
Sugar Baby
Bab 3
Erick menatap layar smartphone-nya. Aplikasi Elite Companionship sudah ter-install, icon-nya berwarna emas dengan siluet dua orang. Jarinya hover di atas icon tersebut.
"This is stupid," gumamnya.
Tapi dia tetap membukanya. Profil-profil muncul berjejer. Foto-foto profesional, bio yang carefully crafted. Kebanyakan terlihat... generik? Sama saja dengan profil di Tinder atau dating app lainnya.
Lalu matanya menangkap satu profil. Bukan fotonya yang menarik perhatian-meski gadis itu clearly attractive dengan rambut hitamnya yang simpel. Tapi bio-nya.
"Mahasiswi semester 6 jurusan Sastra Digital. Passionate tentang literasi dan teknologi. Mencari arrangement yang mutual beneficial dengan seseorang yang menghargai intelligence dan ambisi."
Sastra Digital? Erick mengangkat alis. Kombinasi unik. Dan cara dia menulis... formal tapi ada hint of personality. Tidak trying too hard untuk membuat laki-laki terkesan.
Dia klik profilnya. Lebih banyak foto. Gadis itu di perpustakaan, dikelilingi buku. Selfie dengan laptop yang menampilkan coding. Candid shot lagi presentasi.
"Interesting," Erick bergumam.
Tanpa berpikir panjang, dia swipe right. Match.
***
Ponsel Vanya bergetar. Notification dari Elite Companionship.
"You have a new match! Erick W. wants to connect with you."
Dengan tangan gemetar, Vanya membuka profilnya. Foto pertama membuat nafasnya tercekat. Pria itu... tampan. Bukan tampan yang dibuat-buat, tapi natural. Jas mahal, jam tangan yang clearly harganya fantastic, tapi ada something di matanya yang... lelah?
Bio-nya singkat. "32, entrepreneur. Looking for genuine connection without the games. Privacy is priority."
Vanya scroll lebih jauh. Tidak banyak info detail, tapi verified badge-nya legit. Income range yang tertera membuat mata Vanya melebar. Ini... ini jackpot. Kalau bisa dapat arrangement dengan dia...
Tapi kemudian Vanya melihat fotonya lebih detail. Ada yang familiar. Dimana ya dia pernah lihat wajah ini?
"Whatever." Vanya menggeleng. "Fokus, Vanya. Ini untuk kuliah."
Dia menarik napas dan mulai mengetik message.
"Hi, terima kasih sudah match. Saya tertarik dengan bio Anda yang straightforward. Mungkin kita bisa diskusi lebih lanjut tentang arrangement yang mutual beneficial?"
Delete. Terlalu kaku.
"Hai! Thanks for the match. Kamu kelihatan interesting. Mau ngobrol?"
Delete. Terlalu casual.
Setelah menulis-hapus belasan kali, akhirnya Vanya settle dengan:
"Hi Erick, senang bisa match dengan Anda. Saya appreciate pendekatan Anda yang direct. Mungkin kita bisa mulai dengan coffee dan melihat apakah kita cocok?"
Send.
***
Notification muncul di ponsel Erick. Dia tersenyum tipis membaca pesan Vanya. Sopan tapi tidak kaku. Smart enough untuk tidak langsung bicara soal uang.
"Coffee sounds good. Besok lusa? Saya ada meeting sampai jam 12 siang. Bisa setelah itu?"
Reply datang cepat.
"Saya ada kelas sampai jam 2. Setelah itu free. Di mana?"
Erick berpikir. Tempat public tapi private enough untuk talk. "Kafe Tanamera, Pacific Place? Agak ramai tapi ada spot yang cukup private."
"Oke. See you there. Saya akan pakai..." Ada jeda sebelum pesan lanjutan masuk. "...kemeja putih dan jeans. Biar gampang ketemu."
Erick tersenyum. Practical. Dia suka itu.
"I'll be in navy suit. Probably masih pakai badge kantor. Till tomorrow then."
"Looking forward to it."
Erick meletakkan ponsel. Jonas masuk tanpa ketuk-seperti biasa.
"Judging from that smile, lo dapat match?"
