Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sugar Daddyku Kakak Iparku

Sugar Daddyku Kakak Iparku

Hidup Naira Avicena hancur setelah ayahnya wafat. Diperlakukan bak budak oleh ibu tiri dan putus kuliah, ia terpaksa menjadi sugar baby demi uang. Tak disangka, pria misterius yang menyewanya adalah Rafael Adriano, kakak iparnya sendiri. Terjebak dalam kesepakatan rahasia yang penuh air mata dan penyesalan, Naira menjalani kehidupan ganda yang kelam. Namun, di balik rasa sakit itu, benih cinta yang rumit justru mulai tumbuh di antara mereka berdua.
Bab
Bagikan

Bab 3

Malam semakin larut, tapi Naira masih duduk di sudut kamar kecilnya. Di hadapannya, layar ponsel terus menyala, memperlihatkan pesan dari Rafael yang baru saja masuk.

Rafael: "Besok malam, aku ingin kamu di sini lagi. Jangan terlambat."

Pesan itu pendek, dingin, tapi terasa seperti perintah yang tak bisa ditolak. Naira menggenggam ponselnya erat-erat, napasnya terasa berat. Ia merasa seperti boneka yang sedang dimainkan, tetapi pada saat yang sama, ia tahu Rafael adalah satu-satunya alasan ia masih bisa bertahan.

"Kenapa harus dia?" bisiknya lirih, air mata kembali mengalir.

Kehidupan di Rumah yang Membara

Pagi itu, suasana rumah tidak berbeda dari biasanya-penuh ejekan dan kerja tanpa henti. Naira sudah bangun lebih awal dari siapa pun, menyelesaikan pekerjaan rumah agar tidak mendapat teguran. Namun, sekeras apa pun usahanya, Rossa selalu menemukan alasan untuk mempermalukannya.

"Naira!" suara melengking itu membuat Naira terhenti. Ia mendapati Rossa berdiri di depan dapur, melipat tangan dengan wajah penuh amarah. "Kenapa baju ini masih ada noda? Apa kamu bahkan tahu cara mencuci?"

Naira menghela napas dalam, mencoba menjelaskan. "Itu noda yang sudah lama, Bu. Aku sudah coba-"

"Berhenti panggil aku 'Bu'! Aku bukan ibumu!" potong Rossa. "Kamu ini memang nggak berguna! Kalau aku tahu kamu hanya akan merepotkan, aku nggak akan pernah menikah dengan ayahmu."

Kalimat itu menusuk hati Naira. Ia menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh.

"Dan jangan berdiri saja di situ! Ambil baju ini dan cuci ulang! Aku tidak mau ada yang setengah-setengah di rumah ini!"

Naira mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia tahu, melawan hanya akan memperburuk situasi.

Ayla dan Permainan Kotor

Tidak hanya Rossa, Ayla juga selalu memastikan hidup Naira semakin sulit. Siang itu, ketika Naira sedang menyelesaikan cucian, Ayla masuk ke dapur dengan wajah licik.

"Naira, aku butuh bantuanmu," katanya dengan nada manis yang dibuat-buat.

Naira mendongak, mencoba menebak apa yang sedang direncanakan kakak tirinya. "Apa yang kamu mau?"

Ayla mengangkat alis, pura-pura tersinggung. "Santai, dong. Aku cuma mau kamu ambilkan pesanan makanan di ujung jalan. Aku malas keluar."

"Tapi aku masih cuci-"

"Cepat, atau aku bilang ke Mama kalau kamu malas-malasan di rumah!" potong Ayla dengan nada penuh ancaman.

Dengan berat hati, Naira meletakkan cucian dan mengambil uang yang dilemparkan Ayla ke meja. Ia tahu, menolak hanya akan membuatnya mendapat masalah.

