Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SUAMI PENGGANTIKU (BUKAN) PRIA PAYAH

SUAMI PENGGANTIKU (BUKAN) PRIA PAYAH

Setelah dikhianati oleh Bastian yang berselingkuh dengan saudara tirinya, Mentari menolak melanjutkan pernikahan. Demi menjaga perjanjian keluarga, ia terpaksa menerima Samudra, paman Bastian, sebagai mempelai pengganti. Samudra dikenal sebagai pria kumal dan payah yang dikabarkan tidak menyukai wanita. Namun, keputusan Samudra untuk menikahi Mentari memicu tanda tanya besar. Apakah sosok yang diasingkan keluarganya ini benar-benar pria tidak berguna, atau justru menyimpan rahasia besar?
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku menelan ludah dengan susah payah. Pandangan tajam ini mengabur dengan sendirinya karena kaca-kaca yang mulai menutupi bola mata.

Sumpah demi apa pun, hatiku sakit. Sakit karena pengkhianatan Bastian dan Novita, juga karena ucapan busuknya.

Aku ingin lebih memaki, tetapi rasanya percuma.

Akhirnya aku membalikkan badan tanpa berkata-kata lagi. Lalu membawa kaki ini melangkah keluar. Meninggalkan ruangan yang baru saja digunakan perbuatan terkutuk manusia-manusia laknat itu.

“Ini salahmu, kenapa tidak mengunci pintunya?”

Langkahku terhenti di depan kamar saat mendengar suara Bastian. Walaupun tidak jelas karena diucapkan dengan mendesis, tetapi telingaku cukup baik menangkapnya.

“Mana aku tahu dia mau ke sini?” Itu Novita yang menimpali. “Sudah kubilang lebih baik ke hotel seperti biasa. Tapi kamu malah mau di sini. Salahku di mana?”

“Sial!” Bastian mengumpat.

Aku memejam dengan kuat. Satu kesimpulan yang dapat diambil dari dialog singkat mereka, jika ini bukan yang pertama dan sebuah kekhilafan seperti yang selalu diucapkan lelaki itu.

Dan satu tekadku yang tidak akan dapat diubah lagi, pembatalan pernikahan.

**

“Memalukan!”

Plak!

Umpatan kasar disertai sebuah tamparan mendarat di pipi Bastian, sementara aku sengaja menutup mataku saat adegan itu terjadi.

Aku mengerti Om Benny pasti terpukul dan marah mengetahui jika anak kesayangannya melakukan hal nista beberapa hari menjelang hari pernikahannya.

“Apa yang kamu lakukan, Benny? Jangan memukul anakku!” Wanita setengah bule yang sejak tadi memeluk Bastian bereaksi keras saat tamparan mendarat dan meninggalkan jejak kemerahan di pipi pemuda itu. Wanita itu mengusap pipi Bastian dengan lembut sembari menatap suaminya dengan mata terbelalak.

“Anakmu pantas mendapatkanya, Esther! Lihat apa yang sudah diperbuatnya? Ia membuat malu keluarga kita dengan meniduri calon iparnya sendiri!” Om Benny berbalik menghadap wanita setengah bule yang masih saja memeluk dan membelai pipi Bastian. “Penikahan ini terancam batal. Mau ditaruh di mana muka kita, hah?”

Aku tahu Tante Esther sangat menyayangi Bastian. Bahkan masih memperlakukannya berlebihan seperti anak kecil. Karenanya ia tidak terima suaminya sendiri memukul Bastian.

“Sudah bilang ia hanya khilaf. Apa kamu tidak mendengarnya?” balas Tante Esther tidak mau kalah. “Lagi pula sejak awal aku kurang setuju anakku menikahi gadis biasa-biasa saja. Mentari tidak sebanding dengan anak kita. Ia bahkan tidak memiliki pekerjaan dan komunitas. Ia terlalu rumahan untuk anak kita yang merupakan calon penerus Hanggara Enterprise!”

Aku menggigit bibir dengan kuat. Kepala menunduk dalam. Ucapan ibunya Bastian menorehkan luka baru di atas luka yang sudah ada.

Ya, aku memang hanya gadis biasa. Keadaan menjadikanku demikian.

Meskipun sebelumnya bisa dibilang keluargaku hidup nyaman dan jauh berkecukupan, semuanya sudah tak berbekas. Ditambah lagi, karena tekanan ibu tiriku, ayah terpaksa memberhentikan kuliahku dengan alasan keuangan perusahaan sedang tidak stabil.

