Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel TABIR HITAM

TABIR HITAM

Kehidupan damai di kota kecil yang penuh berkah awalnya terasa sempurna, namun kebahagiaan itu hanyalah pembuka menuju teror yang mencekam. Aku terseret ke dalam pusaran kegelapan dan ketakutan luar biasa saat harus menghadapi kekuatan supranatural di luar logika manusia. Meski sulit untuk dipercaya, inilah kenyataan pahit yang mengubah seluruh hidupku. Sebuah perjuangan batin melawan entitas misterius yang terus mengintai di balik tabir hitam.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bergegas aku masuk kedalam rumah dengan rasa kekhawatiran yang tinggi hingga lupa mengucapkan salam dan aku bergegas berlari kecil menuju kamar Fatimah, Istriku Aisyah tampak heran dengan apa yang terjadi denganku dan ikut menyusulku ke kamar Fatimah.Aku membuka perlahan pintu kamar Fatimah.

Aku berdiri mematung di depan pintu kamar Fatimah yang kini terbuka lebar. Wajahnya terlihat damai, tertidur pulas di bawah selimut birunya. Dadaku sedikit lega melihatnya, namun kegelisahan di hatiku masih belum sepenuhnya hilang.

"Alhamdulillah..." ucapku lagi, berusaha meyakinkan diriku sendiri.

"Ada apa, Abi?" tanya Aisyah lagi, suaranya terdengar cemas, memecah keheningan. Dia berdiri di belakangku, menatapku dengan wajah penuh tanda tanya.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Dalam perjalanan pulang tadi... bayangan hitam itu muncul lagi, Aisyah," kataku dengan nada pelan, namun jelas. "Begitu nyata. Melintas tepat di depan mobil. Aku sampai mendadak rem dan tertegun."

Mata Aisyah melebar, wajahnya langsung pucat. "Bayangan itu lagi?" bisiknya. "Astaghfirullah... Abi, apa ini...?"

Aku mengangguk perlahan. "Aku tidak tahu, Aisyah. Tapi kali ini berbeda. Bayangannya lebih jelas. Bukan hanya sekadar siluet... Aku bisa merasakan sesuatu. Energi yang begitu dingin, begitu gelap. Seperti dia benar-benar ingin menunjukkan keberadaannya."

Aisyah terdiam, matanya perlahan beralih ke Fatimah yang masih tertidur. Dia melangkah masuk ke kamar dan memeriksa anak kami dengan cermat, memastikan semuanya baik-baik saja. "Fatimah baik-baik saja, kan?" tanyanya, suaranya bergetar.

Aku mengangguk, tapi firasat burukku masih menghantui. "Dia terlihat baik-baik saja," gumamku, meskipun aku sendiri tidak yakin. Rasanya ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tak kasat mata, tapi jelas terasa.

"Kita harus melakukan sesuatu, Abi," kata Aisyah akhirnya. "Ini sudah yang kesekian kalinya. Jangan-jangan... ada yang mengirim sesuatu pada kita?"

Aku menatap Aisyah, kengerian mulai menjalar dalam pikiranku. Kemungkinan itu memang pernah terlintas sebelumnya, tapi aku mencoba mengabaikannya, berharap semua hanya halusinasi belaka. Namun, bayangan yang terus muncul dan firasat buruk yang tak kunjung hilang mulai menyiratkan hal yang lebih serius.

"Aku akan menemui Pak Ustad besok pagi," kataku tegas. "Kita perlu tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi."

Aisyah mengangguk, meski raut wajahnya masih dipenuhi ketakutan. "Kita juga harus banyak berdoa, Abi. Apa pun ini, semoga Allah melindungi kita dan anak-anak."

Angin malam berhembus pelan melalui jendela kamar Fatimah yang sedikit terbuka, membawa suara gemerisik yang terdengar seperti bisikan. Aku melangkah ke arah jendela, menutupnya perlahan. Namun, entah mengapa, sebelum tirai tertutup sempurna, aku merasa ada sesuatu di luar. Bayangan hitam itu, samar-samar, seperti mengintai dari kejauhan.

"Abi, segeralah mandi dan berwudhu. Setelah shalat, perbanyak berdzikir, meminta petunjuk dan pertolongan kepada Allah," ucap Aisyah lembut, meski aku tahu nada suaranya menyimpan kekhawatiran yang mendalam. Ia mencoba menguatkanku, meredakan kecemasan yang jelas terpancar dari wajahku.

"Iya, Aisyah," jawabku pelan sambil menatapnya. Aku tahu dia benar. Hanya dengan mendekatkan diri kepada Allah, aku bisa mendapatkan ketenangan dan mungkin, jawaban atas apa yang terjadi belakangan ini.

Aku meninggalkan kamar Fatimah, melangkah menuju kamar mandi dengan pikiran yang masih dipenuhi oleh bayangan hitam tadi. Suara air yang mengalir saat aku mencuci muka terasa menenangkan, meski hanya sedikit. Aku berdiri di depan cermin, memandangi wajahku yang lelah. Rasanya seperti ada sesuatu yang berat membebani pikiranku, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan.

Selesai mandi dan berwudhu, aku menuju ruang shalat di rumah. Suasana rumah begitu sepi, hanya terdengar deru angin malam yang sesekali menggoyangkan dedaunan di luar. Aku berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan, memulai takbir dengan suara lirih.

