
Suami Bayaran
Bab 2
Entah berapa kali pula Dinda mencoba menghubungi kekasihnya selama jam kerja hingga jam pulang tiba, namun tak satupun panggilan itu terhubung dengan Kevin, hal itu tentu membuat Dinda merasa heran sekaligus khawatir dengan keadaan sang kekasih.
"Apa dia baik-baik aja ya?" terkanya dengan terus menatapi layar ponselnya menduga-duga.
Hingga saat matahari mulai tenggelam, tanpa berpikir panjang Dinda lekas mengemas barangnya dan bergegas meninggalkan Kantor tanpa berpamitan pada ayahnya menuju apartemen Kevin dan mendatanginya dengan menaiki taksi online yang telah ia pesan sebelumnya.
Sepanjang jalan pula Dinda semakin merasa cemas kala pikirannya mulai memunculkan beberapa asumsi negatif terkait kekasihnya.
Dengan melihat sekeliling jalann yang mulai gelap Dinda pun berkata, "Boleh sedikit ngebut aja gak, Pak? Saya lagi buru-buru."
"Baik, Mbak," sahut sopir itu sembari menganggukkan kepalanya dan menoleh ke arah kaca spion depan.
Karenanya, Taksi itu kini tiba di depan area gedung apartemen yang menjulang tinggi. Setelah membayar Dinda pun bergegas memasuki Lobi utama dengan berlari kecil, ia benar-benar tidak sabar mendatangi dan memastikan keadaan Kevin di dalam apartemannya.
Dengan pikiran klut serta kecemasan berlebih, pun dengan rasa mual yang kembali menyerang Dinda pun bergumam dalam hati, "Sabar ya, Nak! Semoga ayahmu baik-baik aja ... "
Setelah berjalan danenaiki lift akhirnya wanita itu tiba di lantai 5 dan berjalan menuju unit bernomor 201. Tanpa mengentuk pintu Dinda lekas mendorong handle pintu dan ...
CEKLEK!
"Lho!? Gak dikunci?" Dinda mengernyitkan keningnya merasa heran, pun hal itu pula membuat dirinya semakin cemas karena merasakan hal aneh. Tanpa berpikir panjang lagi Dinda segera memasuki unit tersebut dengan tetap waspada takut-takut ada bahaya di sekitarnya.
Dengan perlahan Dinda melangkahkan kakinya menyusuri apartemen milik kekasihnya, terlihat berantakkan seperti tidak terurus dengan baik. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi di sebuah sudut ruang tengah terdapat meja yang penuh dengan sampah dan beberapa kaleng bekas minuman, hal itu lantas membuat langkah Dinda terhenti dan terdiam untuk sesaat.
"Berantakkan banget!" Dinda mengembuskan napas kasarnya, lagi dengan menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tak habis pikir, "Pantesan aja teleponku gak diangkat-angkat, dia pasti pesta lagi semalaman."
Tanpa merasa curiga, Dinda kembali bergerak hendak merapikan semua kekacauan di tempat itu. Satu persatu ia memungut beberapa plastik sampah bekas makanan ringan juga minuman. Namun gerakkannya kembali terhenti saat ia tak sengaja melihat sebuah tas kecil berwarna merah muda yang berada di bawah kursi.
Keningnya kembali mengerut, "Tas milik siapa ini?" gumamnya seraya meraih dan meneliti benda tersebut, "Perasaan selama ini aku gak punya tas modelan begini."
Entah apa yang sedang terjadi namun hal ini cukup membingungkannya, hingga pada menit berikutnya kedua bola matanya membulat sempurna seolah teringat sesuatu dengan tas itu.
"Ah! Tas ini kayaknya mirip dengan tas punya Bianca, tapi-" Ucapan itu terhenti seketika saat Dinda tak sengaja mendengar suara desahan yang cukup kencang.
Suara itu pula tak ayal membuat Dinda terperanjat dan bangkit berdiri, ia lalu mengedarkan pandangannya mencoba mengikuti sumbar suara sampai arah pandangnya tertuju pada pintu kamar sang pemilik apartemen.
"S-siapa??" Dinda memelankan suaranya, bertanya pada dirinya sendiri sembari menerka-nerka apa yang terjadi di dalam ruangan itu. Kakinya pun melangkah dengan sendirinya menuju arah sumber suara dan sepanjang itu pula pikirannya kembali kacau, pun dengan debaran jantung yang tak karuan.
