
Suami Tak Ada Akhlak
Bab 3
Formalitas
***
"Rio, Sayang," panggil seseorang saat Matun
mengajak anak bungsunya bermain di depan rumah.
"Main apa, Sayang? Hem?"
"Main mobil-mobilan, Tante." Sugi. Kakak ipar
Matun datang dengan anak perempuannya.
Dalam keluarga Makijan, semua rumah anaknya baris dan saling
berdempetan. Dari arah selatan adalah rumahnya, ke utara di sampingnya rumah
sang kakak yang bernama Tami, sebelahnya lagi rumah Niswa.
Ketiga bangunan itu saling berdempetan. Sebelah utara rumah
Niswa ada gang kecil sebagai akses ke belakang di mana orang tua mereka
tinggal.
Sebelah utara gang kecil itu adalah rumah kakak laki-laki
Matun yang bernama Fidun, anak kedua dari Makijan dan suami dari sugi.
Matun masih mempunyai kakak perempuan lain, namanya Maria
yang kini tinggal bersama suaminya di desa sebelah. Ia juga masih mempunyai adik
laki-laki yang bernama Eko—belum menikah dan masih tinggal bersama orang tua
mereka.
Sugi memandang ke arah rumah Matun. "Sepi amat, Tun.
Pada ke mana?"
"Pendi ikut Pak ke sawah tadi. Katanya mau cari yuyu.
Kalau Bang Hadi ke rumah temennya."
Sugi hanya mengangguk dengan mulut berbentuk huruf O.
"Tun. Ikut, yuk!"
Matun menatap bingung. "Ke mana?"
"Kita makan bakso. Gimana?"
Matun terkekeh. "Mas Fidun baru gajian, ya?"
Memang. Kakak dan kakak iparnya yang satu ini sering sekali mengajak dia atau
Pendi makan di luar kalau baru saja gajian. Dan semua itu dibayari.
Terkadang, jika tidak sempat keluar maka Pendi akan diberi
uang saku.
Sugi mengibaskan tangan di depan wajah. "Ah, enggak.
Lagi pengen aja. Gimana? Kamu ajak Rio, aku ajak Ratna. Pandi ikut Pak ke
sawah, kan?"
Matun tampak menimang. "Udah, ayok."
"Ya udah. Aku ganti pakai celana dulu sama ambil
gendongan Rio, Mbak."
"Iya."
"Titip Rio dulu." Matun memasuki rumah, ia
mengganti daster lusuhnya dengan celana bahan agar mudah saat berjalan.
"Yuk, Mbak."
"Cepet banget."
"Timbang ganti ini." Matun menggendong Rio dan
Sugi menggandeng putrinya. Mereka berjalan ke arah jalan besar untuk makan
bakso langganannya.
Memang. Di desa ini belum banyak yang memiliki motor.
Sebagian besar pun masih sejenis motor Supri untuk para suami bekerja. Jadi,
berjalan adalah kebiasaan para istri di sini untuk bepergian.
"Capek nggak, Tun gendong Rio yang segede ini?"
Matun tersenyum. "Capek pasti, Mbak. Tapi mau bagaimana
lagi?"
"Gantian sini kalau capek."
"Eh, nggak usah, Mbak. Nanti aja."
"Bener?" Matun mengangguk. Keduanya kini berjalan
di samping pabrik keramik. Di sinilah suami Matun Hadi bekerja.
Pabrik ini termasuk besar dengan bayaran yang lumayan. Belum
lagi kalau tanggal merah tetap masuk, maka gajinya sama saja dua hari kerja.
Kadang, Matun bingung dengan keadaan. Suaminya yang bekerja
di pabrik keramik besar kenapa hidupnya masih begini-begini saja. Masih mending
kakak-kakaknya yang hanya bekerja di pabrik lain.
Fidun. Kakaknya yang kedua hanya bekerja di pabrik roti
biasa. Lalu suami dari kakak ketiga—hanya bekerja di pabrik karton kecil.