"Allahu Akbar..."

Selama shalat, pikiranku masih mencoba fokus. Tapi entah kenapa, bayangan hitam itu terus saja muncul di benakku. Sosoknya berdiri diam, tak bergerak, namun keberadaannya terasa begitu nyata. Semakin aku mencoba mengabaikannya, semakin jelas gambaran itu membayangi pikiranku, seperti bayangan yang tak mau pergi, terus menempel.

Aku menghela napas panjang di tengah rakaat, mencoba mengembalikan konsentrasi. "Allahu Akbar," bisikku, melanjutkan gerakan shalat. Namun, tepat saat aku sujud, perasaan itu kembali, seperti ada sesuatu yang berat menggantung di sekelilingku. Seakan-akan ruangan menjadi lebih gelap, lebih dingin. Bulu kudukku meremang, dan jantungku mulai berdetak lebih cepat.

Ketika aku duduk di antara dua sujud, bayangan itu tiba-tiba muncul dalam pikiranku lagi, kali ini lebih jelas. Wajahnya tidak terlihat, tetapi tubuhnya yang diselimuti hitam itu seperti bergerak mendekat, perlahan, semakin dekat. Mataku masih terpejam, tapi aku bisa "merasakan" kehadirannya, seperti berada tepat di belakangku.

Aku berusaha keras melawan rasa takut. "Laa ilaaha illallah..." bisikku pelan, mencoba menguatkan diri. Namun, udara di ruangan terasa semakin menekan. Rasanya seperti ada sesuatu yang menatapku, mengawasi setiap gerakanku, meski aku tahu ruangan ini seharusnya kosong.

Saat salam terakhir, aku membuka mata dengan hati-hati, mencoba menenangkan detak jantungku yang berdegup kencang. Ruangan masih sama seperti sebelumnya hanya lampu temaram yang menerangi. Tapi aku tahu ada sesuatu yang berbeda.Suasana terasa berat, seperti aku tidak sendirian.

Aku melanjutkan berdzikir, mencoba mengusir perasaan itu. Namun, di sela-sela dzikirku, aku mendengar sesuatu suara samar yang hampir tidak terdengar, seperti bisikan. Aku menoleh perlahan ke arah sumber suara, tapi tidak ada siapa pun di sana.

Keheningan yang aneh menyelimuti ruangan. Aku menghela napas panjang, lalu memejamkan mata kembali, mencoba mengabaikan semuanya. Namun, jauh di lubuk hatiku, aku tahu malam ini tidak akan berlalu begitu saja. Ada sesuatu yang tidak kasat mata sedang mencoba mendekat, dan aku hanya bisa berharap perlindungan Allah menyelamatkanku dari apa pun itu.

Shalat dan berdzikir telah kuselesaikan. Aku duduk bersila sejenak, mencoba mengatur napas dan menenangkan pikiran. Suasana malam terasa sunyi, hanya suara angin yang berhembus pelan dari luar jendela. Namun, di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Suara itu menggema, seperti sesuatu yang berat jatuh menimpa genteng rumahku.

"Duuggghhh!"

Aku tersentak, tubuhku refleks berdiri. Dentuman itu begitu keras hingga aku merasa lantai di bawah kakiku sedikit bergetar. Jantungku kembali berdegup kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Apa itu? pikirku.

Aisyah berlari keluar dari kamar Fatimah dengan wajah panik. "Abi! Apa tadi? Suara apa itu?" tanyanya dengan nada gemetar.

Aku hanya bisa menggeleng, masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. "Aku tidak tahu, Aisyah. Suaranya... sepertinya dari atas.Dari genteng."

Aku berjalan ke arah pintu depan, membuka perlahan, berharap menemukan penjelasan. Namun, saat kulangkahkan kaki keluar, suasana terasa lebih mencekam. Langit malam tampak gelap pekat, tanpa bintang, dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Aku memandang ke atas, ke arah genteng, tapi tidak ada yang terlihat aneh, tidak ada tanda-tanda apapun yang jatuh.

Namun, di tengah keheningan malam itu, aku mendengar sesuatu.Sebuah suara samar, seperti erangan atau napas berat, berasal dari atap.

"Abi... jangan keluar terlalu jauh," panggil Aisyah dari balik pintu, suaranya cemas.

Aku menoleh padanya dan mengangguk pelan, lalu melangkah mundur, kembali masuk ke dalam rumah. Tapi sebelum aku menutup pintu, pandanganku menangkap sesuatu di ujung mata,sebuah bayangan. Aku tidak yakin apa itu, tapi rasanya seperti sosok hitam besar sedang bergerak cepat di antara pepohonan di luar pagar rumah.

"Aisyah, tutup semua pintu dan jendela," perintahku, berusaha tetap tenang meski dadaku bergemuruh.

Dia segera mengangguk, bergegas mengunci setiap pintu dan memastikan semua jendela tertutup rapat. Aku sendiri berdiri di ruang tamu, menatap ke luar melalui tirai yang sedikit tersibak. Di luar sana, hanya kegelapan. Tapi aku tahu sesuatu sedang mengintai.

"Abi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa mungkin ini... berkaitan dengan bayangan yang Abi lihat tadi?" tanya Aisyah, suaranya penuh ketakutan.

