Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Memilih Selingkuhannya

Suamiku Memilih Selingkuhannya

Kirana terpukul saat mengetahui Arya, suaminya yang tampak bertanggung jawab, ternyata berselingkuh demi kekasih lama. Meski terikat janji suci, Arya berdalih pernikahan mereka hanyalah perjodohan tanpa rasa. Di tengah pengkhianatan ini, Kirana menghadapi kehamilan berisiko tinggi yang mengancam nyawanya. Ia memilih menyembunyikan kabar tersebut dari Arya yang sudah pergi. Akankah Kirana selamat dari maut, dan bagaimana nasib hubungan Arya kelak?
Bab
Bagikan

Bab 3

Trimester ketiga adalah masa-masa paling menantang bagi Kirana. Perutnya kini membuncit jelas, tak bisa lagi disembunyikan hanya dengan baju longgar. Setiap pagi, di depan cermin, ia akan mematut diri, mencari cara agar Arya tidak curiga. Syukurlah, Arya semakin sibuk dengan pekerjaannya, atau mungkin, ia memang tidak begitu peduli lagi dengan detail penampilan Kirana. Arya, yang tampaknya mulai terbiasa dengan Kirana yang semakin tertutup dan sering menghabiskan waktu sendiri, tidak lagi terlalu banyak bertanya. Ia hanya akan sesekali melirik, lalu kembali ke ponsel atau laptopnya.

"Aku akan makan di kamar saja, perutku kurang enak," Kirana sering beralasan begitu saat jam makan tiba. Arya hanya mengangguk, tanpa curiga bahwa "perut kurang enak" itu adalah morning sickness yang kini datang silih berganti.

Kondisi fisik Kirana pun semakin memburuk. Anemia dan tekanan darah rendahnya menunjukkan gejala yang lebih intens. Ia sering merasa pusing hebat, pandangannya berkunang-kunang, dan sesekali ia hampir pingsan. Lisa, teman baiknya, sudah seperti bayangan. Hampir setiap hari Lisa menjenguk Kirana, membawakan makanan bergizi, dan memastikan Kirana minum semua suplemen yang diresepkan.

"Ran, kamu harus lebih banyak istirahat. Jangan terlalu banyak bergerak," Lisa memperingatkan suatu sore, saat melihat Kirana terengah-engah hanya karena berjalan dari dapur ke kamar.

"Aku nggak bisa, Lis. Aku harus tetap aktif, biar nggak curiga," jawab Kirana, suaranya lemas. Ia tahu risikonya, tapi ia merasa terjebak. Menjaga rahasia ini lebih sulit daripada yang ia bayangkan.

Suatu malam, saat Arya sedang tidur pulas, Kirana terbangun karena keram perut yang melilit. Ini bukan keram biasa. Rasanya jauh lebih kuat, lebih menyakitkan. Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam. Tapi rasa sakit itu semakin intens. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia tahu ini bukan pertanda baik.

Dengan susah payah, ia meraih ponselnya dan menghubungi Lisa.

"Lis... sakit..." Kirana berbisik, suaranya tercekat.

"Sakit kenapa, Ran? Sakit apa?" Lisa terdengar panik di seberang sana.

"Perutku... keram hebat..."

"Aku jemput sekarang! Kamu siap-siap!"

Lima belas menit kemudian, Lisa sudah tiba di depan rumah Kirana. Kirana sudah menunggunya di teras, wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar. Arya masih tertidur pulas di dalam, tidak menyadari apa pun.

Mereka langsung menuju rumah sakit. Sesampainya di sana, Kirana segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter dan perawat segera memeriksanya. Lisa menjelaskan kondisi Kirana, termasuk riwayat kesehatannya.

"Ada kontraksi, tapi belum teratur," kata dokter jaga. "Kita harus segera periksa kondisi bayinya."

Di ruang pemeriksaan, saat USG dilakukan, Kirana menahan napas. Ia menatap layar, berharap melihat bayinya baik-baik saja.

"Bayi Anda baik-baik saja, Bu," dokter Citra, yang kebetulan sedang bertugas, berkata lembut. "Tapi posisi kepala bayi belum benar-benar turun ke panggul. Dan tekanan darah Anda sedikit meningkat lagi. Ini mungkin karena kelelahan dan stres."

"Maksudnya apa, Dok?" Kirana bertanya, hatinya mencelos.

"Maksudnya, ini pertanda awal bahwa Anda harus lebih waspada. Kehamilan Anda memang berisiko tinggi. Kita tidak bisa membiarkan Anda mengalami tekanan berlebihan. Risiko preeklampsia selalu ada." Dr. Citra menatapnya serius. "Jika terjadi komplikasi, keselamatan Anda dan bayi Anda bisa terancam."

