Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sweet Divorce

Sweet Divorce

Lima tahun membina rumah tangga, Pravara Pranatha tak pernah berniat mencintai suaminya, Pandu Laksamana. Ia yakin Pandu merasakan hal yang sama. Namun, saat ibu mertuanya mengajukan perceraian, Pandu justru menolak tegas. Prava terkejut ketika suaminya tiba-tiba mengajak memperbaiki pernikahan mereka. Di tengah rasa muak yang sudah memuncak, Prava pun mempertanyakan alasan perubahan sikap Pandu yang sangat terlambat ini setelah sekian lama mengabaikannya.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kita bahkan tidak saling berhubungan seperti kebanyakan pasangan suami istri. Bukankah kamu mencintai wanita lain? Kejar dia dan ceraikan aku."

Pandu menggeser surat perceraian yang ada di tengah-tengah meja ke arah Pravara. "Tidak ada dan tidak akan  pernah!"

...

Ipad di tangannya membuat dirinya hanya terfokus pada satu hal itu, terlihat enggan untuk meladeni yang lainnya kecuali pekerjaannya. Alat pemutar musik dengan suara keras tersumpal di telinganya, itu juga menjadi faktor kenapa dia terlihat santai walau dengan wajah serius.

"Bagaimana menurut kamu, Prava? Desainnya cukup simpel, sesuai dengan yang klien minta kemarin juga ini hasil dari diskusi dari revisi kemarin." Perkataannya yang tidak mendapatkan jawaban, membuat wanita cantik itu menggigit lidahnya gemas. Berkas di tangannya dia banting di meja dan bergerak menarik earphone ditelinga bosnya itu.

"Apa?" serunya tidak terima. Dia sedang menikmati lagu dengan menggarap pekerjaannya dengan santai. Tapi bawahannya satu ini cukup lancang untuk menghentikan kesenangannya.

"Sudah berapa kali aku katakan? Hapus kebiasaanmu mendengarkan lagu dengan volume besar, itu tidak baik bagi kesehatanmu." Kata-kata itu sudah berulang kali dia sampaikan, tapi tetap saja tidak ada yang berubah.

"Kamu ke sini hanya untuk marah-marah, Esha?" Pravara mendudukkan dirinya dengan tegak dikursinya.

"Kamu pikir aku pengangguran? Ngapain juga marah-marah sama kamu, buang-buang waktu saja." Esha memutar bola matanya malas. Dia menyodorkan berkas yang tadi dia banting pada Pravara. "Lihat ini dan berikan masukan sebelum aku memberikannya pada klien hari ini."

"Jangan warna cerah, klien wanita ini tidak suka terlalu cerah. Berikan warna beige saja untuk latarnya, kemudian ubah font ini. Terlalu formal." Komentarnya dengan singkat. "Sudah, kan? Kalau begitu keluar, aku mau menyelesaikan desaign dari Tuan Arian."

Dahi Esha berkerut dengan alis yang menukik tajam, dia mendekat pada meja dan menumpukan kedua sikunya di sana. "Bukankah deadline nya masih tiga bulan lagi? Kenapa kamu mengerjakannya sekarang? Apa yang telah terjadi?"

"Tidak ada. Aku hanya gabut dirumah."

"Ey, tidak mungkin." Esha kemudian menemukan sesuatu, "Apa ini berhubungan dengan suami dewamu itu?"

"Apa yang kamu katakan? Suami dewa apaan sih?" Pravara tidak menyangka julukan itu akan bertahan selama 5 tahun ini. "Lebih baik kamu keluar dan biarkan aku bekerja."

"Apa dia telah mengubah peraturan kalian selama di rumah? Atau dia mengubah suhu air panas di bak mandinya?" Esha terus melancarkan banyak pertanyaan dengan nada cepat, yang mana hal itu membuat Pravara semakin kesal.

"Aku benar-benar serius dengan perkataanku, Esha." Pravara dengan mood berantakannya.

"Yang mana?" Map merah telah berada di pelukannya. Esha menantang Pravara dengan kekehan geli.

Pravara menggertakkan giginya mendengar pertanyaan bodoh dari Esha. Dia sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja, moodnya buruk sejak minggu lalu. "Aku ingin bekerja," tandasnya pelan.