Aku menatapnya sejenak, lalu menarik napas panjang. "Aku tidak tahu, Aisyah. Tapi aku yakin... ini bukan sesuatu yang biasa."

Malam itu terasa begitu panjang. Suara dentuman tadi menjadi awal dari suasana mencekam yang seakan menyelimuti rumah kami. Aku hanya bisa berharap, apa pun yang sedang terjadi, kami mampu melewatinya dengan perlindungan Allah.

Beberapa menit setelah suara dentuman keras itu, tiba-tiba terdengar jeritan yang memecah kesunyian malam. Fatimah berteriak kencang. Aku dan Aisyah langsung tersentak. Tanpa berpikir panjang, kami berdua berlari menuju kamar Fatimah.

Setibanya di kamar, aku mendapati Fatimah duduk di sudut tempat tidurnya, tubuhnya gemetar, wajahnya basah oleh air mata. Aku segera memeluknya erat, mencoba menenangkannya.

"Fatimah, Abi di sini. Jangan takut. Ada Abi dan Ummi," ucapku lembut sambil membelai rambutnya. Namun, aku bisa merasakan tubuh kecilnya masih gemetar hebat.

Aisyah duduk di sebelah kami, menggenggam tangan Fatimah dengan penuh kasih. "Fatimah, ceritakan ke Abi dan Ummi. Ada apa, Nak?" tanya Aisyah dengan suara penuh perhatian.

Fatimah menatapku dengan mata yang masih dipenuhi ketakutan. Suaranya bergetar saat dia mulai bicara. "Abi... Fatimah takut..." isaknya pelan. "Tadi Fatimah bermimpi..."

Aku mengusap punggungnya perlahan, mencoba memberinya keberanian. "Mimpi apa, Nak? Ceritakan ke Abi."

Fatimah menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri. "Fatimah mimpi... ada sosok bayangan hitam, besar, Abi. Dia muncul di kamar ini. Dia... dia menarik Fatimah. Tangannya dingin sekali, kasar. Dia bilang mau membawa Fatimah ke suatu tempat..."

Mendengar itu, tubuhku meremang. Tapi aku tetap berusaha terlihat tenang di depan Fatimah. "Ke mana, Nak?" tanyaku hati-hati.

"Ke tempat yang gelap, Abi... Gelap, dingin, dan suram. Fatimah tidak tahu di mana, tapi tempat itu membuat Fatimah takut sekali. Fatimah mencoba lari, tapi tidak bisa. Bayangan itu terus memegang Fatimah..." Fatimah kembali menangis, suaranya penuh kepanikan.

Aisyah memeluk Fatimah erat, matanya mulai basah. "Astaghfirullah, Nak... Itu hanya mimpi. Fatimah sekarang aman, ya? Ada Abi dan Ummi di sini," bisik Aisyah, mencoba menghibur anak kami.

Namun, di dalam hati, aku tahu ini lebih dari sekadar mimpi buruk. Dentuman keras tadi, bayangan yang aku lihat di perjalanan, dan kini mimpi Fatimah, semuanya terasa seperti bagian dari sesuatu yang lebih besar, lebih menyeramkan.

Aku menatap Aisyah, yang balas memandangku dengan ketakutan yang sama. Seolah tanpa perlu bicara, kami berdua memahami bahwa ini bukan kebetulan.

"Fatimah, dengarkan Abi," kataku akhirnya, mencoba menenangkan diriku sendiri. "Abi akan berdoa dan menjaga Fatimah. Tidak ada yang bisa menyakiti kita selama kita bersama dan berdoa kepada Allah. Sekarang, Fatimah istirahat lagi, ya? Abi akan di sini menemani."

Fatimah mengangguk perlahan, meskipun matanya masih menyiratkan ketakutan yang mendalam.

Malam itu, aku dan Aisyah duduk di dekat tempat tidur Fatimah, memanjatkan doa dalam hati, memohon perlindungan Allah. Namun, di balik doa-doa kami, aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa sesuatu atau seseorang sedang mengincar keluarga kami.

Kamipun memutuskan untuk tidur di kamar Fatimah malam itu. Aku dan Aisyah khawatir sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi jika kami meninggalkan Fatimah sendirian.

Fatimah akhirnya tertidur di tengah-tengah kami, meski masih sesekali menggenggam erat tanganku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang perlahan mulai tenang, tetapi aku dan Aisyah masih tetap waspada. Kami berbaring tanpa benar-benar tidur, pikiran kami dipenuhi oleh kegelisahan.

Lampu kamar sengaja tidak dimatikan sepenuhnya, hanya diredupkan. Aku duduk bersandar di dinding, mataku terus memandangi Fatimah yang terlelap, sementara Aisyah terlihat mencoba membaca doa dalam hati, bibirnya bergerak pelan.

Jam di dinding menunjukkan pukul dua lewat sepuluh menit ketika aku mendengar suara samar. "Tap... tap..." seperti langkah kaki ringan yang terdengar dari luar kamar. Aku menoleh ke arah pintu, telingaku fokus mendengarkan. Suara itu berhenti sesaat, tetapi kemudian terdengar lagi, lebih jelas. Kali ini, langkah itu seperti mendekat ke arah kamar kami.

Aku menahan napas. Aisyah yang juga mendengar suara itu, menggenggam tanganku erat. "Abi... kamu dengar?" bisiknya dengan suara kecil.