Kata-kata "komplikasi" dan "terancam" itu berputar-putar di benak Kirana. Ia tahu ia harus membuat keputusan. Tidak bisa lagi menunda.

Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, Kirana duduk di kursi roda, tubuhnya lemas. Lisa terus mendampinginya.

"Lis, aku rasa... aku harus memberitahu Arya," Kirana berkata, suaranya hampir tidak terdengar.

Lisa memegang tangannya erat. "Sudah waktunya, Ran. Kamu nggak bisa terus menanggung ini sendirian."

Kirana mengangguk. Ada rasa lega bercampur ketakutan yang luar biasa. Bagaimana reaksi Arya? Apakah ia akan marah? Kecewa? Atau mungkin, ia akan pergi begitu saja?

Malam itu, Kirana memutuskan untuk dirawat inap. Ia mengarang alasan baru untuk Arya: ia harus menghadiri seminar di luar kota selama beberapa hari. Arya hanya membalas pesan singkatnya dengan "Oke. Hati-hati." Tidak ada kekhawatiran, tidak ada pertanyaan lebih lanjut. Hati Kirana semakin sakit melihat respons acuh tak acuh itu. Apakah Arya sudah sepenuhnya melepaskannya?

Keesokan harinya, Arya tiba-tiba menelepon. "Kirana, aku di rumah sakit."

Jantung Kirana berdegup kencang. "Kenapa? Ada apa, Arya?"

"Ayah... Ayah masuk rumah sakit. Serangan jantung." Suara Arya terdengar panik.

Dunia Kirana seolah runtuh. Ayah Arya, Pak Danang, adalah sosok yang baik padanya. Meskipun perjodohan, Pak Danang selalu memperlakukannya dengan hormat. Tanpa pikir panjang, Kirana langsung meminta izin pulang paksa dari rumah sakit, ditemani Lisa.

Setibanya di rumah sakit yang sama, Kirana langsung menuju ruang ICU. Ia melihat Arya duduk di kursi tunggu, wajahnya sembab, matanya merah. Ibu Arya, Bu Santi, duduk di sebelahnya, menangis tersedu-sedu.

"Arya!" Kirana memanggil, suaranya tercekat. Ia berlari menghampiri suaminya, tanpa sadar pada perutnya yang kini sudah sangat besar.

Arya mendongak. Matanya membelalak melihat perut Kirana. Pandangannya beralih dari perut Kirana ke wajahnya, lalu ke perutnya lagi. Matanya penuh pertanyaan, syok, dan kebingungan.

"Kirana... kamu..." Suara Arya tercekat.

Saat itulah, Kirana tahu rahasianya sudah terbongkar. Di tengah kepanikan dan kesedihan karena kondisi Pak Danang, rahasia yang ia jaga mati-matian selama berbulan-bulan, terbongkar begitu saja.

"Arya, Ayahmu bagaimana?" Kirana mencoba mengalihkan pembicaraan, air mata sudah mengalir di pipinya.

Namun, Arya tidak menghiraukan pertanyaannya. Ia bangkit, mendekati Kirana, dan menatap perutnya dengan tak percaya. "Kamu hamil? Sejak kapan?"

Suara Arya yang meninggi menarik perhatian Bu Santi. Bu Santi yang tadinya sibuk dengan kesedihannya, ikut terkejut melihat perut Kirana. Matanya juga membelalak.

"Kirana... ini... ini benar?" Bu Santi bertanya, suaranya bergetar.

Kirana tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, air mata membanjiri wajahnya.

"Kenapa kamu tidak bilang, Kirana?!" Arya membentak, ada kemarahan dan kekecewaan yang kentara dalam suaranya. "Kenapa kamu sembunyikan ini dariku?!"

"Bagaimana aku bisa bilang padamu, Arya?" Kirana membalas, rasa sakit hati yang selama ini ia pendam meledak. "Saat kamu asyik dengan kekasihmu? Saat kamu sibuk berbohong padaku? Aku tidak tahu apakah kamu akan menerima ini, atau malah pergi begitu saja!"

Kata-kata itu menghantam Arya seperti tamparan keras. Ia terdiam, wajahnya pias. Bu Santi menatap mereka berdua bergantian, kebingungan dan syok.

"Kekasih? Apa yang kau bicarakan, Kirana?" Bu Santi bertanya, suaranya lemah.

