
Surat Cinta Tanpa Nama
Bab 2
“Itu dulu,” balas Niko, tidak ada ekspresi yang menjelaskan raut bersalah di sana.
“Sekarang gue, pacarnya.” Ana menyahut, membuat Niko menoleh, namun cowok itu ikut mengangguk, seolah membenarkan ucapan Ana.
Tentu, tentu itu membuat Leta semakin panas, emosinya semakin meletup.
“Jelasin semuanya ke gue! Bilang kalo ini cuma akal-akalan kalian, kan?” Leta menatap kedua remaja itu, rasa sesak semakin menyeruak ke dalam dadanya.
Leta berharap ini semua hanya candaan belaka. Atau bisa saja hanya sebuah prank, bukan?
Tidak ada sahutan, tetapi Ana tampak mengedikkan bahu seakan tidak tahu, lalu Niko hanya diam enggan menatap Leta ataupun menjawab pertanyaan gadis itu.
Leta akhirnya mengembuskan napas kasar, kenyataan itu semua masih tidak bisa dia percaya dengan mudahnya. Terlebih lagi, Niko tidak mau menjelaskan apapun mengenai alasan mengapa semuanya menjadi seperti ini.
Mengapa semua kenyataan tidak terduga itu harus Leta terima, tanpa alasan yang bahkan belum dia ketahui dari Niko, pacarnya?
“Gue rasa, tanpa perlu gue jelasin, lo udah tau status lo sekarang apa?” Niko melontarkan jawaban setelah beberapa saat diam, Ana pun ikut tersenyum miring, tetapi Niko tidak menyadarinya.
Leta yang semula menatap bawah dengan lamunannya, spontan mendongak, memastikan telinganya tidak salah dengar. “Status gue? Pacar lo, kan?”
“Bodoh,” hardik Niko, berdecak pelan.
“Mantan, Let. Secara kan, dia udah jadi pacar gue, artinya lo udah jadi mantan dia, dong,” sahut Ana, membuat Leta mengepalkan tangannya dan menggeram kesal.
“Lo jangan ikut campur! Ini semua pasti ulah lo, kan? Jangan munafik lo!” sentak Leta, Ana pura-pura tidak mendengar, mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Gue minta kita cuma sampe di sini, mulai sekarang lo bukan siapa-siapa gue lagi. Atau perlu, lupain semua masa lalu gue sama lo, anggep aja kita nggak pernah kenal.”
“Apa? L–lo mutusin gue? Cuma demi cewek busuk kayak dia?” Leta menggeleng pelan, tertawa hambar dengan rasa sesak yang menghantam relung dadanya. Leta sekuat mungkin tidak ingin mengeluarkan air mata di depan cowok itu.
“Lo berengsek, Nik! Lo cowok paling jahat yang gue temuin selama hidup! Gue benci sama lo ....” Suara Leta melirih di akhir kalimat. Dia berbalik, melangkah cepat dengan perasaan yang hancur.
Air mata itu meluruh, membasahi kedua pipi Leta bersamaan dengan rasa sakit yang menghantam relung hatinya. Isak tangis terdengar menyakitkan, sesak memenuhi rongga dadanya.
Beruntung toilet itu sepi, membuat Leta bisa mengeluarkan semua air matanya tanpa henti.
Orang mungkin akan menganggapnya cengeng, namun dia sama sekali tidak peduli. Perasaannya saat ini telah hancur, Leta tidak bisa berbohong jika dia kecewa dengan Niko. Dia amat sangat membenci cowok itu mulai detik ini.
Namun, Leta juga tidak bisa berbohong jika dirinya masih cinta dengan cowok itu, hampir setahun bersama, Leta sudah menganggap Niko segalanya, dia tidak akan bisa melupakan semua kebersamaannya dengan mudah.
“G–gue ... salah apa, sih, sama lo, Nik?” lirih Leta di sela-sela isakannya.
Leta mengaku, dia masih terkejut dan tidak menyangka dengan keputusan Niko. Terlampau cepat, mendadak, dan tentu tanpa sepengetahuan dirinya.
Entah sejak kapan terakhir kali Leta melihat senyuman hangat dari Niko, beberapa hari belakangan ini Leta hanya mendapat sikap cuek dari cowok itu.
“Kenapa, sih? Kenapa harus lo?” tanya Leta, menggeleng pelan, kepalanya menunduk membiarkan sisa bulir air matanya terus menetes.
Rasa sayangnya terhadap Niko bukan hanya sebatas omong kosong, Leta memang tidak pernah main-main dengan perasaan. Namun, mengapa dia yang serius mencintai Niko, tetapi dia pula yang harus dipermainkan? Kenapa bukan gadis lain saja?
Seolah, selama ini Niko tidak benar-benar mencintai Leta, seakan hubungan yang mereka jalani sejauh ini hanya sebuah permainan tanpa juara, hanya untuk bersenang-senang, dan jika sudah merasa bosan, dengan seenak hati Niko akan membuangnya.
Sejahat itu, jika Niko memang demikian nyatanya. Niko tidak membalas perasaan Leta, meski Leta mencintai Niko dengan setulus hatinya.
Leta menyadari, mungkin Niko bukan jodohnya, tetapi mengapa harus Leta yang merasakan kekecewaan?
“Gue nyesel cinta sama lo, Nik. Gue emang bodoh bisa sayang sama cowok gila kayak lo. Bener-bener bodoh.” Leta tersenyum miris, membuang napas panjang lalu mengusap sisa air mata di pipinya dengan kasar.
Anda Mungkin Juga Suka





