
Suami Tak Ada Akhlak
Bab 2
Jam menunjukkan pukul empat. Para pekerja pabrik
berbondong-bondong keluar karena sudah waktunya pulang. Termasuk Hadi yang saat
ini tengah mengambil motor di parkiran.
Sebelum menyalakan mesin motor, ia memeriksa penampilannya
pada kaca spion. Sedikit membentuk rambutnya menyerupai jambul ala penyanyi
beken Syahrini.
"We, Di. Ayo pulang!" Seorang teman menepuk
pundaknya, membuat Hadi berjingkat karena terkejut.
Hadi menoleh. "Nanti dulu. Mau ngopi dululah."
Teman Hadi yang bernama Fairuz itu menggeleng. "Kau
ini, pulang kerja bukannya ke rumah nemuin anak istri malah keluyuran. Ngopi di
rumah, kan lebih enak. Gratis pula."
Hadi mengibaskan tangannya di depan wajah. "Halah. Kau,
kan memang suami takut istri," ejek Hadi.
"Eh, denger, ya. Kita sebagai laki-laki juga berhak
memanjakan diri di luar. Bagaimana? Ikut tidak?"
Fairuz menggeleng. Tahu betul apa yang dimaksud Hadi dengan
memanjakan diri itu. "Nggak usahlah. Aku mau pulang saja. Istriku pasti
khawatir kalau aku tak pulang-pulang," tolaknya dengan senyuman.
"Halah. Pulang sana kau ke ketiak istrimu."
Gerakan tangan mengusir itu pertanda Hadi sudah merasa jengkel dengan Fairuz.
Mengeluarkan motor dari parkiran, Hadi segera keluar dari
lingkungan pabrik. Sebuah warung yang terletak di pojokan luar pabrik bagian
belakang menjadi tujuannya.
Seorang perempuan dengan baju merah dengan panjang lengan
hanya sepundak yang dipadukan rok span coklat di atas lutut tersenyum ketika
melihat dirinya.
"Bang Hadi akhirnya datang juga," ucap perempuan
itu dengan manja. Langkahnya tampak gemulai menghampiri Hadi yang baru saja menstandarkan
motornya.
"Pasti dong, Reta Sayang. Kan Mas sudah kangen sama
kamu," balas Hadi yang menjawil dagu perempuan dengan bibir berhias
pewarna merah menyala.
Pemandangan itu dilihat semua orang yang ada di warung,
mereka hanya geleng kepala melihat laki-laki yang sudah mempunyai istri tetapi
kelakuannya seperti anak remaja.
"Bang Hadi mau kopi atau teh?" Reta merangkul
lengan Hadi ketika keduanya memasuki warung.
"Seperti biasa, Sayang."
"Siap." Hadi bergabung dengan penikmat kopi yang
lainnya. Ia menyapa yang ada di sana satu per satu.
Saat kopi sudah tiba, tidak lupa bermain mata dengan
perempuan bernama Reta.
***
Hadi memarkirkan motornya di pelataran rumah bersamaan
dengan azan magrib yang berkumandang. Sayup-sayup ia mendengar tangis dari
dalam rumah.
Laki-laki itu menghela napas dalam. "Pasti si bontot
yang nangis. Pasti Matun belum mandi juga. Ini nih yang bikin males pulang.
Suami pulang istri masih kucel. Mana bau lagi. Beda banget sama Reta yang
selalu menyambutku dengan cantik dan wangi."
Suara tangis semakin kencang terdengar, ia segera masuk dan
menemui sang istri. Benar saja. Daster lusuh menghiasi dengan rambut yang
diikat asal. Dalam gendongan istrinya anak mereka menangis.
"Dek. Rio kenapa?" tanyanya saat ia mendekat,
tidak terlalu dekat karena ia tidak betah dengan aroma sang istri.
Matun menoleh. "Bang, baru pulang?" Perempuan itu
mendekati suaminya dan meraih tangan untuk bersalaman.
Mau tidak mau Hadi pun menerimanya. Kening Matun terlipat
kala merasakan sesuatu, ia menatap suaminya penuh tanya. "Bang. Kok tangan
Abang bau parfum perempuan?"
Untuk sesaat Hadi terkejut, dalam hati ia menduga pasti
parfum Reta yang tertinggal. Namun, secepat itu ia memasang senyum.
"Mungkin parfum orang-orang kantor nempel di tangan Abang pas waktu kami
berjabat tangan. Tadi Abang bertemu mereka waktu mau pulang. Tahu sendiri orang
kantor parfumnya bagaimana, wanginya masya Alloh. Kalau ada orang kantor nih,
ya. Orangnya belum ada tapi baunya udah kecium, kalau udah lewat dan orangnya
udah nggak ada, baunya masih aja ketinggalan. Nggak laki nggak perempuan.
Maklum. Parfum mahal kali, ya?"
Matun ikut tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Jadi
Rio kenapa, Dek?"
"Susunya habis, Bang," ucap Matun.
Hadi menatap anaknya. "Bagaimana kalau kita sudahi saja
susunya Rio?"
Matun memandang suaminya terkejut. "Tapi, Bang—"
"Apa-apa, kan sekarang mahal. Coba kita siasati saja
bagaimana." Matun hanya diam, ia memandang putra bungsunya dan mencoba
menenangkan.
"Abang mau mandi dulu, ya. Magrib dulu. Habis itu biar
Abang yang gendong Rio."
Matun mengangguk. "Cepetan ya, Bang. Matun belum mandi
soalnya." Hadi tersenyum dan mengangguk. Ia memasuki kamar untuk mengambil
handuk.
