Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Wasiat Dari Suamiku

Suami Wasiat Dari Suamiku

Kebahagiaan Lina dan Arief atas kehamilan yang dinanti sirna seketika saat kecelakaan tragis menimpa Arief. Pelakunya adalah Andi, pria mabuk yang menghancurkan masa depan mereka. Di ambang maut, Arief justru memberi wasiat tak terduga agar Lina menikahi Andi demi perlindungan hidupnya. Kini Lina terjebak dalam dilema pedih: mengikat janji suci dengan pria yang merenggut nyawa suaminya. Mampukah Andi menebus dosanya, ataukah takdir ini akan berakhir nestapa?
Bab
Bagikan

Bab 2

Lina tidak tahu berapa lama ia sudah duduk di sana, di ruang rumah sakit yang terasa asing, di samping tubuh suaminya yang tak bergerak. Setiap detik yang berlalu terasa begitu lama, seperti waktu mengalir dengan begitu lambat, menekan dadanya yang semakin sesak. Suara detak jantung Arief yang terdengar lemah di monitor menjadi satu-satunya pengingat bahwa suaminya masih ada-meskipun tak sepenuhnya ada.

Matanya yang sudah sembap karena menangis, kini berusaha untuk bertahan. Setiap kali ia menatap wajah Arief, hatinya remuk. Hanya beberapa jam yang lalu, mereka merencanakan masa depan bersama. Mereka berdua menantikan kelahiran anak pertama mereka, hidup mereka penuh dengan harapan. Tetapi semuanya kini terasa seperti ilusi yang menghilang dalam sekejap.

"Arief... bangunlah, sayang," bisik Lina dengan suara pecah, meremas tangan Arief yang terkulai lemah. "Aku tak bisa hidup tanpa kamu... kita... kita harus bersama untuk anak kita. Jangan tinggalkan aku, Arief... aku butuh kamu."

Air mata Lina terus mengalir, tak bisa dihentikan. Hatinya terasa robek, tetapi ia berusaha tetap kuat. Ia tahu bahwa Arief, meskipun tidak sadar, bisa merasakannya. Mereka sudah melalui begitu banyak bersama. Lina yakin, dalam hati kecilnya, bahwa Arief tak akan meninggalkannya begitu saja.

Namun, waktu terus berjalan, dan tak ada perubahan. Petugas medis datang dan pergi, memberikan Lina penjelasan tentang keadaan Arief yang semakin memburuk. Setiap kali mereka berbicara, Lina merasa seperti seluruh dunia runtuh di sekitarnya. Ia hanya ingin satu hal-suaminya selamat. Tapi dalam setiap kata yang keluar dari mulut dokter, harapan itu semakin memudar.

Lina merasa seperti dirinya terjebak dalam kenyataan yang tak bisa ia hindari. Apa yang terjadi pada mereka? Kenapa hidup mereka yang indah ini begitu cepat dihancurkan? Ia berusaha untuk berpikir jernih, mencoba mencari jalan keluar, tapi dalam kegelapan itu, hanya ada rasa ketidakberdayaan yang mendalam.

Hampir dua puluh empat jam berlalu sejak kecelakaan itu, dan Arief tetap tak sadar. Lina sudah kehilangan hitungan waktu. Dia tahu, semakin lama Arief terbaring tanpa respons, semakin kecil harapan untuk melihatnya bangun. Semua kenangan indah yang mereka bagi, semua janji mereka, terasa seperti bayangan yang semakin pudar.

Lina tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia ingin melarikan diri dari kenyataan, ingin memejamkan mata dan berharap semuanya hanya mimpi buruk yang segera berakhir. Namun, realita tak membiarkan dia untuk bersembunyi. Arief, pria yang begitu ia cintai, kini terbaring tak berdaya.

Saat Hati Mulai Runtuh

Keesokan harinya, Lina kembali duduk di samping Arief. Wajah suaminya yang pucat terlihat begitu berbeda dari biasanya. Rasa sakitnya semakin terasa tajam saat ia menyentuh kulit Arief yang dingin. Tak ada lagi senyuman hangat yang dulu menghangatkan hatinya. Kini hanya ada kesepian dan ketakutan yang mengguncang seluruh tubuhnya.

