Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Sugar Daddy untuk Pricilla

Sugar Daddy untuk Pricilla

Priscilla mengenal gairah dewasa sejak Aron hadir dalam hidupnya. Namun, ia harus pindah ke Amerika demi pendidikan dan tinggal bersama Derry, adik tiri ayahnya. Jauh dari Aron tak menghentikan hasrat Priscilla yang sudah terlanjur membara. Di sana, ia justru menemukan pelampiasan baru pada sang paman. Ikuti kisah eksplisit Priscilla dalam mengejar kepuasan batin yang penuh risiko dan godaan terlarang di perantauan. Khusus pembaca dewasa 21 tahun ke atas.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Mau jalan-jalan?" Aron menatap ku yang sedang salah tingkah hebat.

Pria itu tersenyum lembut seolah tidak terjadi apa-apa.

Sedikit menyesal, mengapa kami memiliki kesempatan sedekat ini setelah hampir berpisah.

"Boleh, kemana?"

"Aku punya tempat, kamu mau naik motor?"

Aron menatap penampilanku, rok jeans sepaha yang ketat tidak memungkinkan ku untuk naik motor.

Aku menggeleng lemah, "kamu bisa bawa mobil?"

Aron mengangguk, dan aku tersenyum. "Kita naik mobil saja!"

Pria itu membawa mobilku membelah padatnya jalan ibu kota, sedikit lebih jauh memasuki daerah pinggir kota.

Aron membelokkan mobilku kearah jalanan setapak yang menanjak, dikanan kirinya banyak pepohonan hingga kami menemukan bangunan seperti saung namun memiliki jarak.

Bangunan berbentuk segitiga, dengan tangga yang tidak begitu tinggi. Dan ternyata dibelakangnya ada aliran sungai jernih yang tidak terlalu deras.

Masih dikawasan yang sama, terdapat kursi-kursi yang berjejer dengan meja-meja ditepi sungai. Beberapa orang tampak sedang duduk berpasangan dengan hidangan dihadapannya.

Aku terpaku, tempat ini begitu indah. Sejak kapan Aron tahu tempat seperti ini. Rasanya menyesal sekali baru di ajak kemari.

"Kamu suka tempatnya?"

"Iya, ini indah." Sahut ku tanpa menoleh. Aku terlalu fokus pada keindahan alam ditempat ini.

"Mau turun?" Tawar Aron ragu.

"Tentu saja! Ayo kita turun!"

Aron membuka pintu mobil dan aku mengikuti. Pria itu meraih telapak tanganku dan menarikku ke arah kursi ditepi sungai.

Telapak tangannya begitu kokoh dan hangat, dengan jari-jari besarnya.

Wow, aku pernah mendengar kalau seorang pria memiliki jari yang besar, maka bagian itunya juga besar. Apa mungkin?

Aron memintaku duduk dikursi kayu berwarna cokelat itu, dan Aron berjalan kearah kedai yang terlihat seperti dapur. Setelahnya pria itu kembali dan duduk sampingku.

"Disini nyaman. Setiap kali suntuk belajar, aku akan berkunjung kemari. Bangunan itu adalah kamar, orang-orang menyewanya jika ingin menginap.

Didalamnya ada toilet dan ranjang sama meja lesehan untuk makan."

Aku mengeryit, Aron begitu hafal dengan detail. "Kamu pernah menginap?"

Pria itu menggeleng, "aku sering membantu pemiliknya membawa tamu kemari, kami sudah akrab."

Ku anggukkan kepalaku, untuk mengiyakan saja. Total ada dua belas bangunan berbentuk saung yang katanya kamar itu.

Pesanan kami datang, Aron memesankan ku teh hijau dan pisang keju hangat, juga dua mangkuk mie instan.

"Ayo makan! Kita tidak bisa terlalu lama, lihat kabut hampir turun, biasanya akan turun hujan dan sulit menembusnya jika kabut tebal. Kita akan sulit pulang."

Aku mengangguk, mulai menyeruput mie instan yang asapnya masih mengebul. Rasanya luar biasa, irisan cabe rawit dan daun bawang juga bawang goreng menyapa indera pengecapku.

Ini adalah mie instan ternikmat yang pernah ku makan, entah mungkin karena suasananya yang mendukung, atau karena siapa yang duduk disampingku. Dan rasanya terlalu sayang untuk memakannya terburu-buru, aku ingin menikmatinya.

Karena begitu menikmati makananku, hingga tanpa kami sadari kabut sudah semakin pekat, dan gerimis mulai turun.

"Aron, hujan. Sekarang bagaimana?"

Aku panik, namun Aron tetap terlihat tenang.

"Kita berteduh dulu! Semoga hujan dan kabutnya cepat berhenti. Tidak apakan kita berteduh di saung itu?"

Aku mengangguk mengiyakan, dan Aron segera berlari kearah dapur tadi.