"Maybe."
"Maybe my ass. Lo literally grinning kayak anak SMA dapat DM dari crush." Jonas duduk di sofa. "Details!"
"Nothing to tell yet. Baru ngobrol bentar. Besok coffee."
"And?"
"And what? Itu aja."
Jonas menatapnya lama. "Lo nervous."
"Gue nggak-"
"Lo nervous!" Jonas tertawa. "Erick Wijaya, yang biasa negotiating million dollar deals, nervous untuk coffee date!"
"It's not a date," Erick menekankan. "It's... arrangement discussion."
"Whatever helps you sleep at night, bro." Jonas bangkit. "Have fun besok. And hey, remember-no expectations. Just... be yourself."
"Aku yang mana? CEO Erick atau Erick yang-"
"Yang genuine. Karena that's what you're looking for, kan? Something real?" Jonas menepuk pundak Erick sebelum keluar. "Trust the process, bro. Kadang hal terbaik datang dari tempat yang nggak kita sangka."
Erick menatap foto Vanya di aplikasi lagi. Gadis itu sedang tersenyum ke kamera, mata coklatnya berbinar. Ada something tentang senyum itu. Tidak dibuat-buat. Natural. Like she was genuinely happy saat foto itu diambil.
"Trust the process," ulang Erick pelan.
***
Vanya berbaring di kasurnya, menatap langit-langit. Besok. Besok dia akan bertemu potential sugar daddy pertamanya. Perut terasa mual.
Ponselnya berbunyi. Riska.
"Van, lo yakin? Belum telat untuk cancel."
Vanya mengetik balik. "Gue yakin. Ini untuk masa depan gue."
"Just... hati-hati ya. Jangan jatuh cinta. Ingat, mereka nggak akan pernah liat lo sebagai equal. You're just temporary entertainment."
Vanya tidak reply. Dia tahu Riska benar. Ini hanya business. Nothing more, nothing less.
Tapi kenapa jantungnya berdebar saat memikirkan besok?
"Get it together, Vanya," dia berbisik pada kegelapan. "Ini cuma transaksi. Kamu kasih waktu, dia kasih uang. That's it. No feelings. No complications. Just business."
Dia memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi wajah Erick W. dari foto profil terus muncul. Those tired eyes. That small smile.
Stop.
Business. Only business.
Jauh di apartemen mewahnya, Erick juga berbaring terjaga. Menatap city lights Jakarta. Wondering what tomorrow would bring. Hoping, despite everything, that maybe... just maybe... this time would be different.
Dua jiwa, di dua tempat berbeda. Sama-sama mencari sesuatu. Sama-sama takut kecewa. Sama-sama berharap.
Besok, takdir akan mempertemukan mereka. Di atas secangkir kopi dan honest conversation.
Or at least, as honest as two guarded hearts could be.
***
Sinar matahari pagi menerobos celah gorden tipis kamar kos Vanya. Mata sembabnya terbuka perlahan, kelopak mata terasa berat dan lengket. Ponsel di meja samping tempat tidur menunjukkan pukul 06.47. H-1 pertemuan dengan Erick W.
"Sial." Vanya mengusap wajahnya kasar.
Semalam dia hampir tidak tidur. Setiap kali memejamkan mata, bayangan pria dari foto profil itu muncul. Wajah tampan dengan mata coklat yang terlihat lelah. Jas mahal yang membungkus tubuh tinggi tegap. Jam tangan yang harganya mungkin bisa bayar kuliahnya sampai lulus.
Vanya bangkit dari kasur yang berderit keras. Kakinya menginjak lantai keramik dingin, membuat tubuhnya bergidik. Dia melangkah ke lemari pakaian-kalau benda kayu lapuk dengan pintu yang tidak bisa menutup sempurna itu bisa disebut lemari.
"Oke, Vanya. Fokus." Dia menarik napas dalam, membuka pintu lemari.
Kemeja putih pertama diangkat, diperiksa di bawah cahaya. Ada noda samar di bagian kerah. "Nggak bisa." Dilempar ke tempat tidur.