“Tapi Mentari itu cucu kandung keluarga Baskara yang sudah menolong keluarga kita dulu!”

“Itu kan, dulu! Lagi pula, ayahmulah yang berhutang budi dengan keluarga Baskara, kenapa harus Bastian yang membayar dengan menikahi gadis biasa?”

“Esther, kamu—"

“Sudah, sudah!” Nenek Widya menengahi perdebatan suami istri tersebut. Suaranya terdengar tegas dan berwibawa. “Esther, kamu tidak berhak bicara seperti itu. Kamu hanya menantu di sini. Dan ingat, kamu pun dulu bukan siapa-siapa sebelum Benny menikahimu.”

Tante Esther terperangah mendapat teguran dari ibu mertuanya, kemudian serta merta terdiam. Wajahnya memerah seiring tatapan wanita yang walaupun banyak keriput di kulitnya, juga rambut yang hampir memutih semua, tetapi wibawanya sebagai nyonya nomor satu keluarga Hanggara itu masih sangat kuat. Ucapannya tak pernah terbantah. Bahkan Om Benny, ayahnya Bastian sangat patuh terhadap ibunya itu.

“Mentari,” panggil Nenek Widya mengalihkan pandangan padaku.

Aku hanya mendongak sebentar, mengangguk, kemudian kembali menunduk.

Wajah dan gaya elegan khas wanita ningratnya membuatku tak pernah berani menatapnya terlalu lama.

“Atas nama keluarga Hanggara, Nenek minta maaf sama kamu. Maafkan perbuatan cucu Nenek yang terkutuk itu.”

Aku kembali menelan ludah. Jari tangan saling memilin. Tidak seharusnya Nenek Widya meminta maaf untuk perbuatan cucunya yang menjijikkan. Itu sama sekali bukan salahnya.

“Nenek sangat malu. Bastian sudah mencoreng nama keluarga. Nenek sangat mengerti perasaan kamu, Tari.”

Aku mengangguk lagi.

Satu hal yang kusyukuri, sejak awal nenek Widya sangat menyayangiku. Bahkan beliau salah satu alasan aku menerima dengan senang hati perjodohan ini. Meskipun dalam hati aku tahu kalau aku tengah digunakan oleh keluargaku agar posisi dan keuangan kami kembali stabil.

“Tapi, Tari. Pembatalan pernikahan yang kamu ajukan, kami tidak bisa mengabulkannya,” lanjut Nenek Widya lemah.

Serta-merta kepala ini mendongak dan memberanikan diri menatap wanita sepuh yang biasanya selalu berada di pihakku.

Bagaimana bisa nenek Widya menolak permintaanku? Padahal ia sendiri mengatakan mengerti perasaanku dan mengutuk perbuatan Bastian? Apa beliau benar-benar akan memaksaku melanjutkan pernikahan ini?

Sungguh, aku tidak sudi melanjutkan pernikahan dengan laki-laki yang mudah tidur dengan sembarang wanita tanpa ikatan yang sah. Aku jijik.

“Kita semua sudah merencanakan pernikahan ini jauh-jauh hari. Bahkan persiapan sudah sembilan puluh persen,” lanjut Nenek Widya. “Kita tidak mungkin membatalkannya. Pernikahan harus tetap dilaksanakan.”

Aku menggeleng dengan dada yang terasa sesak. Bahkan orang yang aku kira selama ini berada di pihakku, nyatanya sama saja dengan yang lainnya. Tidak memikirkan kebaikanku.

Kuedarkan pandangan untuk mencari tahu bagaimana raut wajah semua orang di ruangan ini.

Ya, keluargaku dan keluarga Bastian sedang berkumpul pasca aku menangkap basah si pengkhianat itu dan Novita di kamarnya.

Aku bisa melihat Bastian dan seringai penuh kemenangan di depan sana. Di sampingnya, ada ibunya yang merengut. Sementara ayah Bastian dan ayahku sama-sama memasang wajah berharap.

Dan terakhir, sepasang ibu dan anak yang seolah keberatan dengan keputusan nenek Widya. Novita dan ibunya.

“Tari, pikirkan lagi, Nak. Pernikahan ini adalah amanah kakekmu dan kakek Bastian. Impian kedua keluarga. Kita sudah merencanakan jauh-jauh hari. Tak terhitung uang yang sudah digelontorkan untuk persiapan ini.” Ayah yang duduk di sampingku, meraih tangan ini dan menggenggamnya kuat sebagai isyarat agar aku tidak membatalkan pernikahan ini. “Apa kamu tega mencoreng nama baik keluarga kita dan keluarga Hanggara?”