Entah apa yang mereka bicarakan, aku hanya berdiri sembari menutup mangkuk mie ku.

"Prisil, saungnya sisa satu, itupun yang bagian ujung sana. Apa tidak apa-apa?" Tanya Aron ragu.

"Tidak apa-apa," jawabku cepat.

Pria itu segera membawa mangkuk mie dan minuman kami, aku mengekori dengan membawa mangkuk mie dan piring pisang goreng di tanganku.

Saung yang kami tempati terletak paling ujung, berbatasan dengan pagar dan kebun warga.

Sedangkan jarak saung satu dan lainnya sekitar lima meter, dan saung disana berbentuk melingkar.

Aron meraih kunci di kantung celananya, setelah lebih dulu meletakkan mangkuknya dilantai kayu itu.

Aron memutar kunci pintu, membuka pintu saung itu.

"Ayo masuk!"

Didalamnya sangat bersih, tidak begitu luas namun sangat aesthetic. Dindingnya dilapisi dengan stiker bermotif kayu yang tebal. Sepertinya kedap suara.

Dan di belakang terdapat kamar mandi yang kecil dengan shower. Sangat bagus sekali.

Aron meletakkan makanan kami diatas meja. Dan memintaku meletakkan tas di atas nakas disamping ranjang berukuran sedang. Muat untuk dua orang tapi harus berdempetan.

Aku dan Aron melanjutkan makan kami.

****

Malam mulai beranjak larut, diluar hanya terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan. Aron membiarkan pintu saung terbuka hingga udara dingin menusuk kulit menyapa.

Aku yang hanya mengenakan rok mini merasa menyesal. Dingin ini membuat bulu-bulu kudukku meremang.

Aron dengan lembut menutupi tubuhku dengan selimut, membuatku menjadi merasa kikuk.

Aku tidak khawatir harus menelpon orang tuaku, sejak mereka sering bertengkar, rasa pedulinya padaku perlahan memudar.

"Kamu ngantuk?"

Aron beranjak menutup pintu saung, dan menyingkirkan meja lesehan yang kami gunakan makan.

"Kamu akan tidur dibawah?

"Iya, tidak masalah."

"Tapi, nanti kamu kedinginan, selimutnya cuma satu."

Benar, selimutnya cuma satu, dan untuk meminta selimut tambahan rasanya percuma. Meski diluar banyak lampu-lampu, namun kabut tebal membuat jarak pandang memendek.

"Tidak apa-apa, buat kamu saja!" Sahut Aron lembut.

"Tapi.."

"Sudah tidak apa, kamu tidurlah! Kita akan pulang besok pagi jika cuacanya membaik."

Aku masih memandang Aron ragu. Namun untuk mengajaknya tidur di diatas ranjang, rasanya begitu malu.

Aron sudah menepuk-nepuk bantal yang diletakkannya diatas lantai papan, berbekal jaket yang tadi pakainya, pria itu menghamparkannya diatas lantai papan sebagai alas.

Sedangkan aku, masih duduk bersila diatas ranjang menatap Aron dengan tidak tega.

Hatiku ingin sekali memintanya untuk naik keatas ranjang, tapi lidahku susah sekali digerakkan. Aku malu.

Aron mulai memposisikan tubuhnya hendak berbaring, sebelum aku---

"Aron, apa tidak sebaiknya kita tidur disini saja. Ma--maksudku ranjangnya cukup. Kalau kamu nanti sakit karena masuk angin bagaimana?"

Aron terkesiap, menatap wajahku sedemikan lekat, tampak kening pria itu bertaut bingung.

"Kamu yakin?" Tanya Aron dilema.

Aku mengangguk, wajah ku kini sudah bersemu kemerahan.

"Tidak apa-apa?" Tanya Aron kembali.

"Hee'emm.."

Akhirnya pria itu dengan ragu-ragu menarik kembali bantalnya, aku menggeser tubuhku mendekati dinding.

Aron mulai meletakkan bantalnya ke kasur, dan aku lebih dulu membaringkan tubuhku memunggungi Aron.

"Rapikan selimut mu, semakin malam, udara disini akan semakin dingin." Ujar Aron merapikan selimutku.

Mendapat perlakuan manis dari Aron seperti ini, bukan hanya tubuhku yang hangat namun juga hatiku.

Gerakan dibalik punggungku menandakan pria itu mulai berbaring. Tampak cahaya benderang dari lampu diatas kini berganti dengan cahaya keemasan dari lampu tidur yang temaram.

Meski udara begitu dingin, suasana begitu nyaman, namun aku tidak bisa memejamkan mataku. Jantungku berdebar-debar kencang.

Aroma maskulin Aron menerpa indera penciumanku, dan rasanya begitu nyaman. Ingin sekali aku berbalik dan memeluk Aron.

