
Sugar Daddyku Kakak Iparku
Bab 2
Malam berlalu dalam keheningan. Setelah pembicaraan mengejutkan itu, Naira merasa dunianya benar-benar jungkir balik. Rafael-kakak iparnya sendiri-telah mengambil alih hidupnya dengan cara yang tak pernah ia bayangkan.
Ia duduk di pojok kamarnya, mencoba menenangkan pikirannya yang kusut. Kertas DO dari kampus masih tergeletak di meja kecil, seperti pengingat kejam bahwa semua ini bukan mimpi. Di sisi lain, suara langkah kaki Rafael di lorong rumah seolah menjadi ancaman baru dalam hidupnya.
**"Aku milikmu? Maksudnya apa?"** pertanyaan itu terus terulang di kepalanya, menciptakan gejolak rasa takut, marah, dan entah apa lagi yang sulit ia definisikan.
---
**Pagi di Rumah yang Dingin**
Naira terbangun oleh suara pintu yang dibanting keras. Di luar, suara Rossa menggema di ruang tamu.
"Bangun cepat, dasar pemalas! Jangan harap ada sarapan kalau kamu belum cuci semua piring di dapur!"
Naira menghela napas berat. Ia menyeret tubuhnya yang lelah ke dapur. Tumpukan piring kotor sudah menanti, seperti biasa. Ia membersihkan semuanya tanpa banyak bicara, menahan rasa lapar yang terus mencubit perutnya.
Di tengah-tengah pekerjaannya, Ayla muncul dengan wajah angkuh.
"Kamu tahu nggak, Na?" katanya dengan nada sinis. "Aku dengar kamu berhenti kuliah. Akhirnya, ya. Kamu sadar juga kalau kamu nggak layak ada di sana."
Naira hanya diam, mencoba mengabaikan provokasi itu. Tapi Ayla terus mendekat, memegang gelas yang baru saja selesai dicuci Naira, lalu menjatuhkannya ke lantai dengan sengaja.
"Ups, pecah. Kamu harus lebih hati-hati," katanya sambil tertawa kecil.
Kesabaran Naira nyaris habis, tapi ia tahu tak ada gunanya melawan. Ia menunduk, memunguti pecahan kaca dengan tangan telanjang, sementara Ayla berdiri di atasnya seperti ratu yang menang.
---
**Pertemuan Rahasia**
Hari itu, Rafael mengirim pesan.
**"Kita perlu bicara. Datang ke apartemenku malam ini."**
Pesan singkat itu membuat perut Naira bergejolak. Ia ingin mengabaikannya, tapi rasa takut membuatnya patuh. Malam itu, ia berjalan ke apartemen Rafael dengan langkah berat.
Pintu terbuka sebelum ia sempat mengetuk. Rafael berdiri di sana, mengenakan kemeja putih yang digulung hingga siku. Wajahnya serius, tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Naira tak bisa menebak apa yang ia pikirkan.
"Masuk," perintah Rafael singkat.
Naira melangkah masuk dengan gugup. Apartemen itu terasa terlalu mewah untuknya. Perabotan mahal, lampu gantung kristal, dan aroma kopi yang menguar di udara membuatnya semakin merasa kecil.
"Kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?" tanya Rafael, suaranya rendah tapi tajam.
Naira menggeleng pelan.
Rafael menghela napas panjang. "Aku tidak ingin hubungan ini berantakan. Kita sudah memulai sesuatu yang... sulit. Tapi aku perlu memastikan kamu mengerti peranmu."
"Peran?" Naira mengulang kata itu dengan nada bingung.
"Ya, peran," Rafael menatapnya tajam. "Aku akan memastikan kamu mendapatkan uang untuk kuliahmu. Aku akan menanggung semua kebutuhanmu. Tapi, sebagai gantinya..."
Rafael berhenti sejenak, membuat Naira menahan napas.
"Sebagai gantinya, kamu harus patuh. Tidak ada pria lain. Tidak ada rahasia. Hanya aku yang punya hak atas kamu."
Kata-kata itu seperti cambuk di telinga Naira. "Kak... ini salah. Aku nggak bisa-"
"Jangan panggil aku Kak!" potong Rafael, nadanya tajam. "Ketika kita berdua, aku bukan kakak iparmu. Aku... pria yang sudah membeli waktumu."
Naira merasa tubuhnya gemetar. "Kenapa kamu melakukan ini? Kamu kan sudah punya segalanya."
"Aku nggak akan menjelaskan alasanku," Rafael membuang muka, suaranya terdengar dingin. "Yang perlu kamu tahu, aku tidak ingin melihatmu bersama orang lain."
---
**Awal dari Kehancuran**
Hari-hari berlalu seperti mimpi buruk yang terus berulang. Di rumah, Naira harus menghadapi Rossa dan Ayla yang semakin memperlakukannya seperti budak. Sementara di malam hari, ia dipanggil Rafael untuk memenuhi keinginannya.
Malam itu, Rafael membawanya ke hotel yang sama. Naira merasa dirinya tenggelam semakin dalam ke dalam jurang yang tidak bisa ia hindari.
"Kamu harus belajar menikmati ini, Naira," bisik Rafael saat mereka berdua di kamar. "Kamu sudah memilih jalan ini. Jadi berhenti melawan."
"Aku nggak memilih ini," jawab Naira dengan suara bergetar. "Aku dipaksa oleh keadaan. Kamu tahu itu."
"Tapi kamu tetap di sini," Rafael menyeringai kecil. "Itu berarti kamu butuh aku."
Air mata Naira jatuh tanpa bisa ia tahan. "Kamu nggak tahu bagaimana rasanya menjadi aku."
Rafael mendekat, mengangkat dagu Naira dengan lembut. "Aku tahu lebih dari yang kamu kira. Tapi ini dunia yang kejam, Naira. Kamu harus belajar bertahan."
---
**Benturan Batin**
Malam itu, setelah kembali ke rumah, Naira tak bisa tidur. Setiap kata Rafael terus terngiang di kepalanya. Ia tahu Rafael benar-dunia memang kejam. Tapi haruskan ia menyerah pada keadaan?
Di pagi hari, ketika ia melihat wajah Rossa dan Ayla, Naira tahu satu hal: ia harus menemukan cara untuk keluar dari semua ini. Tapi bagaimana caranya, jika ia sudah terlalu dalam?
Anda Mungkin Juga Suka





