Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suami Adikku Mantanku

Suami Adikku Mantanku

Dulu ia pergi meninggalkan luka yang sangat mendalam di hati, namun kini sosok mantan kekasih itu kembali muncul secara tidak terduga. Keadaan menjadi semakin rumit dan menyakitkan saat aku menyadari kenyataan pahit bahwa dia telah resmi menjadi suami dari adik kandungku sendiri. Aku terjebak dalam dilema emosional yang hebat saat harus menghadapi masa lalu yang belum usai di tengah ikatan keluarga yang kini terasa sangat menyesakkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Oh seperti itu. Tapi seandainya nanti kamu ketemu lagi dengan mantanmu itu setelah menikah dengan Vania, apakah akan ada acara CLBK? Karena sepertinya kamu masih memendam rasa padanya," tanya suamiku lagi.

"Hahaha, tidak lah Mas. Aku bukan orang yang suka memungut mantan. Apalagi sekarang dia pasti sudah tua kan, tak mungkin aku berpaling karena sudah ada Vania ini. Jangan khawatirkan masalah itu," katanya.

"Iya ih. Mas Ridwan ini, ada ada aja deh yang di tanyakan. Kami ini sudah saling cinta. Dan pokoknya, aku ingin secepatnya menikah dengan Mas Adit, titik. Plisss ya Mas, Kak. Kalian sayang padaku kan?," rengek Vania.

Entah mengapa ada perasaan tidak srek dalam hatiku merestui pernikahan mereka. Bukan karena aku masih memiliki rasa pada Rama, tapi aku merasa akan banyak hal buruk dibelakang dan Rama sedang memainkan drama untuk mencapai suatu tujuan. Tapi saat melihat Vania merengek seperti itu, aku tak akan tega, dan tak mungkin juga aku menceritakan masa laluku dengan Rama.

"Aku sih terserah kamu saja deh Van. Yang pasti menikah adalah suatu keputusan besar dalam hidup, jadi harus dipikirkan matang matang. Kalau menurut kamu bagaimana Dek?" tanya suamiku.

Aku yang masih menunduk sambil melamun, kaget ketika suamiku memegang tanganku.

"Kamu nglamun atau ngantuk sih Dek? Bagaimana menurutmu dengan pernikahan mereka?" tanya suamiku lagi dengan lembut.

"Eh maaf, iya Mas aku ngantuk sekali, hehehe. Kalau aku sih terserah Vania saja deh Mas." jawabku.

Sepulangnya Vania nanti, aku akan menceritakan pada Mas Ridwan tentang hubunganku dulu dengan Rama. Agar dibelakang nanti tak ada ganjalan.

"Yeay. Berarti semua setuju kan. Tuh Yank semua setuju. Kapan nih kamu melamarku dan menikahiku?" Vania terlihat sangat bahagia.

"Secepatnya, dan aku usahakan bulan ini kita pasti menikah Sayang," kata Adit pada Vania.

"Oke lah. Lebih cepat lebih baik" tambah Vania.

"Oh iya sampai lupa, tadi aku beli martabak telur kesukaanmu lho Van. Spesial pakai telur bebek, seperti permintaanmu. Sebentar ya ku ambilkan di motor," kata suamiku sambil keluar rumah.

Memang Vania dan Gita, sangat suka sekali dengan martabak telur pakai telur bebek, padahal menurutku itu terlalu amis, aku tak suka. Mss Ridwan pun segera masuk membawa dua box martabak.

"Nih satu buatmu, dan ini satu buat Kakakmu, pakai telor ayam biasa kan. Gita sini Nak, ini Ayah bawa makanan kesukaanmu!" teriak suamiku.

Gita pun langsung menghambur keluar, dengan girang dia pun langsung berdiri di samping Vania. Kulirik sekilas, pandangan mata Rama, tak lepas dari Gita, sepertinya dia sangat tertarik sekali dengan Putriku ini.

"Berapa umurmu anak cantik?" tanya Rama tiba tiba pada Gita.

"Delapan tahun om," kata Gita sambil menampilkan deretan giginya yang rapi.

"Apa benar Mas, Gita ini baru berusia delapan tahun? Kok sepertinya sudah berusia dua belas tahunan," Rama ganti bertanya pada suamiku.

