Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel SPEKTRUM HATI QUENARRA

SPEKTRUM HATI QUENARRA

Garra Bhalendra dan Quenarra Auristela Kim terjebak dalam pernikahan tanpa cinta akibat dendam dan perjodohan orang tua. Garra berniat menyengsarakan Quen, sementara Quen terpaksa berkorban demi ayahnya meski masih mencintai Eder Shadrach. Di tengah konflik asmara beda keyakinan, rahasia kelam masa lalu Garra mulai terkuak. Mampukah Quen bertahan dalam ikatan dingin ini? Ikuti pergolakan batin dan perubahan besar dalam hidup mereka di Spektrum Hati Quenarra.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Apa yang baru saja kamu ucapkan, Gar? Eder melakukan kesalahan apa sehingga kamu bisa menyalahkan keberadaan dia di dunia ini?"

Seorang wanita memancarkan kecemasan melihat perkelahian yang baru saja terjadi. Wanita itu sungguh tak paham dengan apa yang diucapkan oleh Garra.

Masih dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan, langkah kakinya memberanikan diri mendekati Quen.

"Quen! Kamu tidak apa-apa?"

Hannele Abraham (20). Gaya potongan rambut pendek, menjadi pilihan Hannele kali ini. Dia adalah sahabat Quen, tak kalah cantik dengan wanita bergelar perfect, hanya saja Hannele asli orang Indonesia, tetapi lama menetap di Turki.

"Sudah, Gar! Ayo kita pulang! Jangan menambah masalah di sini."

Seorang pria tinggi, berperawakan agak besar di bagian dada, berusaha membujuk Garra untuk meninggalkan tempat itu.

Nicole Mallory Wyman (22). Tak setampan Garra, tapi ia juga memiliki penggemar tersendiri dikalangan adik tingkat, tingkah yang lucu dan "Freak", menjadi daya tarik tersendiri. Tubuh yang sedikit berisi, menambah kesan imut dalam penilaian para penggemar Nicole.

"Lepas!" seru Garra pada Nicole. Masih menatap lekat wajah gadis yang tak begitu jauh dari posisi ia berdiri.

Quen, merasa mendapat tatapan dari Garra, langsung memalingkan wajah. Semakin membuat Garra merasa tertarik dengan tingkah Quen.

"Sedikit saja aku terlambat masuk. Kamu pasti akan merasa menyesal seumur hidup, jangan dia orangnya. Tapi, tunggu aku yang akan menikahimu," bisik Garra, pada salah satu telinga Quen.

Quen kembali menatap kedua sorot mata elang tersebut, ia tersenyum smirk sambil berlalu pergi menemui Eder yang telah babak belur dihajar Garra.

"Jangan bermimpi bisa menikah denganku," batinnya.

Quen sempat melirik, ketika Garra dan Nicole telah berbalik badan meninggalkan party tersebut. Ia merasa sedikit terganggu dengan apa yang diutarakan Garra barusan kepadanya.

Hannele kembali mendekati Quen, sembari ikut menolong Eder untuk berdiri. Beberapa teman pria juga ikut membantu membawa Eder ke rumah sakit.

"Quen," panggil Hannele perlahan. "Sebenarnya apa yang telah terjadi, sehingga Garra bisa berkelahi dengan Eder?"

"Percayalah. Semua baik-baik saja, kamu tidak perlu khawatir." Quen menggenggam tangan Hannele.

Sesaat, kemudian sahabat Hannele itu ikut pergi mengantar Eder ke rumah sakit, dan meninggalkan Hannele dalam rasa penasaran yang cukup besar.

Bintang bersembunyi ternyata memiliki alasan, mereka takut dengan kehadiran hujan yang langsung menyerang membabi buta, sama dengan serangan Garra pada Eder. Tatapannya nanar jauh ke depan, di dalam mobil yang mengantar Eder, kembali Quen mengingat kejadian waktu di kamar hotel bersama sang kekasih.

"Spesial untuk kita malam ini, Quen. I love you."

Quen terpana, melihat pemandangan yang ada di depan.

"Candle light dinner?"

Eder mengangguk semangat mengiyakan.

"Spesial perayaan empat tahun hubungan kita."