Kirana tidak peduli lagi. Ia sudah terlalu lelah menyimpan semua ini. "Arya memiliki kekasih lain sebelum kami menikah, Ibu. Dan dia masih berhubungan dengan kekasihnya setelah kami menikah!"

Bu Santi menatap Arya, tatapan matanya berubah menjadi kemarahan dan kekecewaan yang mendalam. "Arya! Benarkah ini?!"

Arya menunduk, tidak bisa menjawab. Kebisuan Arya sudah menjadi jawaban bagi ibunya.

Suasana menjadi sangat tegang. Di satu sisi, ada kecemasan akan kondisi Pak Danang yang kritis di ICU. Di sisi lain, drama rumah tangga Arya dan Kirana pecah di tempat itu, di hadapan Bu Santi yang kini terpukul dua kali lipat.

"Kamu... kamu tega, Nak?" Bu Santi berkata pada Arya, suaranya bergetar menahan tangis. "Di saat seperti ini, Ayahmu di dalam, kamu malah... astaga Arya!"

Lisa mencoba menengahi. "Maaf, Tante, Bu Kirana... sebaiknya kita tenang dulu. Ada yang lebih penting sekarang. Pak Danang..."

Namun, kemarahan Arya sudah memuncak. "Kamu tahu betapa khawatirnya aku selama ini?! Aku berusaha memperbaiki semuanya, tapi kamu malah menyembunyikan hal sebesar ini?!"

"Kamu juga menyembunyikan hal yang lebih besar dariku, Arya!" Kirana membalas, hatinya hancur. "Aku tidak ingin anakku lahir dari kebohongan! Aku ingin dia tahu bahwa ibunya kuat, bisa berjuang sendiri!"

Seketika, Arya terdiam. Kata-kata Kirana menohoknya. Kekuatan Kirana, yang selama ini ia anggap lemah dan tergantung padanya, kini terpancar begitu jelas. Ia melihat lingkaran hitam di bawah mata Kirana, bibirnya yang pucat, tubuhnya yang terlihat sangat lelah, dan perutnya yang kini membuncit besar. Semua itu adalah bukti dari perjuangan Kirana yang tidak ia ketahui.

"Aku... aku minta maaf," suara Arya bergetar. Penyesalan yang mendalam mulai merayapi dirinya. "Aku... aku tidak tahu."

Bu Santi, yang masih terpukul, mencoba menenangkan dirinya. "Sudah, sudah. Sekarang fokus kita Ayah. Nanti kita bicarakan ini baik-baik."

Seorang dokter keluar dari ruang ICU. Wajahnya serius. "Keluarga Bapak Danang?"

Semua mata tertuju padanya. Kirana dan Arya berdiri berdekatan, meskipun ada jarak emosional yang menganga di antara mereka.

"Bapak Danang... kondisinya kritis. Kami sudah melakukan yang terbaik. Tapi... detak jantungnya semakin melemah."

Kata-kata itu menghantam mereka semua. Bu Santi langsung menangis histeris, disusul isak tangis Arya. Kirana merasakan kakinya lemas. Ia tidak bisa membayangkan kehilangan Pak Danang, sosok ayah mertua yang selalu baik padanya.

Beberapa jam berlalu dengan tegang. Dokter dan perawat keluar masuk ruang ICU. Kirana mencoba menenangkan Bu Santi, meskipun hatinya sendiri hancur. Ia melirik Arya, yang duduk diam, matanya kosong menatap pintu ICU. Penyesalan jelas terpampang di wajahnya.

Akhirnya, dokter keluar lagi, kali ini dengan raut wajah yang lebih murung. "Kami mohon maaf. Bapak Danang... tidak bisa diselamatkan. Beliau sudah tiada."

Dunia seolah berhenti. Bu Santi menjerit histeris. Arya ambruk di kursi, menangis pilu. Kirana merasakan air mata mengalir deras di pipinya. Kehilangan Pak Danang adalah pukulan yang sangat berat bagi mereka semua. Di tengah kesedihan yang mendalam itu, rahasia Kirana, pengkhianatan Arya, dan kekacauan rumah tangga mereka, seolah menjadi lebih kecil, namun terasa lebih pedih.

Proses pemakaman Pak Danang berlangsung haru. Kirana berusaha menjadi penopang bagi Bu Santi, mendampinginya di setiap langkah. Arya, meskipun masih berduka, terlihat lebih dekat dengan Kirana. Mungkin karena kesedihan yang sama, atau mungkin karena pengungkapan rahasia kehamilan itu telah mengubah sesuatu dalam dirinya.