Semakin dekat, suara desahan itu semakin terdengar jelas bahkan saat Dinda berdiri tepat di depan pintu kamar kekasihnya. Lalu tanpa berpikir panjang, dengan satu gerakkan wanita itu memutar knop pintu dan membukanya.
DEG!!!
"Argh!!" Secara refleks Dinda menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya dengan kedua mata membulat sempurna, "K-kevin? Bianca!?"
Kedatangan serta teriakkan Dinda tentu membuat kedua insan yang tengah dimabuk asmara di atas ranjang pun sontak terkejut hingga membuat situasi menjadi kacau.
"Ah! Mengganggu saja ... " Kevin menghentikan gerakkannya dan bangkit lalu mengenakan kimononya dengan raut wajah yang tampak kesal bercampur ketar-ketir, begitu juga dengan Bianca. Wanita itu lekas menutupi badan polosnya dengan selimut, mencoba menguasai diri meski raut wajahnya terlihat membingungkan bercampur ketakutan.
Tanpa berkata apapun lagi Dinda lekas mendekat dan ...
PLAK!
Sebuah tamparan keras tepat mengenai wajah mulus nan tampan Kevin sampai bibir bawah bagian sampingnya tampak sobek dan berdarah. Melihat itu Bianca sedikit terpekik dan tanpa bergerak sedikitpun di atas ranjang itu.
"Jadi ini kelakuanmu selama ini, Kevin!?" Dinda menajamkan sorot matanya menatap wajah tampan tanpa bersalah itu, "Tega banget kamu ngelakuin ini dengan--dengan sahabatku!?"
Dinda lalu mengalihkan pandangannya pada sosok perempuan yang berhasil menghancurkan kepercayaannya selama bertahun-tahun menjalin persahabatan dengannya. Wanita itu menatap Bianca dengan tajam, seolah tak begitu percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Perasaannya kini campur aduk, ia mendapat pengkhianatan dari dua orang sekaligus dalam satu waktu.
Dinda kemudian mendekati Bianca dengan perlahan, "Inikah artinya persahabatan kita, Bianca??"
Tetapi Bianca hanya diam dan tak mengeluarkan sepatah katapun, ia justru mendengkus kesal sembari membuang muka yang tentu membuat Dinda semakin geram! Sampai Dinda pun mengangkat tangannya hendaj memberikan sebuah tamparan untuk sahabatnya sendiri, namun ...
HAP!!
Kevin berhasil menangkap dan menahan pergerakkan Dinda.
"Jangan sentuh wanitaku!" kata Kevin dengan tatapan sangar dan terkesan mengancam.
Itu tentu membuat Dinda terperangah! Tak terkecuali dengan Bianca yang hanya melongo mendengar ucapan Kevin yang demikian.
"What!?" Dinda terkekeh meski tak bisa menahan kekesalannya, "Apa kamu udah gila, Kevin!?"
Tetapi tidak menjawab dan langsung menyeret Dinda menjauh dari kamar tersebut. Dinda tentu berusaha melepas cengkraman tangan Kevin namun tenaganya sudah pasti kalah oleh tubuh kekar Kevin.
"Lepaskan, Kevin! Apa-apaan kamu!?"
Dinda terus meronta namun Kevin tidak menggubrisnya sama sekali dan terus menyeret tubuh ramping itu hingga tiba di pintu keluar, ia lalu mendorong dan menghempaskan tubuh Dinda tanpa rasa kasihan sedikitpun.
"Aw!!" Dinda terus merintih kesakitan sembari memegangi area perutnya, "Kenapa kamu begini, Kevin?"
Sekali lagi, Kevin tak menjawab pertanyaan pendek dari kekasihnya. Bahkan tak menjelaskan apa yang sebenarnya tengah terjadi pada mereka.
Sekilas wanita itu melihat raut wajah Kevin yang tampak dingin dan dikuasai amarah, sangat jauh berbeda dengan sosok Kevin yang selalu hangat dan penuh kasih sayang.
Kevin lalu berdecih, "Berhubung kamu udah tau, aku gak harus menjelaskannya lagi bukan?" ucapnya bernada dingin, "Pergilah ... dan jangan terlalu menganggap hubungan kita seindah dulu lagi. Kita putus, Dinda."
"Apa!?" Dinda berusaha bangkit meski kesakitan dan menahan Kevin yang hendak menutup pintu apartemennya, "A-ada apa denganmu!? D-dan gimana dengan anak kita??"
Anda Mungkin Juga Suka