Esha menggelengkan kepalanya dengan napas kecil, "Baiklah, kalau kamu nggak mau berbicara dengan aku, tapi yang harus kamu tahu di sini ada aku dan Navarro. Aku pergi dulu," ucapnya sembari melenggang ke luar kantor bosnya dan juga sahabat semasa SMA-nya.

Ipad hitam itu dia banting dia atas meja cukup keras, Pravara benar-benar lelah. Ini sudah lebih dari dua minggu setelah pembicaraannya dengan suaminya, tentang surat cerai dari ibu mertuanya. Selama itu pula, Pandu terlihat sangat enggan untuk berbicara kepadanya. Mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak memperdulikan dia sama sekali.

Dan untuk mengalihkan perhatiannya, Pravara hampir mengerjakan semua projek yang dia tangani untuk bulan-bulan depan. Membuat dia bergadang dan hanya tertidur 4 jam setiap hari.

"Sebenarnya apa yang diinginkan laki-laki itu? Kenapa hanya aku jadi yang pusing sendiri, sedangkan dia asik dengan dunianya. Seolah aku sama sekali tidak dianggap dalam hidupnya." Pravara mendengus tajam. "Hampir aku lupa ,jika aku hanya seorang istri di atas kertas, bukan seorang istri yang sesungguhnya. Sial, kenapa aku jadi emosional."

Air matanya berkerumun membasahi kelopak matanya, Pravara pernah percaya jika pernikahan seperti inilah yang dia inginkan. Sayangnya hari demi hari yang dia lewati mulai membuat dia muak, memang sedari awal dia tidak berharap akan keberhasilan pernikahan ini.

Namun, bukan berarti pernikahan ini berhasil dan baik-baik saja seperti yang Pandu ucap dua minggu lalu. Pernikahan ini sudah rusak sedari awal. Tidak ada interaksi lebih yang bisa menyempurnakan pernikahan bisnis mereka.

Tidak ada dan tidak akan pernah bisa.

...

Waktu terus bergulir, jam makan siang dia lewatkan. Pravara sama sekali tidak mempunyai napsu untuk makan, dua minggu ini semua jadwal rutin miliknya berantakan tidak karuan. Yang tetap hanyalah jadwal milik suaminya.

Pukul 4 tepat, Pravara tiba di rumah. Dia turun dari mobilnya dan mengernyit aneh, di samping kendaraannya ada mobil milik seseorang yang sangat dia kenali. Berulang kali wanita itu mengecek jam dipergelangan tangannya, hanya untuk memastikan bahwa dia tidak salah melihat jam.

"Mas Pandu?" Pravara bisa melihat suaminya itu duduk di sofa ruang keluarga dengan pakaian biasa, kaos putih lengan panjang dengan celana bahan hitam yang biasanya dia pakai. Pravara seperti telah melakukan kesalahan, tapi wanita itu sama sekali tidak merasa telah melakukannya. "Tumben pulang cepat?"

Pandu mengangkat pandangannya dari layar laptopnya, dia memandang Pravara dengan tatapan datar. "Tanggal 13 hari Selasa, saya selalu pulang cepat," tandasnya dengan rasa tidak suka. Kemudian mengabaikan Pravara dan fokus kembali pada pekerjaan yang dibawanya pulang.

Pravara menggigit bibirnya kesal, kenapa pula dia harus lupa dengan hari ini. Hari yang menurutnya awal dari semua ini. Wanita itu berdeham pelan, tali tas kerjanya dia pegang dengan erat. "Maaf, aku-"

"Setengah jam lagi kita berangkat, saya tidak mau terlambat seperti tahun lalu."

Pravara hanya bisa mengangguk dan berjalan pelan menuju kamarnya. Ya, kamarnya. Hanya dia, karena Pandu memiliki kamar dia sendiri. Sedari awal pernikahan mereka telah menentukan batas masing-masing dan saat Pandu meminta pendapatnya dengan menambahan perjanjian pra nikah lainnya. Dan inilah yang diinginkan Pravara, memiliki kamar sendiri.

Tanggal 13 November adalah hari perkawinan mereka. Pernikahan yang diselenggarakan besar-besaran dengan undangan yang mencapai 2000 orang. Mengusung tema mewah dan ala negara ginseng, seluruhnya bertemakan putih yang mencerminkan ketulusan dan hati yang bersih.

