
Surat Cinta Tanpa Nama
Bab 3
“Bisa-bisanya lo nangisin cowok brengsek kayak dia. Bodoh lo, Let.”
Leta tertawa hambar, berdiri dan membuka pintu kamar mandi lalu menuju wastafel. Menatap pantulan dirinya di dalam cermin, Leta berdecak malas, wajahnya begitu sembab akibat menangisi cowok yang bahkan tidak punya perasaan bersalah sedikit pun terhadapnya.
“Sialan, muka gue jelek gara-gara nangisin lo,” decak Leta kesal. Dia menyalakan air kran, kemudian membasuh wajahnya dengan kasar.
“Dasar gila, dia emang cowok gila dan nggak punya hati nurani,” hardik Leta pelan. Bermaksud mengatai Niko meski cowok itu tidak ada di sana.
Selesai membasuh muka, Leta mengambil tisu lalu mengusap wajahnya dan kembali menatap cermin, tampak lebih segar meski sedikit sembab. Sesaat tersenyum, sebelum menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
“Gue tau ini sulit, tapi gue nggak mau mereka liat gue lemah. Gimana pun itu, gue harus tetep baik-baik aja,” gumam Leta, disusul dengan sebuah senyum paksa di wajahnya. Leta lalu berbalik, membuka pintu toilet dan berjalan keluar menuju kelasnya.
***
Gadis bernama Nisa itu membulatkan matanya terkejut saat mendengar ucapan Leta yang mengatakan jika dia baru saja putus dari Niko. Syok, Nisa sampai-sampai menutup mulut sembari menggelengkan kepala. Jelas, dia cukup tidak percaya dengan pernyataan Leta.
“Demi apa, sih? Ini gue bener-bener nggak nyangka, Let!”
Leta memutar bola matanya melihat reaksi Nisa. “Biasa aja sih, Nis. Lo kayak nggak tau gue aja.”
“Ya bukan gitu, maksud gue, tuh, ini harusnya jadi hubungan terakhir lo selama di SMA, Let. Jelas lo udah mau setahun pacaran sama Niko, ini rekor, loh. Astaga!” balas Nisa heboh.
Untung saja saat ini masih jam kosong, jika tidak Leta tidak akan tahu bagaimana reaksi teman sekelasnya yang lain. Suara Nisa yang tergolong keras dan cukup ngegas, tidak jarang memang sering membuat Leta malu bukan main. Apalagi, gadis satu bangkunya itu termasuk salah satu jajaran para siswi tukang gosip.
“Apaan, sih? Lo jangan sampe nyebar berita yang nggak-nggak lagi, ya, Nis. Awas aja lo!” ancam Leta sebelum Nisa mengatakan fakta yang tidak benar tentang dirinya dan Niko ke semua orang.
Nisa berdecak kesal menanggapinya. “Suudzon mulu lo. Gue, kan, cuma syok aja, Let. Nggak mungkinlah, gue nyebar berita yang nggak baik ini. Tapi kalo tanpa gue sebarin udah pada tau, yah, itu berarti bukan salah gue.”
“Makanya jangan ember, di sini semua orang juga tau kalo lo tukang gosip,” balas Leta santai. Membuat Nisa mendengkus keras dan langsung membuka buku paketnya dengan kasar. Meski begitu, sedetik saja dia kembali kepo.
“Eh, tapi by the way, gimana ceritanya lo bisa putus? Perasaan, gue nggak pernah liat lo berantem sama dia. Ya, kan?” tanya Nisa setelahnya, buku paket yang dia buka menjadi terlantarkan dalam sekejap.
Leta yang sedari tadi sibuk membolak-balik halaman buku paket seketika menghentikan tangannya. Sejenak terdiam, sebelum akhirnya membuang napas panjang.
Pertanyaan yang Nisa lontarkan sama seperti apa yang ada di benaknya saat ini. Menjadi tanda tanya, mengenai sebab Niko mengakhiri hubungannya.
“Gue emang nggak pernah berantem sama dia, tapi gue rasa akhir-akhir ini sikapnya cuek ke gue. Nggak tau kenapa, gue rasa semua ini karena orang ketiga.”
Anda Mungkin Juga Suka





