Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Stuck With Him

Stuck With Him

Kehadiran Chessi yang mendadak dalam hidup Yuga menghancurkan segala rencana masa depannya. Setelah kematian sang ayah, Yuga terpaksa tunduk pada aturan ibunya, termasuk menikahi Chessi. Alih-alih bahagia, pernikahan ini menjadi tempat Yuga melampiaskan amarah. Meski Chessi berusaha mencari pengampunan, kebencian Yuga tetap membara. Baginya, satu-satunya cara untuk memaafkan Chessi hanyalah jika waktu bisa diputar kembali agar mereka tidak pernah bertemu.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Lepas! Aku gak perlu kamu pegangin terus!"

Yuga melepas paksa pegangan tangan Chessi yang sedang menuntunnya menuju kamar mandi.

"Maaf, aku takut kamu jatuh," ucap Chessi pelan.

"Ck! Stop pura-pura peduli sama aku, Ches! Kamu pikir karena siapa aku kayak gini?" tukas Yuga yang kemudian berjalan masuk ke kamar mandi tanpa menghiraukan Chessi lagi.

Chessi menghela napas dalam dan menatap sedih ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. Dia semakin merasa bersalah mendengar ucapan Yuga.

"Aku, juga gak tahu kalau kamu itu phobia gelap," lirih Chessi.

Tidak menuruti ucapan Yuga untuk pergi, Chessi justru menunggu Yuga keluar dari kamar mandi. Beberapa waktu kemudian Yuga keluar dengan badan yang masih lemas dan menatap Chessi dengan wajah yang masih terlihat kesal.

"Kamu ngapain disitu?" tanyanya.

"Nunggu kamu keluar. Kita ke Dokter ya? Atau aku panggilin mama?" tanya Chessi.

"Gak perlu! Aku gak perlu dua-duanya," tolak Yuga mentah-mentah lalu meninggalkan Chessi begitu saja di depan kamar mandi.

Chessi lagi-lagi hanya bisa menghela napas berat karena merasa suaminya itu sangat keras kepala. Chessi lalu menyusul Yuga tanpa mengenal apa itu lelah dan malu.

"Ga," panggil Chessi sambil menahan tangan Yuga.

"Apa? Jangan sentuh-sentuh bisa?"

Yuga menepis tangan Chessi kasar dan sontak membuat Chessi tertegun dan menatap Yuga dengan nanar. Yuga sendiri tiba-tiba saja diam dan ekspresinya juga berubah.

"Kenapa nahan aku buat jalan?" tanya Yuga setelah mengatur nada bicaranya sedikit lebih lembut.

"Gak jadi, kamu istirahat aja ya. Aku, mau keluar dulu."

Chessi yang sudah terlanjur merasa sakit karena sikap Yuga, memilih untuk keluar dari apartemen. Dia tidak mau perasaan sakitnya ini justru membuat Chessi jadi marah pada Yuga.

Yuga sendiri tertegun melihat Chessi yang berjalan cepat keluar dari apartemen tanpa menoleh ke belakang lagi.

***

Chessi itu yatim piatu, jadi setiap kali merasa suntuk ataupun sedih. Chessi pasti pulangnya ke rumah mama Mirna, karena selain ibu mertuanya. Mama Mirna juga sahabat mendiang ibunya dulu, pernikahan Chessi dan Yuga terjadi juga karena janji antara ibunya dengan mama Mirna.

Chessi menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya. Chessi pengen segera bisa tidur, tapi ternyata jauh dari Yuga membuatnya susah tidur. Walaupun kenyataannya dia juga tidak pernah tidur sekamar dengan Yuga sejak menikah, tapi tetap saja ada di satu atap dengan Yuga membuat Chessi sedikit tenang.

Chessi kembali membuka selimutnya karena mendengar langkah kaki menuju ke kamarnya. Chessi bergegas turun dari ranjang dan membuka pintu kamarnya cepat.

"Ga," ucap Chessi ketika melihat Yuga yang sudah akan kembali pergi dari depan kamar Chessi.

Yuga kembali berbalik dan melihat ke arah Chessi dengan kikuk.

"Belum tidur kamu?"

"Belum, Kamu sendiri ngapain kesini? Cari aku ya?"

Tanpa merasa malu Chessi bertanya, karena dia merasa sepertinya Yuga memang mencarinya.

"PD banget! Aku, cuma cari sesuatu yang hilang," sangkal Yuga.