Aku mengangguk pelan, menenangkan Aisyah meski jantungku sendiri berdetak keras. Suara langkah itu semakin dekat, seolah berhenti tepat di depan pintu kamar Fatimah.

Hening.

Aku menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Perlahan aku berdiri, berusaha tidak membuat suara, lalu berjalan ke arah pintu. Aisyah memegang lenganku. "Jangan, Abi...," bisiknya, suaranya gemetar.

Aku menoleh padanya, memberikan isyarat untuk tetap tenang. Aku mendekati pintu perlahan, mencoba mendengar lebih jelas. Tidak ada suara lagi hanya keheningan yang semakin mencekam. Tapi aku bisa merasakan sesuatu di balik pintu itu. Entah apa, tapi keberadaannya begitu nyata.

Dengan hati-hati, aku membuka pintu sedikit, hanya cukup untuk mengintip. Namun, yang kulihat hanyalah lorong gelap yang kosong. Tidak ada apa-apa.

Aku menghela napas lega, tetapi ketika aku hendak menutup pintu kembali, sesuatu membuatku menoleh ke ujung lorong. Dalam redupnya cahaya lampu, aku bisa melihat sesuatu berdiri di sana. Sosok hitam besar, tidak bergerak, hanya berdiri diam seperti sedang menatap ke arahku.

Bulu kudukku meremang. Aku menutup pintu dengan cepat, mengunci rapat, lalu bersandar di pintu dengan napas memburu.

"Ada apa, Abi?" tanya Aisyah dengan cemas.

"Tidak ada. Semua baik-baik saja," jawabku, meski suara bergetar. Aku tidak ingin membuat Aisyah atau Fatimah semakin ketakutan.

Namun, jauh di dalam hati, aku tahu sosok itu masih ada. Dan aku tahu ini baru permulaan dari sesuatu yang lebih menyeramkan.

Fatimah akhirnya tertidur pulas, disusul oleh Aisyah yang mulai terlelap. Namun, aku tetap terjaga, memaksakan diriku untuk berdzikir dalam hati. Perlahan, gangguan dari bayangan hitam itu mulai memudar, seperti ditelan oleh kegelapan malam. Ketika keheningan mulai menguasai, tubuhku pun menyerah, dan aku akhirnya tertidur.

Adzan Subuh berkumandang, membangunkanku dari tidur yang terasa singkat. Aku segera bangkit, lalu mengguncang lembut bahu Aisyah dan Fatimah. "Ayo bangun, kita sholat Subuh berjamaah," ucapku pelan.

Fatimah mengusap matanya yang masih berat, kemudian menatapku dengan pandangan setengah sadar. "Abi, bayangan itu... apakah sudah pergi?" tanyanya lirih, suaranya penuh keraguan dan sedikit takut.

Aku tersenyum tipis, berusaha menenangkannya. "Sudah, Sayang. Bayangan itu sudah pergi. Sekarang, ayo kita berwudhu dan sholat Subuh bersama. Kalau Fatimah rajin berdoa, hati Fatimah akan lebih tenang, dan tidak ada yang perlu ditakuti lagi," jawabku lembut sambil mengusap kepalanya.

Aku melangkah ke kamar mandi untuk berwudhu. Saat pintu terbuka, aroma busuk yang menyengat menyerang indra penciumanku. Aku tertegun, mencoba memahami dari mana bau itu berasal. Dengan ragu, aku mendekati bak mandi. Betapa terkejutnya aku saat melihat air yang biasanya bening kini berubah menjadi hitam pekat, berbau busuk seperti bangkai.

Penasaran, aku memutar keran air. Bukannya air bersih, cairan hitam pekat yang sama keluar, menetes dengan suara berat seolah membawa sesuatu yang jahat bersamanya. Dadaku berdesir. Ada sesuatu yang tidak wajar di sini.

"Aisyah," panggilku sambil setengah berteriak. "Air di kamar mandi berubah hitam dan berbau."

Istriku, Aisyah, datang tergopoh-gopoh. Raut wajahnya yang semula penuh kantuk kini berubah menjadi ekspresi heran bercampur cemas. "Bagaimana bisa terjadi seperti itu, Abi?" tanyanya, suaranya bergetar.

"Kita nggak punya pilihan lain," jawabku sambil menenangkan diri. "Sementara kita tayamum dulu saja."

Meski hatiku diliputi kegelisahan, aku mencoba tetap tenang. Kami bertiga, aku, Aisyah, dan anak kami, Fatimah bersiap untuk shalat subuh berjamaah. Namun, perasaan tidak nyaman terus mengintai. Ada hawa dingin yang merayap di udara, seperti bayangan tak kasat mata yang sedang mengawasi dari balik gelapnya sudut rumah.

Saat aku mengangkat tangan untuk takbir, pikiran tentang air hitam itu terus menghantui. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di rumah ini?

Setelah sholat subuh selesai, perasaan penasaran mengalahkan rasa takutku. Aku kembali ke kamar mandi untuk memeriksa kondisi air. Bau busuk masih samar terasa di hidungku, namun aku bertekad untuk segera membuang air hitam pekat di bak mandi. Dengan hati-hati, aku membuka saluran pembuangan, membiarkan cairan hitam itu mengalir pergi. Butuh waktu beberapa menit hingga bak itu benar-benar kosong.

