
Suara Bayi di Ponsel Suamiku
Bab 2
"Ta-tapi, Mas. Kenapa pakai sertifikatku?"
"Ya terus sertifikat siapa lagi? Aku? Mana punya. Kamu, kan tahu sendiri aku sudah pensiun dari kantor," jawabnya. Lengkungan yang tadi terbit sudah menghilang kembali.
"Bukan gitu maksudku. Mas, kan selama ini kerja. Uangnya ju-."
"Ah, sudahlah. Bilang saja kalau tidak boleh. Menyesal aku biayain kuliahmu dulu," ujarnya sambil berdiri berjalan ke kamar mandi.
Aku melongo dibuatnya. Tak mengira ia akan mengungkit biaya yang ia keluarkan untuk kuliahku dahulu.
Memang dahulu, waktu golongan PNS ku masih rendah ia yang bersemangat mendorong agar aku kuliah lagi.
"Supaya golongan kamu naik dan gaji kamu bisa lebih besar," katanya waktu itu.
Awalnya aku ragu, lagi pula meski gajiku belum seberapa. Namun, gaji Mas Haris terbilang besar. Kami pun hidup dengan mapan dan nyaman berkat gajinya. Aku tak berpikir akan kuliah lagi dan meningkatkan golongan. Karena, walaupun sudah kuliah kenaikan pangkat tetap akan mengikuti prosedur yang ada.
Tapi Mas Haris bersikeras mendukungku. Akhirnya melihatnya gigih mendukung agar aku lanjut kuliah, aku pun menurut saja. Apalagi ia rela mengasuh Rian, putra pertama kami, sepulang kerja agar aku bisa kuliah di malam hari.
Tapi, tak kusangka ia akan mengungkit hal yang sudah lalu itu.
"Mas, maaf. Maksudku bukan begitu," ucapku menyusulnya.
Brakkk!
Pintu kamar mandi ditutup dengan keras.
"Mas, ini air hangatnya belum aku tuang," ucapku sambil menggedor pintu kamar mandi.
Tak hanya sekali. Berulangkali, aku menggedor pintu itu. Namun, tak ada tanda-tanda pintu akan dibuka.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara guyuran air di dalam sana. Aku menghela napas, beranjak dari depan pintu kamar mandi.
Di kamar tidur, aku terus memikirkan permintaan Mas Haris. Aku merasa bersalah jika tak memenuhi permintaannya. Terlebih, ia telah mengungkit jasanya di masa lalu. Apa aku turuti saja maunya?
Tapi ... jika begitu gajiku akan dipotong banyak. Jika nanti ada kekurangan, siapa yang akan membantu. Tak mungkin juga aku akan merepotkan orang tua. Mereka sudah sepuh.
"Jadi bagaimana?" tanyanya saat masuk ke kamar.
"Nanti juga mas bantu cicilannya, Dek," ucapnya lagi.
Aku bergeming, tak menanggapi ucapannya. Aku takut jika salah ucap, ia akan marah seperti tadi.
"Lagipula Rian dan Ardi sudah punya pekerjaan. Kita tak butuh banyak biaya lagu seperti dulu. Kalau Farid butuh biaya banyak bisa minta tolong sama kakaknya," lanjutnya enteng sambil memilih baju di lemari.
Aku tak habis pikir. Ia bisa berpikir sampai seperti itu. Mana yang katanya tak akan merepotkan anak jika kami tua. Waktu membuka usaha rental itu, aku dukung seratus persen karena ia mengungkapkan alasan seperti itu. Namun, bukannya sadar karena telah kehilangan banyak ia malah semakin menjadi.
Awalnya pinjam untuk perbaikan mobil. Namun, sekarang mulai meminta menggadaikan sertifikatku. Nanti apalagi?
"Apa gak ada jalan lain, Mas?" tanyaku lirih.
Ia menengok ke arahku. Sambil memakai bajunya.
"Ya, paling sertifikat rumah ini jalan terakhirnya."
"Lho, rumah ini, kan atas namaku, Mas. Masa mau digadaikan juga, cuma demi mobil?" protesku.
"Ya memang atas namamu. Tapi tanah, uang untuk bangun, segala renovasi? Dulu pakai uangku semua."
"Kamu sekarang gitu, Mas. Aneh," ucapku ketus. Jujur saja aku mulai tersulut emosi karena hal ini.
"Aneh kenapa? Aku cuma minta kamu gadaikan sertifikat kamu menolak. Itu uang gak seberapa. Nanti aku ganti," omelnya.
