Sampul Novel Suamiku Menghamili Sahabatku

Suamiku Menghamili Sahabatku

9.0 / 10.0
Terdesak kebutuhan ekonomi, Kara setuju membantu Nadia untuk menggagalkan rencana pernikahan ayahnya, Ryan. Nadia ingin ayahnya batal menikahi wanita materialistis, sementara Kara sangat membutuhkan uang. Namun, kesepakatan yang awalnya murni demi keuntungan ini berubah rumit saat Kara mulai jatuh cinta pada Ryan. Hubungan yang semula hanya sandiwara kini mengancam persahabatan mereka. Kara terjebak di antara ambisi, cinta sejati, dan risiko pengkhianatan besar.

Suamiku Menghamili Sahabatku Bab 1

Kara menatap langit senja dari jendela sempit apartemennya. Sinar oranye kemerahan menembus celah-celah gorden lusuh, menyinari wajahnya yang letih. Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, penuh dengan perjuangan. Pekerjaan paruh waktunya di kafe tidak cukup untuk menutupi tagihan bulanan, apalagi kebutuhan sehari-hari. Dompetnya tipis, dan kantong-kantongnya kosong. Namun, yang paling menyakitkan adalah rasa putus asa yang terus menghantuinya; rasa bahwa hidup ini seolah-olah menolak memberinya jalan keluar.

Di atas meja, tergeletak secarik kertas yang baru saja diterimanya dari sahabatnya, Nadia. Pesan itu sederhana tapi penuh maksud: "Aku punya rencana, tapi aku butuh kamu. Bisa nggak kamu bantu aku?" Kara menghela napas panjang. Sejujurnya, dia tahu rencana Nadia tidak akan sederhana. Tapi saat melihat angka-angka di rekeningnya yang terus menipis, pilihan itu seolah-olah tidak ada.

Nadia, sahabatnya sejak kecil, selalu punya rencana-selalu percaya bahwa ada cara untuk menyelesaikan masalah, meskipun caranya terkadang kontroversial. Kali ini, rencananya lebih berani daripada sebelumnya. Nadia ingin menjaga keluarganya tetap utuh. Ayahnya, Ryan, yang sudah bercerai dari ibu Nadia bertahun-tahun lalu, hendak menikah lagi dengan seorang wanita muda yang dikenal matrealistis, penuh ambisi, dan-katanya-tidak benar-benar mencintai Ryan.

"Dia harus dihentikan sebelum terlambat," kata Nadia saat mereka bertemu di sebuah kafe yang ramai beberapa hari lalu. Matanya bersinar dengan tekad yang sama seperti ketika mereka masih remaja, berencana "menyelamatkan" dunia mereka sendiri dari ketidakadilan kecil.

Kara menunduk saat Nadia menyodorkan tawaran itu: membantu memikat Ryan, mendekatinya, dan membuatnya ragu terhadap calon istrinya. Imbalannya? Uang yang cukup besar untuk menutup semua hutang Kara dan memberinya sedikit kebebasan dari kehidupan yang serba kekurangan.

Awalnya, Kara menolak. Bagaimana mungkin dia tega bermain dengan hati seseorang, apalagi ayah sahabatnya sendiri? Tapi, saat pulang dan melihat tagihan listrik yang menumpuk, telepon yang terus berdering tanpa jawaban, dan perutnya yang lapar, tawaran itu mulai terdengar... masuk akal.

"Aku nggak punya pilihan lain, Nadia," gumam Kara pada dirinya sendiri di malam itu. "Ini... satu-satunya cara."

Keesokan harinya, Kara bertemu Ryan di sebuah taman kota, tempat Nadia sengaja memilih agar suasana lebih santai. Ryan, pria paruh baya yang tampan dengan aura tenang dan penuh wibawa, sedang duduk di bangku sambil membaca koran. Rambutnya sedikit beruban di pelipis, wajahnya tegas namun lembut. Kara merasa jantungnya berdegup kencang saat pertama kali melihatnya dari dekat.

"Pak Ryan?" Kara memulai dengan suara sedikit gemetar.

Ryan menoleh, menatapnya dengan mata cokelat hangat. "Ya, kamu siapa?" tanyanya ramah tapi waspada.

Kara mengulurkan tangan, mencoba tersenyum sehangat mungkin. "Nama saya Kara. Saya... teman Nadia."

Senyuman tipis muncul di wajah Ryan. "Oh, Nadia. Aku dengar tentangmu. Duduklah."

