
Suamiku CEO Galak
Bab 3
Mayra Khairunissa seorang gadis cantik berusia 20 tahun. Mayra berasal dari salah satu desa di daerah Jawa. Mayra hanya meluluskan sekolahnya di tingkat SMA karena faktor ekonomi Mayra tidak mau membebankan sang ibu hanya untuk berkuliah. Mayra hanya tinggal berdua dengan ibunya, ayahnya pak Pardi telah lebih dulu menghadap kepangkuan Ilahi saat ia berusia 10 tahun. Dan mulai saat itu ibunya yang selalu membanting tulang untuk kehidupan mereka dan untuk sekolah Mayra. Ibu Mayra yang kini sakit sakitan tidak bisa lagi berjualan kepasar seperti biasanya. Jadilah Mayra menggantikan sang ibu untuk berjualan sayuran di pasar. Mayra adalah tipe anak yang selalu bersyukur atas apa yang di dapatkannya. Meskipun tidak seberapa tetapi Mayra sangat bersyukur dengan rezeky yang di dapatkannya. Dia bersyukur tuhan masih menyayanginya dengan memberikannya ibu seperti bu Sita ibunya. Pengorbanan sang ibu yang harus membesarkannya sendirian tidak akan pernah terlupakan olehnya. Ia berharap bisa membahagiakan sang ibu.
Saat ini panasnya matahari terasa sangat menyengat, hatinya merasa tak karuan . Entah mengapa ia merasakan perasaan tidak enak beberapa hari ini. Ia berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Saat ini Mayra tengah berjalan dari pasar untuk pulang menuju rumahnya. Dia semakin mempercepat langkahnya tatkala perasaannya semakin tidak enak.
"Ya Tuhan, aku mohon jauhkanlah kami dari musibah. Dan lindungilah selalu aku dan ibuku." Mayra mengucapkan permohonannya sambil terus mempercepat langkahnya. Saat ini pikirannya hanya tertuju kepada ibunya saja. Karena sudah beberapa hari ini kondisi sang ibu semakin memburuk. Mayra semakin ketakutan karena mereka tidak memiliki siapapun disini. Ibunya hanya mempunyai seorang adik yang saat ini bekerja sebagai pembantu di Jakarta. Di kampungnya ini hanya ada dia dan ibunya. Ayahnya yang meruakan orang rantau dari pulau sebrang membuatnya tidak memiliki kontak saudara sang ayah. Karena memang saat ayahnya meninggal saat itu belum ada alat komunikasi seperti sekarang.
Sesampainya dirumah Mayra langsung menurunkan barang bawaannya, dan menuju kamar ibunya. Disana terlihat sang ibu sedang tertidur dengan nafas teratur.
"huuuuufffft.... Semoga ibu cepat sembuh kembali bu." Mayra berjalan menuju ranjang ibunya dan menggenggam tangan ibunya. Dan hal itu menyebabkan sang ibu terbangun.
"iibuu... Maaf Mayra tidak bermaksud membangunkan ibu. Ibu kembalilah tidur Mayra ingin memasak makan siang dulu untuk kita."
" Mayra.. Bolehkah ibu meminta satu permintaan padamu nak?" Bu sita menahan tangan anaknya, dan mencoba menariknya kembali ke arahnya.
"Ibu jangan banyak bergerak dulu. Ibu mau meminta apa? Jika Mayra sanggup maka Mayra akan memberikannya."
"Kamu anak yang baik nak, semoga Allah senantiasa selalu menjagamu nak. Dimanapun kamu nanti berada dan apapun yang akan kamu lakukan. Doa ibu selalu bersama mu. Ibu hanya ingin meminta tolong kmu hubungi bibi mu nak. Ibu ingin bicara dengannya."
" Baiklah bu, nanti Mayra akan membeli pulsa dulu. Agar bisa menelvon bibi. Setelahnya Mayra akan memberikan telvonnya kepada ibu ya." Bu sita menatap haru wajah putrinya yang masih di basahi oleh keringat.
" Maafkan ibu nak, ibu membuatmu bekerja terlalu keras di usiamu yang masih sangat muda. Maafkan ibu karena tidak bisa membiayai kuliahmu nak. Sungguh maafkan ibu."
" Ibu bicara apa ibu? Jangan bicara seperti itu seharusnya Mayra yang berterimakasih kepada ibu, karena Mayra telah dibesarkan dan di didik dengan baik oleh ibu. Mayra minta maaf belum bisa membahagiakan ibu. Mayra iklas tidak lanjut kuliah ibu, asalkan ibu selalu sehat. Mayra menyayangi ibu, hanya ibu yang Mayra punya. Jadi Mayra mohon bertahanlah, dan berjuanglah untuk sembuh." Mayra mengatakannya dengan berurai air mata. Sungguh ia tak mau sesuatu terjadi kepada ibunya. Tetapi ia menyadari segala sesuatunya telah tercantum dalam takdir hidup seseorang. Dia hnya bisa berharap dan berdoa.