Aku memutar keran perlahan, bersiap dengan kemungkinan terburuk. Namun, betapa leganya hatiku saat melihat air bening mengalir deras, tanpa bau busuk seperti sebelumnya. "Alhamdulillah, airnya sudah kembali bening dan tidak berbau!" seruku dengan suara lega, setengah berteriak agar Aisyah dan Fatimah mendengar.

Dari ruang tengah, Aisyah dan Fatimah membalas seruanku dengan ucapan syukur. "Alhamdulillah!" ujar mereka hampir bersamaan.

Meski lega, ada sesuatu yang mengusik pikiranku. Air hitam yang begitu pekat dan bau busuk yang tiba-tiba muncul, lalu hilang begitu saja, terasa terlalu aneh. "Sungguh, ini di luar nalar," gumamku pelan, mencoba mengabaikan kekhawatiran yang tersisa di hatiku.

Tanpa membuang waktu, kami segera mandi dan bersiap untuk memulai aktivitas pagi seperti biasa. Fatimah tampak ceria, seperti tak terpengaruh oleh kejadian aneh tadi. Setelah sarapan, aku dan Aisyah mengantarkannya ke sekolah.

Namun, di tengah perjalanan, aku tidak bisa menghilangkan pikiran tentang air hitam itu. Apakah itu hanya kebetulan, ataukah ada sesuatu yang mencoba menyampaikan tanda? Sesuatu yang tidak kasat mata, tetapi keberadaannya terasa nyata...

Pagi itu, langit tampak cerah, sinar matahari lembut menyapa melalui celah dedaunan di sepanjang jalan menuju sekolah.Udara segar pagi hari sedikit menghapus rasa lelah yang masih menggantung di tubuhku.Di dalam mobil, aku terus mencoba menenangkan Fatimah yang tampaknya masih memikirkan kejadian semalam.

"Sayang, jangan khawatir dan jangan takut lagi, ya, terhadap bayangan itu," ucapku lembut sambil meliriknya yang duduk diam di kursi samping kiriku. "Abi selalu melindungi Fatimah, dan jangan lupa, Allah juga ikut menjaga Fatimah. Tidak ada yang perlu ditakutkan."

Fatimah mengangguk perlahan, matanya yang polos menatapku sejenak. "Iya, Abi," jawabnya dengan suara khasnya yang lembut, membuat hatiku terasa lebih ringan.

Meski aku tersenyum untuk menenangkannya, bayangan kejadian semalam masih berputar di pikiranku. Tapi aku tahu, yang terpenting saat ini adalah memastikan Fatimah merasa aman dan siap menghadapi harinya di sekolah.

Fatimah tersenyum, lalu mencium tanganku sebelum keluar dari mobil sambil mengucapkan salam.

"Assalamualaikum, Abi," ucapnya lembut.

"Walaikumsalam. Semangat ya belajarnya, Sayang," jawabku sambil tersenyum hangat.

Setelah itu, aku segera melanjutkan perjalanan menuju toko untuk memulai rutinitas sehari-hari. Tepat pukul delapan pagi, aku membuka pintu toko. Hiruk-pikuk pelanggan langsung memenuhi ruanganku. Produk yang kujual cukup diminati, mungkin karena harganya yang relatif murah dibandingkan dengan tempat lain.

Situasi di sekolah awalnya berjalan normal. Fatimah dengan tenang memperhatikan papan tulis, menyimak penjelasan dari Ibu Guru. Namun, tiba-tiba, pandangannya tertuju pada pojok ruangan dekat pintu kelas. Di sana, muncul sosok bayangan hitam yang berdiri diam, seperti mengawasi.

Fatimah terperanjat. Jantungnya berdegup kencang. Dengan cepat, ia memejamkan mata, berharap bayangan itu menghilang. Namun, rasa takut yang mencekam membuat tubuhnya membeku di tempat.

"Fatimah... Fatimah," panggil suara Ibu Guru, mencoba membangunkan Fatimah dari lamunannya. Namun, Fatimah tidak mendengar. Suara Ibu Guru terasa seperti gema yang samar dan jauh. Rasanya pendengarannya seperti terputus dari dunia nyata.

Ibu Guru mendekati meja Fatimah, lalu menepuk pundaknya perlahan.

"Fatimah... Fatimah," panggilnya sekali lagi.

Fatimah tersentak. Matanya terbuka lebar, tubuhnya gemetar hebat.

"Ada apa, Nak? Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Ibu Guru dengan nada lembut namun penuh kekhawatiran.

"T-tidak ada, mohon maaf, Bu Guru," jawab Fatimah dengan suara bergetar. Namun, wajahnya pucat, dan tatapannya kosong.

Dalam hati, Fatimah berkata dengan penuh ketakutan, "Ya Allah, bayangan itu muncul lagi. Aku takut... Ya Allah, lindungi Fatimah."

Sejak saat itu, Fatimah merasa tidak tenang. Selama jam pelajaran, pikirannya terus melayang, dipenuhi rasa cemas. Ia sulit fokus, dan setiap suara kecil di kelas membuatnya melompat kecil karena takut. Sosok bayangan itu terus menghantui pikirannya, membuatnya merasa tidak aman, bahkan di siang hari.

Siang itu, seperti biasa, aku menutup toko sejenak untuk menjemput Fatimah di sekolahnya. Setibanya di sekolah, Fatimah membuka pintu mobil perlahan, wajahnya terlihat sedikit lemas.