Kara duduk, berusaha menenangkan pikirannya. Setiap kata yang ia ucapkan kini penuh dengan maksud tersembunyi, tapi dia harus terlihat alami, tak menimbulkan kecurigaan. Mereka berbicara tentang hal-hal ringan-cuaca, taman, bahkan kopi yang baru dibeli Kara di kafe terdekat. Namun, di balik kata-kata itu, Kara berusaha memahami Ryan: apa yang membuatnya tersenyum, apa yang membuatnya marah, apa yang paling ia hargai dalam hidup. Semua ini bagian dari rencana Nadia.

Hari-hari berikutnya, Kara sering berada di dekat Ryan, baik secara kebetulan maupun sengaja, menyapanya di kafe, menemani saat dia berolahraga, atau sekadar berbincang di taman. Setiap interaksi kecil diperhitungkan, setiap senyum atau tawa dimanfaatkan untuk membangun kedekatan. Kara mulai merasakan sesuatu yang aneh-bukan hanya rasa bersalah karena bermain-main dengan hati Ryan, tapi juga perasaan hangat yang mulai muncul di dalam dirinya sendiri.

Sementara itu, Nadia terus memantau dari jauh. Kadang-kadang telepon Kara berbunyi, dan di ujung sana terdengar suara sahabatnya yang tegas: "Ingat tujuan kita, Kara. Jangan terjebak. Fokus pada rencana."

Namun, fokus itu semakin sulit dijaga. Kara melihat sisi lain Ryan-lembut, perhatian, bahkan humoris. Cara dia tertawa ketika melihat anak-anak bermain di taman, atau cara dia memperhatikan orang-orang di sekitarnya dengan penuh kepedulian, membuat Kara merasa terpesona. Hal-hal yang seharusnya hanya strategi kini mulai membuat hatinya terjerat.

Suatu sore, ketika hujan gerimis turun, Kara berteduh di bawah atap sebuah kafe kecil bersama Ryan. Suara tetesan hujan membentuk irama yang menenangkan, sementara percakapan mereka semakin pribadi. Ryan bercerita tentang masa lalunya, tentang perceraian yang menyakitkan, tentang rasa sepi yang ia rasakan meski dikelilingi orang. Kara mendengarkan dengan penuh empati, tapi hatinya berdebar kencang karena setiap kata yang keluar dari mulut Ryan menembus pertahanan dirinya sendiri.

"Aku selalu berpikir... cinta itu harus sederhana," kata Ryan dengan suara rendah, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Tapi hidup ini... kadang terlalu rumit."

Kara tersenyum, hatinya menjerit dalam diam. Ia tahu kata-kata Ryan itu bisa saja digunakan sebagai alat dalam rencananya, tapi rasanya mustahil untuk berpura-pura acuh saat melihat kesedihan yang tulus di mata pria itu.

Malam itu, Kara pulang dengan pikiran yang kacau. Di satu sisi, ada rasa bersalah yang mendalam karena merencanakan manipulasi. Di sisi lain, ada rasa tak terduga yang tumbuh: kekaguman, kehangatan, bahkan... ketertarikan.

Hari demi hari, rencana Nadia berjalan. Ryan mulai menunjukkan tanda-tanda keraguannya terhadap calon istrinya. Ia lebih sering menelepon Kara, bertanya pendapatnya, bahkan meminta saran tentang hal-hal pribadi. Kara merasa berada di posisi yang berbahaya. Setiap senyum Ryan, setiap perhatian yang ia berikan, semakin menjerat hati Kara, membuatnya sulit kembali ke kenyataan bahwa ini hanyalah permainan.

Di sisi lain, Nadia mulai merasakan kegelisahan yang sama. Ia tahu Kara mulai berubah; dia bisa merasakan ketidakstabilan sahabatnya melalui pesan-pesan singkat yang tidak seperti biasanya. Suatu malam, Nadia mengirim pesan pendek: "Kara... jangan sampai ini merusak semuanya. Aku butuh kamu fokus. Jangan biarkan hati mengambil alih."

Kara menatap layar telepon, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini peringatan terakhir dari Nadia, tapi rasanya mustahil. Hatinya sudah terlalu terlibat.

Pertemuan berikutnya dengan Ryan terjadi di rumahnya. Ryan mengundang Kara untuk membantu memilih buku-buku yang akan diberikan kepada seorang anak yatim piatu yang dekat dengannya. Saat berada di ruang tamu yang luas, Kara menyadari sesuatu: kedekatan mereka sudah melampaui sekadar "strategi". Sentuhan tangan mereka saat menyerahkan buku terasa begitu nyata. Tatapan mata mereka saling bertemu lebih lama dari yang seharusnya. Hati Kara berdetak cepat.

"Kara... aku senang kamu ada di sini," kata Ryan tiba-tiba, suaranya lembut namun penuh makna.

Kara tersenyum tipis, berusaha menutupi perasaan yang mulai sulit ia kendalikan. "Aku juga... senang bisa membantu."

