Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Menghamili Sahabatku

Suamiku Menghamili Sahabatku

Terdesak kebutuhan ekonomi, Kara setuju membantu Nadia untuk menggagalkan rencana pernikahan ayahnya, Ryan. Nadia ingin ayahnya batal menikahi wanita materialistis, sementara Kara sangat membutuhkan uang. Namun, kesepakatan yang awalnya murni demi keuntungan ini berubah rumit saat Kara mulai jatuh cinta pada Ryan. Hubungan yang semula hanya sandiwara kini mengancam persahabatan mereka. Kara terjebak di antara ambisi, cinta sejati, dan risiko pengkhianatan besar.
Bab
Bagikan

Bab 3

Matahari sore menyusup melalui celah jendela apartemen Kara, menciptakan bayangan panjang di lantai yang berantakan. Kara duduk di sofa, memegang cangkir kopi yang mulai dingin, menatap jauh ke luar jendela. Pikiran-pikirannya kacau. Selama beberapa minggu terakhir, hubungannya dengan Ryan telah berubah dari sekadar strategi menjadi sesuatu yang jauh lebih kompleks, lebih berbahaya.

Setiap senyuman Ryan, setiap perhatian kecil yang ia berikan, membuat hati Kara bergetar. Ia tahu, ia tidak bisa lagi menganggap ini permainan. Tapi di sisi lain, ada Nadia-sahabatnya sendiri-yang telah menaruh kepercayaan padanya, yang mempercayainya untuk menjalankan rencana demi kebaikan keluarganya. Dan Kara tahu, jika ia gagal mengendalikan perasaannya, persahabatan mereka bisa hancur.

Ponselnya bergetar, menampilkan nama Nadia. Kara menarik napas panjang sebelum menjawab.

"Kara... kita harus bicara sekarang juga," suara Nadia terdengar tegang di ujung telepon.

"Ada apa, Nad?" Kara bertanya, mencoba menenangkan diri.

"Ini tentang Ryan. Aku dengar dari ibuku bahwa Ryan terlihat semakin dekat denganmu akhir-akhir ini. Ini... lebih dari yang kita rencanakan. Kamu harus segera mengontrol perasaanmu!"

Kara menutup mata sejenak. Ia tahu Nadia benar. Tapi setiap kali membayangkan Ryan tersenyum padanya, hatinya terasa panas. Ia merasa terjebak antara loyalitas pada sahabatnya dan perasaan yang terus berkembang.

Beberapa jam kemudian, Kara memutuskan untuk menemui Ryan. Ia membutuhkan jawaban, kejelasan, meskipun ia takut menghadapi kenyataan. Saat sampai di rumah Ryan, ia melihat pria itu sedang menunggu di teras, duduk di kursi goyang dengan tatapan hangat tapi serius.

"Kara... senang kamu datang," kata Ryan, tersenyum tipis. "Aku ingin bicara denganmu secara jujur."

Kara menelan ludah, hatinya berdebar kencang. "Aku juga senang bisa datang, Pak Ryan."

Ryan menatapnya lama, seperti menimbang kata-kata yang akan diucapkan. "Kara... aku tidak bisa mengabaikan perasaanku lagi. Aku merasa nyaman, bahagia, bahkan... jatuh cinta padamu."

Kara terpaku. Kata-kata itu menembus pertahanannya. Jantungnya berdetak kencang, dan perasaan yang ia coba tekan selama ini muncul ke permukaan. Ia ingin berlari, tapi tubuhnya terasa membeku.

"Pak Ryan... aku..." Kara terhenti, bingung harus berkata apa. Kata-kata yang ingin ia ucapkan tertahan di tenggorokannya.

Ryan berdiri, melangkah lebih dekat. "Kara... aku tahu ini rumit. Aku tahu ada rencana, ada sahabatmu, dan ada banyak hal yang harus dipertimbangkan. Tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku lagi."

Kara menunduk, mencoba menahan air mata. Ia tahu Ryan jujur, tapi ia juga tahu konsekuensi dari perasaan itu. Persahabatan dengan Nadia, rencana awal, bahkan reputasi dirinya sendiri-semua bisa hancur.

