
Suami Pertama
Bab 3
Beberapa hari sepeninggal Rangga
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Hujan deras yang mengguyur daerah Vania tinggal belum jua reda. Pun dengan air mata Vania yang terus saja mengalir. Tiada hari tanpa tangisan. Pertanyaan demi pertanyaan dari warga berhasil membuatnya ingat kepada Rangga, semakin membuat wanita itu bersedih.
Menatap salah satu foto yang berbingkai, Vania mengambil dan memeluk foto itu. Foto Rangga ketika menikah dengannya, mengenakan jas dan peci juga dasi.
“Mas Rangga, pasti sekarang kamu udah tenang di alam sana,” gumam Vania.
Memejamkan mata, Vania merasakan ada angin yang sangat dingin mengenai tubuh. Saat ia membuka matanya kembali, gorden kamar tersibak angin. Di balik gorden itu, Vania melihat ada bayangan seseorang entah siapa. Karena penasaran, ia memberanikan diri mendekati gorden.
Kriettt!
Gorden disingkapkan, tetapi Vania tidak menemukan siapapun. Hanya rintik hujan disertai kilatan petir yang menambah horor suasana. Bergegas Vania menutupnya kembali.
Baru saja ia akan berbalik, Vania dikejutkan dengan bayangan yang berpindah-pindah cepat di balik gorden. Saat ia akan mendekati, terdengar suara Ryan menangis. Gegas Vania keluar kamarnya, masuk ke kamar Ryan.
“Ryan? Ada apa, Sayang? Kok kamu nangis?” tanya Vania seraya memeluk putranya.
“Mama ... ada hantu,” rengek Ryan.
“Apa? Hantu? Mungkin kamu berhalusinasi, Ryan. Di sini nggak ada hantu.” Vania berusaha meyakinkan, walaupun dirinya juga merasa ketakutan setelah melihat bayang-bayang itu.
“Beneran, Ma. Tadi ada hantu di jendela itu.” Ryan menunjuk ke salah satu jendela kamarnya.
“Nggak ada apa-apa. Sudah, tidur. Sekarang udah malam. Ayok, Mama temenin,” ajak Vania.
Ryan pun menurut. Ia merebahkan tubuh mungilnya di atas ranjang, bersebelahan dengan sang mama. Vania memejamkan mata, tapi ia tak ingin tidur. Ditatapnya Ryan, bocah itu sudah terlelap, disambut dunia mimpi.
‘Kasihan kamu, Ryan. Sekecil ini kamu harus kehilangan Papa. Mama janji, akan berusaha membahagiakan kamu, Nak. Mama akan selalu memberikan yang terbaik buat kamu.’ Vania membatin.
Tak mau membuat Ryan bangun, ia berusaha menidurkan matanya. Belum berapa lama, terdengar suara ketukan pintu. Vania tak jadi tidur, ia malah bangun dan berjalan menuju pintu depan.
Perlahan, tangan mulusnya membuka pintu. Namun, nihil. Tidak ada seorang pun di luar. Menarik napas panjang, Vania memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah.
Baru saja pintu ditutup, ia melihat ada bayangan orang di balik gorden, tak jauh dari sana. Ia berjalan mendekat dengan hati yang berdebar dan dikuasai rasa takut. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Bulu kuduknya meremang.
Perlahan, Vania menyingkap gorden dan ...
“Aaaaa ...!” Vania menjerit histeris saat melihat sosok menyeramkan berdiri di depan kaca. Sosok laki-laki berpakaian kotor. Mukanya nyaris hancur dan dipenuhi darah.
Vania hendak melarikan diri, tetapi entah mengapa tubuhnya serasa kaku seketika. Ia tak bisa menggerakkan kakinya. Vania terus berteriak, berharap Ryan bangun dan membantunya. Namun, Ryan tidak mendengarnya. Ia malah semakin terlelap.
Vania memejamkan mata, ia merasakan hawa dingin menusuk kulit. Ia mendengar suara yang amat ia kenal, pelan, seperti orang berbisik. “Tolong aku!” bisiknya.
Sedetik kemudian, ia menoleh ke arah sosok tadi. Sosok menyeramkan itu masih berada di sana, belum berpindah. Vania melihat rembesan darah keluar dari kepala sosok itu. Ia pingsan di sana.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu sukses membangunkan Vania dari pingsannya. Vania merasa heran, mengapa ia bisa tidur di lantai. Ia melirik jam dinding yang letaknya tak jauh dari dirinya, pukul dua belas malam tepat.
“Kenapa aku bisa tidur di sini? Sosok itu? Mungkin itu mimpi,” gumamnya.
Sebenarnya, Vania takut. Tapi, ia juga penasaran, siapa yang bertamu malam-malam ke rumahnya? Mungkinkah itu mertua, ipar, atau saudaranya Rangga?
Vania mencoba berpikiran positif. Ia berjalan pelan, kembali membukakan pintu depan. Berharap yang datang adalah keluarga suaminya. Saat dibuka, ia mendapati seseorang membelakanginya. Perlahan, Vania mendekati sosok laki-laki itu. Dari jarak dekat, Vania mendengar suara tangis memilukan.
Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, tangan Vania menyentuh pundak sosok itu. Ia merasakan pundak si laki-laki itu dingin. Hati Vania semakin berdebar tak karuan. Ia merasa tidak tenang. Perlahan, sosok itu membalikkan badan ...
Anda Mungkin Juga Suka