Lina tahu, di dalam hatinya, bahwa keajaiban tak akan datang. Semua doa yang ia panjatkan, semua harapan yang ia gantungkan, terasa begitu sia-sia. Dia tak siap untuk kehilangan Arief, tapi ia juga tahu bahwa tak ada yang bisa mengubah takdir.

Saat Lina terdiam, berjuang dengan pikirannya sendiri, seorang dokter masuk ke ruang rumah sakit. Lina mendongak, melihat dokter itu dengan pandangan kosong. Dia tahu apa yang akan dikatakan, tetapi tetap saja, hatinya menolak untuk menerima.

"Maaf, Bu Lina," kata dokter itu dengan nada pelan. "Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi kondisi suami Anda semakin memburuk. Kami sarankan untuk mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk."

Lina hanya bisa menatap dokter itu dengan kosong. "Apa maksud Anda?" Suaranya terdengar hampir tak percaya.

"Kami akan terus memantau, tetapi kami tak bisa menjamin apa-apa lagi. Kami tidak bisa melakukan lebih banyak," jawab dokter itu dengan nada berat, seolah kata-kata itu adalah kenyataan yang harus diterima, meskipun sangat sulit.

Lina merasa dunia seolah runtuh di bawah kakinya. Semua harapan yang ia pelihara selama ini, semua yang ia impikan, seolah lebur dalam sekejap. Ia menatap Arief sekali lagi, wajah suaminya yang terbaring tanpa daya. Hatinya remuk.

"Lina," suara Arief tiba-tiba terdengar, sangat lemah, namun Lina dapat mendengarnya dengan jelas. "Lina, aku minta maaf."

Lina terkejut, seolah baru saja disiram air dingin. Arief membuka matanya sedikit, melihat Lina dengan pandangan kabur.

"Arief... kamu bangun?" Lina mengusap wajah suaminya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa Arief masih bisa selamat.

"Aku... aku minta maaf, Lina... ini semua salahku," Arief berusaha berbicara meskipun suaranya begitu lemah.

Lina menggelengkan kepala, tak percaya. "Jangan bilang begitu. Jangan, Arief. Kamu nggak salah. Ini... bukan salah kamu."

Arief tersenyum lemah, meski sulit untuk melihat apakah itu senyum kebahagiaan atau justru kesedihan. "Lina... aku... aku tahu tak lama lagi... aku... aku akan pergi. Tapi aku... aku ingin kau tahu... kau harus kuat."

Lina menggenggam tangan Arief lebih erat, air matanya kembali mengalir. "Jangan bilang begitu, Arief. Aku nggak bisa tanpa kamu. Aku butuh kamu. Kita akan bersama-sama melalui semuanya. Kita akan jadi orang tua, sayang... kita akan melakukannya bersama."

Arief mencoba tersenyum, tetapi senyum itu justru semakin membuat Lina merasa hancur. "Lina... aku... aku ingin kau bahagia. Jangan biarkan hidupmu hancur hanya karena aku. Jangan biarkan anak kita tumbuh tanpa cinta."

Lina menundukkan kepalanya, merasa hatinya hampir hancur. "Jangan bicara seperti itu. Aku nggak mau hidup tanpa kamu, Arief. Aku nggak bisa..."

Dengan susah payah, Arief menatapnya dengan mata yang hampir tertutup. "Lina... ada satu hal yang... yang ingin aku katakan. Aku... aku ingin kau... menjaga dirimu. Jaga anak kita. Jika aku... jika aku tak ada lagi... kau... kau harus menerima seseorang... dia bisa melindungimu. Dia akan jadi pengganti... pengganti aku."

Lina terdiam, hatinya berdegup kencang. Apa yang Arief katakan? Siapa yang ia maksud? Kenapa harus ada orang lain?

Lina memandang suaminya yang semakin lemah. "Arief... siapa yang kamu maksud?" tanyanya, suaranya hampir hilang.

Arief hanya menggelengkan kepala sedikit, dan tubuhnya kembali terkulai. "Lina... aku minta maaf... aku... aku akan pergi."

Lina terisak, air matanya mengalir deras. "Arief... jangan tinggalkan aku. Jangan pergi... aku tak bisa... aku tak bisa."

Namun, meski ia menangis, Arief tidak bisa memberi jawaban lagi. Detak jantungnya berhenti, dan dalam satu hembusan napas terakhir, suaminya menghilang, meninggalkan Lina dengan kesedihan yang tak bisa diungkapkan.