Di sisi lain kota, Nadia sedang menunggu kabar dari Kara dengan gelisah. Setiap menit terasa seperti jam. Ia tahu, jika Kara terlalu jauh dengan Ryan, rencana mereka bisa gagal, dan persahabatan mereka bisa rusak selamanya. Nadia memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia menelepon ibunya Ryan untuk mencari informasi lebih lanjut, mencoba menemukan celah agar Ryan tetap berada di jalur yang mereka inginkan.

Kara dan Ryan menghabiskan sore itu di teras, berbicara tentang banyak hal: masa lalu, harapan, bahkan ketakutan masing-masing. Setiap kata Ryan terasa jujur, setiap senyumannya membuat hati Kara semakin lemah. Ia sadar, setiap detik yang ia habiskan bersama Ryan membuatnya semakin sulit untuk kembali ke peran "strategi" yang seharusnya dijalankan.

Ketika matahari mulai tenggelam, Ryan mengambil tangan Kara. Sentuhan itu sederhana, tapi penuh makna. "Kara... aku ingin kamu tahu, aku serius. Aku tidak bisa lagi berpura-pura. Aku ingin kita jujur satu sama lain."

Kara menutup mata, merasakan detak jantungnya berpacu. Ia tahu, ini adalah momen kritis. Jika ia menyerah pada perasaannya, seluruh rencana akan hancur. Tapi jika ia menolak, ia tahu hatinya akan hancur sendiri.

Beberapa hari kemudian, situasi menjadi semakin rumit. Ryan mulai menunjukkan rasa cemburu ketika mendengar Kara berbicara tentang sahabatnya, dan ia semakin sering mengundang Kara ke rumahnya. Setiap undangan, setiap percakapan, membuat Kara merasa terperangkap. Ia tidak tahu bagaimana caranya menyeimbangkan perasaannya, persahabatan dengan Nadia, dan strategi awal yang telah mereka rancang.

Suatu malam, Kara menerima pesan panjang dari Nadia:

"Kara... aku tidak bisa menahan lagi. Kamu harus segera menjauh dari Ryan sebelum semuanya terlambat. Aku bisa merasakan perasaanmu semakin kuat. Jangan biarkan hatimu menghancurkan persahabatan kita dan rencana yang kita buat. Aku butuh kamu tetap fokus."

Kara menatap layar ponsel, hatinya terasa hancur. Ia tahu Nadia benar, tapi bagaimana mungkin menolak perasaan yang tumbuh begitu kuat? Ia merasa seolah-olah berada di persimpangan yang tidak mungkin dilewati.

Malam itu, Kara bermimpi tentang Ryan. Dalam mimpinya, mereka berjalan bersama di taman yang sepi, hujan turun deras, dan setiap tetes hujan terasa seperti bisikan hati yang tidak bisa ia abaikan. Ia merasakan kehangatan tangan Ryan, mendengar kata-kata lembutnya, dan merasakan cinta yang nyata-lebih nyata daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.

Kara terbangun dengan napas terengah-engah, tubuh basah oleh keringat. Ia tahu, mimpi itu bukan sekadar mimpi. Itu adalah cerminan dari perasaan yang sebenarnya telah menguasai dirinya. Ia tidak bisa lagi berpura-pura acuh, tidak bisa lagi menganggap ini hanyalah strategi.

Hari berikutnya, Ryan menelpon Kara dengan suara lembut tapi tegas. "Kara... aku ingin kita bertemu. Aku tidak bisa menunggu lebih lama. Aku perlu tahu bagaimana perasaanmu."

Kara menelan ludah, hatinya berdebar kencang. Ia tahu, ini adalah titik kritis. Ia harus membuat pilihan: menyerah pada perasaannya dan menghadapi risiko kehilangan persahabatan dengan Nadia, atau menahan diri dan mencoba tetap pada jalur awal strategi yang telah mereka rancang.

Saat mereka bertemu di sebuah kafe yang sepi, Ryan menatap Kara dengan serius. "Kara... aku serius. Aku ingin kamu jujur padaku. Aku tidak bisa terus hidup dengan keraguan ini."

Kara menunduk, mencoba menenangkan hatinya. "Pak Ryan... aku... aku juga merasakan hal yang sama. Tapi... aku takut dengan konsekuensinya. Sahabatku, rencana kita... semuanya bisa hancur."