Selama proses pemakaman, Arya beberapa kali mencoba berbicara dengan Kirana, tapi Kirana hanya memberinya tatapan kosong. Ia terlalu lelah, terlalu sedih, dan terlalu bingung.

Setelah pemakaman, saat mereka kembali ke rumah, suasana masih terasa berat. Bu Santi menyendiri di kamarnya. Arya duduk di ruang tamu, diam. Kirana menyiapkan teh hangat untuk Bu Santi, lalu duduk di sofa yang berlawanan dengan Arya.

"Kirana... aku sungguh minta maaf," Arya memecah keheningan. Suaranya serak. "Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan besar. Aku... aku tidak menyangka ini akan terjadi. Aku tidak tahu kamu hamil. Dan aku tidak tahu betapa kamu menderita sendirian."

Kirana menatapnya. Ia melihat ketulusan di mata Arya, sebuah penyesalan yang mendalam. Tapi apakah itu cukup? Luka di hatinya masih terlalu besar.

"Aku juga minta maaf karena menyembunyikannya darimu, Arya," Kirana berkata pelan. "Aku hanya... aku tidak tahu harus bagaimana. Aku terlalu takut kamu akan pergi. Atau kamu akan menerima ini hanya karena kewajiban."

"Tidak, Kirana," Arya menggeleng cepat. "Tidak ada kewajiban. Ini anakku. Anakkita. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya?"

"Kamu meninggalkanku, Arya," Kirana membalas, air mata kembali menggenang. "Kamu memilih orang lain. Dan aku tidak yakin kamu sudah sepenuhnya melepaskan dia."

Arya menghela napas panjang. Ia bangkit, mendekati Kirana, dan berlutut di depannya. "Aku bersumpah, Kirana. Aku sudah memutuskan semua hubungan dengan Zia. Aku sudah memberitahunya bahwa aku tidak bisa bersamanya lagi. Aku tahu ini sulit untukmu percaya, tapi aku sungguh ingin memperbaiki ini. Aku ingin menjadi suami yang baik untukmu, dan ayah yang baik untuk anak kita."

Kirana menatap wajah Arya yang penuh penyesalan. Apakah ia harus memberinya kesempatan lagi? Setelah semua rasa sakit ini? Namun, di sisi lain, ada sebuah nyawa yang tumbuh di rahimnya. Bayi ini membutuhkan seorang ayah. Bayi ini membutuhkan keluarga yang utuh.

"Aku takut, Arya," Kirana berbisik, suaranya lemah. "Aku takut kamu akan menyakitiku lagi. Aku takut anak kita akan tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis."

"Aku tidak akan menyakitimu lagi, Kirana," Arya berkata dengan nada tulus. Ia meraih tangan Kirana, menggenggamnya erat. "Aku akan membuktikannya. Beri aku satu kesempatan lagi. Demi anak kita."

Kirana menatap matanya, mencari keyakinan. Ia melihat kerentanan di sana, sebuah kerapuhan yang jarang Arya tunjukkan. Kesedihan karena kehilangan ayahnya, ditambah penyesalan karena telah menyakiti Kirana, tampaknya telah menghancurkan dinding pertahanan Arya.

"Aku... aku tidak tahu, Arya," Kirana berkata, bimbang.

"Aku akan membantumu melewati kehamilan ini," Arya melanjutkan, nadanya penuh janji. "Aku akan menjagamu dan anak kita. Aku akan selalu ada. Aku berjanji."

Ada sesuatu dalam tatapan Arya yang membuat Kirana merasa sedikit, hanya sedikit, ingin percaya. Atau mungkin, ia hanya terlalu lelah untuk terus berperang. Ia terlalu lelah untuk berjuang sendirian. Ia terlalu lelah untuk menanggung beban ini seorang diri. Dan ia tahu, bayinya membutuhkan dukungan.

Pilihan itu terasa sangat berat. Memaafkan Arya, membiarkannya kembali ke dalam hidupnya, dan mencoba membangun kembali semuanya dari nol. Atau, tetap pada keputusannya untuk mandiri, berjuang sendirian, dan membesarkan bayinya tanpa sosok ayah di sisinya.

Ia melihat ke arah perutnya. Sebuah kehidupan kecil yang berharga, yang kini menjadi prioritas utamanya. Demi bayi ini, ia harus membuat pilihan yang terbaik, apa pun risikonya.

"Aku... aku butuh waktu," Kirana akhirnya berkata, suaranya masih bergetar. "Tapi... aku akan mempertimbangkannya."

Arya mengangguk, ada secercah harapan di matanya. "Terima kasih, Kirana. Aku akan menunggu. Aku akan membuktikan padamu."