"Hehehe iya memang dia masih berusia delapan tahun sekarang. Badanya memang bongsor sepertiku, banyak sekali yang mengira dia memang usianya sudah belasan tahun." terang suamiku.

Oooh sekarang aku tahu, kenapa dari tadi Rama terus saja memperhatikan Gita. Dia pasti mengira Gita adalah darah dagingnya, mangkanya dia bilang usia Gita dua belas tahun. Padahal dia tak tahu, Mama nya sendirilah yang membunuh darah dagingnya itu, saat dia menghilang tanpa kabar.

"Oh begitu ya Mas. Berapa jumlah anaknya Mas? Apa Gita ini punya kakak atau adik?" tanyanya lagi, benar benar masih mencari informasi dia.

"Baru satu ini Mas. Gita ini anak pertama kami, sekarang sedang program anak kedua. Doakan saja ya, hahaha," jawab suamiku yang dibalas anggukan oleh Rama.

Vania dan Gita pun membuka box martabak telur mereka, jajanan yang masih hangat itu mengeluarkan aroma sedap tersendiri.

"Hoek hoek hoek," Vania sepertinya ingin muntah dan langsung lari kebelakang.

Aku pun mengikutinya dari belakang. Dia masuk kamar mandi, dan seperti ingin muntah, namun tak bisa. Karena tak di tutup aku pun masuk kedalam dan memijat lehernya. Ada perasaan tak enak dan was was disini, kenapa dia mual saat mencium aroma martabak kesukaanya itu, apa jangan jangan dia hamil?.

"Kamu kenapa sih Van,?" tanyaku sambil masih memijit lehernya.

"Nggak tau nih Kak, rasanya mual dan pingin muntah karena bau martabak itu. Tolong jauhin makanan itu deh Kak. Mual banget aku karenanya,"

"Itukan makanan kesukaanmu, biasanya kamu kan langsung melahap habis saat masih hangat begitu. Kamu kenapa sih sebenarnya? Jangan jangan kamu hamil ya?"

"Apa apaan sih Kak, ngomong sembarangan deh. Aku hanya masuk angin saja kok." katanya sewot, sambil ingin pergi menjauh dariku.

"Tunggu, mau kemana kamu? Jawab jujur dulu pertanyaanku, kamu hamil apa tidak?" kataku sambil memegang kedua lengannya.

"Aku cuma masuk angin Kak. Cuma masuk angin biasa, telat makan saja tadi," katanya sambil menunduk, membuatku semakin tak percaya pada ucapanya.

"Jawab dengan jujur pertanyaanku. Kamu sudah pernah melakukan perbuatan haram itu kah? Jawab pertanyaanku Van!" kali ini aku tak bisa membendung air mataku.

Vania hanya menjawab pertanyaanku dengan anggukan.

"Kenapa kamu lakukan itu Van. Bukankah aku sudah sering sekali mengingatkanmu, jangan pernah melakukan perbuatan itu sebelum menikah. Apakah kamu tahu kalau kamu saat ini hamil? Dan dengan siapa kamu melakukan itu?" tanyaku masih mencecarnya.

"Maaf Kak. Maaf kan aku, sudah membuat Kakak dan Mas Ridwan kecewa. Aku sudah kebablasan Kak. Aku melakukannya hanya dengan Adit Kak. Tadi pagi aku baru tahu kalau aku hamil, dan karena itulah aku meminta Adit untuk segera menikahiku sebelum perutku semakin membesar," katanya sambil memelukku.

Astaghfirullahaladzim, seperti mengulang masa lalu, aku pun mengalami hal seperti ini dengan Rama dahulu. Tak ada waktu untuk menyesali semua yang telah terjadi. Sekarang yang pasti, Rama harus bertanggung jawab dengan kehamilan Vania ini. Aku kembali mengajak Vania ke ruang tamu. Dan menyuruh Gita membawa martabak telor itu masuk.

Mas Ridwan dan Rama terlihat heran, karena melihatku dan Vania yang masih menangis.

"Aku minta kamu secepatnya membawa orang tuamu kesini, dan melangsungkan pernikahan ini. Kalau bisa besok keluargamu sudah harus datang kemari meminang adikku," kataku sedikit ketus pada Adit alias Rama itu.