Quen memandang Eder dengan lekat, begitupun Eder, seolah terbawa suasana malam, ditambah ruangan kamar hotel yang dingin, mereka berdua terbuai saling berpelukan dan bercumbu mesra satu sama lain. Hingga, kedua pasangan muda itu menghamburkan tubuh ke atas ranjang yang mulai terasa sejuk. Di bawah selimut berpadu dengan gelora asmara yang membara.

Kecupan demi kecupan dirasakan oleh wanita yang mulai menggeliat, begitu hangat, diikuti belaian tangan Eder yang mulai berani menjamah hingga ke bagian lekuk tubuh mulus itu. Saat Eder ingin membuka pakaian kekasih, tiba-tiba saja ada yang menggedor pintu kamar hotel dengan sangat keras. Berkali-kali terdengar seperti memaksa untuk masuk.

"Buka bajingan! Bangsat!"

Mereka berdua langsung bangkit dari tempat tidur, Quen langsung memperbaiki baju yang sudah tersingkap.

"Siapa itu?" tanya Eder menatap kekasihnya.

Quen hanya diam, ia juga sama dengan Eder, tidak tahu siapa pelaku yang sudah berani bertindak demikian. Mengganggu kenyamanan tamu hotel saja.

Eder segera berjalan ke arah pintu, dan berusaha mengecek keadaan. Namun, pada saat pria itu menyentuh knop, pintu mendadak terbuka lebar.

"Sudah aku duga! Rencana kotormu itu akan kamu lakukan pada malam ini!"

Garra memaksa masuk kamar, dan terjadilah aksi saling pukul di antara mereka berdua.

Buk!

Pukulan pertama mengenai sudut bibir Eder. Sajian makan malam mereka, jatuh berhamburan mengenai tubuh yang ambruk seketika.

"Ada urusan apa, Gar?!" Quen langsung menjauh, saat tubuh Eder jatuh di depan kedua matanya.

"Dia dengan sengaja ingin mengambil mahkotamu, Quen! Apa kau sebagai wanita tak bisa menjaga!" hardik Garra dengan mata memerah, penuh amarah.

"Apa maksudmu?" tanya Quen kembali.

"Aku mendengar semua percakapan Eder dengan seseorang di telepon. Semua acara sampah ini, sudah direncanakan hanya untuk mendapatkan tubuhmu! Kau tahu itu!" jelas Garra meninggikan suara.

Pria beringas itu beralih menatap Eder yang masih tersungkur di lantai.

"Ikut aku, Ed! Ayo kita perlihatkan aslimu kepada semua orang!" lanjutnya lagi.

Tanpa belas kasih menyeret tubuh Eder keluar kamar hingga ke tempat acara.

"Lepas, Gar!" Eder berusaha melepas paksa tangan Garra yang menarik baju Eder dengan kuat.

Quen tak dapat melakukan apa-apa. Ucapan dari Garra barusan langsung tertancap sempurna di dalam benak Quen sekarang.

"Ya Tuhan ... apa yang telah aku lakukan?"

Lamunan wanita itu buyar, setelah suara Eder memanggilnya dengan lembut.

"Quen, kamu tidak apa-apa? Aku merasa bersalah," ungkapnya tulus.

Quen menggenggam erat kedua tangan Eder. Saat ini hanya itu yang mampu ia lakukan.

Tak lama, mobil yang mengantar Eder ke rumah sakit tiba di depan ruang IGD, Quen dan teman yang lain segera membantu Eder untuk turun, tapi sebelum itu pria yang penuh dengan luka lebam menanyakan sesuatu hal yang membuat Quen bingung harus menjawab apa.

"Garra berbisik apa padamu tadi?"

Sebelum Quen menjawab, beberapa suster segera membantu yang lain untuk membawa masuk Eder ke dalam. Quen sedikit melega, setidaknya ia bisa terlebih dahulu memikirkan jawaban yang tepat bila nanti Eder akan bertanya kembali.

Pria itu langsung diperiksa dan diobati oleh dokter, untung saja tidak ada luka dalam, hanya memar di bagian luar tepatnya pada wajah dan mata.

"Aku akan membalas perlakuan Garra padaku ini!" seru Eder kembali emosi.

"Terima kasih, Dok." Quen tak langsung menanggapi, ia terlebih dahulu melihat sang dokter sudah selesai mengobati luka kekasihnya itu.

"Quen, sekali lagi aku minta maaf. Aku tak ada niat seperti yang dikatakan Garra tadi, aku hanya tidak ingin kehilanganmu, Quen." Eder menarik kedua tangan wanita di depan, dan menggenggamnya.

"Duar!

Suara petir menyambar bersamaan dengan dilepasnya genggaman itu dari tangan Eder.

"Petir saja tahu kalau kamu sedang berbohong, dan bodohnya lagi aku terbuai dalam bius cintamu. Setan menguasai kita. Apa aku bisa kembali percaya?"

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Membencimu
8.5
Demi melunasi utang ibunya, Ayyara Faderica terpaksa menikahi CEO Kieran Bimantara. Meski Kieran memperlakukannya bak ratu karena rasa cinta yang lama terpendam, Ayyara justru sulit membuka hati dan diam-diam masih menjalin hubungan dengan mantan kekasihnya. Walau dikhianati, Kieran tetap gigih berjuang demi mendapatkan cinta sang istri. Akankah Ayyara akhirnya menyadari ketulusan Kieran, ataukah masa lalu akan menghancurkan pernikahan mereka?
Sampul Novel Bangkitnya Sang Menantu Benalu
8.7
Selama tiga tahun, Stefan hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan dianggap benalu oleh keluarga Lionny. Pasca kecelakaan yang memicu amnesia, posisinya kian terpuruk hingga ia nyaris gila. Putus asa, ia mencoba mengakhiri hidup dengan menelan ratusan butir obat sekaligus. Namun, keajaiban terjadi; alih-alih tewas overdosis, ingatan Stefan justru pulih sepenuhnya. Inilah titik balik sang menantu sampah untuk bangkit dan menunjukkan jati diri aslinya.
Sampul Novel Cinta Lima Tahun, Hancur oleh Sebuah Panggilan
8.6
Pernikahan Anisa dan Erlangga hancur saat Citra, mantan kekasih Erlangga, kembali dengan amnesia. Erlangga memaksa Anisa berpura-pura menjadi kekasih kakaknya, Laksmana, demi Citra. Namun, Anisa menyadari bahwa dia hanya dianggap sebagai cadangan yang penurut. Luka hati berubah menjadi dendam membara. Anisa memutuskan menikah dengan Laksmana secara nyata dan menuntut Erlangga menjadi wali nikahnya di pelaminan. Sebuah rencana pembalasan yang dingin pun dimulai.
Sampul Novel Cinta Tidak Direstui
9.6
Risa Ayu Cahyaningrum adalah dokter spesialis sukses yang memiliki klinik pribadi. Meski berprestasi, ia dipandang rendah oleh ibu kekasihnya, seorang Mayor TNI, hanya karena ia putri seorang petani. Sang ibu merasa status sosial Risa tidak sepadan bagi putranya. Risa pun berjuang membuktikan bahwa ketulusan melampaui kasta. Di tengah intrik dan konflik keluarga yang pelik, kesabaran serta cintanya diuji demi meraih restu yang terhalang oleh perbedaan derajat.
Sampul Novel Dendam yang Terpendam: Cinta Sang CEO Terhalang Takdir
7.9
Pasca koma panjang, Zeesya Aleena Lawrence tersadar bahwa kekasihnya hanyalah seorang pengkhianat. Di tengah keterpurukan, ia menemukan cinta baru pada sosok pria misterius yang sangat memujanya. Namun, kebahagiaan itu hancur saat rahasia kelam terungkap. Pria tersebut ternyata dalang di balik tragedi berdarah keluarganya di masa lalu. Kini, Zeesya terjebak dalam dilema besar antara mempertahankan perasaan atau membalas dendam atas takdir yang tertukar.
Sampul Novel Deviant Love
9.5
Dunia Windy runtuh setelah Jimmy tiada. Sejak saat itu, serentetan aksi pembunuhan keji mulai menghantui orang-orang di lingkaran terdekatnya. Akibat pola mengerikan ini, Windy justru menjadi sasaran kecurigaan dan tuduhan miring. Di tengah tekanan publik, ia juga harus menghadapi teror misterius dari sosok tak dikenal yang mengincar nyawanya. Apakah sang pembunuh dan pengirim teror adalah orang yang sama? Windy terjebak dalam misteri yang mengancam.