“Tapi bukan Tari yang mencoreng nama baik keluarga, Yah. Bastian dan anak tiri Ayah yang melakukannya.” Aku berusaha menyampaikan keberatan.

“Ayah tahu, Nak. Kamu anak yang baik.” Ayahku meremas tanganku dengan lembut. “Tidakkah kamu mau berkorban sedikit saja untuk kami? Bukankah Bastian sudah mengatakan jika ia hanya khilaf dan tetap mau menikahimu? Mengalahlah sedikit saja sekali ini, Nak. Demi nama baik keluarga kita. Ayah yakin semua akan baik-baik saja setelah ini. Bastian akan menjadi suami yang baik untukmu.”

“Ayah–” Ucapanku tercekat, menolak memercayai ini. Aku menggeleng dengan mata yang sudah basah.

Setelah semua yang kulalui demi keluarga ini, mengapa aku masih saja dituntut untuk kembali mengalah?”

Rasa nyeri kembali mengukir hati. Bagaimana bisa ayah malah memintaku berkorban setelah apa yang dilakukan Bastian dan Novita? Kenapa ayah malah seolah ingin menjerumuskanku ke dalam pernikahan penuh neraka dengan laki-laki yang sudah jelas tidak setia?

Aku tahu saat ini keuangan keluarga kami sedang tidak stabil. Sokongan keluarga Hanggara sangat dibutuhkan untuk kelangsungan perusahaan keluarga kami, tapi apa harus dengan mengorbankan hidup dan perasaanku?

“Mas, kamu bicara apa?” Kudengar ibu tiriku mendesis setelah menarik tangan Ayah agar menghadapnya. “Kenapa Mentari harus tetap menikah dengan Bastian, sedangkan anak kita yang lain akan menderita karena pernikahan itu? Ingat, Mas. Bastian sudah merenggut kesucian Novita. Ia harus bertanggung jawab! Kalau kamu menikahkan Bastian dan Mentari, lalu bagaimana nasib Novita?”

Ayah menggeram. Wajahnya tampak memerah. “Jangan menyalahkanku!” balas pria itu. “Pernikahan ini sudah diatur sejak lama.”

“Tapi Novita sudah tidak suci lagi! Bastian harus bertanggung jawab sama Novita.” Ibu tiriku bersikeras tanpa memedulikan sekitar. Suaranya makin keras.

“Tapi–”

“Aku hamil, Yah.” Seruan Novita menyela perdebatan Ayah dan ibunya tiba-tiba. “Aku mengandung anak Bastian.”

“Apa!?” Kata itu serempak keluar dari semua mulut di ruangan ini sebelum aura ketegangan menyelimuti.

“Novita!”

Kutatap tajam wajah pucat Bastian yang baru saja berseru, tampak terkejut dan tidak percaya. Sementara wajah Novita terlihat dramatis di mataku, berusaha mendulang simpati.

Namun, tiba-tiba saja aku menoleh ke arah ayahku saat kurasakan tangan beliau yang tengah menggenggam tanganku melemas.

“Ayah!” pekikku seketika saat melihat tubuh ayahku jatuh terkulai. Tak sadarkan diri.

**

Aura penuh ketegangan semakin menyelimuti ruangan di mana kami masih berkumpul. Minus ayah tentu saja karena kondisi kesehatannya menurun.

Awalnya aku menolak ikut melanjutkan pertemuan ini. Aku memilih menemani ayah yang istirahat di sebuah ruangan pasca pingsan tadi. Namun, Nenek Widya memaksaku tetap ikut, karena pertemuan ini menyangkut pernikahanku.

Dengan mata yang terus basah karena tidak tega melihat kesehatan ayah yang menurun, aku terpaksa tetap mengikuti pertemuan itu. Pertemuan yang akan menentukan masa depanku.

“Baiklah, mengingat Pak Bumi Baskara yang kesehatannya menurun, kita harus mengambil keputusan dengan cepat.” Nenek Widya mulai membuka rapat keluarga ini dengan gaya anggun tapi tegas seperti biasa.

Tidak ada yang menyahut. Semua orang menunggu dalam diam.

“Dan setelah Nenek menelaah semua permasalahan, juga efek dari semua yang telah terjadi, maka ….” Nenek Widya melanjutkan, tetapi menggantung kalimat di ujung.

Kami semua menunggu dengan tegang. Kulirik Bastian yang terus tersenyum penuh kemenangan. Lalu, Novita dan ibunya yang terus melemparkan tatapan mengintimidasi padaku.

“Maka, Nenek memutuskan ….”