Sekali lagi, dunia Lina runtuh. Dia kehilangan Arief-pria yang telah menjadi hidupnya, orang yang ia cintai lebih dari apa pun. Namun, ada satu kalimat yang terus bergema di kepalanya-"Dia akan jadi pengganti aku." Siapa yang Arief maksud? Apa yang harus Lina lakukan sekarang, dengan hati yang hancur dan bayi yang belum lahir?

Lina duduk terpaku di samping tubuh suaminya yang kini telah menjadi kenangan. Dan di luar jendela, hujan mulai turun, seakan ikut merasakan kesedihannya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku bukan wanita penggoda
9.1
Anindya terpisah dari teman masa kecilnya, Yeja, setelah orang tuanya berdamai. Sembilan belas tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali dalam situasi rumit. Yeja kini menjadi calon suami Anindira, saudara kembar Anindya. Masalah muncul saat terungkap bahwa Yeja bersedia menikah hanya karena salah mengira Dira adalah teman kecilnya. Kini Anindya terjebak dilema: bungkam atau mengungkap kebenaran meski harus dibenci oleh kembarannya sendiri.
Sampul Novel Aku Mengandung Setelah Diusir Mamamu
9.1
Adelia baru menjalani tiga bulan nikah kontrak dengan CEO Arsenio Arfandra saat ibunda sang suami mengusirnya akibat kebohongan yang terungkap. Sebulan kemudian, Adelia hamil anak Arsenio, namun pria itu justru menolaknya mentah-mentah. Meski Arsenio akhirnya menyesal dan ingin kembali, Adelia justru muncul sebagai mempelai manajer bernama Vino. Kini Arsenio harus menghadapi kenyataan pahit saat Adelia merahasiakan identitas ayah kandung Giovanni.
Sampul Novel CUKUP SETAHUN AKU DI SISIMU, MAS
9.0
Menjalani peran sebagai istri kedua di bawah bayang-bayang pernikahan siri bukanlah hal mudah. Namun, segalanya menjadi rumit saat aku menyadari bahwa istri pertama suamiku adalah sahabat karibku sendiri. Terjebak dalam rahasia besar ini, aku memilih untuk bermain cantik dan menyembunyikan identitas asliku demi bertahan di sisinya. Dalam waktu setahun yang penuh drama dan kepura-puraan, mampukah aku menjaga rahasia ini tanpa menghancurkan persahabatan kami?
Sampul Novel Gadis buta Milik CEO
8.8
Dunia Laras mendadak gelap setelah insiden tragis merenggut penglihatannya. Mantan mahasiswi ceria ini kini hidup menderita akibat perundungan penggemar fanatik Damar, CEO yang dulu ia cintai. Damar sempat menjauh demi kebaikan Laras, namun keputusannya justru berujung kehancuran bagi sang gadis. Kini, Damar kembali dengan penyesalan mendalam. Ia bertekad menebus kesalahan masa lalu dan berharap Laras mampu melihat ketulusan hatinya di balik kegelapan abadi.
Sampul Novel Ibu Tiri yang Buta Hati
9.3
Kiara kehilangan satu mata demi melindungi ayahnya, Ditya Danaraja, yang menderita bipolar. Sejak itu, siapa pun yang mengusiknya selalu berakhir tragis. Namun, setelah Kiara menjalani pengobatan medis di luar negeri dan berhasil melihat kembali, ia disambut oleh kabar pernikahan sang ayah. Alih-alih mendapatkan kasih sayang dari ibu tiri baru yang katanya lembut, Kiara justru diculik dan diikat di sebuah pabrik kosong. Ibu tirinya menuduhnya sebagai perebut suami dan pencuri perhiasan, bahkan mengancam akan mengulitinya hidup-hidup.
Sampul Novel Kontrak Pewaris Lima Miliyar
8.0
Narendra Adipradana, miliarder dingin yang enggan menikah, terpaksa mencari pewaris demi tuntutan ayahnya. Ia menawarkan lima miliar rupiah kepada Kirana Maheswari, gadis desa yang terdesak utang, untuk mengandung anaknya melalui sebuah transaksi tanpa rasa. Namun, saat kehamilan Kirana dimulai, dinding pertahanan Narendra goyah. Akankah hubungan profesional ini berubah menjadi cinta sejati, atau justru Kirana akan pergi meninggalkan kehampaan setelah tugasnya usai?