Kemeja kedua. Warnanya sudah pudar karena terlalu sering dicuci. "Nope."
Blouse biru muda. Kancingnya ada yang longgar. "Definitely not."
Satu per satu pakaian dikeluarkan, diperiksa, dan ditolak. Tumpukan di tempat tidur semakin tinggi. Lemari semakin kosong.
"Kenapa sih gue nggak punya baju yang bener?" Vanya menjambak rambutnya frustasi. "Dia pasti udah biasa sama cewek-cewek yang pakai branded semua. Gue mau pakai apa coba?"
Ponselnya bergetar. Notification dari aplikasi Elite Companionship. Jantung Vanya mencelos.
Tapi bukan dari Erick. Hanya reminder tentang safety tips untuk first meeting.
Vanya melempar kemeja terakhir ke tempat tidur dengan kesal. Semuanya salah. Terlalu murahan, terlalu kusam, atau terlalu berusaha keras.
"Apa yang gue pikirin sih?" Dia duduk di lantai, punggung bersandar di tempat tidur. "Orang kayak dia pasti udah biasa sama cewek-cewek berkelas. Yang bajunya dari butik, makeup-nya sempurna, ngomongnya fasih bahasa Inggris."
Suara tetangga sebelah yang menyalakan TV terdengar melalui dinding tipis. Iklan shampo dengan model rambut sempurna berkibar. Vanya melirik rambutnya sendiri yang kusut di cermin kecil.
"Gue bahkan nggak punya conditioner yang bener."
Dia memeluk lututnya, menenggelamkan wajah. Besok dia akan bertemu sugar daddy pertamanya. Pria kaya yang bisa dengan mudah membayar kuliahnya. Dan Vanya bahkan tidak punya satu baju layak untuk dipakai.
***
Gedung pencakar langit di kawasan Sudirman berdiri menjulang, membelah langit Jakarta yang cerah. Di lantai 37, Erick Wijaya duduk di ruang kerjanya yang luas. Jendela floor-to-ceiling menampilkan pemandangan kota yang sibuk di bawah.
Tapi Erick tidak melihat pemandangan itu. Matanya terpaku pada layar ponsel. Aplikasi Elite Companionship terbuka, menampilkan profil Vanya.
Foto gadis itu di perpustakaan. Rambut hitam diikat asal, beberapa helai jatuh membingkai wajah. Senyum kecil yang terlihat tulus, tidak dibuat-buat. Mata cokelat yang menatap kamera dengan percaya diri tapi juga ada hint of vulnerability.
"Bodoh," gumam Erick pada dirinya sendiri. "Apa-apaan lo, Erick? Stalking profil cewek kayak ABG."
Tapi jarinya tetap scrolling. Membaca ulang bio Vanya. Mahasiswi Sastra Digital. Kombinasi unik. Passionate about literacy and technology. Cara penulisannya formal tapi tidak kaku. Smart.
Erick menutup aplikasi, melempar ponsel ke meja. Quarterly report terbuka di laptop, grafik dan angka menunggu perhatiannya. Tapi pikirannya melayang.
Apa yang dia harapkan dari pertemuan besok? Companion? Someone to talk to? Or something more?
"Jangan naive, Erick." Dia mengusap wajah. "Dia cuma tertarik sama duit lo. Nothing more."
Tapi kenapa foto Vanya terasa berbeda? Kenapa senyum gadis itu terlihat... genuine?
Ketukan di pintu membuatnya tersentak.
"Pak Erick? Meeting dengan tim finance lima menit lagi." Sekretarisnya melongok.
"Cancel."
"Maaf, Pak?"
"Cancel semua jadwal besok siang." Erick menatap sekretarisnya. "Ada urusan penting."
Sekretaris profesional itu hanya mengangguk, tidak bertanya lebih lanjut. "Baik, Pak. Saya akan atur ulang."
Setelah pintu tertutup, Erick kembali meraih ponselnya. Membuka profil Vanya lagi.
Ada sesuatu di mata gadis itu. Something real. Something... different.
"Bodoh," ulangnya lagi. Tapi kali ini dengan senyum kecil.
Anda Mungkin Juga Suka