Entah menyadari aku gelisah, atau karena Aron menjadi terganggu dengan gerakan-gerakan kecilku,

"Kamu belum tidur? Apa karena tempatnya sempit?"

"Tidak, aku hanya belum mengantuk."

"Benarkah? Padahal suasana begitu dingin. Apa kamu kedinginan, rok mu terlalu pendek."

Benar, rok ku terlalu pendek, bahkan andaikan tidak tertutupi selimut, pasti bongkahan bokong ku saat ini sudah terpampang nyata dihadapan Aron.

Entah mengapa, aku menjadi begitu penasaran untuk merasakan sensasi hangat dari pelukan pria itu.

"Iya, aku sangat kedinginan," ujar ku berpura-pura menggigil.

"Aku peluk agar kamu hangat yah?"

"He'emmh,"

Aron mulai melingkarkan tangannya di pinggangku. Tubuhnya bergeser merapat ditubuhku.

Sengaja ku dorong bokongku kebelakang, agar menempel utuh ditubuh bagian depan Aron.

Aron mulai masuk kedalam selimut yang sama yang ku kenakan. Kini bokong dan punggung ku sudah sepenuhnya menempel pada tubuh bagian depan Aron.

Dan rasanya ada yang mengeras dibalik celana Jogger kaosnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Terinspirasi oleh simbol reinkarnasi bunga teratai, tujuh pemuda dengan kekuatan mistik luar biasa disatukan dalam satu tim khusus. Di bawah bimbingan Sagara Widyatama, mereka menjalani latihan keras demi menstabilkan dunia supranatural yang sedang kacau. Namun, misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini bukan sekadar pertarungan fisik. Kehadiran Sagara perlahan membuka tabir rahasia mengenai hubungan mendalam mereka di kehidupan masa lalu yang misterius.
Sampul Novel Ghost At School
9.0
Yui dan sahabatnya bertekad membebaskan arwah penasaran yang terjebak di sekolah. Namun, kenyataan pahit menghantam saat Yui menyadari melalui mimpi bahwa korban pertama adalah teman dekatnya sendiri. Penyelidikan mereka mengungkap fakta kelam bahwa dalang di balik teror ini merupakan anggota keluarga mereka yang mencari keadilan atas masa lalu. Di tengah tekanan batin dan misteri yang mencekam, mampukah mereka mengakhiri kutukan ini selamanya?
Sampul Novel Gundik Alpha-ku, Makam Tak Bertanda Putraku
8.9
Kehancuran menyelimuti hatiku saat mengetahui Alpha Damian, pasanganku, menyembunyikan keluarga rahasia. Pengkhianatannya berujung maut; putraku tewas karena ketakutan melihat aksi bejatnya. Tak cukup membunuh anakku, Damian dan ibunya menyiksaku, membuang abu putraku, lalu membiarkanku mati di tangan Rogue. Aku berhasil selamat dari maut, namun alih-alih membalas dendam, aku memilih sihir terlarang untuk menghapus seluruh memori menyakitkan tentangnya.
Sampul Novel Kenangan Obsidian
9.3
Pasca pelarian dari Kekaisaran Ezen, Asha, Kael, dan Lirien bersembunyi di Pegunungan Broken. Di sana, misteri Penjaga kuno terungkap saat Asha bergulat dengan kekuatan abu dan memori yang menyiksanya. Sementara itu, tubuh Kael perlahan membatu, mengancam sisi manusianya. Konflik antarras ternyata hanyalah manipulasi belaka. Di tengah pengkhianatan dan pengorbanan, Asha harus memilih: menjadi senjata mematikan atau pelindung dunia dengan harga yang sangat mahal.
Sampul Novel Negeri Ini Dikuasai Mafia
8.6
Basudo tumbuh dalam kemiskinan yang memicu dendam mendalam terhadap orang-orang di sekitarnya. Sejak remaja hingga dewasa, ia menempuh jalur berbahaya demi menghabisi mereka yang membuatnya menderita. Demi kekuasaan dan ambisi ekonomi, sang raja mafia ini tega membinasakan banyak nyawa tanpa ragu. Namun, kekejamannya memicu perlawanan sengit. Defian dan Telma muncul sebagai sosok pemberani yang siap mempertaruhkan nyawa untuk menghentikan Basudo dan kelompoknya.
Sampul Novel Pendekar Serigala Putih
8.8
Setiap lima abad, ancaman besar menghantui Nusantara melalui bangkitnya sang Pendekar Iblis yang membawa petaka. Kirana Sasmaya, putri Chandika Kalandra sekaligus keturunan pahlawan Bhadrika, memikul takdir berat. Ia tidak hanya dilatih menjadi pendekar tangguh, tetapi juga ditakdirkan sebagai penyihir terhebat sepanjang masa. Mampukah Kirana menggapai impian menjadi Pendekar dan Penyihir Putih demi menumbangkan dominasi kegelapan Pendekar Iblis?