Setelah memeluk ibunya, Mayra berlalu keluar untuk mengisi pulsa hpnya. Hp keluaran jadul yang sangat berharga baginya. Hp tersebut di berikan secara percuma oleh Sari sahabatnya saat Sari memutuskan untuk melanjutkan sekolahnya ke perguruan tinggi yang berada di Ibu Kota.
Setelah mengisi pulsa, Mayra kembali pulang kerumahnya, dan dengan segera memencet nomor kontak bibinya untuk mengghubunginya. Setelah beberapa kali mencoba barulah sang bibi mengangkat panggilannya.
"Assalammualaikum Mayra, Apa kabar nak?" Mendengar suara bibinya dari ujung sana membuat hatinya seketika tenang.
"wa'alaikumsalam bibi, maaf Mayra mengganggu bibi. Saat ini ibu sedang ingin berbicara dengan bibi. Mayra harap bibi tidak sedang sibuk."
" Tidak nak, mana ibu mu? Beberapa hari ini perasaan Bibi rasanya tidak tenang."
"Iya bibi, Mayra juga begitu. Yasudah sebentar Mayra ke ibu dan memberikan telvonnya kepada Ibu ya bi." Mayra berlalu menuju kamar ibu nya dan memberikan hpnya kepada sang ibu.
" Ibu, ini bibi sudah tersambung." Sang ibu tersenyum dan menerima hp yang di berikan oleh putrinya.
" Assalammu'alaikum dek"
"Waalaikumsalam Mbak. Bagaimana kabar Mbak?"
" Mbak dalam keadaan baik dek, mbak ingin bicara padamu. Apa kamu ada waktu?"
"Tentu saja Mbak, bicaralah."
" Dek, jangan di bantah dulu omongan mbak ya. Biarkan mbak menyelesaikannya terlebih dahulu."
" Iya mbak siap."
" Dek, jika nanti Mbak sudah tidak ada Mbak titip Mayra padamu ya dek. Mbak hanya memilikimu dan Mayra di dunia ini. Jadi jika Mbak sudah pergi tolong kamu jaga dengan baik Mayra. Anggap Mayra seperti anakmu sendiri. Sayangi dia dan jangan biarkan dia bersedih atau menangisi kepergian Mbak ya dek."
"Mbak ini mgomong apa toh. Ndak baik bicara seperti ini mbak. Istighfar mbak."
"Kamu ini kebiasaan, gadi sudah janji tidak akan membantah omongan Mbak"
" Iya maaf mbak, tapi aku yo ndak suka cara mbak bicara seperti itu."
"Kamu denggerin dulu dek"
"Nggeh,, mbak" Dengan berat hati Nita mendengarkan omongan sang kakak Sita.
" Berjanjilah dek, kmu akan menjaga Mayra. Dan mengantarkannya pada pendampingnya kelak dek. Mbak nitip Mayra dan lakuin apa yang ndak bisa Mbak lakin ya dek. Mbak mohon, Mbak mengatakan ini karna mba sudh merasa tidak kuat lagi dek. Penyakit yang mbak derita rasanya sangat sakit dek. Tolong ikaskan mbak. Dan maafkan kesalahan mbak. Sampaikan pada Mayra tolong iklaskan ibunya ya dek. Setelah kamu berjanji baru mbak akan tenang dek. Maka berjanjilah dek." Terdengar suara isak tangis di ujung sana. Nita tak kuasa menahan tangisnya setelah mendengar omongan kakaknya. Dia berfikir apa ini arti dari erasaan tidak enak ku akhir akhir ini. Ya Tuhan jika ini takdirmu, tolong buat Hamba dan keponakan Hamba untuk menjadi orang yang iklas akan jalan takdir yang telah Engkau tuliskan Tuhan.
"Iya mbak, aku berjanji kepadamu mbak. Walaupun aku masih berharap mbak akann kembali sehat seperti sedia kala. Tetapi jika ini memang sudah keinginanmu. Maka aku akan berjanji pada mu mbak. Aku menyayangimu mbak. Sangat menyayangimu , mbak adalah kakak terbaik yang pernah ada. Maafkan segala kesalahan ku mbak. Aku berjanji akan menjaga Mayra dengan baik. Dan akan menggantikan tugasmu sebagai ibunya. Aku berjanji mbak. " Tak lama setelah itu terdengar helaan nafas yang sangat anjang dari ujung telvon.
" La..illa..ha..il.llaulah.. Allahu Akbar" mendengar hal tersebut Nita langsung berteriak tak karuan memanggil manggil Mayra . Tetapi mana mungkin akan terdengar, ia berada di ujung telvon. Akhirnya Nita memuutuskan panggilan telvon dan kembali menelvon nomor Mayra .
Anda Mungkin Juga Suka





