fatimah. Harus selalu dengar kata Umi dan Abi, ya. Supaya jadi anak yang membanggakan."
"Insya Allah, Eyang," jawab Fatimah penuh semangat.
Sementara mereka berbincang, aku mencuri pandang ke arah Aisyah. Ia terlihat begitu bahagia, senyumnya merekah seperti hari-hari awal pernikahan kami. Namun, di balik kebahagiaan ini, aku masih merasakan sesuatu yang sulit kujelaskan. Seperti ada yang mengintip dari celah waktu, sesuatu yang mengamati kami.
Aku mencoba mengalihkan pikiran itu, tetapi suara samar-samar seperti langkah kaki terdengar dari arah dapur. Aku menoleh sekilas, tetapi tidak ada apa-apa.
"Abi?" suara Fatimah memecah lamunanku.
"Ah, iya, Sayang. Ada apa?" tanyaku sambil berusaha tersenyum.
"Kok Abi melamun lagi?" tanyanya sambil menyipitkan mata, seolah mencoba membaca pikiranku.
"Enggak, Abi cuma ingat sesuatu," jawabku singkat, mencoba menenangkan perasaannya.
Obrolan pun berlanjut, dan tawa kembali memenuhi ruangan. Aku berharap, apa pun perasaan aneh yang kurasakan, itu hanya bagian dari pikiranku saja, tidak lebih dari itu.
Tak lama kemudian, mertuaku pamit untuk pulang. Kami mengantar mereka ke mobil. Sebelum memasuki mobil, Abah berhenti sejenak dan menatapku dengan penuh perhatian. Ada sesuatu dalam tatapannya yang terasa lebih dari sekadar perpisahan biasa.
"Nak," suara Abah terdengar penuh bijaksana, "Abah paham kerisauan yang ada di dalam pikiranmu. Perbanyaklah dzikir, jaga hati dan pikiranmu. Jagalah Aisyah dan terutama Fatimah. Jika suatu hari nanti takdir itu terjadi, percayalah itu semua sudah menjadi kodrat Allah. Bersabarlah, Nak, dalam menghadapi segala ketentuan-Nya."
Aku tertegun mendengar kata-kata Abah. Seakan-akan ada sesuatu yang Abah ingin katakan, tapi tak bisa diungkapkan secara langsung. Rasanya seperti sebuah peringatan, sebuah isyarat dari masa lalu yang mungkin akan datang kembali.
Sambil menundukkan kepala, aku mengucapkan dengan penuh rasa hormat, "Insya Allah, amanah Abah akan selalu aku ingat baik-baik." Suaraku terdengar lebih pelan dari biasanya, mencoba meyakinkan diriku sendiri.
Abah tersenyum tipis, dan dengan perlahan ia masuk ke dalam mobil. Umi juga melambaikan tangan, memberikan salam perpisahan yang hangat.
Mobil mereka pun perlahan melaju menjauh dari halaman rumah kami. Aku berdiri di depan pintu, menyaksikan mereka pergi, namun perasaan aneh yang masih menggelayuti hatiku tak bisa aku hilangkan begitu saja. Rasanya, ada sesuatu yang tak selesai, sebuah pertanyaan yang belum terjawab, seolah dunia ini menyimpan rahasia yang lebih besar dari yang aku sadari.
Jam empat sore, aku kembali membuka toko hingga pukul sembilan malam. Setelah itu, aku menutup toko dan mengendarai mobil menuju rumah. Di sepanjang perjalanan, pikiranku terus terbayang akan ucapan Abah yang begitu mendalam. Aku berusaha menenangkan diri dengan berdzikir, tetapi entah kenapa, semakin lama perasaan cemas ini semakin menguat.
Tiba-tiba, bayangan hitam itu melintas lagi, dengan cepat dan gelap, di depan mobil. Tanpa sempat menghindar, aku mengerem mendadak, hampir menghantam penghalang jalan.
"Astaghfirullahaladzim," ucapku terbata-bata, jantungku berdegup kencang. Aku terkejut, dan sejenak merasa seperti ada yang mengawasi dari balik kegelapan.
Perasaan tidak nyaman itu semakin memuncak. Aku menatap jalanan yang kini tampak semakin gelap. "Ya Allah, tanda-tanda apa ini yang ingin Kau berikan kepada hamba-Mu ini?" bisikku dalam hati, berharap Allah memberikan petunjuk atau perlindungan.
Dengan perasaan penuh cemas, aku segera menginjak pedal gas, mengemudikan mobilku dengan cepat, berharap bisa sampai rumah secepat mungkin. Namun, bayangan itu terus menghantui pikiranku. Aku tak bisa menghilangkan rasa takut yang tiba-tiba melanda. Sepertinya, ada sesuatu yang tak terlihat, yang terus mengintai, menunggu waktu yang tepat untuk muncul.
Anda Mungkin Juga Suka