"Lihat. Jauh sekali, kan bedanya. Parfum Reta saja
masih nempel di tanganku sampai rumah. Matun mah bikin ngelu,"
gerutu Hadi lirih. Tidak ingin istrinya mendengar.
Saat keluar dari kamar ia teringat anak pertamanya.
"Pendi mana, Dek?"
Matun yang masih mencoba menenangkan Rio menoleh sebentar.
"Ke masjid, Bang." Setelah mendapat jawaban Hadi segera menuju kamar
mandi.
Matanya membulat kala melihat baju kotor yang masih direndam
dalam bak besar. "Apa saja, sih yang dilakukan Matun di rumah? Sampai baju
saja belum dicuci?" Ia memegang dahinya sembari menggeleng.
Tidak mau ambil pusing, Hadi segera membersihkan dirinya.
Membasuh agar wangi Reta hilang meskipun sebenarnya ia tidak rela. Hanya saja,
ia tidak ingin Matun curiga.
***
Sepiring nasi dan ayam bumbu kecap serta tumis kangkung di
hadapannya, Hadi segera bersiap untuk menyantap makan malam.
Selain bau dan kucel juga gemuk, ini yang Hadi sukai dari Matun.
Tidak dipungkiri kalau masakan istrinya itu memang enak. Matun pun tahu selera
makannya.
Meskipun masakan Reta juga enak, tapi ia akui Matun lebih
jago. Daging tebal ia gigit, masuk ke mulut dan dikunyahnya.
"Bang. Abang sudah selesai belum?" teriak Matun
dari luar.
Hadi yang masih menikmati makanannya mendengus seketika.
"Sebentar ya, Dek!" teriaknya balik.
"Nggak tahu apa lagi enak-enak makan? Ganggu
saja." Ia masih menikmati makanannya. Bagi Hadi makan tanpa dinikmati
tidak bisa tenang.
Di lain sisi, Matun masih mencoba untuk menenangkan anak
bungsunya. Seorang perempuan dengan celana kulot datang mendekat.
"Nangis mulu, Tun?" Dia Niswa, kakaknya Matun.
Matun mendongak, "Iya, Mbak. Susunya abis."
"Dibuatkan lah, Tun."
Matun hanya tersenyum dan berucap tidak enak hati. "Rio
lagi dicoba lepas susu, Mbak."
Niswa yang mendengar terkejut. "Kenapa buru-buru. Belum
dua tahun juga." Matun hanya tersenyum, tidak mungkin mengatakan yang
sebenarnya.
Pandangan Niswa jatuh pada pakaian Matun. "Kamu belum
mandi, Tun."
Lagi-lagi Matun tersenyum. "Belum, Mbak."
"Hadi mana?"
"Tadi katanya mandi, Mbak. Mungkin sekarang salat
magrib."
"Hadeh," ucap Niswa. "Sini Rionya, kamu mandi
dulu sana. Udah gelap gini masih belum mandi." Niswa berusaha meraih Rio
dari gendongan Matun.
"Tapi, Mbak nggak capek emang?" Pasalnya, kakaknya
ini juga baru saja pulang kerja dari sift pagi. Meskipun pulangnya lebih
dulu dari Hadi, tapi Matun tahu kalau kakaknya baru saja membereskan rumah.
"Sudah. Timbang gendong ini." Rio sudah beralih
gendongan pada Niswa. "Wes. Ndang mandi sana."
Matun mengangguk. "Terima kasih, Mbak." Matun
segera masuk ke rumah untuk membersihkan diri.
Ia melihat suaminya yang makan sambil nonton tivi. Matun
menggeleng, tidak habis pikir dengan sang suami yang asyik makan. Akan tetapi,
perempuan itu berpikir positif. "Mungkin kelaparan dan lelah setelah
bekerja," ucapnya lirih.
Matun pun meninggalkan ruang tengah dan mengambil handuk di
dalam kamar, ia sedikit menghela napas kala melihat handuk bekas suaminya yang
tergeletak di atas ranjang.
Matun mengangkatnya. "Yah. Jadi basah, kan." Menoleh
pada bahu Matun berteriak! "Bang. Kalau selesai pakai handuk handuknya
digantung. Biar ranjangnya nggak basah."
"Iya." Di tempatnya hadi memutar bola matanya
malas. Meletakkan piring bekas makan, ia keluar dari rumah.
Melihat kakak iparnya yang sedang menggendong Rio. Hadi
mendekat. "Rionya anteng, Mbak?"
Niswa menoleh, "Iya." ucap Niswa. Hadi hanya
menyengir memperlihatkan giginya.
"Nih, tarok sana di dalam." Niswa memberikan Rio
pada Hadi. "Rio belum ada dua tahun. Jangan diputus dulu susunya.
Kasihan."
Tanpa kata Hadi hanya mengangguk, lalu segera masuk untuk
meletakkan Rio di kamar. Setelahnya ia memasuki area dapur, mendekati bak
cucian untuk ia cuci.
Matun yang baru saja keluar dari kamar mandi melihat
suaminya. "Bang. Abang istirahat saja dulu."
"Nggak papa. Kamu pasti juga capek ngurus rumah
seharian. Biar aku bantu dikit-dikit." Matun tersenyum. Ia bersyukur
suaminya mau membantu.
"Terima kasih, Bang." Hadi mengangguk. Setelah
istrinya pergi, Hadi meliriknya sekilas.
"Hanya untuk formalitas, biar nggak dikatain suami
tega," ucapnya sembari menggilas pakaian dengan kaki.
Anda Mungkin Juga Suka





