
Suami Pertama
Bab 2
“Ren, kemarin gue liat si Selvy sama si Reza di kafe. Mereka ngobrol mesra-mesraan gitu, pake manggil sayang lagi,” lapor Agus–teman kantor Rendy.
“Ah, masa? Jangan fitnah lu, Gus. Ntar dosa.” Rendy tak langsung percaya begitu saja.
“Fitnah matamu! Serius gua, Ren. Gua nggak lagi becanda,” ucap Agus, memasang ekspresi serius.
Rendy malah membuang muka. Mengembuskan napas kasar, Agus kemudian berkata lagi, “Oke deh. Kalau lu nggak percaya, lu datang aja ke Hotel Cendana. Gua denger mereka mau ketemuan di sana. Si cowoknya udah booking hotel. Kayaknya mau ... anu-anuan deh.”
Agus memberi kode dengan kedua tangannya kepada Rendy. Dengan cepat, Rendy menepis pikiran buruk itu. “Hus! Nggak mungkin. Selvy itu gadis baik. Mana mungkin dia ngelakuin hal-hal kayak gitu,” ucapnya.
“Makanya, nanti lu buktiin sendiri. Lu bisa buktiin ucapan gua, ya. Kalau lu minta anter, gua bersedia nganter lu ke hotel itu. Jadi laki tuh jangan bodoh, Ren. Bisa-bisanya lu ketipu sama tampang polos si Selvy.” Agus berusaha meyakinkan.
“Oke, Bapak Agus terhormat. Nanti akan gua buktiin kalau Selvy nggak salah,” ucap Rendy akhirnya.
Rendy yang penasaran pun, pergi ke hotel Cendana berbekal rekaman Selvy dan selingkuhannya yang diberikan Agus. Isi rekaman itu ialah alamat hotel dan nomor kamar yang akan mereka tempati. Setelah menanyakan kepada petugas, Rendy menuju ke kamar no. 2411.
Pria itu berhenti tepat di depan pintu. Suara desahan terdengar, menandakan kalau di dalam ada dua insan yang tengah memadu kasih. Mengembuskan napas kasar, hatinya berdebar-debar. Sanggupkah ia menerima kenyataan pahit kalau yang di dalam kamar itu benar Selvy dan Reza–sahabat SMPnya?
Sebisa mungkin, Rendy menenangkan hatinya. Ia membuang pikiran buruk tentang Selvy. Perlahan, ia mengetuk pintu. Namun, tak ada respon. Berkali-kali pintu diketuk juga tak ada respon. Akhirnya, Rendy membuka pintu kamar itu yang kebetulan tidak dikunci.
Betapa terkejutnya ia saat melihat pemandangan yang menjijikkan itu.
“Astagfirullahalazim, Selvy!” seru Rendy dengan netra yang membulat. Ia tidak percaya pada apa yang dilihatnya.
Sontak Selvy dan Reza terkejut dengan kedatangan Rendy yang tak diundang. Kedua insan yang tidak mengenakan sehelai kain itu pun refleks menutupi tubuh mereka dengan selimut. Dengan hati yang terluka, Rendy memberanikan diri masuk ke dalam ruangan itu.
“Ternyata ini yang kamu lakukan di belakangku, kamu bermain api dengan sahabatku sendiri, Selvy! Aku kecewa sama kamu!” Rendy menatap Selvy dengan pandangan yang berapi-api.
“Mas, a-aku bisa jelasin–“ ucap Selvy terbata-bata.
“Cukup, Selvy! Aku nggak mau mendengar penjelasan apa pun dari kamu!” Sedetik kemudian, pandangan Rendy beralih kepada Reza. “Dan kamu, Reza! Ambil perempuan j*l*ng ini, aku udah nggak butuh. Mulai hari ini, aku dan kalian nggak ada hubungan apa-apa!”
Pertengkaran antara mereka bertiga berhasil mencuri perhatian orang-orang. Banyak orang yang mengambil foto-foto mereka untuk di–viralkan. Rendy membalikkan badan, meninggalkan kedua pasangan b*j*t itu. Ia segera keluar dari hotel itu.