Ryan menggenggam tangannya lembut. "Kara... aku tidak peduli dengan dunia luar. Aku hanya peduli padamu. Tapi aku juga tidak ingin memaksa. Aku ingin kita jujur satu sama lain, apapun risikonya."

Hati Kara meledak. Ia tahu, ini adalah momen yang menentukan. Perasaan yang telah ia coba tekan selama ini kini tidak bisa lagi diabaikan. Ia merasa terjebak, takut, tapi juga lega. Ia sadar, apa pun yang terjadi, hidupnya tidak akan sama lagi.

Di sisi lain kota, Nadia menerima kabar tentang pertemuan mereka dari orang kepercayaan kecilnya. Panik dan marah, Nadia menyadari bahwa strategi mereka mulai gagal. Ia tahu, jika Kara benar-benar menyerah pada perasaannya, seluruh rencana akan hancur, dan persahabatan mereka bisa retak selamanya.

Suasana pagi di apartemen Kara terasa berbeda. Sinar matahari menembus celah jendela, tapi kehangatan yang biasanya menenangkan justru terasa asing. Pikiran Kara kacau. Selama beberapa minggu terakhir, hubungannya dengan Ryan semakin dekat, dan setiap interaksi meninggalkan jejak di hatinya yang sulit dihapus. Namun di balik kebahagiaan yang dirasakannya, ada rasa bersalah yang menekan—rasa bersalah pada Nadia, sahabat yang selama ini mempercayainya.

Kara memandangi cangkir kopi di tangannya. Aroma pahitnya tidak mampu menenangkan kegelisahan yang menggerogoti pikirannya. Ia tahu, setiap kali ia bertemu Ryan, setiap tawa dan senyuman yang mereka bagi, semakin menjeratnya dalam perasaan yang seharusnya ia tahan.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Nadia muncul di layar: “Kara… aku tidak bisa diam lagi. Kita harus bertemu hari ini. Aku harus memastikan kamu tetap fokus sebelum semuanya terlambat.”

Kara menelan ludah. Ia tahu Nadia akan marah jika mengetahui sejauh mana kedekatannya dengan Ryan. Tapi sekaligus, ia tahu, pertemuan ini tak bisa dihindari.

Di sebuah kafe yang sepi, Nadia sudah menunggu. Tatapannya tajam, matanya berkilat dengan campuran kemarahan dan kekhawatiran.

“Kara… apa yang kamu lakukan?” Nadia langsung memulai tanpa basa-basi. “Aku dengar dari ibumu Ryan, kamu semakin dekat dengannya. Ini lebih dari sekadar strategi. Apa yang terjadi denganmu?”

Kara menunduk, hatinya bergetar. “Nad… aku… aku tidak bisa menahan perasaanku lagi. Ryan… aku merasa nyaman bersamanya, dan… aku mulai jatuh cinta.”

Nadia menarik napas panjang, wajahnya memerah. “Kara… kamu tidak bisa seperti ini! Ini bukan hanya tentangmu atau Ryan. Ini tentang rencana kita, tentang keluargaku, tentang persahabatan kita! Kalau kamu menyerah pada perasaanmu, semuanya bisa hancur!”

Kara menatap sahabatnya, air mata mulai menetes. “Aku tahu… tapi aku tidak bisa mengontrol perasaanku. Semakin aku mencoba, semakin sulit. Aku merasa terjebak, Nad. Aku…”

Nadia menepuk meja dengan keras, membuat Kara terkejut. “Kara! Dengarkan aku! Aku tahu ini sulit, tapi kita punya tujuan! Jangan biarkan hatimu menghancurkan semua yang telah kita rencanakan. Aku tidak ingin kehilanganmu, tapi aku juga tidak bisa membiarkan ini gagal.”

Kara menunduk, rasa bersalahnya semakin menumpuk. Ia tahu Nadia benar, tapi hatinya telah terikat pada Ryan, dan rasanya mustahil untuk mundur sekarang.

Hari itu, Kara memutuskan untuk menghadapi Ryan. Ia tahu, semakin lama ia menunda, semakin rumit masalah yang akan ia hadapi. Saat ia sampai di rumah Ryan, pria itu menyambutnya dengan senyum hangat yang membuat jantung Kara berdetak kencang.

“Kara… aku senang kamu datang,” kata Ryan lembut. “Aku ingin bicara denganmu secara jujur. Aku tidak bisa menunggu lagi.”