Malam itu, Kirana kembali tidur di kamar utama, di samping Arya. Namun, ada batas tak terlihat di antara mereka. Sebuah batas yang dibangun oleh kebohongan, pengkhianatan, dan luka yang mendalam. Arya berbalik menghadapnya, mencoba meraih tangannya, namun Kirana menariknya pelan. Ia butuh waktu. Sangat banyak waktu.

Bagaimana ia akan menghadapi Arya sekarang? Apakah ia bisa memaafkannya? Dan apakah Arya benar-benar akan berubah? Atau ini hanyalah penyesalan sesaat yang didorong oleh tragedi yang baru saja terjadi? Kirana tidak tahu jawabannya. Ia hanya tahu bahwa badai ini belum usai. Ini baru permulaan dari perjuangan yang sesungguhnya. Dan ia harus kuat, demi dirinya, demi bayinya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anak Rahasia Sang Presdir
8.2
Hidup Ariana hancur setelah dikhianati ibu tirinya hingga ia terpaksa menjadi ibu pengganti bagi seorang miliarder dingin. Setelah persalinan, pria itu secara kejam merampas bayinya demi menghindari ikatan pernikahan. Namun, takdir berkata lain saat waktu mulai mengikis kebekuan hati sang presdir. Di balik luka dan pemisahan paksa, benih cinta yang tak terduga justru tumbuh perlahan di antara mereka, mengubah dendam menjadi perasaan yang hangat.
Sampul Novel Balas Dendamnya Adalah Kecerdasannya
9.4
Evelin selalu dianggap sebagai itik buruk rupa yang diasingkan keluarga. Saat Paramita, saudari tirinya yang sempurna, hendak menikahi CEO Carlos, kejutan besar terjadi ketika Carlos justru memilih menikahi Evelin. Di tengah cemoohan publik, Evelin membongkar rahasia besarnya sebagai ahli keuangan, genius AI, hingga penyembuh ajaib. Saat para pembencinya bersujud memohon maaf, Carlos memamerkan kecantikan asli Evelin yang memukau dunia tanpa perlu persetujuan siapa pun.
Sampul Novel Cinta masa kecil
9.0
Dina dan Arga berbagi masa kecil yang indah sebelum akhirnya terpisah oleh jarak dan ambisi. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di kota besar. Dina kini menjadi desainer gigih, sementara Arga telah bertransformasi menjadi pengusaha sukses. Meski kehidupan mereka telah berubah, perasaan lama yang terpendam perlahan muncul kembali. Di tengah keraguan masa lalu, mereka harus mencari tahu apakah ikatan masa kecil ini adalah jodoh sejati.
Sampul Novel Cinta yang Membara: Tidak Bisa Melupakanmu
8.1
Diana, seorang yatim piatu, berhasil menikahi pria paling berkuasa di kota meski tanpa landasan cinta. Setelah tiga tahun, kehamilannya justru disambut dengan surat perceraian karena kesalahpahaman tentang kesetiaan masing-masing. Saat Diana bersiap pergi, sang suami justru berubah pikiran dan menyatakan perasaan aslinya. Kini Diana terjebak dalam dilema antara benci dan kasih sayang. Haruskah ia bertahan demi masa depan anaknya atau pergi selamanya?
Sampul Novel Dikhianati oleh Orang yang Dicintai
9.1
Kehidupan pernikahan Lana hancur seketika saat memergoki Revan, suaminya, berselingkuh dengan pria lain di malam pertama. Merasa ditipu dan terperangkap di rumah mertua, Lana kehilangan arah. Namun, di tengah keputusasaan, Henry sang ayah mertua hadir memberikan perlindungan. Sosoknya yang tegas perlahan melunak demi menjaga Lana. Dalam kesepian yang mendalam, Lana mulai bergantung pada Henry hingga hubungan terlarang terjalin di antara mereka tanpa bisa dihentikan.
Sampul Novel Ditinggalkan Karena Tak Punya Gelar
7.8
Rayhan, seorang dokter umum, ditinggalkan kekasihnya yang ambisius demi pria bergelar spesialis. Untuk menyembuhkan luka hati, ia menjalin hubungan virtual dengan wanita misterius bernama El. Namun, dunianya terguncang saat mengetahui identitas asli El. Ternyata, sosok yang membuatnya nyaman di dunia maya adalah Dr. Elvira Maheswari, Direktur Utama yang dingin di rumah sakit tempatnya bekerja. Kini, Rayhan terjebak dalam dinamika asmara dan profesional yang rumit.