
Sweet Temptation (Aliya and her stepfather)
Bab 2
Malam begitu indah. Bintang-bintang gemerlap di langit, cahaya sinar bulan yang terang menembus di sela-sela jendela kamar bernuansa biru mudayang dipenuhi buku-buku pelajaran sekolah serta beberapa gambar yang tertata rapi di meja belajar, ada juga yang tergantung di dinding kamar. Revandra masuk ke kamar putrinya untuk mengecek keadaan gadis itu seperti biasa. Dia ingin memastikan kalau putri kesayangannya tersebut baik-baik saja. Lelaki dewasa itu berjalan masuk lalu mengambil selimut yang jatuh berserakan di lantai akibat Aliya yang tidurnya memang terkadang sedikit urakan. Dia hendak memakaian selimut pada gadis yang dianggap anaknya yang saat ini tengah tertidur hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Sebenarnya Revandra sudah biasa akan hal itu, maka dia langsung saja memakaikan selimut ke tubuh gadis itu, kemudian melangkah ke arah meja belajar Aliya. Revandra memandangi sebuah poto yang terlihat dia sedang bersama seorang wanita mengenakan baju pengantin sederhana dan seorang anak kecil berusia empat tahun. Revandra tersenyum melihat poto itu lalu berbalik hendak meninggalkan kamar dengan nuansa biru malam itu. Namun, ketika berbalik, Revandra justru mendapati putrinya sudah tidak memakai selimut lagi. Bahkan kali ini sudah lain. Dalam tidur Aliya melepas bra berwarna hitam dan melemparkan ke sembarang tempat. Revandra mendekatinya dan mencoba memakaikan kembali selimut kepada gadis yang sudah setengah polos itu, tetapi hal yang tidak terduga terjadi. Revabdra tidak tidak sengaja menyentuh benda kenyal yang membusung milik gadis itu. Untuk sesaat Revandra menatap gadis itu dan Entah setan apa yang merasukinya, dia tanpa sadar meremas benda lunak yang membusung itu.
"Ugh!" leguh Aliya setelah Revandara meremas benda lunak miliknya. Beruntung gadis itu tidak terbangun, cepat-cepat Revandra menarik tangannya.
"Shit! Dasar kau bajingan, Revan. Dia anakmu yang kau besarkan dengan tanganmu sendiri," sumpah serapah lelaki itu terhadap dirinya sendiri.
Revandra yang saat ini naluri lelakinya tengah bergejolak hanya karena meremas benda lunak gadis yang dianggap putrinya itu, dia berusaha tetap tenang dengan harapan dia tidak akan membangunkan gadis yang tertidur pulas dengan posisi terlentang itu. Revanda kembali melihat benda yang membusung itu sambil menelan salivanya. Dia tidak menyangka kalau putrinya sudah tumbuh menjadi gadis kecil yang menggoda.
Tidak dapat Revandra pungkiri kalau sesuatu yang ada di balik celananya kini membengkak, meronta ingin melepaskan sesuatu dari dalam. Maka dia dengan hasrat yang tidak bisa dia tahan keluar dari kamar bernuansa biru malam itu setelah menutupi tubuh indah Aliya dengan selimut.
Baru kemudian Revandra meninggalkan rumah dan menuju ke sebuah hotel yang sering didatanginya.
***
Di sebuah hotel mewah, di dalam kamar seorang wanita yang sedang menikmati sentuhan-sentuhan liar yang berada di bawah tubuh kekar seorang lelaki perkasa. Lelaki yang dengan jantanya menghentakan tubuhnya dengan liar.
"Ahh, Revan. Kau benar-benar hebat dalam hal ini," ucap seorang perempuan cantik di sela desahannya yang sedang menjadi tempat pelampiasan hasrat Revandra. Lelaki dewasa itu dengan liarnya menghujam miliknya ke dalam diri seorang perempuan bayaran hanya karena melihat dan sedikit menyentuh milik gadis yang dianggap putrinya. Membuat gejolak nafsunya terbangun saat itu.
Tidak dapat dipungkiri, memang selama ini Revandra sering kali mencari wanita di luar untuk pelampiasan saja di saat dia begitu ingin melakukannya.
Karena kesibukanya dalam pekerjaan dan mengurus Aliya, Revandra tidak tertarik sama sekali untuk menikah lagi. Jika sesuatu dalam dirinya timbul, dia hanya memanggil salah satu artis yang kini sedang bernaung di salah satu perusahaannya atau wanita-wanita karir lain yang juga kesepian.
Setelah selesai melampiaskan hasratnya, Revandra berdiri lalu menarik benda pelindung dari kejantanannya baru membuangnya ke tempat sampah. Lelaki itu kembali berpakaian dan meninggalkan perempuan cantik yang telah terkulai dan tertidur pulas karena kelelahan melayani Revandra.
Revandra mandi setelah sampai di rumah lalu dia turun ke lantai bawah untuk minum sesuatu yang hangat dan dia mendapati Aliya sedang mencari sesuatu untuk di makan.
"What are you doing, honey?" tanya Revandra mendekati Aliya.
"I'm hungry, Ded. But, tidak ada yang bisa di makan, hanya ada bahan yang belum jadi," sahut Aliya sembari memperlihatkan wortel dan bahan-bahan lainnya kepada Revandra. Revandra melangkah ke arah kulkas, dia membuka kulkas itu lalu mengambil potongan daging untuk diolah.
"Duduklah dengan tenang. Aku akan memasak sesuatu untukmu," kata Revandra.
"Okey, Ded!" seru Aliya tersenyum begitu polosnya. Cantik sekali.
Selang beberapa menit, Revandra telah selesai membuat makanan untuk Aliya.
"Makanlan." Revandra menyodorkan makanan kepada Aliya lalu dia duduk di hadapan gadis itu dan meraih cangkir berisi kopi yang sudah disiapkan tadi kemudian meneguknya.
"Kamu tidak makan, Ayah?" tanya Aliya di sela aktifitas makannya.
"Tidak, Honey. Ayah sudah kenyang." Revandra memandangi Aliya yang sedang makan dengan lahapnya. Dia merasa benar-benar telah menjadi seorang bajingan. Sebab, hasratnya terbangun hanya karena melihat tubuh putrinya, gadis yang dia besarkan dengan tangan sendiri.
"Ayah ...." Aliya membuyarkan lamunan Revandra
"Ya, Honey."
"Sugar daddy itu apa, Ayah?" tanya Aliya dengan bigitu polosnya sampai membuat Revandra yang hendak meneguk kopinya langsung tersendat. "Kamu tidak apa-apa, Ayah?" tanya Aliya lagi membuat Revandra menatapnya tajam.
"Dari mana kamu mendengarkan kata-kata itu, Aliya?" Revandra memicingkan mata menatap Aliya penuh tanya.
"Dari Aren. Katanya dia mau ayah jadi sugar daddynya," jawab Aliya tersenyum.
Revandra tercengang mendengar jawaban Aliya yang baginya tidak masuk akal. Dalam hal ini, dia juga bersalah. Sebab, selama ini dia selalu saja membatasi pengetahuan Aliya tentang dunia-dunia pergaulan yang bebas. Bahkan selama ini Aliya tidak diizinkan terlalu dekat dengan teman lelakinya.
Sejenak Revandra berpikir kalau dia merasa sudah waktunya bagi Aliya untuk mengetahui semua itu, tetapi tetap dalam pengawasannya agar Aliya tidak salah memilih pergaulan.
"Ayah sugar daddy itu apa?" tanya Aliya lagi karena dia tidak mendapat jawaban dari ayahnya.
"Aliya, sugar daddy itu merupakan sebutan untuk pria dewasa yang kaya. Mereka menghabiskan uang mereka untuk membelanjakan kekasih maupun simpanannya," jelas Revandra hendak meneguk kopinya
"Oo ... berarti Ayah sugar daddynya Aliya, begitu maksud ayah?"
Kembali Revandra tersendak kopinya.
"Kenapa kamu berpikir Ayah sugar daddymu?"
"Karena selama ini ayah suka membelanjakan Aliya barang-barang yang Aliya mau meskipun Aliya bukan kekasih Ayah, tetapi Aliya seperti simpananmu, Ayah." Aliya teris saja berkata begitu polosnya.
"Astaga! Betapa polosnya putriku ini. Sampai-sampai dia mengangapku sugar daddynya," pikir Revandra. Demi tidak menimbulkan kesalah pahaman tentang sugar daddy, pelan-pelan Revandra mencoba menjelaskan hal itu pada Aliya.
"Aliya, Ayah bukan sugar daddymu, tetapi ayahmu. Sugar daddy dan Ayah itu berbeda, Honey." Revandra dengan hati-hati berusaha menjelaskan.
"Kalau begitu Aliya boleh punya sugar daddy, Ayah?" tanya Aliya polos. Seketika wajah Revandra berubah memerah karena sedikit ada perasaan emosi mendengar perkataan yang keluar dari mulut Aliya.
Brak...
Sebuah hentakan tangan yang keras menghantam meja, sontak Aliya terkejut. Gadis itu berubah sedikit takut dan tertekan. Melihat putrinya yang terkejut dan sedikit takut Revandara berusaha meredam emosinya. Lelaki dewasa itu melangkah ke arah putrinya lalu memeluk gadis itu.
"Maafkan aku, Aliya. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Hanya saja, aku sedikit marah karena kamu berkata ingin mencari sugar daddy." Revandra dengan sabarnya menjelaskan kepada Aliya bahwa orang yang mencari sugar daddy itu, ibaratkan seseorang yang tidak mampu untuk membiayai hidupnya. Sedangkan Aliya, dia tidak kekurangan apapun. Revandra selalu menuruti kemauan gadis kecilnya.
Setelah Revandra menjelaskannya, barulah Aliya kembali ceria, dia langsung memeluk lelaki dewasa itu. Pelukannya begitu erat sehingga Revandra dapat merasakan benda kenyal menyentuh dadanya. Selama ini dia tidak pernah masalah dengan sentuhan itu, tetapi setelah apa yang terjadi tadi ketika dia melihat dan sempat meremas benda kenyal milik Aliya, rasanya kini telah berubah. Seperti ada sesuatu yang bergejolak muncul dari dalam dirinya.
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