Pertemuan Malam Kedua

Naira tiba di apartemen Rafael dengan langkah ragu. Di pintu, ia kembali merasakan debaran jantungnya yang tak terkendali. Ia mengetuk pintu dengan pelan, dan tak lama kemudian Rafael membukanya.

Pria itu mengenakan kemeja hitam yang membuatnya terlihat lebih dingin dari biasanya. Wajahnya serius, tanpa senyuman.

"Kamu terlambat," katanya singkat.

Naira menunduk. "Maaf, ada pekerjaan di rumah."

Rafael hanya mengangguk, mempersilakannya masuk. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak perlahan.

"Duduk," perintah Rafael, menunjuk sofa di ruang tamu.

Naira mengikutinya tanpa banyak bicara. Ketika ia duduk, Rafael mendekatinya, berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit ditebak.

"Kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini lagi?" tanyanya dengan nada rendah.

Naira menggeleng pelan.

"Aku ingin tahu sejauh mana kamu bisa bertahan." Rafael menatapnya tajam, seolah menembus pikirannya. "Kamu bilang ini hanya karena kebutuhan, tapi aku rasa ada lebih dari itu."

"Apa maksudmu?" suara Naira terdengar lemah.

Rafael menyeringai tipis. "Aku melihat cara kamu memandangku, Naira. Ada kebencian, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan kamu sendiri tidak mau akui."

Wajah Naira memerah. Ia menggigit bibirnya, mencoba menyangkal. "Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan."

"Tentu saja kamu nggak tahu." Rafael membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Naira. "Karena kamu terlalu sibuk berbohong pada dirimu sendiri."

Naira merasa dadanya sesak. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya seolah terpaku di tempat.

"Dengar, Naira," Rafael melanjutkan, suaranya menjadi lebih lembut namun tetap mendominasi. "Aku nggak peduli apa yang kamu rasakan sekarang. Yang aku tahu, kamu butuh aku, dan aku... tidak akan pernah melepaskanmu."

Kepasrahan dan Rasa Bersalah

Malam itu, Naira kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa semakin terikat pada Rafael, tapi di sisi lain, rasa bersalah pada dirinya sendiri semakin menggunung.

"Apa yang aku lakukan?" gumamnya, menatap bayangan dirinya di cermin kecil yang sudah retak.

Ia tahu hubungannya dengan Rafael salah. Tapi apa ia punya pilihan? Rafael adalah satu-satunya orang yang memberikan apa yang ia butuhkan saat ini.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk keras. "Naira! Cepat ke ruang tamu!" suara Rossa terdengar tajam.

Dengan napas berat, Naira membuka pintu dan melangkah ke ruang tamu. Di sana, Rossa dan Ayla sudah menunggunya dengan wajah penuh kebencian.

"Apa ini?" Rossa melemparkan sebuah amplop ke arah Naira.

Naira membukanya dengan tangan gemetar. Isinya adalah cek yang dikirim Rafael sebagai pembayaran untuk keperluan kuliahnya.

"Siapa yang ngasih ini?" tanya Rossa dengan nada curiga.

Naira tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa diam, berharap mereka tidak akan mengorek lebih jauh.

"Jangan-jangan kamu..." Rossa berhenti, lalu menatap Naira dengan tatapan penuh penghinaan. "Kamu jual diri, ya?!"

Naira terkejut, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Aku nggak-"

"Bohong!" Rossa menunjuk wajahnya dengan penuh kemarahan. "Aku tahu kamu pasti melakukan sesuatu yang kotor! Dasar anak tidak tahu malu!"

Ayla ikut tertawa mengejek. "Pantas saja kamu tiba-tiba dapat uang. Ternyata kamu lebih murahan dari yang aku kira."

Air mata Naira mengalir deras, tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah apa-apa.

Di malam yang sunyi itu, Naira duduk di kamarnya yang gelap, memeluk lututnya erat-erat. Hanya ada satu pikiran di kepalanya: "Sampai kapan aku bisa bertahan?"

(To Be Continued...)