"Kenapa kamu jadi ketus seperti itu sih Dek sama Adit? Janganlah terlalu terburu buru." kata suamiku.

"Pernikahan ini harus dilaksanakan secepatnya Mas, karena sekarang Vania itu sedang hamil!" kataku sambil menangis.

Mas Ridwan langsung menoleh kearahku, dan sepertinya dia sangat kaget. Vania yang di rawatnya dari kecil dengan penuh kasih sayang itu, telah menghianati kepercayaannya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JAN" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JAN
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cintanya dan Hartaku
9.7
Saat hendak menyetor uang ke bank, sebuah unggahan media sosial menarik perhatianku. Di sana, seorang netizen mengaku telah diam-diam menikahi cinta pertamanya, sementara kekasihnya yang bodoh terus mengisi rekening bersama mereka yang kini berisi 1,3 miliar rupiah. Sang netizen berencana membawa kabur uang itu setelah mencapai 1,6 miliar. Terkejut, aku langsung memeriksa saldo tabunganku. Angkanya tepat 1,3 miliar rupiah. Kenyataan pahit menghantamku: kekasihku telah mengkhianatiku demi cinta pertamanya.
Sampul Novel Ayah CEO Pengen Pelukan
9.1
Nadia menghabiskan malam bersama pria asing setelah dikhianati orang terdekatnya. Meski sempat menyesal, ketampanan pria itu justru membuatnya malu hingga ia nekat meninggalkan uang sebelum pergi. Kresna, sang pria misterius, merasa sangat terhina karena dianggap sebagai pria bayaran. Dengan amarah yang meluap, ia segera memerintahkan asistennya melacak identitas Nadia melalui rekaman CCTV hotel demi membalas perbuatan wanita tersebut.
Sampul Novel Cinta Berujung Duka atau Suka
8.8
Saat putri mereka terbaring lemah akibat demam tinggi, Jeffry Aryadi justru sibuk menghadiri rapat sekolah untuk anak dari cinta sejatinya. Panggilan telepon sang istri malah dijawab oleh wanita tersebut yang menangis meminta maaf, memicu kemarahan Jeffry yang membela diri dengan dalih menolong janda dan yatim. Di tengah dinginnya ruang rumah sakit, sang istri akhirnya mengambil keputusan besar. Sambil menemani putrinya yang disuntik, ia menawarkan awal baru bagi mereka untuk hidup berdua saja.
Sampul Novel KESAKSIAN CINTA STEVI
8.1
Stevi terbayang pesan terakhir mendiang ibunya untuk giat bekerja sebelum wafat. Kini, setelah menikah dengan Aria, Stevi berjuang menjalani hidup barunya meski duka masih membekas. Ia berharap sang ibu tenang di sana karena Aria sangat membutuhkannya. Di sisi lain, Aria sibuk dengan profesinya di kampus. Saat memberikan bimbingan makalah kepada mahasiswi, ia menekankan pentingnya orisinalitas karya demi menghindari isu plagiarisme dalam seminar.
Sampul Novel Kontrak Cinta: Rahasia dan Janji
9.7
Clara Martins berjuang menyelamatkan toko roti warisan neneknya di São Paulo dari lilitan utang. Saat pengkhianatan mengancam bisnisnya, Enzo Albuquerque, pengusaha dingin sekaligus cinta lamanya, menawarkan pernikahan kontrak satu tahun. Enzo butuh istri demi mengamankan posisinya dari konspirasi keluarga. Namun, tinggal bersama memicu kembali gairah lama. Clara menyimpan rahasia kehamilan, sementara Enzo memendam misteri yang bisa menghancurkan cinta kedua mereka.
Sampul Novel La Tahzan, Miss Lemot
8.6
Vinessa adalah gadis cantik nan ceria yang harus menelan pahitnya kenyataan hidup. Meski memiliki hati yang baik, kehadirannya tak pernah diharapkan dan selalu dipandang rendah oleh orang-orang di sekitarnya. Alih-alih menaruh dendam atas segala perlakuan buruk keluarganya, ia justru menerima hinaan tersebut dengan lapang dada sebagai bagian dari nasibnya. Simaklah perjuangan menyentuh hati Vinessa dalam menghadapi kerasnya dunia yang tidak memihaknya.