Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Memalsukan Kematian Demi Cinta Pertama

Suami Memalsukan Kematian Demi Cinta Pertama

Saat mendaki gunung, suamiku tewas setelah memakan buah liar. Kematiannya meninggalkan utang besar serta wanita simpanan dan anak haram yang memeras seluruh tabunganku. Demi merawat ibu mertua, aku bekerja keras hingga sekarat, hanya untuk mendapati suamiku ternyata memalsukan kematian demi cinta pertamanya. Setelah tewas dalam pengkhianatan kejam ini, aku tiba-tiba terbangun dan kembali ke masa lalu, tepat di hari kami mendaki gunung. Kini, kesempatanku untuk membalas dendam telah tiba.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Sayang?"

Saat suamiku memanggilku, aku baru terhenyak.

Suamiku berkata dengan nada memelas, "Sayang, kenapa kamu diam saja? Berikan saja buah liar ini biar aku bisa makan. Aku ingin sekali coba buah segar seperti ini."

Aku melirik buah liar yang sedikit berdebu di tangan suamiku. Aku mendadak tersenyum.

"Ok. Aku juga petik beberapa buah lain. Pasti rasanya enak."

Aku mengeluarkan beberapa buah merah dari tas. Penampakan buah itu saja sudah sangat menggugah selera.

Suamiku menelan ludah dan mengambil buah itu.

Suamiku sibuk mengunyah buah itu. Matanya mendadak berbinar.

"Enak sekali!"

"Aku memberikan lebih banyak buah kepada suamiku. "Kalau enak, makanlah lebih banyak."

Suamiku menghabisi semua buah yang kuberikan. Senyumanku makin lebar.

Tak lama kemudian, suamiku mulai berakting seperti kehidupan sebelumnya. Dia berpura-pura mati keracunan.

"Sayang, buah liar itu sepertinya beracun. Aku sudah mau mati."

Keringat dingin mengucur di wajah suamiku. Dia memegangi perutnya erat-erat. Sepertinya dia benar-benar kesakitan.

Aku bertanya dengan khawatir, "Sayang, kamu baik-baik saja? Bagaimana kalau aku minta orang menyelamatkanmu sekarang?"

Suamiku melambaikan tangannya dan berkata dengan lemah.

"Nggak usah. Aku hanya ingin berterus terang padamu sekarang. Aku punya banyak utang dengan sepasang ibu dan anak. Setelah aku mati nanti, kamu harus membayarnya. Kalau nggak, reputasiku akan hancur."

Aku berpura-pura menyetujuinya, tetapi dalam hati, aku tersenyum sinis.

Setelah aku setuju, suamiku pun 'meninggal'.

Aku mencubit pahaku dengan kuat. Air mataku langsung mengalir deras.

"Sayang, kenapa kamu mati begitu saja? Bagaimana aku bisa hidup tanpamu?"

Suaraku sangat keras hingga menarik perhatian semua orang di sekitar.

Semua orang penasaran dengan apa yang terjadi.

Sama seperti di kehidupan sebelumnya, 'pria baik hati' itu menghampiriku.

"Astaga, kamu sudah membuat suamiku mati keracunan. Bagaimana kalau kamu turun gunung dan cari bantuan dulu? Aku akan bantu kamu menjaganya di sini."

Sembari berbicara, 'pria baik hati' itu menarik suamiku ke samping. Aku segera meraih tubuh suamiku dan menyeretnya kembali.

Aku berteriak lebih keras lagi, "Aku nggak punya dendam denganmu. Suamiku meninggal, aku sudah sangat sedih. Sekarang kamu masih ingin menjebakku dan mengatakan aku yang mencelakainya. Tuan, jangan keterlaluan."

Pria baik hati' itu tertegun sejenak. Dia jelas tidak menyangka akan menjadi seperti ini.

Dia menunjuk suamiku yang tergeletak di tanah. "Dia bisa mati karena makan buah liar yang kamu petik. Kalau bukan kamu yang mencelakainya, siapa lagi?"

Aku mengusap air mataku. Ekspresi wajahku bertambah sedih.

"Astaga. Buah liar yang kuberikan nggak beracun. Mana mungkin dia bisa mati keracunan? Sebaliknya, dia barusan minum air pemberianmu dan langsung mati. Apa kamu yang mencelakainya?"

Jari-jariku menunjuk buah-buahan liar yang tersisa di tanah. Semua orang mulai membicarakannya.

Mereka yang pernah makan buah liar tentu tahu kalau buah itu tidak beracun. Meski dimakan, juga tidak akan keracunan.

Karena terlampau sedih di kehidupan sebelumnya, aku jadi lupa kalau aku pernah makan buah liar ini sebelumnya dan tidak beracun sama sekali.

Sebaliknya, itu karena suamiku minum sebotol air dari pria baik hati. Tak lama kemudian, napasnya mulai melemah dan aku tidak menyadarinya.

Mendapati semua orang memandangnya dengan tatapan aneh, seolah bersiap menangkap pelaku kapan saja, 'pria baik hati' buru-buru ingin melarikan diri.

Aku berteriak, "Dia pelakunya. Semuanya, tolong bantu aku menangkapnya."

Ada dua lelaki yang menangkapnya dan mendorong pria itu ke tanah. Aku langsung menamparnya.

