
Sugar Baby
Bab 2
Pukul tiga pagi, Vanya masih terjaga. Matanya perih menatap langit-langit kamar yang retak. Pikirannya berperang.
Di satu sisi, harga dirinya menjerit. Apa kata orang tua kalau tahu? Apa kata Riska? Apa kata... dirinya sendiri di masa depan?
Di sisi lain, realita mencekik. Tagihan yang menumpuk. Orang tua yang sakit. Mimpi yang semakin jauh.
Ponselnya menyala. Notification dari kampus. Reminder pembayaran.
"Persetan," Vanya bangkit. "Persetan dengan semuanya."
Dia membuka laptop. Website Elite Companionship masih tersimpan di history. Dengan tangan gemetar, dia klik tombol "Daftar".
***
Di apartemen mewahnya, Erick melakukan hal yang sama. Formulir pendaftaran terbuka di hadapannya.
Nama: Erick W
Umur: 32
Mencari: Companion yang intelligent, genuine, dan...
Erick berhenti mengetik. Apa yang dia cari sebenarnya? Seseorang yang tidak akan mengkhianatinya? Seseorang yang jujur? Atau hanya... seseorang?
Dia menghapus semua dan mulai lagi.
Mencari: Koneksi yang real.
Sebelum sempat berubah pikiran, Erick klik submit.
***
Fajar mulai menyingsing di Jakarta. Di dua tempat berbeda, dua jiwa kesepian baru saja mengambil keputusan yang akan mengubah hidup mereka. Vanya meringkuk di kasurnya, merasa seperti baru saja menjual jiwanya. Erick berdiri di balkon, memandang kota yang mulai terbangun, bertanya-tanya apa yang baru saja dia lakukan.
Mereka belum tahu bahwa takdir sedang merajut benang merah di antara mereka. Bahwa keputusan desperasi di malam yang kelam ini akan membawa mereka pada sesuatu yang tidak pernah mereka sangka.
Cinta yang dimulai dari sebuah kebohongan. Atau mungkin... kejujuran yang paling telanjang?
Notification "Pendaftaran Berhasil" muncul bersamaan di kedua layar mereka.
***
Aroma kopi robusta menguar dari mesin espresso, bercampur dengan wangi croissant yang baru matang. Vanya mengelap meja nomor tujuh dengan gerakan mekanis, pikirannya melayang jauh dari kafe tempatnya bekerja paruh waktu.
"Van, lo kenapa sih dari tadi ngelamun mulu?" Riska muncul membawa nampan kosong. "Udah tiga kali lo lap meja yang sama."
Vanya menghentikan gerakannya. Lap basah di tangannya menetes ke lantai. "Ris, gue ada yang mau cerita."
"Tunggu." Riska melirik jam dinding. "Shift kita selesai lima menit lagi. Ntar aja di pojokan sana." Dia menunjuk booth favorit mereka di sudut kafe.
Lima menit terasa seperti lima jam. Vanya melayani customer terakhir dengan senyum yang dipaksakan, menuang latte dengan tangan sedikit gemetar. Begitu pergantian shift tiba, dia melepas apron dan menyeret Riska ke booth pojok.
"Oke, spill." Riska menyeruput ice americano-nya. "Lo kelihatan kayak orang abis liat hantu."
Vanya menarik napas dalam. "Gue... gue daftar di Elite Companionship."
Bunyi cangkir yang hampir jatuh dari tangan Riska memecah keheningan. "APAAN?!"
"Ssst! Jangan keras-keras!" Vanya melirik panik ke sekeliling kafe.
"Vanya Listiani, mahasiswi teladan dengan IPK 3,85, daftar jadi sugar baby?" Riska mencondongkan badan. "Lo demam?"
"Mau gimana lagi, Ris. Deadline bayaran kuliah dua minggu lagi. Papa sakit. Mama udah kerja mati-matian." Kata-kata keluar berondong-rondong dari mulut Vanya. "Gue nggak punya pilihan lain."
Riska terdiam. Lipstik merahnya yang biasanya membentuk senyum lebar kini mengatup rapat. "Van..."
"Gue tahu ini salah. Gue tahu ini..." Vanya menelan ludah. "...murahan. Tapi apa lagi yang bisa gue lakuin?"
"Hey." Riska meraih tangan Vanya. "Gue nggak akan judge lo. Tapi lo yakin? Ini bukan cuma soal duit, Van. Ini soal perasaan juga. Lo pikir bisa misahin keduanya?"
"Harus bisa." Vanya memandang sisa kopi di cangkirnya. "Ini cuma transaksi bisnis. Gue kasih waktu dan perhatian, dia kasih support finansial. That's it."
Riska menggeleng pelan. "Masalahnya, hati nggak bisa diatur kayak spreadsheet Excel, sayang. Trust me, gue pernah pacaran sama bad boy yang awalnya cuma for fun. Ending-nya? Gue nangis seminggu nonstop."
"Ini beda, Ris."
"Beda gimana? Lo tetep akan spending time sama dia. Makan bareng, jalan bareng, maybe more. Lo pikir bisa tetap dingin?"
Vanya tidak menjawab. Dia teringat foto-foto di website Elite Companionship. Pria-pria sukses dengan senyum menawan. Bagaimana kalau...