"Assalamualaikum, Abi," ucapnya dengan nada yang lebih pelan dari biasanya, sambil mencium tanganku.

"Walaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Sayang," jawabku lembut, berusaha menceriakan suasana.

Sambil melajukan mobil, aku mencoba berbincang dengannya.

"Bagaimana hari ini, Nak?" tanyaku.

Fatimah terdiam sejenak, wajahnya termenung. Aku bisa melihat dari sorot matanya bahwa ada sesuatu yang mengganggunya.

"Nak, ada apa?" tanyaku lagi, mencoba memahami apa yang dirasakannya.

Fatimah akhirnya menjawab dengan suara pelan, "Iya, Abi... Maaf."

"Kamu kenapa, Nak?" tanyaku lebih serius, kini benar-benar khawatir.

Fatimah menarik napas dalam, lalu berkata dengan suara bergetar, "Abi, tadi di kelas... sosok itu muncul lagi. Fatimah takut."

Hatiku sejenak menjadi meratap. "Allahu Akbar... Ya Allah," gumamku terkejut. Aku segera meminggirkan mobil di tepi jalan, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Dengan lembut, aku merengkuh Fatimah ke dalam pelukanku.

"Abi di sini, Sayang. Jangan takut, ya. Abi nggak akan biarkan apapun menyakitimu," ucapku sambil mengusap punggungnya perlahan, mencoba menenangkannya.

Fatimah mengangguk pelan di pelukanku, meski tubuhnya masih gemetar. Aku tahu ketakutannya nyata, dan aku harus melakukan sesuatu untuk melindunginya.

Setelah Fatimah mulai tenang, aku tersenyum padanya dan mencoba mengalihkan suasana.

"Abi ada ide. Sekarang kita jemput Umi dulu, lalu kita jalan-jalan dan makan di luar. Gimana?" usulku dengan nada ceria.

Fatimah tersenyum kecil, lalu matanya berbinar, "Iya, Abi... Asyik!"

Aku tersenyum lega, meski di dalam hati ada rasa yang berat. Sepanjang perjalanan, pikiranku terus berputar. Kenapa sosok itu terus muncul dan mengganggu anakku? Apa yang sebenarnya terjadi?

Namun, aku memilih untuk menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu sementara. Saat ini, yang terpenting adalah memastikan Fatimah merasa aman dan nyaman.

Setibanya di rumah, kami langsung bersiap-siap.Fatimah buru-buru masuk ke kamarnya untuk mengganti baju, sementara Umi terlihat sibuk merias diri di depan cermin.Aku, di sisi lain, menelepon salah satu pegawaiku untuk mengabarkan bahwa kegiatan di toko akan diliburkan sore ini.

"Sore ini aku tutup dulu tokonya. Ada urusan keluarga," ucapku singkat kepada pegawaiku. Setelah memastikan semuanya terkendali, aku memutuskan panggilan dan duduk sejenak, memikirkan apa yang baru saja terjadi di mobil tadi.

Tak lama kemudian, Fatimah keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapi.Senyum kecil mulai terlihat di wajahnya, meski aku tahu betul senyum itu hanya untuk menutupi ketakutannya. Aku membalas senyumannya dengan hangat.

"Siap, Sayang? Kita pergi sekarang," kataku, berusaha membuat suasana lebih ceria.

Setelah semuanya siap, kami berangkat menuju Surabaya.Tujuanku sederhana, membawa Fatimah berjalan-jalan di mal, makan bersama, dan membelikannya apa pun yang ia mau.Aku hanya ingin ia melupakan kejadian menyeramkan di sekolahnya, meski untuk sementara.

Di dalam perjalanan, aku sengaja tidak membicarakan kejadian itu kepada istriku. Bukan karena aku tidak mempercayainya, tetapi karena aku ingin memastikan Fatimah lebih tenang terlebih dahulu sebelum membahas hal ini.Aku ingin melindungi keduanya, Fatimah dari rasa takutnya, dan istriku dari kekhawatiran yang mungkin berlebihan.

Sesampainya di mal, Fatimah mulai terlihat lebih ceria. Ia memegang tanganku erat sambil menunjuk berbagai hal yang menarik perhatiannya.Senyumnya yang polos kembali terlihat, meski aku tahu bayang-bayang ketakutan itu belum sepenuhnya pergi dari pikirannya.

Aku dan istriku bergantian mengajaknya berbincang, bercanda, dan memilihkan mainan yang ia sukai. Kami makan malam bersama, dan aku berusaha memastikan suasana tetap ringan dan menyenangkan.Namun, jauh di dalam pikiranku, pertanyaan itu terus berputar "Mengapa hal ini terjadi pada Fatimah? Apa yang sebenarnya mengintai keluargaku?"

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Jam di dashboard mobil menunjukkan pukul tujuh malam. Setelah puas bersenang-senang, kami memutuskan untuk kembali pulang. Fatimah terlihat sangat bahagia sepanjang hari, tapi kelelahan mulai tampak di wajahnya.

Di perjalanan, kami menghabiskan waktu dengan bercerita dan tertawa bersama. Namun, tak lama kemudian, Fatimah tertidur di kursi belakang. Wajahnya yang polos terlihat begitu damai, membuatku lega melihatnya sedikit melupakan ketakutannya hari ini.

