
Suami Bayaran
Bab 3
Kevin berhenti kala ia hendak menutup pintu dan saat itu pula ia menyipitkan matanya, "Apa maksudmu? Anak?"
Dinda mengangguk cepat dan menjawab, "Iya, Kevin. Aku--aku hamil."
DEG!
Untuk sesaat dunia rasanya berhenti berputar, untuk sesaat pula Kevin terdiam dengan raut wajah yang berubah memucat. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Dinda, kekasih yang baru saja ia campakkan.
Hingga menit berikutnya Kevin pun terkekeh sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, "Yang benar saja, Dinda ... apa kamu sudah gila? Ah! Atau inikah caramu memohon padaku biar aku kasian dan gak jadi ninggalin kamu, gitu?"
Ini tentu mengesalkan! Ucapan Kevin sungguh di luar dugaan, bahkan berhasil membuat Dinda merasa heran dan tak habis pikir sampai wanita itupun kehabisan kesabaran.
"Dan lagi ... bukankah kita hanya ngelakuinnya sekali? Kenapa aku yang harus tanggung jawab kalo itu anakku!? Harusnya kamu minta pertanggung jawaban sama laki-laki yang udah menidurimu beberapa kali," kelakar Kevin tak tahu malu.
"Jaga mulutmu! Aku gak pernah ngelakuin hal itu dengan siapapun selain kamu, Kevin!"
"Ck! Terserah, yang pasti itu bukan anakku. Pergilah dan cari ayah anak itu, jangan ganggu aku lagi!"
BLAM!
Kevin pergi dengan membanting pintu hingga terdengar begitu nyaring sampai membuat Dinda terkejut dan menutup kedua matanya, kini ia benar-benar sedih dengan perlakuan kekasihnya sendiri. Ya! Entah apa yang merasuki Kevin hingga tega berbuat seperti itu padanya. Sosok Kevin yang hangat kini berubah menjadi dingin dan kejam.
Kini yang tersisa hanyalah sedih dan sesal, rasa sesak kian menjadi, bersama dengan air mata yang perlahan menetes membasahi wajah cantiknya. Tubuh wanita itu perlahan tersandar pada dinding dan merosot. Tangisannya menggema memenuhi lorong yang tampak sunyi dan sepi.
"Aku harus gimana lagi? Mana bisa aku begini tanpa ayahmu, Nak ... " gumamnya pada janin dalam kandungannya.
Ditatap dan dielus bagian perut yabg terdapat benih buah cintanya bersama sang kekasih yang tega meninggalkannya. Wanita itu benar-benar merasa frustasi dengan keadaan yang kini melandanya.
Dengan perlahan ia bangkit dan berjalan meninggalkan lorong tersebut, namun tanpa ia sadari kedua kakinya kini terdapat cucuran darah yang tentu saja berasal dari pusat rasa sakit akibat didorong oleh Kevin. Hal itu tentu membuat Dinda terkejut.
"A-apa yang terjadi padaku!?" Dinda berkata lirih dan terus terisak menahan air matanya.
Tetapi meskipun begitu ia tetap berjalan berusaha mencari pertolongan meski lorong itu benar-benar sepi bagai tak berpenghuni. Ingin teriak meminta tolong namun sialnya suaranya sudah habis saat ia terus meneriaki Kevin dan selingkuhannya.
Hingga beberapa saat kemudian, meski harus berjalan terseok-seok akhirnya wanita itu tiba di sebuah lift dan lekas memasukinya. Napasnya kini tersenggal-senggal dengan tangan terus memegangi bagian perutnya yang semakin terasa sakit, pun dengan cucuran darah yang semakin deras menjelajahi kakinya.
"Sialan! Kenapa tadi gak aku habisi aja itu si Bianca!" Tangannya seger menekan tombol lantai dasar sampai tubuhnya kembali merosot di sudut ruang lift, "Ternyata, selama ini ... aku salah menilaimu, Bianca! Pantesan kamu selalu kepo dan semangat kalo aku bicara tentang Kevin. Ternyata ini tujuannya."
Ucapannya terhenti bersama dengan pandangannya yang kini mulai berkunang-kunang, kesadaran yang semakin menurun hingga akhirnya wanita itu tergeletak tak sadarkan diri sebelum lift itu tiba di lantai tujuan.
***
Pip
Pip
Pip
Sebuah suara asing yang samar terus terdengar dan terngiang-ngiang di dalam pendengarannya membuat kedua mata itu perlahan mulai terbuka dan terlihat sebuah cahaya terang tepat menyoroti matanya.