Pravara sendiri tidak akan pernah melupakan pernikahan terbaik yang dia dapatkan. Meskipun bukan dengan seseorang yang dia cintai, tapi di dalam pernikahan itu ada senyum dan tawa tulus dari kedua orang tuanya dan jangan lupakan wajah masam keempat kakak laki-lakinya.

Cermin besar di depannya menangkap sempurna lekukan cantik miliknya. Seperti tahun-tahun yang lalu, Pravara menggunakan dress putih selutut yang berbeda setiap tahunnya. Bunga-bunga kecil menghiasi area leher, dada dan berakhir di pinggang. Terlihat sangat elegan dengan sepatu hak tinggi berwarna putih dengan tali mutiara.

Rambutnya dia kepang menyamping, senyum puas hadir di bibir merahnya. Pravara tidak bisa menghalau kegembiraanya untuk kali ini, dia tidak akan berbohong dia senang jika Pandu telah berbicara dengan dirinya. Dengan hal itu, dia bisa berbicara dengan baik dengan laki-laki itu tanpa rasa takut yang menggebu-gebu.

Sebelum keluar dari kamarnya, Pravara memasukkan semua yang dia butuhkan ke dalam tas hitamnya. Termasuk berkas yang sangat penting, setelah itu barulah dia pergi dengan Pandu yang terlihat sangat tampan dengan suit hitam.

Setiap tahun Pandu akan mengajaknya makan malam dengan pemandangan sunset dari atas kapal pesiar, tetapi saat mobil yang dikendarai suaminya dari tempat yang dia ketahui, Pravara kebingungan.

Wanita itu tidak berani bertanya, karena dia tahu hanya akan menjadi obat nyamuk. Pertanyaan bodoh seperti kemana mereka akan pergi adalah hal yang paling membuang tenaga oleh Pandu, dan Pravara mengerti tentang hal itu.

Jadi, saat mereka tiba disebuah jalanan panjang yang penuh dengan pohon pinus di sepanjang jalan. Pravara akhirnya tahu kemana mereka akan pergi, tetapi ternyata dia salah lagi. Mobil yang dikendarai oleh Pandu berbelok dari arah yang tidak dia ketahui.

Restoran mahal yang dipenuhi cahaya kuning yang berpendar indah, sangat memanjakan mata Pravara. Saat wanita itu turun dari mobil dia langsung berjalan dibelakang Pandu dengan langkah besarnya. Meja reservasi mereka telah didepan mata, dengan sangat anggun Pravara mengucapkan terima kasih saat menu yang mereka pesan telah datang.

Tempat ini berada di kaki bukit yang sedikit jauh dari kediaman mereka. Saat tiba di sini pukul 5 lebih 45 menit. Sepanjang makan malam itu hingga semua makanan telah tandas, tidak ada yang membuka suara. Bahkan Pandu sekarang sibuk dengan ponsel dan panggilan pekerjaan yang tidak ada habisnya.

Tiba-tiba Pravara teringat dengan sesuatu yang dia siapkan tadi, berkas itu dia keluarkan dari dalam tasnya dan menempatkannya di atas meja. Semua bekas makanan mereka diambil oleh para pelayan dan mereka tinggal menunggu makanan penutup.

"Mas, sudah bisa kita berbicara?" tanya Pravara dengan sangat hati-hati. Mata beningnya yang dipoles cantik menatap suaminya yang sering di juluki Dewa oleh Esha dengan penuh pengertian. "Aku ingin membicarakan tentang perceraian ini."

"Saya pikir kamu sudah bisa mengerti apa yang saya ucapkan kemarin, Pravara." Pandu mematikan teleponnya dan menempatkan ponselnya di samping minumannya. Kedua tangannya terlipat di depan perut.

Dengan penuh berani Pravara menggeleng keras. "Tidak. Aku tidak mengerti apa maksud kamu, dan tidak akan pernah paham. Ini sederhana, kamu hanya tinggal menandatanganinya dan semuanya selesai. Titik."

"Itu tidak semudah apa yang kamu katakan, Pravara. Semuanya akan runyam, jika kamu bertindak gegabah."