Kara menelan ludah. “Aku… aku ingin jujur juga, Pak Ryan. Tapi… ada banyak hal yang harus dipertimbangkan.”

Ryan menatapnya dengan intens. “Aku tahu. Tapi aku ingin kita jujur satu sama lain, apapun risikonya. Aku tidak bisa lagi berpura-pura.”

Mereka duduk di teras belakang rumah, hujan gerimis mulai turun, menciptakan suasana yang intim namun menegangkan. Ryan mengambil tangan Kara, menggenggamnya lembut.

“Kara… aku jatuh cinta padamu. Aku tidak bisa menghindarinya lagi. Aku ingin kamu tahu perasaanku, dan aku ingin kamu tetap ada di hidupku.”

Kara merasa jantungnya hancur dan sekaligus lega. Ia tahu, ini adalah momen yang menentukan. Tapi ia juga tahu konsekuensinya: Nadia, rencana awal, bahkan reputasinya sendiri. Semua bisa hancur jika ia menyerah pada perasaan itu.

Di sisi lain kota, Nadia mulai mengambil tindakan ekstrem. Ia menelepon beberapa teman dekat dan anggota keluarganya, mencoba mencari cara untuk mengalihkan perhatian Ryan dari Kara. Ia mengatur skenario agar Ryan melihat calon istrinya sebagai pilihan yang lebih “aman” dan rasional. Namun semakin Nadia berusaha, semakin ia sadar bahwa Ryan telah terlalu terikat pada Kara.

Malam itu, Kara pulang dengan hati yang kacau. Setiap kata Ryan menembus pertahanan hatinya. Ia sadar, strategi yang awalnya terasa sederhana kini berubah menjadi permainan berbahaya yang melibatkan hati mereka berdua. Ia merasa bersalah pada Nadia, tapi juga tidak bisa menyangkal perasaannya sendiri.

Keesokan harinya, Ryan mengundang Kara untuk makan malam lagi. Kali ini, suasana lebih romantis. Lampu-lampu temaram menerangi ruang makan, dan aroma masakan membuat suasana semakin hangat.

“Kara… aku ingin kita jujur. Aku ingin tahu apa yang kamu rasakan. Aku tidak bisa terus hidup dengan keraguan,” kata Ryan sambil menatap matanya.

Kara menunduk, menahan air mata. “Pak Ryan… aku… aku jatuh cinta padamu. Tapi aku takut, aku takut semua ini akan menghancurkan persahabatan dan rencana yang telah kami buat.”

Ryan menggenggam tangannya. “Kara… aku peduli padamu. Aku tidak peduli dengan dunia luar. Aku hanya ingin kita jujur satu sama lain. Aku siap menghadapi apapun konsekuensinya, selama kamu ada di sisiku.”

Malam itu, Kara pulang dengan perasaan campur aduk: bahagia karena pengakuan Ryan, tapi juga cemas karena konsekuensi yang mungkin muncul. Ia tahu, setiap langkah berikutnya bisa menentukan nasib mereka semua—persahabatan, rencana Nadia, dan hatinya sendiri.

Hari-hari berikutnya, ketegangan meningkat. Ryan semakin menunjukkan perasaannya, mengajak Kara ke berbagai tempat, berbicara tentang masa depan, bahkan membahas kemungkinan hubungan mereka secara serius. Kara merasa terbagi antara keinginan untuk menyerah pada perasaan dan tanggung jawab terhadap persahabatan serta rencana awal.

Nadia, di sisi lain, semakin frustasi. Ia mulai mengatur pertemuan antara Ryan dan calon istrinya, mencoba memunculkan kesan positif agar Ryan kembali fokus. Tapi semakin Nadia mencoba, semakin jelas bahwa Ryan telah jatuh hati pada Kara. Frustrasi dan kecemasan membuat Nadia bertindak lebih ekstrem, mulai melakukan manipulasi emosional yang halus untuk memengaruhi Ryan.

Suatu sore, Kara bertemu Nadia di kafe. Wajah Nadia memerah, matanya berkilat dengan kemarahan yang sulit disembunyikan.

“Kara… ini sudah keterlaluan!” Nadia meledak. “Ryan jelas menunjukkan perasaannya padamu, dan kamu membiarkannya! Apa yang kamu pikirkan? Persahabatan kita, rencanaku… semuanya bisa hancur!”