Bab ini bisa terus dikembangkan dengan lebih banyak adegan emosional, interaksi antara Naira dan Rafael, serta ketegangan di dalam rumah. Apakah Anda ingin menambahkan lebih banyak detail atau melanjutkan ke konflik besar berikutnya?**Bab 2: Jerat Tanpa Jalan Keluar (Lanjutan)**

Malam semakin larut, tapi Naira masih duduk di sudut kamar kecilnya. Di hadapannya, layar ponsel terus menyala, memperlihatkan pesan dari Rafael yang baru saja masuk.

**Rafael:** *"Besok malam, aku ingin kamu di sini lagi. Jangan terlambat."*

Pesan itu pendek, dingin, tapi terasa seperti perintah yang tak bisa ditolak. Naira menggenggam ponselnya erat-erat, napasnya terasa berat. Ia merasa seperti boneka yang sedang dimainkan, tetapi pada saat yang sama, ia tahu Rafael adalah satu-satunya alasan ia masih bisa bertahan.

"Kenapa harus dia?" bisiknya lirih, air mata kembali mengalir.

---

**Kehidupan di Rumah yang Membara**

Pagi itu, suasana rumah tidak berbeda dari biasanya-penuh ejekan dan kerja tanpa henti. Naira sudah bangun lebih awal dari siapa pun, menyelesaikan pekerjaan rumah agar tidak mendapat teguran. Namun, sekeras apa pun usahanya, Rossa selalu menemukan alasan untuk mempermalukannya.

"Naira!" suara melengking itu membuat Naira terhenti. Ia mendapati Rossa berdiri di depan dapur, melipat tangan dengan wajah penuh amarah. "Kenapa baju ini masih ada noda? Apa kamu bahkan tahu cara mencuci?"

Naira menghela napas dalam, mencoba menjelaskan. "Itu noda yang sudah lama, Bu. Aku sudah coba-"

"Berhenti panggil aku 'Bu'! Aku bukan ibumu!" potong Rossa. "Kamu ini memang nggak berguna! Kalau aku tahu kamu hanya akan merepotkan, aku nggak akan pernah menikah dengan ayahmu."

Kalimat itu menusuk hati Naira. Ia menggigit bibirnya, menahan air mata yang hampir jatuh.

"Dan jangan berdiri saja di situ! Ambil baju ini dan cuci ulang! Aku tidak mau ada yang setengah-setengah di rumah ini!"

Naira mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia tahu, melawan hanya akan memperburuk situasi.

---

**Ayla dan Permainan Kotor**

Tidak hanya Rossa, Ayla juga selalu memastikan hidup Naira semakin sulit. Siang itu, ketika Naira sedang menyelesaikan cucian, Ayla masuk ke dapur dengan wajah licik.

"Naira, aku butuh bantuanmu," katanya dengan nada manis yang dibuat-buat.

Naira mendongak, mencoba menebak apa yang sedang direncanakan kakak tirinya. "Apa yang kamu mau?"

Ayla mengangkat alis, pura-pura tersinggung. "Santai, dong. Aku cuma mau kamu ambilkan pesanan makanan di ujung jalan. Aku malas keluar."

"Tapi aku masih cuci-"

"Cepat, atau aku bilang ke Mama kalau kamu malas-malasan di rumah!" potong Ayla dengan nada penuh ancaman.

Dengan berat hati, Naira meletakkan cucian dan mengambil uang yang dilemparkan Ayla ke meja. Ia tahu, menolak hanya akan membuatnya mendapat masalah.

---

**Pertemuan Malam Kedua**

Naira tiba di apartemen Rafael dengan langkah ragu. Di pintu, ia kembali merasakan debaran jantungnya yang tak terkendali. Ia mengetuk pintu dengan pelan, dan tak lama kemudian Rafael membukanya.

Pria itu mengenakan kemeja hitam yang membuatnya terlihat lebih dingin dari biasanya. Wajahnya serius, tanpa senyuman.