Rendy tak habis pikir kepada Selvy, gadis manis yang dia kenal baik hati dan polos itu ternyata bisa berbuat hal yang jelas-jelas dilarang. Awal mula pertemuannya dengan gadis itu ialah ketika dirinya tanpa sengaja menyerempet gadis itu saat akan menyeberangi jalan raya. Sebelumnya, dia hanya mengenal namanya saja, karena kerap menjadi bahan pembicaraan kaum laki-laki. Selvy terkenal karena kecantikannya.
Setelah menolong, Rendy mengajak berkenalan. Mereka saling bertukar nomor whatsapp, berkirim pesan. Hari-hari mereka lewati bersama. Rasa penat usai pulang bekerja hilang begitu saja. Lama-kelamaan rasa cinta hadir begitu saja di hati Rendy. Suatu ketika dia menyatakan cintanya langsung kepada Selvy dan beruntungnya gadis itu menerima Rendy.
Rasa ingin memiliki mulai singgah di hati. Dia sudah mantap, akan segera melamar dan menikahi Selvy. Rendy tak ingin berlama-lama pacaran karena takut hal yang sudah berlalu terulang kembali. Yap, jauh sebelum mengenal Selvy, dia pernah memiliki hubungan dengan wanita lain yaitu Aulia. Mereka berhubungan sudah lama, yakni sejak mereka duduk di bangku kelas 2 SMA. Namun, takdir memisahkan mereka. Aulia dijodohkan oleh kedua orang tuanya yang pada akhirnya mau tidak mau hubungan mereka kandas.
Membutuhkan waktu yang cukup lama baginya untuk melupakan kenangan indah yang dia ukir bersama Aulia. Saat dia sudah ‘sembuh’, menemukan tambatan hatinya yang baru, saling berjanji untuk sehidup semati, dia malah dikecewakan oleh kenyataan. Selvy diam-diam menjalin hubungan di belakangnya, bersama Reza–sahabat SMP yang bekerja satu kantor dengannya dan mempunyai jabatan yang lebih tinggi.
"Ren!" Panggilan Nitta berhasil membuyarkan lamunan Rendy.
"Eh, iya, Ma. Ada apa?" Rendy merespon secepat mungkin.
"Ada yang mau Mama dan Papa omongin sama kamu, penting. Ayo, ikut Mama ke ruang keluarga," ajak Nitta.
"Iya," balas Rendy seraya mengangguk.
Nitta berjalan ke ruang keluarga, diikuti Rendy. Di sana, sudah ada papanya. Hati Rendy berdebar, hal apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tuanya?
"Rendy, duduk!" titah Adi.
Rendy pun duduk di salah satu kursi. Nitta duduk di samping putranya.
"Ada apa, ya, Ma, Pa? Kok manggil Rendy ke sini?" tanyanya, memandang Adi dan Nitta bergantian.
"Begini Rendy, tadi papa sama mama udah berunding soal kamu." Adi memulai pembicaraan. Rendy menatap sang ayah dengan tatapan serius.
"Kami sepakat menjodohkan kamu sama Vania," lanjutnya.
"Gimana? Kamu mau kan menikahi Vania?" tanya Nitta, ia berharap putranya itu mau.
Rendy terdiam sejenak. Ia baru saja disakiti kekasih yang amat dicintainya. Ingin menenangkan hati, ia malah diminta menikahi Vania.
Sebenarnya, Rendy tidak mencintai Vania. Tapi, kala mengingat Ryan, ia tak tega. Ia sangat menyayangi keponakannya. Menarik napas panjang, Rendy berkata, "Oke, Ma, Pa. Aku mau menikahi Vania. Tapi, nanti setelah masa idahnya habis."
'Nggak papa aku nikah sama Vania karena cuma dengan menikahi Vania rasa sakit hatiku bisa terobati. Aku akan berusaha mencintainya. Aku akan berusaha melupakan Aulia dan Selvy.' Rendy membatin.
Anda Mungkin Juga Suka