"Pokoknya hati-hati," Riska melanjutkan. "Jangan sampe lo jatuh cinta beneran. Karena di dunia mereka, lo cuma temporary. Begitu kontrak selesai, ya udah. Move on ke yang berikutnya."
***
Sinar matahari siang menyilaukan mata Erick saat dia melangkah masuk ke gedung kantornya. AC sentral langsung menyambutnya dengan hawa dingin yang familiar. Beberapa karyawan membungkuk hormat saat berpapasan.
"Afternoon, Pak Erick."
Dia hanya mengangguk singkat, pikiran masih tertuju pada keputusan semalam. Langkahnya terhenti saat melihat Jonas sudah duduk santai di ruang kerjanya.
"Anjir, Jon. Lo kayak hantu aja tiba-tiba nongol."
Jonas memutar kursi menghadapnya. "Well, someone's cranky. Gimana? Jadi daftar?"
Erick melepas jas dan melonggarkan dasi. "How the hell did you know?"
"Bro, gue kenal lo 10 tahun. Plus, lo ada dark circles. Antara begadang mikirin kerjaan-which is unlikely karena lo udah kaya-atau mikirin keputusan yang lo ambil semalam."
"Show off." Erick menjatuhkan diri di kursi. Kulitnya yang empuk langsung menyesuaikan dengan kontur tubuhnya.
"So? Spill the tea, bro." Jonas menyeringai.
"Gue daftar." Erick mengusap wajah. "Dan sekarang gue ngerasa kayak orang bodoh. Apa-apaan coba, CEO tech company nyari cewek di situs begituan."
"Whoa, stop right there." Jonas mengangkat tangan. "Pertama, itu bukan 'situs begituan'. Elite Companionship itu legitimate platform. Kedua, lo nyari companion, bukan cewek murahan. Ada bedanya."
"Apa bedanya?"
"Bedanya adalah transparency, bro." Jonas condong ke depan. "Lo capek dibohongin kan? Capek sama cewek-cewek yang pura-pura cinta tapi sebenernya cuma mau duit lo? Nah, di sini everything is clear. No lies, no fake feelings. Just... companionship dengan mutual benefit."
Erick memutar-mutar pena di tangannya. "Tapi tetep aja, Jon. Gue literally bayar someone untuk-"
"Untuk nemenin lo. That's it. Lo butuh someone yang bisa lo ajak dinner tanpa worry dia akan jual info lo ke media. Someone yang nggak akan bikin drama. Someone yang..." Jonas tersenyum. "...nggak akan nyakitin lo kayak dulu-dulu."
Kata-kata terakhir Jonas menusuk tepat. Erick terdiam.
"Look," Jonas melanjutkan dengan nada lebih lembut. "Gue nggak bilang ini perfect solution. Tapi at least, lo bisa dapat apa yang lo butuhin sekarang. Companionship tanpa drama. And who knows? Maybe lo akan ketemu someone special."
"Di sugar dating site?" Erick mendengus. "Yeah, right."
"Stranger things have happened, bro. Inget aja, hubungan yang paling tulus dimulai dari tempat yang paling tidak terduga."
***
Perpustakaan kampus sepi sore itu. Hanya ada beberapa mahasiswa yang sibuk dengan tugas akhir mereka. Vanya duduk di pojokan favoritnya, dikelilingi tumpukan buku yang tidak dibacanya. Laptop terbuka menampilkan profil Elite Companionship yang baru dibuatnya.
"Mahasiswi semester 6 jurusan Sastra Digital. Passionate tentang literasi dan teknologi. Mencari arrangement yang mutual beneficial dengan seseorang yang menghargai intelligence dan ambisi."
Vanya menggigit bibir. Apa profilnya terlalu serius? Terlalu kaku? Dia scroll profil sugar baby lain. Kebanyakan menonjolkan penampilan fisik dan ketersediaan waktu.
"Gue beda," bisiknya pada diri sendiri. "Gue nggak cuma cari sugar daddy. Gue cari someone yang bisa appreciate otak gue juga."
Tapi kata-kata Riska terngiang lagi. "Lo pikir bisa tetep dingin?"
Vanya menggeleng keras, membuat rambut hitamnya yang diikat berantakan. Ini cuma business. Dia harus ingat itu. Tidak boleh ada perasaan. Tidak boleh-
"Vanya?"
Dia terlonjak. Dosen pembimbingnya berdiri di samping meja.
"Pak Handoko! Maaf, saya kaget."
"Santai saja." Dosen berkacamata itu tersenyum. "Saya mau tanya, kamu sudah dapat kabar tentang beasiswa?"
Tenggorokan Vanya terasa kering. "Sudah, Pak. Ditolak."
"Oh." Wajah Pak Handoko berubah prihatin. "Padahal saya sudah rekomendasikan kamu. Sayang sekali. Ada rencana lain?"
"Ada, Pak." Vanya menutup laptop cepat-cepat. "Saya... saya akan cari alternatif funding."
"Bagus. Jangan menyerah. Kamu salah satu mahasiswa terbaik saya. Sayang kalau harus berhenti di tengah jalan."
Setelah dosennya pergi, Vanya membenamkan wajah di tangan. Apa yang akan Pak Handoko pikirkan kalau tahu "alternatif funding" yang dimaksud?
Anda Mungkin Juga Suka