Aku mengemudikan mobil dengan santai, menikmati kebersamaan yang hangat ini. Meskipun pikiranku sesekali melayang ke pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, aku tetap bersyukur untuk momen ini, melihat senyuman Fatimah sebelum ia tertidur.

Beberapa jam kemudian, kami tiba di rumah. Lampu luar rumah menyala redup, menciptakan suasana tenang. Aku mematikan mesin mobil, lalu berbalik ke arah Fatimah.

"Fatimah, Fatimah, kita sudah sampai di rumah," ucapku lembut, sambil menepuk pundaknya perlahan.

Fatimah membuka matanya perlahan, wajahnya masih mengantuk. "Hmmm... iya, Abi," jawabnya dengan suara kecil. Kami turun dari mobil bersama, lalu masuk ke dalam rumah.

Setelah masuk, aku berkata kepadanya, "Fatimah, bersihkan diri dulu, ganti baju, gosok gigi, dan jangan lupa berwudhu. Kita shalat Isya berjamaah, ya."

Fatimah mengangguk pelan dan langsung menuju kamarnya. Tak lama, kami berkumpul di ruang keluarga untuk menunaikan shalat Isya. Suara bacaan shalat memenuhi ruangan, memberikan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Selesai shalat, aku memanjatkan doa dalam hati, memohon perlindungan Allah untuk keluargaku, terutama untuk Fatimah. Setelah itu, kami bersiap untuk tidur. Fatimah tampak lelah, namun sedikit lebih tenang dari sebelumnya.

Aku memandang wajahnya sebelum ia masuk ke kamarnya. Dalam hati, aku bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku harus melindungi Fatimah, apa pun yang terjadi.

Selang beberapa jam kemudian, Fatimah mengigau dalam tidurnya. Kegelapan pekat menyelimuti kamarnya, dan angin malam yang dingin menyusup melalui celah-celah jendela. Bayangan hitam itu kembali muncul, berdiri di sudut kamar dengan tubuh melayang tanpa bentuk yang jelas.

"Cah Ayu, mrene melu aku," bisiknya, lembut namun dalam, seperti suara yang datang dari kedalaman bumi.

Fatimah membuka matanya perlahan, mencari sumber suara dengan tubuh bergetar. "S-siapa kamu?" tanyanya dengan nada gemetar.

Bayangan itu tidak menjawab, hanya mengulangi panggilannya. "Cah Ayu, mrene."

Fatimah Kembali bertanya dengan tubuh dan mulut yang bergetar. "S-siapa kamu?" tanyanya dengan nada gemetar.

Bayangan dengan tertawa tipis "Sami mbah...hihihi" sahut bayangan tersebut dengan lirih

Fatimah merasakan bulu kuduknya meremang. Napasnya terengah-engah, dan udara di sekitarnya terasa semakin dingin, menusuk sampai ke tulang. Ketakutan merayap dalam hatinya.

"Abi... Umi..." teriak Fatimah dengan suara serak.

Namun, suara itu seperti lenyap ditelan kesunyian.

"Cah Ayu, melu aku," panggilan itu terdengar lagi, kali ini lebih mendesak.

Fatimah segera melafalkan dzikir dalam hati, kedua tangannya memeluk dirinya sendiri sambil menggigil hebat. "Ya Allah... lindungi aku..." bisiknya.

Fatimah menginggau dengan menyebut sebuah nama yang asing.Tiba-tiba, ia terbangun dengan napas tersengal dan tubuh bersimbah keringat dingin. "Ya Allah, takut!" serunya, matanya basah oleh air mata.

Ia bangkit dari tempat tidurnya, mengumpulkan keberanian untuk melangkah ke kamar Abi dan Umi. Suara pintu yang berderit memecah keheningan, membuat Fatimah semakin waspada.

"Abi... Umi..." panggilnya dengan suara bergetar.

Aku dan istriku terbangun, menatap Fatimah yang berdiri di pintu dengan wajah pucat.

"Ada apa, Nak?" tanya Umi dengan nada penuh kekhawatiran.

"Fatimah takut, Umi," jawabnya, tubuhnya gemetar hebat.

Aku segera meraih Fatimah, memeluk tubuh kecilnya yang terasa dingin. "Nak, sini tidur di samping Abi dan Umi."

Fatimah langsung merapat di antara kami. Aku dan Umi memeluknya erat, mencoba menghangatkannya. Namun, rasa dingin di tubuh Fatimah terasa tidak wajar, seperti hawa dingin dari dunia lain.

Rasa penasaran menyelimutiku. Aku keluar dari kamarku, langkahku pelan namun terasa berat, seolah ada sesuatu yang menahanku.Tujuanku jelas menuju kamar Fatimah.Setibanya di sana, aku berdiri di depan pintu kamar yang setengah terbuka.Udara di dalam terasa pengap meskipun lampu kamar menyala terang.Perlahan aku melangkah masuk, mataku menjelajahi setiap sudut ruangan.Tidak ada yang terlihat aneh, tapi ada perasaan tidak nyaman yang terus menggelayut di hatiku.

Aku membuka lemari pakaian, hanya deretan baju-baju yang tergantung rapi di dalamnya. Aku berjongkok, mencoba melihat ke bawah tempat tidur, tapi hasilnya tetap sama kosong.Namun, bulu kudukku tiba-tiba meremang. Ada sesuatu.