"Mas. Mungkin dulu uang segitu gak seberapa. Tapi sekarang? Dengan kamu gak bekerja, gajiku sangat-sangat mencukupi kebutuhan kita. Aku pun harus menabung untuk masa depan Farid."
"Halah, Farid lagi jadi alasan. Bilang saja kamu takut uangmu habis. Heh, inget, ya. Dulu, aku gak pernah perhitungan sama kamu! Uang gajimu aku gak peduli mau dipakai apa. Semua kebutuhan kalian aku penuhi. Bayangkan, berapa puluh tahun aku begitu? Sekarang baru juga diminta segitu susahnya minta ampun."
Ia mulai kesal sepertinya. Aku mengakui, memang dahulu ia sangat memanjakan kami. Salahku juga uang gaji selama puluhan tahun ini tak pernah kutabung. Berbagai pakaian, sepatu, dan tas branded aku miliki. Gaya hidupku memang tinggi. Sering aku mentraktir teman-teman di kantor.
Sehingga, sekarang ketika ia pensiun. Memenuhi semua kebutuhan rumah tangga membuatku kelimpungan. Meski cukup, tapi aku tak bisa seperti dahulu. Aku pikir usaha rental kami akan membuahkan hasil. Namun, ternyata zonk.
"Gimana?" Ternyata ia masih berharap. Ia terus mendesakku.
"Tapi bagaimana dengan cicilannya, Mas? Aku gak mungkin sanggup kalau aku juga yang bayar cicilannya," ucapku lirih.
"Aku janji, aku bantu bayar cicilannya. Untuk urusan itu kamu gak usah khawatir." Lembut ia mengatakan itu.
Aku menghela napas. Sepertinya tak apa jika aku membantunya kali ini. Toh selama dua puluh delapan tahun pernikahan kami, ia selalu memanjakan ku. Tak ada salahnya aku membantunya. Mungkin, saat ini memang aku harus berkorban seperti yang ia lakukan dahulu.
"Baiklah, Mas. Kapan kita ke bank?" tanyaku.
"Wah, kamu setuju, Dek?" tanyanya.
Aku mengangguk. Meski ragu, aku kuatkan hati. Tak apa membahagiakan suami. Setidaknya aku berguna di masa tua kami dan bisa membalas jasanya.
"Besok kita langsung saja ke bank. Nanti mas langsung beli mobil cash. Biar gak dobel-dobel cicilan. Kayaknya tiga ratus juta cukup," ucapnya sumringah.
"Tiga ratus juta, Mas?" tanyaku terkejut. Tak habis pikir nominal yang ia ajukan besar sekali. Aku pikir untuk sebuah mobil tak akan lebih dari dua ratus juta.
Mas Haris mengangguk.
"Sekalian beli yang bagus biar gak rewel," ucapnya enteng.
"Tapi, Mas. Cicilannya pasti besar sekali," ucapku pelan.
"Nanti mas bantu, tenang aja," jawabnya.
"Mas kalau segitu, aku khawatir gajiku gak akan cukup. Mas tahu, kan. Berapa gajiku. Gak lebih dari lima juta perbulan. Sedangkan untuk menyicil tiga ratus juta seenggaknya butuh uang sepuluh juta per bulan untuk jangka waktu lima tahun."
"Ya kita minta panjangkan waktunya saja tujuh sampai delapan tahun. Biasanya mereka kasih. Lagian kamu kan ada uang sertifikasi. Itu 'kan besarnya sama dengan gajimu. Tuh udah bisa nutupi. Apalagi nanti aku bantu nyicil. Udahlah gak usah mikir yang aneh. Tenang aja," ucapnya lugas.
"Iya, tapi-."
"Kamu gak percaya sama mas? Masih belum cukup pengorbanan mas selama ini sama kamu?" tanyanya.
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya takut gak mampu," ucapku memelas. Aku ingin ia dapat mengerti posisi rumah tangga kami saat ini.
"Ya, sudah terserahlah!" Ia merebahkan badan di ranjang dan tidur membalikkan badan membelakangiku.
Tak lama kemudian terdengar suara dengkuran dari napasnya. Bersamaan dengan itu, kulihat layar ponselnya berkedip-kedip.
Sebuah nama terpampang di sana. Mami Zyan. Berarti seorang wanita. Apa harus kuangkat? Bagaimana kalau Mas Haris marah?
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