"Kamu terlambat," katanya singkat.

Naira menunduk. "Maaf, ada pekerjaan di rumah."

Rafael hanya mengangguk, mempersilakannya masuk. Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya, hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak perlahan.

"Duduk," perintah Rafael, menunjuk sofa di ruang tamu.

Naira mengikutinya tanpa banyak bicara. Ketika ia duduk, Rafael mendekatinya, berdiri di depannya dengan tatapan yang sulit ditebak.

"Kamu tahu kenapa aku memanggilmu ke sini lagi?" tanyanya dengan nada rendah.

Naira menggeleng pelan.

"Aku ingin tahu sejauh mana kamu bisa bertahan." Rafael menatapnya tajam, seolah menembus pikirannya. "Kamu bilang ini hanya karena kebutuhan, tapi aku rasa ada lebih dari itu."

"Apa maksudmu?" suara Naira terdengar lemah.

Rafael menyeringai tipis. "Aku melihat cara kamu memandangku, Naira. Ada kebencian, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang bahkan kamu sendiri tidak mau akui."

Wajah Naira memerah. Ia menggigit bibirnya, mencoba menyangkal. "Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan."

"Tentu saja kamu nggak tahu." Rafael membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Naira. "Karena kamu terlalu sibuk berbohong pada dirimu sendiri."

Naira merasa dadanya sesak. Ia ingin berteriak, ingin lari, tapi tubuhnya seolah terpaku di tempat.

"Dengar, Naira," Rafael melanjutkan, suaranya menjadi lebih lembut namun tetap mendominasi. "Aku nggak peduli apa yang kamu rasakan sekarang. Yang aku tahu, kamu butuh aku, dan aku... tidak akan pernah melepaskanmu."

---

**Kepasrahan dan Rasa Bersalah**

Malam itu, Naira kembali ke rumah dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa semakin terikat pada Rafael, tapi di sisi lain, rasa bersalah pada dirinya sendiri semakin menggunung.

"Apa yang aku lakukan?" gumamnya, menatap bayangan dirinya di cermin kecil yang sudah retak.

Ia tahu hubungannya dengan Rafael salah. Tapi apa ia punya pilihan? Rafael adalah satu-satunya orang yang memberikan apa yang ia butuhkan saat ini.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk keras. "Naira! Cepat ke ruang tamu!" suara Rossa terdengar tajam.

Dengan napas berat, Naira membuka pintu dan melangkah ke ruang tamu. Di sana, Rossa dan Ayla sudah menunggunya dengan wajah penuh kebencian.

"Apa ini?" Rossa melemparkan sebuah amplop ke arah Naira.

Naira membukanya dengan tangan gemetar. Isinya adalah cek yang dikirim Rafael sebagai pembayaran untuk keperluan kuliahnya.

"Siapa yang ngasih ini?" tanya Rossa dengan nada curiga.

Naira tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa diam, berharap mereka tidak akan mengorek lebih jauh.

"Jangan-jangan kamu..." Rossa berhenti, lalu menatap Naira dengan tatapan penuh penghinaan. "Kamu jual diri, ya?!"

Naira terkejut, wajahnya memerah karena malu dan marah. "Aku nggak-"

"Bohong!" Rossa menunjuk wajahnya dengan penuh kemarahan. "Aku tahu kamu pasti melakukan sesuatu yang kotor! Dasar anak tidak tahu malu!"

Ayla ikut tertawa mengejek. "Pantas saja kamu tiba-tiba dapat uang. Ternyata kamu lebih murahan dari yang aku kira."

Air mata Naira mengalir deras, tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan mengubah apa-apa.