Dingin.

Sangat dingin.

Angin aneh berembus, menusuk hingga tulang, meskipun AC tidak menyala.Tubuhku mendadak tegang.Perlahan, aku memutar kepala ke arah pintu kamar.

Di sana, di ambang pintu, bayangan hitam itu berdiri.

Matanya merah menyala seperti bara api, menatapku tajam.

Aku tidak bisa bergerak.Tubuhku kaku seperti terpaku ke lantai.Mulutku mencoba berteriak, tapi tidak ada suara yang keluar.Hanya desakan zikir dalam hati yang bisa kulakukan "La ilaha illallah... La ilaha illallah..."

Bayangan itu diam, hanya menatap, seolah menunggu sesuatu.Waktu seperti berhenti. Aku menutup mata sambil terus berdzikir.

Ketika aku membuka mata, bayangan itu telah menghilang.Namun tubuhku terasa lemas, nafasku tersengal-sengal, dan jantungku berdegup kencang.Rasanya seperti energiku terserap habis olehnya.

Tanpa pikir panjang, aku berlari keluar dari kamar Fatimah dan kembali ke kamarku.Pintu kamar langsung kututup rapat.

"Alhamdulillah, mereka baik-baik saja," gumamku lirih, meski rasa khawatir masih menguasai pikiranku.

Aku bergegas mengambil wudhu. Dengan tangan gemetar, aku berdoa dan membaca Surat Al-Ikhlas, An-Nas, dan Al-Falaq, masing-masing tiga kali, memohon perlindungan dari Allah.

Malam itu, tidurku tidak nyenyak. Di setiap bayang mimpi, aku masih bisa melihat mata merah itu mengawasiku dari kegelapan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANAK KETIGA
9.7
Sebuah mahakarya seni rupa menyimpan rahasia kelam yang terkubur dalam sapuan kuasnya. Lukisan misterius ini bukan sekadar benda mati, melainkan saksi bisu dari sejarah panjang yang penuh intrik dan lika-liku mengerikan. Seiring berjalannya waktu, asal-usul kanvas tersebut mulai terkuak, membawa kengerian dari masa lalu yang menghantui siapa pun yang melihatnya. Inilah kisah tentang jejak kelam yang tersembunyi di balik keindahan yang tampak semu.
Sampul Novel Dicintai Raja Siluman Ular
9.4
Alana nekat menikahi Cakra tanpa restu orang tua demi cinta dan kemewahan. Namun, kehidupan barunya berubah mencekam saat ia menyadari hobi aneh suaminya yang memelihara ular liar di dalam rumah. Selain sering menemukan ular besar di ranjangnya, Alana dihantui mimpi erotis bersama pria asing. Penyelidikannya mengungkap rahasia kelam bahwa mantan istri Cakra hilang secara misterius, memicu kecurigaan besar tentang identitas asli sang suami yang sebenarnya.
Sampul Novel I'm The Beast
9.0
Rodolfo Silas adalah pembunuh bayaran yang beralih menjadi pelindung desa saat teror makhluk aneh melanda. Di tengah misteri hilangnya manusia setiap bulan purnama, Rodolfo berjuang sendirian menghalau pasukan serigala berkat kemampuan tempurnya yang luar biasa. Namun, nasibnya berubah drastis ketika pasukan elite werewolf menculiknya dan mengubahnya menjadi monster mengerikan. Kini, ia harus menghadapi kenyataan baru sebagai bagian dari kaum yang ia lawan.
Sampul Novel Kisah Pendakian Horor
8.0
Kumpulan narasi mencekam ini merangkum berbagai pengalaman mistis para pendaki saat menaklukkan puncak gunung. Setiap cerita menyajikan kengerian berbeda yang mampu menguji keberanian Anda di alam liar. Apakah Anda masih berani merencanakan pendakian setelah menyelami rentetan teror yang dialami mereka? Ikuti terus rangkaian kisah horor ini untuk menuntaskan rasa penasaran. Pastikan Anda memberikan dukungan berupa tanda suka dan komentar di setiap ceritanya.
Sampul Novel Misteri Desa Purnama
8.8
Demi melepas penat dari dunia perkuliahan, Aldi memilih berlibur ke Desa Purnama yang tenang. Namun, kedatangannya justru memicu bangkitnya kekuatan supranatural tersembunyi dalam dirinya. Di tengah suasana desa yang terpencil, Aldi terjebak dalam serangkaian peristiwa mistis yang mencekam dan sulit dinalar. Mampukah ia bertahan menghadapi teror gaib tersebut, ataukah liburan impiannya akan berubah menjadi mimpi buruk yang tak berujung?
Sampul Novel Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur
9.1
Dunia forensik adalah hidupku, namun saat putraku tewas, sistem justru melindungi pembunuhnya. Jaksa Budi Santoso menolak bukti pembunuhan dariku dan menyebutnya bunuh diri. Demi keadilan, aku menculik putrinya, Dinda, lalu menyiksa gadis itu secara live di depan publik. Meski Dr. Gunawan dan Amanda mencoba memanipulasi mentalku dengan surat wasiat palsu, aku menemukan kode rahasia di sana. Putraku minta tolong. Kini, dendamku takkan berhenti meski aparat mengepungku.