"Aku dan suamiku nggak punya dendam denganmu. Mengapa kamu ingin mencelakai suamiku? Mengapa kamu begitu tega?"

Aku berpura-pura berakting layaknya janda yang ditinggal mati suami. Lalu, mulai melampiaskan emosiku dengan mencakar 'pria baik hati' itu. Tak perlu waktu lama, tubuhnya sudah penuh dengan goresan merah.

Dia ingin menjelaskan. "Bukan aku. Sungguh bukan aku. Air yang kuberikan padanya ...."

Memang ada yang aneh dengan air pemberiannya, jadi dia tidak berani berbicara lagi.

Melihat hal itu, semua orang makin marah dan ingin menyeretnya ke kantor polisi.

Aku berdiri. "Baiklah. Demi membalaskan dendam suamiku, kita harus lapor polisi sekarang."

Ada yang bertanya padaku, bagaimana dengan tubuh suamiku. Aku melihat sekeliling, tetapi tidak ada yang mau membawanya.

"Hais. Biarlah dia di sini. Besok baru bawa orang untuk mencarinya. Kalau nggak, hanya akan membuat energi kalian semua terkuras habis."

Sembari berbicara, aku mengemas semua perlengkapan dan pakaian pendakian. Kemudian, turun gunung bersama semua orang.

Hatiku dipenuhi dengan kegembiraan. Saat itu, sudah larut malam di pegunungan. Sekalipun suamiku tidak meninggal, dia juga mungkin akan sekarat.

Apalagi, dia juga minum air aneh itu. Kondisinya sekarang lemah sekali.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Altair Onder de
9.4
Altair dan Claretta dipertemukan dalam situasi ganjil setelah dewa menukar tubuh mereka tanpa izin. Meski awalnya murka, Altair luluh saat melihat Claretta menangis merindukan kasih sayang ibu. Mereka saling memahami penderitaan masing-masing di tengah hembusan angin dan kelopak bunga. Akhirnya, keduanya sepakat menerima takdir baru ini. Altair merelakan identitasnya, sementara Claretta berjanji menjaga ibu Altair dengan tulus sebelum cahaya memisahkan mereka selamanya.
Sampul Novel Luna Baru Alfa-ku: Hidup yang Dirampas, Pasangan yang Ditelantarkan
9.6
Terbangun dari tidur terkutuk selama lima tahun, aku mendapati Kaelan, Alpha-ku, telah menggantikanku dengan seorang Omega. Keluargaku sendiri menyatakan aku mati secara hukum demi melantik Luna baru. Bahkan anakku lebih memilih wanita itu dan mengharapkan kematianku. Saat aku sekarat setelah dicelakai, Kaelan justru menguras darahku demi menyelamatkan kekasihnya. Melihat pengkhianatan mereka, aku sadar keberadaanku hanyalah beban bagi kebahagiaan mereka.
Sampul Novel DIBALIK TOPENGNYA
8.2
Kehidupan Sarah berubah total saat ia menemukan sebuah buku mantra misterius milik Evander. Sosok pria itu masih menjadi teka-teki besar yang tak terpecahkan. Apakah dia sebenarnya seorang pangeran yang menderita, atau justru badut kejam yang haus akan darah? Sarah terus bertanya-tanya apakah Evander adalah pemilik sah dari rumah berhantu tersebut, ataukah dia hanya orang asing yang disewa untuk mengusir roh jahat yang bersemayam di sana.
Sampul Novel Feng Na Na
9.4
Ingatan terakhirku adalah kematian tragis di tangan tunanganku sendiri. Namun, aku justru terbangun dalam balutan hanfu putih kuno. Rasa nyeri akibat guncangan hebat di dalam kotak kayu ini membuktikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Bagaimana mungkin orang mati masih bisa merasakan sakit? Saat mencoba duduk, aku terperanjat menyadari bahwa tempat tidurku adalah sebuah peti mati. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku bisa kembali bernapas setelah dikhianati?
Sampul Novel Perjalanan Waktu: Cintaku dari Keluarga Kerajaan
8.4
Seorang ahli forensik masa kini terjerat konspirasi organisasi kriminal setelah menemukan bukti vital saat otopsi. Demi keselamatan, Harper Chu melarikan diri ke masa lalu dan menyamar sebagai putri pejabat di Dinasti Cerah. Di tengah kesendirian tanpa sekutu, ia harus menghadapi seorang pangeran yang mulai curiga akan keahlian uniknya. Mampukah Harper menuntaskan misi balas dendam dan melindungi identitas aslinya dari ancaman kerajaan yang mengintai?
Sampul Novel Si Bodoh yang Luar Biasa
8.1
Renggin Ang sering dihina sebagai sampah keluarga, padahal ia mewarisi darah legenda Duata Hun. Kedamaian sirna saat para master Benua Yu menyerang demi sebuah buku misterius bertajuk NOVEL. Renggin dan adiknya, Ampy, menyaksikan ibu mereka tersedot ke buku tersebut sementara sang ayah mengorbankan nyawa demi keselamatan mereka. Kini, Renggin harus bertahan hidup dan berjuang membebaskan jiwa ibunya yang tersegel dalam buku kuno itu dari cengkeraman musuh.