Aku menahan napas, menanti kelanjutan ucapan Nenek Widya dengan tidak sabar.

“Pernikahan ini tetap berjalan.”

Pundakku meluruh lemah. Bastian tersenyum lebar. Sementara ibunya semakin merengut, dan dua wanita di sana—Novita dan ibunya— ingin melayangkan protes atas putusan itu, hingga ….

“Tapi dengan mempelai yang diganti.” Kelanjutan ucapan Nenek Widya membuatku serta-merta menoleh heran. Pun dengan Bastian yang senyumnya hilang seketika.

“Maksud Nenek?” lontar Bastian tidak sabar.

“Pernikahan akan tetap berlangsung, tetapi Mentari bukan menikah denganmu, Bastian. Melainkan dengan anak laki-lakiku, Samudra Hanggara.”

MEMPELAI PENGGANTI

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
8.0
Liam Benjamin merasa hancur setelah ditinggalkan kekasihnya akibat rumor impotensi yang menerpanya. Di tengah keputusasaan, ia menyelamatkan Sheeta, seorang wanita hamil yang mencoba mengakhiri hidup di laut. Meski tahu Sheeta mantan PSK, Liam justru mengajaknya menikah kontrak. Namun, Liam sebenarnya pria perkasa yang terbelenggu kutukan masa lalu. Akankah benih cinta tumbuh di balik rahasia dan perjanjian pernikahan mereka yang penuh misteri?
Sampul Novel Cinta Dalam Keheningan
8.8
Aria yang bisu sejak lahir kerap diabaikan hingga takdir membawanya menjadi nyonya di Keluarga Kurnia. Ia tahu suaminya, Ian, tidak mencintainya. Saat Letty, cinta pertama Ian, kembali dari luar negeri dan menjalin hubungan lagi dengan suaminya, Aria sadar pernikahan ini harus berakhir. Demi melindungi rahasia kandungannya, Aria menyembunyikan hasil tes kehamilan dan memutuskan untuk mundur dari kehidupan pria miliarder tersebut.
Sampul Novel Di Ranjang Majikanku
8.1
Baru saja bekerja di rumah keluarga konglomerat, Binar harus menghadapi situasi pelik. Ia tidak sengaja melihat sang majikan memuaskan diri di kamar, lalu tertangkap basah menguping pertengkaran rumah tangga pria itu. Sang tuan yang murka segera mengonfrontasi Binar dengan dingin atas tindakan lancangnya. Serangkaian kebetulan yang terus terjadi setelahnya justru menjerat Binar semakin jauh ke dalam pusaran hubungan terlarang yang tak terhindarkan antara majikan dan pelayan.
Sampul Novel Istri Dadakan CEO Tampan!
8.9
Aska Pradipta adalah CEO tampan yang menjadi incaran banyak wanita. Kehidupannya berubah drastis saat ia menemukan bayi hasil hubungan masa lalunya ditinggalkan di depan rumah. Di tengah kepanikan, ia meminta Naura, sekretarisnya, untuk membantu merawat sang anak. Namun, kesalahpahaman muncul saat ibu Aska memergoki mereka. Terpaksa demi menutupi situasi, Aska menawarkan pernikahan kontrak kepada Naura dengan imbalan fantastis. Akankah kesepakatan ini berakhir cinta?
Sampul Novel Kerinduan Tak Berujung
9.4
Lima tahun membina rumah tangga, Stella justru menemukan kenyataan pahit bahwa dokumen pernikahannya dengan Felix adalah palsu. Status istri sah ternyata diberikan kepada wanita lain bernama Tania demi melancarkan bisnisnya di luar negeri. Felix mengira Stella yang telah mengorbankan segalanya tidak akan pernah pergi. Namun, rasa sakit hati yang teramat dalam membuat Stella memutuskan untuk menghilang selamanya, tepat saat Felix mencoba membawa akta pernikahan yang asli.
Sampul Novel Pacar CEO Batal Nikah, Aku Langsung Menghilang!
9.2
Tujuh tahun menjalin hubungan, seorang wanita harus menelan pil pahit karena kekasih CEO-nya membatalkan pernikahan sebanyak 99 kali demi menolong asisten pribadinya. Mulai dari insiden terkunci di kantor hingga masalah klien, sang pacar selalu pergi dan meninggalkannya dalam keputusasaan. Lelah dipermalukan, dia akhirnya memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Kota Niros. Namun, keputusan untuk menghilang ini justru memicu penyesalan mendalam dan pencarian obsesif sang miliarder selama lima tahun.