Ah, kalau kakaknya Niswa, kan memang suami istri bekerja
semua. Tidak heran. Akan tetapi, kakaknya Fidun. Hanya sang suami yang bekerja
tetapi kehidupannya terlihat mapan.
Matun melirik kakak iparnya itu. "Mbak,"
panggilnya. Sugi hanya menoleh dengan gumaman.
"Maaf, ya. Matun mau tanya."
"Tanya apa?" Kening Sugi terlipat.
"Sebelumnya Matun mau minta maaf. Kalau dilihat-lihat,
Mbak sama Mas Fidun tuh mapan. Bisa beliin anak ini itu. Mbak kerja juga?"
Sugi terkekeh. "Mbak mah ibu rumah tangga biasa. Yang
kerja cuma masmu saja." Matun mengangguk.
"Tapi kenapa Matun bisa beda sama Mbak, ya?"
tanyanya lirih.
"Beda gimana?"
Matun menghela napas. "Lihat Matun, Mbak. Baju kucel,
kalau Pendi minta uang jajan Matun sering nggak bisa kasih."
Mereka berhenti dengan Matun yang menatap Sugi dalam.
"Bagaimana sih, Mbak mengelola uang?"
Sugi tersenyum. "Ya dikelola. Beli sesuatu yang diperlukan,
yang bener-bener butuh. Untungnya masmu itu makannya nggak rewel, apa aja
masuk. Makan seadanya aja. Ya ... sesekali beli ayam atau daging buat nyenengin
anak-anak," ucapnya menatap Ratna yang Sugi gandeng.
"Beli ayam nggak setiap hari, Mbak?"
Lagi-lagi Sugi tertawa kecil. "Iya enggaklah. Makan
ayam setiap hari mau jadi apa. Nggak punya tabungan bisa-bisa. Ya seenggaknya
seminggu sekali lah. Kalau beli daging aja nggak barang mesti sebulan
sekali."
Matun mengerjap. Sesuatu menyadarinya. Selama ini mereka
kalau makan selalu menu yang bisa dikatakan mewah. Jika bukan ayam, maka segala
jenis ikan menjadi santapannya.
Itu pun bukan hanya dua atau tiga potong tiap hari. Lebih
dari lima potong karena sekali makan suaminya itu menghabiskan satu ikan utuh.
"Makan yang adanya itu bagaimana, Mbak."
"Ya seadanya aja. Masmu paling suka sambel-sambelan.
Daun ketela, singkong, lembayung, krai, kecipir. Itu paling suka masmu.
Anak-anak biasanya aku sediain telur. Kita mah yang orang tua ngalah aja,"
jelas Sugi.
Matun merenung. Makanan seperti itu, Hadi pasti akan
mengomel. Katanya, sedari kecil udah makan yang beginian, masak pas gede
setelah kerja sendiri makannya masih beginian. Matun menghela napas sangat
dalam.
"Sudah ah, ayok. Nggak makan bakso ini nanti."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Sebuah warung bakso di pinggir jalan besar yang terkenal
enak menjadi tujuannya. Sayangnya, karena terkenal akan rasa yang enak mereka
harus mengantre terlebih dahulu.
"Pesen minumnya tiga, Mas." Mereka memilih tempat
duduk di bagian sudut warung. Tempat ini hanya ditutupi banner besar
untuk menghalangi pandangan dari orang yang lalu lalang di jalan raya.
Alhasil, masih bisa mereka lihat yang berseliweran di jalan.
"Lek Hadi," ucap Ratna. Hal itu mengejutkan kedua
orang dewasa di sana.
"Lek Hadi?" tanya Sugi pada anaknya.
Gadis kecil itu menoleh pada sang ibu, mengangguk lalu
menunjuk ke arah jalan Raya. Sugi dan Matun mengikuti arah pandang yang ditunjuk
Ratna.