"Aku tidak gegabah, ibu Mas yang tidak sabar. Bukankah dia ingin cucu? Aku tidak bisa memilikinya, makanya beliau ingin kita bercerai." Pravara mengumpulkan semua keberaniannya untuk berkata demikian, dia berani bersumpah darah bangsawan yang melekat pada aura suami nya semakin terasa menguat.

Pandu tidak menggoyahkan pandangannya pada istrinya, dia terus menatap wajah kecil yang menantangnya untuk pertama kalinya. "Tidak perlu perceraian."

"Hah?"  Pravara membuat wajah bingung disertai rasa jengkel

Kemudian Pandu mengucapkan sesuatu yang benar-benar sama sekali tidak pernah Pravara pikirkan. "Ayo jalani rumah tangga ini bersama-sama."

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anna : Liontin Karma
8.0
Anna, model cantik berdarah Perancis, nekat menikahi pria pilihannya meski terhalang perbedaan iman. Demi cinta, ia rela mengorbankan segalanya, termasuk berpindah keyakinan menjadi mualaf. Namun, pengorbanan itu justru membawanya pada penderitaan mental dan hidup yang hancur. Di tengah kepedihan, Anna mulai meragukan keputusan besarnya memeluk Islam. Mampukah ia bangkit dari keterpurukan dan menemukan kembali jati dirinya yang sempat hilang tertelan duka?
Sampul Novel Beautiful Hurt
9.1
Marilyn terjebak dalam fitnah keji setelah sebuah pesan singkat menjadikannya kambing hitam atas hancurnya hubungan sang kakak. Christian, sang miliarder yang murka karena reputasinya tercemar, menuduh Marilyn sebagai wanita haus harta yang licik. Sebagai bentuk pembalasan dendam, Christian memaksa Marilyn masuk ke dalam pernikahan yang ia janjikan akan menjadi neraka dunia. Di tengah tuduhan tanpa bukti, Marilyn hanya bisa terdiam menghadapi kebenaran sepihak mereka.
Sampul Novel Because That Night
8.0
Dibalut rasa benci pada diri sendiri, Ariel Anata menyerahkan kesuciannya kepada Sean Rinadi di sebuah kelab malam dengan janji takkan bertemu lagi. Takdir berkata lain saat Sean ternyata adalah calon tunangan Vania, kakak Ariel. Pertemuan tak terduga ini dimanfaatkan Sean untuk mengejar cinta Ariel. Namun, Ariel justru memakai Sean sebagai alat balas dendam terhadap keluarganya yang selalu membandingkan dirinya dengan sang kakak yang dianggap lebih sempurna.
Sampul Novel Istri kecilku
8.8
Membangun keluarga harmonis adalah impian setiap pasangan, namun jalan menuju kebahagiaan selalu penuh rintangan. Bella dan Aris kini berada di titik persimpangan saat kesetiaan dan kondisi ekonomi menguji keteguhan cinta mereka. Banyak pernikahan hancur karena tekanan serupa, dan kini nasib rumah tangga mereka menjadi taruhan. Mampukah keduanya bertahan menghadapi badai ujian ini, ataukah mereka akan menyerah pada keadaan yang kian menghimpit?
Sampul Novel Jesslyn Terpaksa Menikah
9.1
Jesslyn menolak keras keinginan ayahnya untuk menjodohkannya secara sepihak. Di tengah luka hati yang belum pulih akibat baru putus cinta, ia justru dipaksa menikah dengan pria asing yang kabarnya sudah memiliki kekasih. Tanpa rasa cinta dan kepercayaan yang tersisa, Jesslyn harus merelakan masa mudanya demi rencana orang tua yang tak bisa ia hindari. Akankah pernikahan tanpa perasaan ini membawa kebahagiaan atau justru menambah penderitaan baru bagi hidupnya?
Sampul Novel Jika Nanti Jatuh Cinta Lagi
8.6
Bagi Ervano Bhalendra, pernikahan adalah masa lalu yang ingin ia lupakan. Setelah kegagalan rumah tangga dengan Irina dan luka mendalam akibat kehilangan Elvin Eleanor, chef tampan ini memilih menutup hati rapat-rapat. Namun, tembok pertahanan Ervan runtuh seketika saat Magisa Prastiwi hadir dalam hidupnya. Sosok Magisa mampu mencairkan sikap kaku Ervan, membangkitkan kembali semangatnya untuk mengejar cinta sejati yang sempat hilang dari radarnya.