"Ah ... d-dimana aku?" Dinda berusaha memperjelas penglihatannya namun rasa sakit di kepalanya terlalu besar dan mengalahkan tenaganya.
"Yaa Allah! Mbak sudah sadar!?" ujar seseorang dengan suara baritonnya yang entah siapa, "Dokter! Suster!"
Dinda lalu kembali memejamkan matanya rapat-rapat lalu membukanya, berusaha mengumpulkan tenaga hingga ia sedikit menyadari dimana ia berada saat ini.
"S-siapa disana?" Dinda terus bertanya entah pada siapa saja yang mendengarnya.
Lalu terdengar suara pintu yang terbuka secara kasar serta derap langkah beberapa orang yang mulai mendekat.
"Ah! Apa aku sekarang di Rumah sakit? Siapa yang membawaku? Kupikir aku akan mati di dalam lift apartemen pria sialan itu," batinnya terus menerka-nerka.
Hingga pada beberapa saat kemudian, kesadaran Dinda mulai pulih sepenuhnya dan duduk meski tetap di sebuah ranjang besar. Ya! Kini ia bisa melihat seisi ruangan yang cukup luas bertuliskan IGD, meski hal itu sempat membuatnya tak percaya namun Dinda masih bersyukur karena ia masih selamat walaupun ia belum tahu keadaan kandungannya bagaimana.
"Apa Mbak sudah merasa baikkan? Saya benar-benar takut jika sesuatu terjadi pada Mbak."
Dinda lalu terdiam dan menatap seorang lelaki brrtubuh tinggi dan memiliki paras tampan dengan rambut hitam bergaya cepak.
"Apa kamu yang membawa saya kesini?" tanya Dinda perlahan, dengan wajah masih terlihat pucat.
Lalu lelaki itu tersenyum dan mengangguk, "Iya, Mbak. Waktu saya hendak membersihkan lift, saya melihat Mbak sudah tidak sadarkan diri di dalam sana. Saya kira Mbak sudah ... " Ucapannya terhenti sesaat hingga lelaki itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, "Ah! Lupakan saja, yang penting sekarang Mbak sudah siuman."
Tak ada sahutan dari wanita itu, ia hanya terdiam dan terus menatap dengan tatapan kosong ke arah lelaki asing mengenakan seragam petugas kebersihan yang sudah menyelamatkannya. Entah apa yang ada di pikiran Dinda namun cukup lama wanita itu menatapi lelaki yang sedang duduk di samping ranjangnya.
"Tapi tenang saja ... kata perawat kandungan Mbak gak apa-apa," ucapnya lagi dengan sedikit tersenyum.
Tetapi hal itu membuat Dinda terkejut dengan kedua alis terangkat naik karena kandungannya tentu saja sudah diketahui saat ini. Namun detik berikutnya, secara perlahan kerutan di dahinya mulai samar serta kedua alisnya yang ikut turun.
"Ah! Mereka tidak akan tahu kalau aku hamil tanpa bapak dari anakku," batinnya sedikit lega.
Dinda lalu menghela napas dan tersenyum, "Terima kasih."
Lelaki itu membalas senyumannya dan menjawab, "Sama-sama."
"Tapi maaf sebelumnya kalau saya lancang, tadi pas sampai disini saya panik dan buru-buru ambil ponsel punya Mbak buat ngasih tahu keluarga Mbak. Tapi ... setelah saya cek, saya tidak bisa menemukan nomor suami Mbak. Jadi-"
"Apa katamu!? Kamu menghubungi siapa??" sela Dinda yang tiba-tiba terperanjat, membuat lelaki itu terkejut hingga menjauhkan sedikit tubuhnya.
"S-saya ... menemukan nama Papi yang saya kira ayahnya Mbak, jadi saya-"
"Terus? Kamu menelepon Papi saya!?" Dinda membelalakkan kedua matanya dengan posisi siaga.
Lelaki itupun perlahan menganggukkan kepalanya dan ...
"Astaga!! Gimana ini!? Apa yang harus kukatakan sama papi??"
Secara refleks Dinda meracau tiada hentinya tanpa menghiraukan dirinya sendiri, pun dengan darah yang perlahan keluar dari selang infus yang terpasang pada tangannya. Pada saat yang sama pula ...
"Dinda?? Dimana anakku, Suster??"
Terdengar pula teriakkan dari luar. Ya! Suara bariton yang begitu terdengar familiar di telinga wanita itu.
Anda Mungkin Juga Suka