Di seberang jalan, terlihat Hadi bersama seorang perempuan
berpakaian minim tengah mengobrol. "Itu, kan suamimu Hadi, Tun?"
Matun mengangguk. "Sama siapa dia, Tun?" tanya
Sugi.
Matun menggeleng. "Enggak tahu, Mbak."
Sesaat kemudian mata Matun membola karena terkejut.
Bagaimana tidak, sekarang dua orang itu berboncengan dengan mesra. Perempuan
itu memeluk Hadi erat ketika berada di boncengan, lalu keduanya pergi sebelum
Matun sempat memanggil suaminya.
"Mbak. Kok perempuan tadi mesra banget sama Bang Hadi.
Dia siapa, Mbak?"
"Mbak juga nggak tahu. Coba nanti tanya sama
suamimu." Perasaan Matun menjadi gelisah. Melihat suaminya tadi mereka
seperti pasangan saja.
"Mbak. Kita pulang saja, ya. Matun udah nggak selera
makan," ucap Matun tidak enak hati.
Sugi menimang. Ia pun mengangguk mengerti perasaan adik
iparnya. "Kita bungkus saja, ya?" Tidak ada bantahan dari Matun.
Pikirannya hanya tertuju pada sang suami dan perempuan berpakaian minim yang
dibonceng suaminya.
***
Matun-mondar mandir di depan rumah menunggu suaminya pulang.
Rio dan Pendi saat ini berada di rumah kakaknya Fidun. Entah kenapa tadi sang
kakak mengajak kedua anaknya, seperti tahu akan ada sesuatu.
"Ke mana Bang Hadi? Kok nggak pulang-pulang, sih?"
gerutunya. Berjalan ke utara lalu balik lagi ke selatan.
Suara motor yang ia kenali membuat Matun mengalihkan
pandangan, ia melihat suaminya yang baru saja datang.
Matun turun dari teras, menghampiri Hadi yang menstandarkan
motornya. "Bang. Abang dari mana?"
Bukannya menjawab Hadi malah mengulurkan tangannya.
"Suami pulang bukannya cium tangan malah dikasih pertanyaan," ucap
Hadi.
Lagi-lagi Matun segera mencium punggung tangan suaminya.
Cepat-cepat karena ia tidak ingin membuang waktu. "Abang tadi dari
mana?"
"Kan tadi pas pergi udah bilang mau ke rumah
temen." Hadi berjalan memasuki rumah.
"Bang. Tadi Adek melihat Abang boncengan sama
perempuan. Pakaiannya seksi. Kalian boncengan dengan mesra." Hadi sempat
mematung mendengar ucapan istrinya.
"Dia adik temennya Abang. Tadi minta tolong anterin ke
suatu tempat," ucapnya memberi alasan. Hadi meraih minuman untuk ia teguk
guna menghilangkan rasa gugup yang dirasa.
"Kenapa nggak minta anter sama kakaknya saja? Temen
Abang itu."
Hadi menghela napas dalam, memutar otak mencari jawaban.
"Istrinya teman Abang hamil besar. Nggak mungkinlah ditinggal."
Alasan Hadi masuk akal. Akan tetapi, Matun masih saja merasa
gelisah. "Tapi, Bang. Abang sama perempuan tadi kelihatan mesra
sekali."
"Dek," panggil Hadi dengan nada yang sedikit
keras. "Abang tidak suka, ya ditanya-tanya kayak gini. Abang ini baru
pulang, capek. Kamu malah bikin Abang pusing?"
"Matun, kan hanya tanya, Bang. Kok Abang marah?"
tanya Marun dengan suara lirih.
"Ah sudahlah. Abang mau mandi," ucap Hadi sembari meninggalkan
Matun.
Matun hanya bisa membanting tubuhnya pada kursi. Menarik
napas dalam untuk melepaskan rasa bingung karena belum mendapat jawaban pasti.
Anda Mungkin Juga Suka