Kara menunduk, menahan air mata. “Aku tahu, Nad… tapi aku tidak bisa menahan perasaanku. Aku… aku jatuh cinta padanya.”

Nadia menepuk meja dengan keras. “Kara! Kamu harus memilih! Apakah kamu akan tetap pada rencana awal, atau menyerah pada perasaanmu? Kalau kamu memilih perasaan, jangan salahkan aku kalau semuanya hancur!”

Kara merasa hancur. Ia tahu, keputusan yang harus diambil tidak mudah. Jika ia menyerah pada cinta, persahabatan dengan Nadia bisa retak, dan rencana yang mereka buat bisa gagal. Tapi jika ia menahan diri, hatinya sendiri akan menderita.

Malam itu, Kara duduk di apartemennya, menatap jendela yang berembun karena hujan. Hatinya kacau. Ia sadar, setiap langkah yang diambil sekarang akan menentukan nasib hubungan, persahabatan, dan masa depannya sendiri. Ia tahu, badai emosional yang sedang ia hadapi tidak akan mudah diatasi, dan pilihan yang salah bisa menghancurkan segalanya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Seorang Janda
9.6
Ardena Alverio, anggota pasukan khusus yang dikhianati hingga tewas, terbangun dalam tubuh Lyra Elvine, seorang janda bisu dengan tiga anak kembar. Dunia terkejut saat Lyra yang dianggap lemah tiba-tiba mampu bicara dan menunjukkan otoritasnya. Mantan tentara bayaran hingga peretas jenius kini tunduk di hadapannya. Meski tangguh dalam strategi dan tempur, Ardena kini menghadapi tantangan tersulit: belajar menjadi ibu bagi anak-anaknya di tengah intrik berbahaya.
Sampul Novel CEO 1 Miliar Won
9.5
Kim Liu, pengacara muda yang selalu berbakti, terpaksa menyetujui perjodohan demi ibunya yang sakit parah. Ia menikah dengan Jung Jisung, CEO TJ Group yang kaya namun trauma akibat penculikan masa kecil. Meski awalnya dingin dan penuh rumor, Jisung perlahan luluh oleh ketulusan Liu. Namun, pernikahan rahasia mereka diguncang oleh kebencian ibu mertua, gangguan mantan kekasih Liu, serta intrik Song Minseo yang ambisius. Bisakah cinta tumbuh di tengah rahasia dan tekanan harta?
Sampul Novel Ditinggal Suami Dinikahi Adik Ipar
8.9
Shifra, yatim piatu yang dinikahi miliarder Elzien Kagendra, harus kehilangan suaminya akibat kecelakaan tragis. Hidupnya berubah menjadi pelayan di rumah mertua hingga sebuah insiden satu malam memaksanya menikahi adik iparnya sendiri. Saat telah memiliki anak, Elzien yang disangka wafat tiba-tiba muncul kembali. Kini Shifra terjebak dalam dilema besar antara cinta pertamanya atau suami kedua yang merupakan ayah dari bayinya. Siapa yang akan dia pilih?
Sampul Novel Fatal
9.2
Esther terjebak dalam lingkaran penyesalan setelah insiden maut di masa lalunya merenggut nyawa seseorang. Kini, ia harus menanggung konsekuensi berat dengan menjalani pernikahan yang penuh penderitaan. Felix, kakak dari wanita yang tewas akibat kesalahannya, bertekad membalas dendam melalui ikatan tersebut. Esther pun terpaksa menerima peran sebagai istri yang disiksa demi menebus dosa besar yang pernah ia perbuat di bawah bayang-bayang amarah Felix.
Sampul Novel Hasrat Kakak Tiri
9.6
Bryan Alexander, CEO playboy yang berkuasa, telah menghabiskan dua belas tahun di New York demi melupakan Deanisa Melody, adik tirinya yang menjadi obsesi terbesarnya. Namun, takdir justru mempertemukan mereka kembali saat Nisa ditunjuk menjadi asisten pribadinya. Bryan yang masih terjerat perasaan mendalam kini memperingatkan Nisa untuk menjaga sikap di kantor. Di tengah batasan profesional, mampukah Bryan menahan hasratnya pada gadis yang tetap menjadi candu baginya?
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.