Namun, saat itulah Kara sadar: rencana yang awalnya tampak sederhana, kini telah berubah. Simbiosis mutualisme antara dirinya dan Nadia tidak lagi jelas. Perasaan yang seharusnya tertahan kini mulai menuntut perhatian. Persahabatan dan rencana Nadia berada di ambang kehancuran. Dan yang paling menakutkan, hati Kara sendiri sudah terjerat dalam permainan berbahaya yang bahkan ia tidak tahu bagaimana akhirnya.

Di luar jendela, hujan mulai reda, meninggalkan aroma tanah basah dan ketenangan yang palsu. Di dalam hati Kara, badai baru justru mulai terbentuk. Sebuah badai yang akan menguji batasan moral, persahabatan, dan cinta-sebuah badai yang mungkin akan menghancurkan semuanya jika tidak dijinakkan dengan hati-hati.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Suamiku Menghamili Sahabatku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Akulah Cintamu
9.3
Hidup Kayra hancur setelah suaminya menghilang tanpa jejak pasca panggilan video terakhir mereka. Kini, ia berjuang sendirian membesarkan dua anaknya. Di tengah kesulitan, ia bertemu Damar, ipar yang membencinya karena skandal masa lalu terkait rahasia saudari kembarnya. Meski awalnya Damar menolak mengakui anak hasil hubungan tersebut, kemiripan sang bayi meluluhkan hatinya. Akankah pertemuan ini membawa Kayra menuju kebahagiaan yang selama ini hilang?
Sampul Novel Dari Abu: Kesempatan Kedua
8.2
Seumur hidup aku mencintai Bima Wijoyo, tunanganku. Namun, saat studio seniku terbakar, dia justru membiarkanku tewas demi menyelamatkan Clara, kakak tiriku. Pengkhianatan itu menjadi akhir tragis hidupku yang pertama. Kini, keajaiban membawaku kembali ke masa lalu, tepat sebelum rapat dewan keluarga dimulai. Dengan ingatan pahit tentang api dan luka, aku berdiri tegak di hadapan semua orang untuk membatalkan pertunangan kami. Aku tidak akan mati dua kali.
Sampul Novel Dicampakkan Setelah Menjadi Korban Rudapaksa
9.4
Nalula Diandra mengalami tragedi memilukan saat kesuciannya dirampas di hadapan kekasihnya sendiri akibat rencana keji kakek sang pria. Alih-alih membela, kekasihnya justru memilih menikahi wanita lain. Di tengah kehancuran, Lula ditemukan oleh orang tua kandungnya yang merupakan konglomerat kuat. Bersama mereka, ia merancang pembalasan dendam untuk menghancurkan pria itu beserta keluarganya. Namun, akankah kepuasan batin ia temukan setelah semua hancur?
Sampul Novel Dinodai keluarga suami
9.6
Anisa Rahma memulai hidup baru sebagai istri Seno Bagaskara, pria kaya raya yang membawanya tinggal di kediaman besar keluarga. Namun, situasi menjadi rumit karena mereka harus berbagi atap dengan saudara ipar lainnya. Di balik kemewahan tersebut, Anisa tidak menyadari bahwa adik laki-laki Seno dan suami dari iparnya menyimpan hasrat terlarang kepadanya. Kini, Anisa terjebak dalam ancaman nafsu mereka di rumah itu. Sanggupkah ia bertahan?
Sampul Novel Diselingkuhi Suami Dibucinin Berondong
8.9
Dunia Ratih Apsari runtuh usai memergoki pengkhianatan suaminya. Di tengah kesedihan pasca perceraian, sebuah kesalahan fatal membawanya masuk ke mobil Derryl Dariawan hingga mereka menghabiskan malam bersama. Ternyata, Derryl adalah CEO baru di kantornya. Meski sempat menuduh Derryl menjebaknya, kedekatan mereka justru menumbuhkan rasa cinta. Ratih bimbang karena perbedaan status dan usia Derryl yang tujuh tahun lebih muda. Akankah ia membuka hati atau kembali pada sang mantan?
Sampul Novel Istri Rahasianya, Aib Publiknya
8.1
Duniaku runtuh saat menangani pasien VIP bernama Evelyn Santoso. Tunangan yang ia tangisi adalah suamiku, Bima. Namun di foto itu, dia adalah Brama Wijaya, taipan kejam, bukan pria konstruksi yang kurawat saat amnesia. Brama masuk tanpa mengenaliku, lalu memeluk Evelyn dan membisikkan janji setia yang sering ia ucapkan padaku. Melalui tatapan dinginnya, ia menegaskan bahwa pernikahan kami adalah aib rahasia yang harus segera ia lenyapkan selamanya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan