Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Tak Ada Akhlak

Suami Tak Ada Akhlak

Memiliki suami perhatian yang rajin membantu urusan rumah tangga adalah impian setiap istri. Namun, kebahagiaan itu justru menjadi tabir gelap bagi Hadi untuk menyembunyikan rahasia besar dari pasangannya. Di balik sikap manisnya, Hadi ternyata menjalin hubungan terlarang dengan wanita lain di luar sana. Kehadiran sosok pelakor kini mengancam keutuhan rumah tangga mereka, menyimpan bom waktu yang siap menghancurkan segalanya jika kebenaran terungkap.
Bab
Bagikan

Bab 2

Jam menunjukkan pukul empat. Para pekerja pabrik

berbondong-bondong keluar karena sudah waktunya pulang. Termasuk Hadi yang saat

ini tengah mengambil motor di parkiran.

Sebelum menyalakan mesin motor, ia memeriksa penampilannya

pada kaca spion. Sedikit membentuk rambutnya menyerupai jambul ala penyanyi

beken Syahrini.

"We, Di. Ayo pulang!" Seorang teman menepuk

pundaknya, membuat Hadi berjingkat karena terkejut.

Hadi menoleh. "Nanti dulu. Mau ngopi dululah."

Teman Hadi yang bernama Fairuz itu menggeleng. "Kau

ini, pulang kerja bukannya ke rumah nemuin anak istri malah keluyuran. Ngopi di

rumah, kan lebih enak. Gratis pula."

Hadi mengibaskan tangannya di depan wajah. "Halah. Kau,

kan memang suami takut istri," ejek Hadi.

"Eh, denger, ya. Kita sebagai laki-laki juga berhak

memanjakan diri di luar. Bagaimana? Ikut tidak?"

Fairuz menggeleng. Tahu betul apa yang dimaksud Hadi dengan

memanjakan diri itu. "Nggak usahlah. Aku mau pulang saja. Istriku pasti

khawatir kalau aku tak pulang-pulang," tolaknya dengan senyuman.

"Halah. Pulang sana kau ke ketiak istrimu."

Gerakan tangan mengusir itu pertanda Hadi sudah merasa jengkel dengan Fairuz.

Mengeluarkan motor dari parkiran, Hadi segera keluar dari

lingkungan pabrik. Sebuah warung yang terletak di pojokan luar pabrik bagian

belakang menjadi tujuannya.

Seorang perempuan dengan baju merah dengan panjang lengan

hanya sepundak yang dipadukan rok span coklat di atas lutut tersenyum ketika

melihat dirinya.

"Bang Hadi akhirnya datang juga," ucap perempuan

itu dengan manja. Langkahnya tampak gemulai menghampiri Hadi yang baru saja menstandarkan

motornya.

"Pasti dong, Reta Sayang. Kan Mas sudah kangen sama

kamu," balas Hadi yang menjawil dagu perempuan dengan bibir berhias

pewarna merah menyala.

Pemandangan itu dilihat semua orang yang ada di warung,

mereka hanya geleng kepala melihat laki-laki yang sudah mempunyai istri tetapi

kelakuannya seperti anak remaja.

"Bang Hadi mau kopi atau teh?" Reta merangkul

lengan Hadi ketika keduanya memasuki warung.

"Seperti biasa, Sayang."

"Siap." Hadi bergabung dengan penikmat kopi yang

lainnya. Ia menyapa yang ada di sana satu per satu.

Saat kopi sudah tiba, tidak lupa bermain mata dengan

perempuan bernama Reta.

***

Hadi memarkirkan motornya di pelataran rumah bersamaan

dengan azan magrib yang berkumandang. Sayup-sayup ia mendengar tangis dari

dalam rumah.

Laki-laki itu menghela napas dalam. "Pasti si bontot

yang nangis. Pasti Matun belum mandi juga. Ini nih yang bikin males pulang.

Suami pulang istri masih kucel. Mana bau lagi. Beda banget sama Reta yang

selalu menyambutku dengan cantik dan wangi."

Suara tangis semakin kencang terdengar, ia segera masuk dan

menemui sang istri. Benar saja. Daster lusuh menghiasi dengan rambut yang

diikat asal. Dalam gendongan istrinya anak mereka menangis.

"Dek. Rio kenapa?" tanyanya saat ia mendekat,

tidak terlalu dekat karena ia tidak betah dengan aroma sang istri.

Matun menoleh. "Bang, baru pulang?" Perempuan itu

mendekati suaminya dan meraih tangan untuk bersalaman.

Mau tidak mau Hadi pun menerimanya. Kening Matun terlipat

kala merasakan sesuatu, ia menatap suaminya penuh tanya. "Bang. Kok tangan

Abang bau parfum perempuan?"

Untuk sesaat Hadi terkejut, dalam hati ia menduga pasti

parfum Reta yang tertinggal. Namun, secepat itu ia memasang senyum.

"Mungkin parfum orang-orang kantor nempel di tangan Abang pas waktu kami

berjabat tangan. Tadi Abang bertemu mereka waktu mau pulang. Tahu sendiri orang

kantor parfumnya bagaimana, wanginya masya Alloh. Kalau ada orang kantor nih,

ya. Orangnya belum ada tapi baunya udah kecium, kalau udah lewat dan orangnya

udah nggak ada, baunya masih aja ketinggalan. Nggak laki nggak perempuan.

Maklum. Parfum mahal kali, ya?"

Matun ikut tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Jadi

Rio kenapa, Dek?"

"Susunya habis, Bang," ucap Matun.

Hadi menatap anaknya. "Bagaimana kalau kita sudahi saja

susunya Rio?"

Matun memandang suaminya terkejut. "Tapi, Bang—"

"Apa-apa, kan sekarang mahal. Coba kita siasati saja

bagaimana." Matun hanya diam, ia memandang putra bungsunya dan mencoba

menenangkan.

"Abang mau mandi dulu, ya. Magrib dulu. Habis itu biar

Abang yang gendong Rio."

Matun mengangguk. "Cepetan ya, Bang. Matun belum mandi

soalnya." Hadi tersenyum dan mengangguk. Ia memasuki kamar untuk mengambil

handuk.

"Lihat. Jauh sekali, kan bedanya. Parfum Reta saja

masih nempel di tanganku sampai rumah. Matun mah bikin ngelu,"

gerutu Hadi lirih. Tidak ingin istrinya mendengar.

Saat keluar dari kamar ia teringat anak pertamanya.

"Pendi mana, Dek?"

Matun yang masih mencoba menenangkan Rio menoleh sebentar.

"Ke masjid, Bang." Setelah mendapat jawaban Hadi segera menuju kamar

mandi.

Matanya membulat kala melihat baju kotor yang masih direndam

dalam bak besar. "Apa saja, sih yang dilakukan Matun di rumah? Sampai baju

saja belum dicuci?" Ia memegang dahinya sembari menggeleng.

Tidak mau ambil pusing, Hadi segera membersihkan dirinya.

Membasuh agar wangi Reta hilang meskipun sebenarnya ia tidak rela. Hanya saja,

ia tidak ingin Matun curiga.

***

Sepiring nasi dan ayam bumbu kecap serta tumis kangkung di

hadapannya, Hadi segera bersiap untuk menyantap makan malam.

Selain bau dan kucel juga gemuk, ini yang Hadi sukai dari Matun.

Tidak dipungkiri kalau masakan istrinya itu memang enak. Matun pun tahu selera

makannya.

Meskipun masakan Reta juga enak, tapi ia akui Matun lebih

jago. Daging tebal ia gigit, masuk ke mulut dan dikunyahnya.

"Bang. Abang sudah selesai belum?" teriak Matun

dari luar.

Hadi yang masih menikmati makanannya mendengus seketika.

"Sebentar ya, Dek!" teriaknya balik.

"Nggak tahu apa lagi enak-enak makan? Ganggu

saja." Ia masih menikmati makanannya. Bagi Hadi makan tanpa dinikmati

tidak bisa tenang.

Di lain sisi, Matun masih mencoba untuk menenangkan anak

bungsunya. Seorang perempuan dengan celana kulot datang mendekat.

"Nangis mulu, Tun?" Dia Niswa, kakaknya Matun.

Matun mendongak, "Iya, Mbak. Susunya abis."

"Dibuatkan lah, Tun."

Matun hanya tersenyum dan berucap tidak enak hati. "Rio

lagi dicoba lepas susu, Mbak."

Niswa yang mendengar terkejut. "Kenapa buru-buru. Belum

dua tahun juga." Matun hanya tersenyum, tidak mungkin mengatakan yang

sebenarnya.

Pandangan Niswa jatuh pada pakaian Matun. "Kamu belum

mandi, Tun."

Lagi-lagi Matun tersenyum. "Belum, Mbak."

"Hadi mana?"

"Tadi katanya mandi, Mbak. Mungkin sekarang salat

magrib."

"Hadeh," ucap Niswa. "Sini Rionya, kamu mandi

dulu sana. Udah gelap gini masih belum mandi." Niswa berusaha meraih Rio

dari gendongan Matun.

"Tapi, Mbak nggak capek emang?" Pasalnya, kakaknya

ini juga baru saja pulang kerja dari sift pagi. Meskipun pulangnya lebih

dulu dari Hadi, tapi Matun tahu kalau kakaknya baru saja membereskan rumah.

"Sudah. Timbang gendong ini." Rio sudah beralih

gendongan pada Niswa. "Wes. Ndang mandi sana."

Matun mengangguk. "Terima kasih, Mbak." Matun

segera masuk ke rumah untuk membersihkan diri.

Ia melihat suaminya yang makan sambil nonton tivi. Matun

menggeleng, tidak habis pikir dengan sang suami yang asyik makan. Akan tetapi,

perempuan itu berpikir positif. "Mungkin kelaparan dan lelah setelah

bekerja," ucapnya lirih.

Matun pun meninggalkan ruang tengah dan mengambil handuk di

dalam kamar, ia sedikit menghela napas kala melihat handuk bekas suaminya yang

tergeletak di atas ranjang.

Matun mengangkatnya. "Yah. Jadi basah, kan." Menoleh

pada bahu Matun berteriak! "Bang. Kalau selesai pakai handuk handuknya

digantung. Biar ranjangnya nggak basah."

"Iya." Di tempatnya hadi memutar bola matanya

malas. Meletakkan piring bekas makan, ia keluar dari rumah.

Melihat kakak iparnya yang sedang menggendong Rio. Hadi

mendekat. "Rionya anteng, Mbak?"

Niswa menoleh, "Iya." ucap Niswa. Hadi hanya

menyengir memperlihatkan giginya.

"Nih, tarok sana di dalam." Niswa memberikan Rio

pada Hadi. "Rio belum ada dua tahun. Jangan diputus dulu susunya.

Kasihan."

Tanpa kata Hadi hanya mengangguk, lalu segera masuk untuk

meletakkan Rio di kamar. Setelahnya ia memasuki area dapur, mendekati bak

cucian untuk ia cuci.

Matun yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat

suaminya. "Bang. Abang istirahat saja dulu."

"Nggak papa. Kamu pasti juga capek ngurus rumah

seharian. Biar aku bantu dikit-dikit." Matun tersenyum. Ia bersyukur

suaminya mau membantu.

"Terima kasih, Bang." Hadi mengangguk. Setelah

istrinya pergi, Hadi meliriknya sekilas.

"Hanya untuk formalitas, biar nggak dikatain suami

tega," ucapnya sembari menggilas pakaian dengan kaki.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ANGKASA [Perjodohan]
9.5
Angkasa Lesmana Regan awalnya menentang keras ide perjodohan yang direncanakan sang ibu. Namun, pendiriannya seketika goyah dan ia langsung setuju saat mengetahui bahwa calon istrinya adalah Meisya. Di balik sikap dingin dan pura-pura tidak kenal saat berada di lingkungan sekolah, Angkasa ternyata memiliki sisi tersembunyi. Saat di rumah, ia berubah total menjadi sosok yang sangat manja bahkan melebihi bayi demi mendapatkan perhatian dari Meisya.
Sampul Novel Cinta Tak Bersyarat
8.9
Arini terjebak dalam depresi berat akibat luka cinta yang mengganggu hormon kebahagiaannya. Burhan dan Morela, seorang psikiater, bekerja sama secara rahasia untuk menyelamatkan kesehatan mental Arini tanpa membuatnya merasa terhakimi. Meski Arini sempat menolak bantuan medis karena merasa tidak gila, pendekatan perlahan melalui olahraga dan dukungan emosional mulai menunjukkan hasil. Burhan menyadari bahwa mencintai Arini berarti mendukung kesembuhannya tanpa syarat apa pun.
Sampul Novel Cool vs Cold
8.4
Kehadiran Jay yang tak terduga membawa perubahan besar dalam kehidupan Avril, membangkitkan kembali perasaan yang telah lama terkubur. Melalui perhatian tulus dan kasih sayang yang nyata, Jay perlahan berhasil meruntuhkan dinding es yang menyelimuti hati Avril. Kini, Avril menyadari bahwa cinta sejati memang membutuhkan keberanian besar untuk melangkah maju. Ini adalah kisah tentang bagaimana kehangatan mampu meluluhkan hati yang selama ini membeku rapat.
Sampul Novel Dicerai kakak Dinikahi adik
8.0
Pasca bercerai dari Win, Iyas berjuang menata kembali hidupnya yang sempat hancur. Ia mencoba bangkit dengan membuka toko bunga demi melupakan masa lalu kelam. Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Bhaga, adik kandung mantan suaminya. Meski Bhaga adalah bagian dari sumber luka lamanya, pria itu justru hadir memberikan kenyamanan. Di tengah dilema antara benci dan rasa trauma, Iyas mulai merasa kembali berharga dan layak untuk dicintai olehnya.
Sampul Novel Ipar adalah Maut Pernikahan
9.6
Dian terjebak dalam perselingkuhan dengan Raihan, pria yang terikat pernikahan tanpa cinta. Meski dihantui rasa bersalah terhadap suaminya, Galih, dan sahabatnya, Laras, Dian sulit melepaskan diri. Saat ia mencoba menjauh, obsesi Raihan justru kian menguat. Situasi memanas ketika Laras mendatangi kamar Dian tanpa curiga. Kini, Dian harus menghadapi konsekuensi atas dosa yang mengancam menghancurkan reputasi, persahabatan, serta masa depannya selamanya.
Sampul Novel Pengantin SMA
8.4
Laura dan Kavin terpaksa menikah di usia sekolah setelah tertangkap basah berada dalam satu kamar. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, keduanya tak punya pilihan selain patuh pada keluarga. Menjalani rumah tangga ternyata jauh lebih rumit daripada pelajaran sekolah yang paling sulit sekalipun. Di tengah gejolak emosi masa muda, mereka hanya ingin bercerai namun belum berdaya. Sambil menunggu saat berpisah, mampukah pasangan ini tetap waras menghadapi satu sama lain?