"Hilang? Apa? Hilangnya emang disini? Mau aku bantuin cari?" cecar Chessi.

Yuga tidak menanggapi ucapan Chessi dan hanya memandangi wajah istrinya itu lekat. Samar dan walaupun tipis, Yuga terlihat tersenyum lalu kemudian kembali berwajah dingin beberapa detik setelahnya.

"Udah ketemu. Masuk sana! Tidur! Aku, mau pulang ke apartemen," tukas Yuga yang kemudian berjalan meninggalkan Chessi yang masih terlihat mencerna ucapan Yuga.

***

"Ma, Yuga beneran pulang?" tanya Chessi saat sarapan pagi bersama ibu mertuanya.

"Iya, katanya semalam udah lihat kamu. Jadi, dia pulang," terang mama Mirna menjawab.

"Emang tujuannya kesini cari apa sih, Ma? Kata Yuga ada barang yang hilang," ujar Chessi dengan polosnya.

Mama Mirna tidak segera menjawab dan memasukkan sesuap nasi ke mulutnya. Mama Mirna lalu tersenyum simpul dan mengangguk mengiyakan.

"Katanya si gitu, mungkin dia mulai merasa ada yang hilang kalau kamu gak di rumah," tukas mama Mirna.

"Aku? Kok aku?"

"Iya kamu, Yuga kesini itu cari kamu. Katanya kamu gak pulang udah 2 hari."

Chessi terdiam mendengar jawaban dari ibu mertuanya, entah dia harus senang atau malah sebaliknya. Chessi tidak biasa dicari oleh Yuga, tapi dia juga merasa senang mendengar ucapan mama mertuanya itu.

"Kamu, harus lebih sabar lagi ya. Lama-lama Yuga juga luluh dan bisa menerima kamu sebagai istri, Ches," sambung mama Mirna.

Chessi tidak menanggapi dan menatap mama mertuanya datar.

"Aku gak yakin, Ma. Yuga sama sekali gak suka sama aku, dia bahkan gak mau aku dekati sedikitpun," lirih Chessi dengan nada sedih.

"Gak boleh pesimis, batu aja kalau ketetesan air terus lama-lama bisa berlubang. Apa lagi cuma Yuga yang terus kamu pepet, lama-lama juga dia jadi bucin sama kamu."

"Kenapa jadi nyamain Yuga sama batu, Ma," ujar Chessi yang kemudian terkekeh.

Mood Chessi yang berantakan selalu bisa dengan cepat berubah jika ada di dekat mama mertuanya. Kadang-kadang Chessi sampai lupa kalau mama Mirna itu mertuanya.

***

Malam mulai beranjak, pintu apartemen tempat tinggal Chessi dan Yuga terbuka dari luar. Chessi yang sedang menatap televisi, tapi tidak juga sedang menonton dengan benar menoleh ke arah pintu.

"Udah pulang?" tanya Chessi basa-basi.

"Kalau udah di rumah berarti udah pulang, Chessi. Kamu, selalu bertanya yang enggak-enggak," ujar Yuga menanggapi lalu berjalan begitu saja menuju kamarnya. Belum juga Yuga membuka pintu kamarnya, Chessi sudah lebih dulu memanggil Yuga dan membuat Yuga mengurungkan niatnya membuka pintu kamar.

"Tadi ada pengacara pribadi kamu datang. Berkas yang harus di tanda tangani aku taruh di atas kulkas," ujar Chessi tidak berkedip menatap Yuga.

Yuga sendiri sedikit terkejut karena tidak biasanya pengacara pribadinya datang ke apartemen. Biasanya mereka akan selalu bertemu di kantor.

"Kamu buka isinya?" tanya Yuga panik.

"Gak kok, udah jelas isinya apa. Di amplopnya ada tulisannya," jawab Chessi.

"Bagus deh! Itu bagian dari privasi aku juga, kamu gak boleh ikut campur sama privasi aku."

Yuga lalu berjalan menuju kulkas dan mengambil amplop coklat berukuran sedang yang Chessi maksud. Yuga sudah akan kembali masuk ke dalam kamarnya.

"Jadi benar Kakak mau ceraiin aku? Tujuan menikah sama aku apa? Kenapa gak sekarang aja ceraiin aku kalau memang kakak udah gak tahan jadi suami aku?"

Pertanyaan Chessi sukses membuat Yuga kembali berhenti. Yuga melihat ke arah Chessi yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca sekarang.

"Jawab, Kak! Apa tujuan kakak menikah sama aku kalau pada akhirnya aku justru kamu buang begitu saja? Apa pernikahan ini memang tidak penting buat kamu?" tanya Chessi dengan suara bergetar.

"Kamu kenapa jadi mikir gitu? Kamu bilang gak baca isi suratnya."

Yuga mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Memang gak baca kok, bukannya di judulnya sudah jelas ya? Gugatan cerai kamu buat aku, dan itu bulan depan. Kenapa harus bulan depan? Kenapa gak besok atau lusa?"

Chessi benar-benar mengeluarkan semua isi di dalam hatinya. Dia tidak bisa menahan lagi, baru saja bahagia karena mengira Yuga mulai bisa menerimanya. Sekarang dia justru harus menerima kenyataan kalau Yuga akan membuangnya seperti sampah.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel (Bukan) Salah Jodoh
8.9
Nayra Alfarani terjebak dalam pernikahan yang terasa salah. Di tengah kehancuran hari bahagianya, ia justru dipersatukan dengan Cakra Yudhistira, pria yang bersikeras bahwa mereka bukanlah jodoh. Meski kini menyandang status sebagai istri Cakra, hati Nayra masih terpaku pada sosok Ezhra. Konflik batin dan penolakan mewarnai awal hubungan mereka, saat keduanya meragukan takdir yang memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tidak pernah mereka harapkan.
Sampul Novel BUKAN SUAMI RAHASIA
8.1
Ava dan Jay terjebak dalam pernikahan paksa selama dua tahun. Sementara Jay terus berselingkuh, Ava membalasnya dengan memadu kasih bersama pria kaya dari keluarga terpandang. Meski keduanya mendambakan perpisahan, perceraian bukanlah sebuah pilihan. Jay pun akhirnya setuju membiarkan Ava menjalani hubungan tersembunyi dengan lelaki lain. Namun, mampukah rahasia besar ini bertahan selamanya tanpa terungkap ke permukaan? Akankah sandiwara mereka terus berjalan?
Sampul Novel Cinta Diantara
8.9
Demi kehormatan keluarga, Aisyah terpaksa menikahi pria asing yang ternyata sudah memiliki putra bernama Haidar. Seiring waktu, benih cinta mulai tumbuh, namun Aisyah justru menemukan sisi gelap sang suami yang tersembunyi rapat. Saat rahasia kelam dan bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap bertahan, menghadapi masa lalunya, atau memilih untuk hidup sendiri? Sebuah kisah penuh rahasia dan pilihan hati.
Sampul Novel Gairah Cinta
9.6
Billie dikenal sebagai sosok pria yang memiliki kehidupan harmonis dan terlihat sempurna. Namun, di balik itu semua, ia justru merasa hampa. Ia terus terbayang masa lalu yang liar dan penuh gairah bersama para mantan kekasihnya. Saat Celine mendadak muncul kembali, Billie terjebak dalam dilema besar. Ia harus memilih antara menjaga kestabilan hidupnya saat ini atau mengejar kembali api asmara masa lalu yang tak pernah benar-benar padam dari ingatannya.
Sampul Novel Gairah Liar Perselingkuhan
9.6
Kaindra terjebak dalam pernikahan hampa dengan Tanika, sosialita yang diduga berkhianat. Alih-alih konfrontasi, ia memilih balas dendam melalui perselingkuhan panas bersama Fiona, rekan kerjanya. Demi mengungkap rahasia sang istri, Kaindra juga mendekati Isvara, sahabat Tanika yang penuh manipulasi. Di tengah labirin kebohongan dan gairah terlarang, Kaindra harus memilih: terus mencari kebenaran yang menghancurkan atau menghentikan permainan berbahaya ini sebelum segalanya musnah.
Sampul Novel Istri Yang Diabaikan
9.5
Lili mengalami nasib tragis saat hamil besar. Ia diabaikan suaminya, Azzam, hingga terjatuh sendirian dan kehilangan bayinya. Meski Azzam sangat menyesal dan berjanji untuk berubah saat Lili kritis, keadaan tidak kunjung membaik. Tekanan berat dari ibu mertua akhirnya memaksa Lili nekat melarikan diri dari rumah. Kini, Azzam harus berjuang mencari keberadaan istrinya. Mampukah ia menemukan Lili dan memperbaiki hubungan pernikahan mereka yang hancur?