Di malam yang sunyi itu, Naira duduk di kamarnya yang gelap, memeluk lututnya erat-erat. Hanya ada satu pikiran di kepalanya: **"Sampai kapan aku bisa bertahan?"**

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JQK" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JQK
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 10 Miliar Menjadi Pelakor
8.3
Demi membiayai operasi ginjal ayahnya, Calla nekat masuk ke klub malam hingga bertemu Lucian Donovan. Lucian menawarkan 10 miliar rupiah jika Calla mampu menghancurkan rumah tangga Caspian Hawthorne. Calla terkejut karena Caspian adalah pria culun yang dulu ia abaikan saat SMP. Kini, Caspian telah berubah menjadi sosok miliarder yang dingin dan berkuasa. Terjepit kemiskinan, Calla harus memilih antara martabat atau menjadi pelakor demi bertahan hidup.
Sampul Novel Aku Tidak Akan Pernah Diam Saat Keluargaku Terancam
9.6
Adikara, duda berkuasa yang divonis mandul, melampiaskan rasa frustrasinya melalui hubungan singkat yang ceroboh. Takdir mempertemukannya dengan Alara, model 19 tahun sekaligus putri bawahannya. Setelah malam tragis yang merenggut kesucian Alara, kejutan besar muncul sebulan kemudian saat Alara mengaku hamil. Kini, di tengah perbedaan usia 15 tahun dan rahasia medisnya, Adikara harus memilih: bertanggung jawab atau menghancurkan masa depan gadis itu demi egonya.
Sampul Novel Dua Sahabat yang Bercerai
8.7
Mely dan sahabatnya, Winda, memutuskan untuk menikah dengan dua bersaudara dari Keluarga Wicaksono yang kaya raya. Namun, di hari pernikahan mereka, Riko Wicaksono yang merupakan seorang dokter justru pergi meninggalkan Mely demi membantu mantan kekasihnya mencari anjing yang hilang. Kepergian Riko memicu serangan jantung fatal pada nenek Mely hingga meninggal dunia. Diliputi rasa duka dan kekecewaan mendalam atas sikap dingin suami mereka, kedua sahabat ini sepakat untuk mengajukan gugatan cerai, meninggalkan penyesalan mendalam bagi dua bersaudara Wicaksono.
Sampul Novel Hasrat Yang Tertunda
8.2
Megan White, seorang penulis naskah ternama, mengalami kecelakaan tragis yang menjungkirbalikkan hidupnya dalam semalam. Saat terbangun, ia mendapati dirinya berada di kediaman mewah milik miliarder Riley Charles. Tanpa peringatan, pria berwajah dingin itu mengklaim bahwa Megan adalah istrinya. Kini, kedamaian hidup Megan lenyap sepenuhnya saat ia terperangkap dalam status baru sebagai nyonya di istana Riley yang penuh misteri dan kemegahan.
Sampul Novel Jerat Cinta Sang CEO
8.9
Terusir dari rumah oleh ayahnya sendiri membuat Emma Karina terdesak hingga akhirnya menyetujui pernikahan kontrak dengan Ethan Marvino. Sebagai CEO penguasa bisnis di Pulau Bali, Ethan sangat protektif dan mengawasi setiap gerak-gerik Emma secara ketat. Namun, stabilitas hubungan mereka terancam saat Emma tidak sengaja mengungkap rahasia besar yang disembunyikan Ethan. Akankah ikatan mereka bertahan setelah kebenaran terungkap atau justru hancur selamanya?
Sampul Novel LILYA - Gadis yang Digadaikan Keluarga
8.2
Demi menyelamatkan bisnis keluarga dari kebangkrutan, Lilya terpaksa menggantikan kakaknya, Kenanga, untuk menikahi pria dari keluarga Gunawan yang dirumorkan sebagai pak tua mesum. Namun, saat pernikahan berlangsung, sosok misterius bernama Evan itu ternyata masih muda dan tampan. Evan membantah semua tuduhan buruk yang selama ini Lilya dengar. Akankah Lilya menemukan kebahagiaan bersama Evan, ataukah obsesi Kenanga akan menghancurkan rumah tangga mereka?